Hosni Mubarak Mundur Setelah Diancam Dewan Militer Mesir


Setelah aksi demonstrasi rakyat selama 18 hari yang menewaskan lebih dari 300 orang dan melukai ribuan orang lainnya, Presiden Mesir Hosni Mubarak akhirnya mengundurkan diri, Jumat (11/2) petang. Pemerintahan Mesir dilimpahkan kepada pihak militer.

Pengunduran diri Mubarak disampaikan Wakil Presiden Omar Suleiman melalui pernyataan yang disiarkan langsung televisi nasional Mesir. Menurut Suleiman, pemerintahan untuk sementara akan dipegang oleh Dewan Agung Militer Mesir.

”Dalam masa-masa sulit yang sedang dihadapi negara ini, Presiden Hosni Mubarak telah memutuskan untuk meninggalkan posisi kepresidenan. Ia telah menugaskan Dewan Agung Militer untuk mengarahkan berbagai urusan negara,” tutur Suleiman dalam pernyataan singkat di Kairo setelah Mubarak dan keluarga berangkat ke Sharm al-Sheikh.

Pengumuman mundurnya Mubarak langsung disambut gegap gempita oleh ratusan ribu demonstran di kota-kota utama Mesir. ”Rakyat telah menumbangkan rezim, rakyat telah menumbangkan rezim!” teriak massa berulang-ulang di Alun-alun Tahrir (Kebebasan), pusat Revolusi Nil sejak 25 Januari.

Bunyi terompet bergema di seantero Kairo, pemrotes melambai-lambaikan bendera-bendera Mesir pertanda sukacita luar biasa.

Laporan wartawan stasiun televisi Al Jazeera dari Alun-alun Tahrir mengatakan, ”Saya belum pernah melihat hal seceria ini. Warga saling menyiramkan air dan terbenam dalam suasana kebahagiaan.”

Seorang warga yang juga diwawancarai berbicara kelu karena tak bisa menahan tangis kebahagiaan. ”Akhirnya saya mendapatkan momentum ini,” kata seorang perempuan.

Mubarak akhirnya mundur setelah berkuasa hampir 30 tahun sejak 1981. Pada sebuah parade militer tahun itu, Presiden Anwar Sadat tewas di tangan militer. Mubarak, yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden, langsung naik ke tampuk pimpinan negara Mesir. Namun, selama berkuasa, Mubarak tergolong sebagai presiden diktator.

Tinggalkan Kairo

Sebelumnya, Mubarak dan keluarganya meninggalkan Kairo, Jumat siang, setelah demonstran terus membesar dalam kemarahan di seluruh Mesir.

Mubarak dilaporkan kini berada di kediamannya di kota wisata Sharm al-Sheikh, sekitar 380 kilometer sebelah tenggara Kairo. Kepastian keberadaan Mubarak tersebut diberikan Juru Bicara Partai Demokratik Nasional (NDP) yang berkuasa, Mohammed Abdellah, kepada Agence France Presse (AFP), Jumat sore.

Sementara itu, jumlah demonstran diperkirakan lebih dari satu juta orang di sejumlah kota di seluruh Mesir.

Di Kairo, massa bergerak memblokade jalan masuk gedung stasiun televisi dan radio milik negara dan mendatangi istana presiden di Heliopolis di pinggir Kairo.

Puluhan ribu pengunjuk rasa hingga pukul 15.00 waktu setempat terus mengepung gedung televisi dan radio yang terletak sekitar 1 kilometer arah utara Alun-alun Tahrir. Kapasitas alun-alun yang tak bisa lagi menampung para pengunjuk rasa dari berbagai penjuru kota Kairo memaksa banyak pengunjuk rasa berbelok ke gedung televisi dan radio, dilindungi tank dan kendaraan lapis baja militer.

Para pengunjuk rasa juga memadati sepanjang jalan antara Alun-alun Tahrir dan Alun-alun Ramses yang berjarak sekitar 3 kilometer.

Di depan istana presiden, yang dikawal empat tank dan berlapis-lapis gulungan kawat berduri, jumlah pengunjuk rasa terus bertambah. ”Orang tak peduli ia (Mubarak) ada di istana atau tidak. Kami ingin ia berhenti jadi presiden!” seru Mohammed Hamdan (40), salah seorang demonstran.

Kota-kota lain di Mesir, seperti Alexandria, Suez, Dimyat, dan Assiut, juga dirambah aksi unjuk rasa besar-besaran. Para pengunjuk rasa di Alexandria mengepung istana presiden di distrik Raas el-Tin, Alexandria barat.

