Pejabat Tinggi Negara Jadi Distributor Narkotik


Keterlibatan pejabat tinggi beberapa negara di Afrika Barat dalam penyelundupan narkotik menghambat operasi penumpasan jalur distribusi narkotik dunia oleh Inggris dan Amerika Serikat.

Bocoran kawat diplomatik rahasia dari Kedutaan Besar AS di Accra, Ghana, menyebutkan, polisi setempat diketahui menyabotase sendiri perangkat pemindai narkotik di bandar udara dan memberi tahu para penyelundup bagaimana menghindari pemeriksaan.

Bocoran kawat di WikiLeaks tersebut dimuat dalam serangkaian laporan di harian Inggris, The Guardian, Selasa (14/12) malam.

Bahkan, Presiden Ghana John Atta Mills khawatir para pengawalnya sendiri turut menyelundupkan narkotik melalui lounge kepresidenan di Bandara Kotoka, Accra. Mills terpilih sebagai Presiden Ghana pada 2008 setelah berjanji akan memberantas perdagangan narkotik dan obat-obatan terlarang (narkoba) di negerinya.

Pengganti Karibia

Ghana dan Inggris menggelar operasi pemberantasan perdagangan narkoba bernama sandi Operation Westbridge sejak November 2006. Inggris berkepentingan dalam operasi di Ghana karena negara itu menjadi salah satu titik transit utama distribusi narkoba dari kartel-kartel di Amerika Selatan menuju pasar Eropa, termasuk Inggris.

Kawasan Afrika Barat menjadi titik transit baru setelah jalur lama melalui Kepulauan Karibia berhasil ditutup. Menurut data PBB, saat ini sekitar 60 ton kokain senilai 1,3 miliar poundsterling (Rp 18,3 triliun) diselundupkan melalui beberapa negara Afrika Barat setiap tahun.

Namun, operasi pemberantasan jalur distribusi narkotik ini tak berjalan mulus karena pejabat tinggi dan aparat penegak hukum setempat justru terlibat dalam penyelundupan. Inggris bahkan khawatir perdagangan narkoba di wilayah itu sudah mulai terlembagakan.

Dalam kawat pada Juni 2009 disebutkan, Komandan Operasi Westbridge Roland O’Hagan mengatakan kepada Duta Besar AS untuk Ghana Donald Teitelbaum bahwa berbagai unsur pemerintahan Ghana sudah terlibat dalam perdagangan narkoba dan petugas bandara biasa membocorkan rencana operasi kepada para penyelundup.

Bahkan, para petugas Dewan Pengendalian Narkotik Ghana (Nacob) dilaporkan sering membantu para penyelundup, menyabotase peralatan pemindai di bandara, dan menyalurkan penumpang-penumpang yang dicurigai sebagai penyelundup (termasuk pastor dan para manajer bank beserta istri-istri mereka) melalui lounge VVIP di bandara untuk menghindari pemeriksaan ketat.

AS dan Inggris juga khawatir, suburnya perdagangan narkoba di kawasan ini bisa dimanfaatkan oleh organisasi-organisasi militan, seperti Al Qaeda dan Hezbollah, untuk mencari uang guna mendanai operasi-operasi mereka.

”Penting untuk segera menutup perdagangan narkoba (di Afrika Barat) sebelum makin mendestabilisasi kawasan ini dan sebelum para teroris mulai menggunakan itu sebagai sumber pemasukan mereka,” tutur pejabat Kementerian Luar Negeri Inggris untuk Afrika, Janet Douglas, dalam pertemuan dengan koleganya dari AS di London.

Sudah terlambat

Kekhawatiran Douglas itu mungkin sudah terlambat karena perdagangan narkoba sudah merambah ke negara-negara Afrika Barat lain. Dalam salah satu kawat, Presiden Mali Amadou Toumani Touré langsung menyebut bahwa pendapatan organisasi-organisasi teroris berkaitan langsung dengan perdagangan narkoba di kawasan ini. Touré mengatakan hal tersebut dalam pertemuan dengan Panglima Komando Militer AS di Afrika Jenderal William ”Kip” Ward, Desember 2009.

Kedutaan Besar AS di Freetown, Sierra Leone, juga mengirim kawat yang menyebutkan, para anggota parlemen, perwira polisi, dan tentara terlibat dalam operasi perkebunan ganja skala besar di negara itu.

Salah satu kawat tersebut melaporkan, ”Sebagai penghasil uang paling berharga (di Sierra Leone), produksi ganja terus meningkat dan mulai mengalahkan pertanian biasa. Di Distrik Moyamba, misalnya, laporan intelijen menyebut kebun-kebun ganja milik individu mencapai luas 5-12 mil persegi (12,9-31,1 kilometer persegi). Aparat setempat sudah tak sanggup lagi menghentikan penanaman ganja tersebut.”

Keterlibatan pejabat politik tingkat tinggi terbongkar pada Agustus 2008 setelah seorang penyelundup, yang diduga membawa 750 kilogram kokain, berhasil lolos dari Sierra Leone ke Guinea di bawah ”perlindungan” iring-iringan konvoi istri Presiden Guinea. Saat dicegat, iring-iringan tiga mobil Ibu Presiden tersebut berisi ratusan ribu uang dollar AS, euro, dan emas batangan.

Di Mali, sebuah pesawat Boeing 727-200, yang mampu mengangkut 10 ton kokain dan diduga berisi kokain selundupan dari Amerika Selatan, jatuh di gurun di negara itu, November 2009. Namun, yang membuat para diplomat AS terkejut adalah para penyelidik dari otoritas penerbangan sipil Mali dan unit antinarkoba kepolisian Mali dicegah menyelidiki di lokasi kecelakaan. Penyelidikan hanya boleh dilakukan oleh dinas intelijen negara itu.

Dalam sebuah kawat rahasia lain, para pejabat Kuba menuduh Jamaika telah membiarkan para penyelundup narkotik menggunakan jalur laut dan udara di wilayah Kuba untuk memasukkan narkotik ke AS.

Tuduhan Kuba ini makin menguatkan dugaan bahwa para pejabat pemerintah dan aparat penegak hukum Jamaika telah ”dibeli” oleh para bos narkoba. Aparat Jamaika dianggap tak berniat bekerja sama dengan AS dan Kuba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s