Intelejen Amerika Serikat Prioritaskan Al Qaeda Hingga Kekurangan Data Intelegen Asia dan Afrika


Badan intelijen Amerika Serikat berkilah, mereka lebih memprioritaskan upaya kontraterorisme sekaligus menangkal ancaman strategis terhadap keamanan dalam negeri dan kepentingan AS dari serangan jejaring teroris global macam Al Qaeda.

Pernyataan itu dilontarkan Direktur Intelijen Nasional AS James Clapper, Jumat (11/2). Ia menjawab keraguan dan pertanyaan yang muncul, khususnya dari Kongres AS, terkait penguasaan mereka terhadap sejumlah isu strategis lain yang berkembang, terutama terkait stabilitas sejumlah negara sekutu AS di kawasan Timur Tengah.

Intelijen AS dinilai gagal mendeteksi dan mengantisipasi persoalan yang membesar dan memicu kekacauan politik berskala besar di sejumlah negara, seperti Tunisia dan Mesir. Akibatnya, pembuat kebijakan di AS gagal mendapat masukan tepat untuk mengantisipasi kondisi itu.

Tidak hanya itu, situasi yang berkembang juga diyakini malah berpotensi mengancam kepentingan AS, terutama terkait stabilitas sejumlah negara sekutu penting, seperti Mesir.

Clapper mencoba menjawab penilaian dan kesan buruk yang muncul sebelumnya saat badan intelijen AS menggelar dengar pendapat dengan Komite Intelijen Kongres AS. Pertemuan itu sangat penting dan menentukan apa yang menjadi fokus penugasan penanganan ancaman terhadap AS ke depan, sekaligus menentukan program apa saja yang mendapat kucuran dana.

Meragukan

Sayangnya, dalam pertemuan hari Kamis itu, Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) Leon Panetta memberikan jawaban meragukan, terutama soal isu penting, seperti perkembangan hubungan dua negara berseteru di kawasan Asia Selatan, India dan Pakistan.

Panetta ketika itu menjawab, tak ada perkembangan signifikan di antara kedua negara. Padahal, pada hari yang sama kedua pemimpin negara itu sepakat melanjutkan dialog damai. Hubungan kedua negara sebelumnya memanas pasca-insiden serangan teroris di Mumbai beberapa tahun lalu.

Hasil pertemuan pemimpin India dan Pakistan itu juga disiarkan di media massa internasional. Hal itu yang dianggap ”mempermalukan” intelijen AS, yang dianggap tidak menguasai masalah di lapangan.

Saat itu, Clapper yang duduk berdampingan membela Panetta. Clapper mengatakan, aparat intelijen bisa mengobservasi tren yang muncul dan berkembang, tetapi tidak bisa selalu memprediksi dengan tepat ke arah mana petunjuk itu mengarah.

Sejak beberapa tahun terakhir, menurut Clapper, komunitas intelijen waspada dengan kemunculan berbagai bentuk tekanan dan instabilitas di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Mereka juga secara konstan melaporkan tekanan yang muncul beserta berbagai implikasinya.

Namun, terkait pemicu spesifik tentang bagaimana dan kapan ketidakstabilan itu mengarah pada keruntuhan rezim di sana, Clapper mengatakan, pihak intelijen tidak bisa selalu mengetahui atau memprediksinya.

”Orang bisa saja mengatakan kepadamu di mana guncangan itu terjadi. Mereka selalu bisa menceritakan apa saja yang terjadi pada masa lalu. Mereka bahkan bisa mengatakan ancaman yang akan terjadi sudah sangat dekat. Namun, mereka tak pernah bisa mengatakan dengan tepat kapan ’gempa bumi’ (politik) itu akan terjadi,” ujar Clapper.

Positif

Dalam kesempatan itu Panetta menambahkan, perubahan damai yang terjadi di Mesir dapat berdampak positif pada seluruh kawasan Timur Tengah sepanjang di sana terjadi proses transisi yang tertata. Transisi itu mensyaratkan pemerintahan sekarang tergerak untuk merangkul elemen oposisi di sana.

”Selain itu, mampu membangun garis waktu yang jelas untuk proses reformasi politik di sana, yang sangat diharapkan mengarahkan Mesir pada sebuah pemilihan umum yang bebas dan terbuka. Jika semua itu terjadi, saya yakin akan membawa efek yang positif bagi kawasan tersebut,” ujar Panetta.

Terkait ancaman terorisme yang menjadi prioritas utama intelijen AS sekarang, Clapper menyatakan, ada perubahan dalam ancaman yang ditimbulkan para teroris. Hal ini terutama disebabkan banyak kelompok teroris yang kehilangan tokoh kunci di dalam organisasi mereka.

Dengan begitu, kelompok tersebut lalu mengorganisasi kembali dirinya masing-masing menjadi sejumlah kelompok kecil dan dengan plot yang lebih sederhana demi kelangsungan keberadaan kelompok dan misi teror mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s