WikiLeaks Adalah Operasi Intelijen


Berbagai fakta tentang diplomasi Amerika Serikat yang terungkap dalam bocoran kawat diplomatik rahasia di WikiLeaks bukan satu-satunya hal yang menarik perhatian. Pengamat intelijen tertarik dengan bagaimana kebocoran bisa terjadi dan reaksi Pemerintah AS yang terkesan tidak wajar.

Larangan pegawai negeri AS membaca bocoran kawat tersebut di internet, yang disertai ancaman pemecatan, dan penangkapan pendiri WikiLeaks Julian Assange atas tuduhan pelecehan seksual, menurut mantan Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, adalah reaksi kurang cerdas. ”Saya heran dengan sikap AS yang seperti kebakaran jenggot. Strategi penangkapan Julian Assange itu adalah strategi kuno yang kampungan,” kata dia.

Menurut Hendropriyono, negara sebesar AS seharusnya memiliki prosedur standar untuk merespons kebocoran rahasia seperti ini. ”Mengapa mereka tak melakukan deception (pengecohan) dengan membocorkan kawat-kawat yang seolah-olah asli, tetapi isinya lebih heboh dan bertentangan dengan kawat yang sudah bocor itu? Itu akan membingungkan publik dan sangat mudah dilakukan,” kata dia.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana bisa negara dengan teknologi secanggih AS bisa kebobolan data rahasia sebanyak itu? Thomas Blanton, Direktur National Security Archives, sebuah lembaga riset swasta di George Washington University, AS, mengatakan, masalahnya terletak pada sistem klasifikasi kerahasiaan di pemerintahan AS.

”Kita (Pemerintah AS) menjalankan sistem yang menyimpan terlalu banyak apa yang (diklasifikasikan sebagai) rahasia, jadi kita justru tak bisa melindungi rahasia yang sesungguhnya,” tutur Blanton.

Dalam bocoran WikiLeaks, beberapa kawat yang dilabeli ”rahasia” ternyata memuat informasi umum, seperti Kanada adalah teman setia AS.

Banyaknya dokumen rahasia yang harus disimpan ini pada gilirannya membutuhkan banyak orang untuk mengelolanya. Majalah The Economist menyebut, di AS ada sekitar 900.000 orang yang memiliki otorisasi mengakses data rahasia itu.

Dari kasus WikiLeaks ini, banyak hal yang bisa dipelajari oleh Indonesia. Hendropriyono mengatakan, pemerintah dan DPR bisa belajar dari kasus WikiLeaks ini untuk menuntaskan RUU Rahasia Negara yang terkatung-katung.

Hal senada disampaikan Ketua Komisi I DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Mahfudz Shiddiq. ”Kasus-kasus pembocoran rahasia negara di dunia maya, seperti dilakukan WikiLeaks, harus diantisipasi, harus dimasukkan dalam RUU Rahasia Negara,” ujar Mahfudz, yang menganggap kasus WikiLeaks ini adalah sebuah operasi intelijen.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s