Ribuan Warga Syiah Bahrain Bergerak Melakukan Unjuk Rasa 2 Orang Tewas


Terinspirasi oleh gerakan rakyat Tunisia dan Mesir, warga Syiah di Bahrain berunjuk rasa menentang diskriminasi penguasa Sunni, Raja Hamad ibn Isa al-Khalifa. Satu orang tewas ditembak polisi, Selasa (15/2), sehingga korban tewas menjadi dua orang sejak aksi pecah, Senin.

Polisi Bahrain hari Selasa menembakkan gas air mata untuk membubarkan ribuan pengunjuk rasa, yang sebagian besar adalah warga Syiah. Aksi itu dilakukan bersamaan dengan prosesi pemakaman warga Syiah, Ali Abdulhadi Mushaima, yang tewas dalam aksi massa pada ”Hari Kemarahan” hari Senin.

Demo hari Selasa digelar di luar Rumah Sakit Suleimaneya di Manama, ibu kota negara. Di rumah sakit ini tersimpan mayat Mushaima dan massa berkumpul untuk mempersiapkan prosesi pemakamannya. Massa kemudian bentrok dengan polisi sehingga polisi menghalau mereka dengan tembakan gas air mata dan juga peluru karet. Akibatnya, seorang warga Syiah lainnya, Fadel Salman Matrouk, tewas tertembak oleh aparat kepolisian.

”Fadel ditembak di depan Rumah Sakit Suleimaneya, tempat massa berkumpul untuk pemakaman korban tewas pertama,” kata Khalil al-Marzooq, oposisi Syiah, melalui telepon.

Terdapat perbedaan nama korban tewas pada hari pertama. Kantor berita menyebut korban bernama Msheymah Ali, sedangkan AP menulis korban pertama adalah Ali Abdulhadi Mushaima (21).

Dalam aksi hari Senin, selain menewaskan Ali, sedikitnya 25 orang terluka terkena tembakan peluru karet dan gas air mata. Aksi massa di Bahrain ini bertemakan ”Hari Kemarahan”, sama seperti tema aksi di Tunisia dan Mesir. Massa yang umumnya warga Syiah menuntut kebebasan yang lebih besar dan hak-hak politik.

Aksi hari Senin digelar di sekitar situs sejarah Balad al-Gadim di pusat kota Manama. Selain itu, aksi juga digelar secara sporadis di Darraz dan Sanabis, yang terletak di sebelah barat Manama, Sitra di timur ibu kota, dan Jed Hafsh di utara Manama.

Demonstrasi massa Syiah ini merupakan yang terbesar dan pertama kali untuk menuntut reformasi politik di Bahrain, negara kecil di Teluk Arab. Massa saat itu menyerukan perlunya aksi besar-besaran di seluruh negeri, tetapi malah akhirnya terlibat bentrok dengan polisi.

Sistem monarki

Bahrain adalah negara kepulauan di Teluk Persia yang menganut sistem monarki atau kerajaan. Teluk Bahrain memisahkannya dengan Qatar dan Arab Saudi. Luas wilayahnya hampir setara luas DKI Jakarta. Sistem pemerintahannya monarki konstitusional dengan Syekh Hamad ibn Isa al-Khalifa sebagai raja (sejak 6 Maret 1999) dan Khalifa ibn Sulman al-Khalifa sebagai perdana menteri.

Negara ini dihuni mayoritas Syiah, yakni 70 persen dari hampir 1,3 juta penduduk, dan minoritas Sunni sebagai pengendali kekuasaan. Syiah sejak lama mengeluhkan diskriminasi sistemik oleh penguasa Sunni.

Unjuk rasa massa sejak hari pertama hingga Selasa tak berusaha menggulingkan monarki. Mereka hanya menginginkan kebebasan politik yang lebih besar dan perubahan besar-besaran dalam pemerintahan.

Seperti dilansir Washington Times, berbeda dari tuntutan warga Tunisia dan Mesir, massa Syiah di Bahrain tak bermaksud menggulingkan sang raja dan perdana menteri.

Pemimpin Syiah, Abdul-Jalil Khalil, menegaskan hal serupa. ”Ini bukanlah Mesir. Tuntutan kami berbeda, yakni hanya meminta reformasi politik yang telah lama dijanjikan,” kata Khalil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s