Kemarahan rakyat

Aksi unjuk rasa besar-besaran itu menunjukkan kemarahan dan ketidakpuasan rakyat Mesir atas pidato Mubarak malam sebelumnya. Dalam pidato, yang diduga akan menjadi pidato pengunduran diri itu, Mubarak menolak turun dari kursi presiden dan hanya mendelegasikan tugas-tugas kepresidenan kepada Wakil Presiden Omar Suleiman.

Mubarak dalam pidatonya menyampaikan, dialog nasional dengan kubu oposisi telah mencapai kesepakatan prinsip tentang solusi krisis. Ia menegaskan pula telah meminta parlemen mengamandemen lima pasal dalam konstitusi (Pasal 76, 77, 88, 93, dan 189) serta menghapus Pasal 179 yang membuka jalan bagi penghapusan hukum darurat.

Namun, semua itu sudah tak digubris lagi oleh rakyat. ”Ia harus pergi dari negara ini. Tuntutan kami sangat jelas. Kami ingin semua anggota NDP dibubarkan dan keluar dari sini karena mereka sudah merusak negara,” ujar Magdi Sabri, seorang pengunjuk rasa, di depan gedung stasiun televisi negara.

Seruan Omar Suleiman dan militer agar rakyat meninggalkan Alun-alun Tahrir dan kembali ke rumah masing-masing justru dibalas dengan eskalasi unjuk rasa secara besar-besaran.

Kubu oposisi juga menolak pidato Mubarak itu. Ketua partai liberal Wafd, Sayyid Badawi, mengatakan, pidato Mubarak sudah terlambat. ”Kalau pidato Mubarak disampaikan 25 Januari lalu, mungkin rakyat bisa menerimanya,” kata Badawi.

Salah seorang pemimpin Lembaga Nasional untuk Perubahan, Ahmed Syaaban, juga mengatakan, pidato Mubarak tak memenuhi tuntutan minimal rakyat dan hanya sekadar memberi konsesi simbolis.

”Rakyat sudah cukup menderita selama 30 tahun kekuasaan rezim Mubarak yang represif,” kata tokoh kelompok oposisi yang dipimpin Mohamed ElBaradei ini.

”Mubarak masih mau berkelit. Rakyat pasti marah terhadap manuver Mubarak itu,” kata ketua partai oposisi Al Ghad, Ayman Nour, yang mengaku akan berkonsultasi dengan kekuatan politik lain untuk menyikapi pidato Mubarak.

Tokoh Ikhwanul Muslimin, Nabil Aboul Futuh, menyatakan, pidato Mubarak mengabaikan aspirasi rakyat. ”Manuver Mubarak sudah terlambat semua. Legitimasi kekuasaan Mubarak sudah gugur sejak 25 Januari lalu,” kata Aboul Futuh.

Jumat siang, Dewan Agung Angkatan Bersenjata Mesir mengeluarkan Komunike Nomor 2 yang berisi dukungan terhadap keputusan Mubarak untuk mendelegasikan tugas kepresidenan kepada Wapres Suleiman. Militer juga mendukung rencana Mubarak menggelar peralihan kekuasaan secara damai dan pemilu presiden yang bebas dan adil dalam tahun ini.

Desakan internasional

Desakan dunia internasional terus memuncak. Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan, langkah Mubarak tersebut ”tidak cukup” dan ”tidak meyakinkan”.

Kepala Bidang Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton mendesak agar undang-undang darurat di Mesir harus segera dicabut.

Perdana Menteri Denmark Lars Loekke Rasmussen menjadi pemimpin Eropa pertama yang terang-terangan meminta Mubarak turun. ”Mubarak sudah jadi sejarah. Mubarak harus turun,” kata Rasmus.

Rakyat Beirut, Lebanon, turut menyambut gembira atas lengsernya Presiden Mesir Hosni Mubarak dari kekuasaannya selama 30 tahun, Jumat (11/2/2011).

Kegembiraan itu ditunjukkan dengan menyalakan kembang api di pusat kota Beirut, segera setelah terdengar kabar terjungkalnya Hosni Mubarak.

Cahaya kembang api itu pun menerangi langit Beirut, disusul salvo perayaan di daerah-daerah yang didominasi warga penganut Syiah, terutama di bagian Beirut selatan.

Sementara itu, dalam tayangan televisi al-Manar milik Hisbullah faksi Syiah, terlihat pembawa acara Amr Nassef menjerit emosional sambil berteriak, “Allahu Akbar, Fir’aun sudah mati! Apakah saya mimpi? Saya khawatir ini mimpi.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s