Panglima Angkatan Darat Terlibat Narkoba


Panglima Angkatan Darat Peru Jenderal Paul Da Silva, Senin (13/12), membantah terlibat perdagangan narkoba seperti yang terungkap dalam bocoran kawat diplomatik AS di WikiLeaks, sehari sebelumnya. Da Silva mengancam akan menuntut mantan Duta Besar AS untuk Peru Michael McKinley yang melontarkan tuduhan tersebut.

Dalam kawat tertanggal Maret 2009, yang diterbitkan harian El Pais di Spanyol, Sabtu pekan lalu, Duta Besar McKinley mengutip seorang sumber yang dirahasiakan namanya, yang mengaku melihat tanda-tanda bahwa para perwira angkatan bersenjata Peru bekerja sama dengan para pedagang narkotik.

Kawat tersebut mengutip pertemuan antara Da Silva dan seorang tokoh industri perikanan regional Rolando Eugenio Velasco Heysen pada 2007. Informan Kedubes AS mengatakan, pertemuan tersebut dalam rangka mengoordinasikan pengiriman narkotik.

Velasco sendiri sudah ditangkap dan ditahan sejak Oktober 2007 dengan tuduhan mencoba mengekspor 840 kilogram kokain yang disembunyikan di dalam perut ikan-ikan yang sudah dibekukan.

Dalam konferensi pers yang digelar di Markas Besar AD Peru di Lima, Jenderal Da Silva mengakui ia bertemu dengan Velasco, tetapi bukan untuk membicarakan perdagangan narkotik. Mereka waktu itu membicarakan tawaran Velasco untuk menyuplai pasukan AD Peru dengan seafood.

”Kawat ini berisi fitnah dan bertujuan merusak kehormatan angkatan bersenjata (Peru),” kata Da Silva.

Menteri Pertahanan Peru Jaime Thorne mendukung pernyataan Da Silva. Sementara pejabat bagian pers Kedubes AS di Lima, Guido Chirinos, mengatakan, semua pejabat Pemerintah AS tidak akan berkomentar terhadap semua dokumen yang dibocorkan WikiLeaks.

McKinley sendiri saat ini sudah ditugaskan sebagai Duta Besar AS di Kolombia.

Pendukung berseru

Hampir 600.000 orang membubuhkan tanda tangan secara online untuk mendukung WikiLeaks pada hari Senin, sehari menjelang kehadiran Julian Assange, pendiri WikiLeaks, di sebuah pengadilan di London. Assange kembali dihadirkan di sebuah pengadilan di London pada hari Selasa (14/12).

Petisi dilakukan lewat Avaaz yang isinya menyerukan AS dan negara-negara lain untuk berhenti memberangus situs WikiLeaks. Mereka juga menyerukan agar kebebasan menyatakan pendapat dan kebebasan pers dihargai.

Assange diadili di London bukan karena pembocoran sekitar 250.000 kawat diplomat AS yang mengalir dari berbagai kedutaan besar AS di banyak negara ke Departemen Laur Negeri AS dan Pentagon.

Penahanan dilakukan atas tuduhan pemerkosaan yang dilakukan Assange di Swedia. Assange membantah hal itu dan menuduh penangkapannya bernuansa politik.

Dia juga mengatakan bahwa Swedia telah “disalahgunakan”. Tekanan AS diduga kuat menjadi penyebab jatuhnya tuduhan tersebut.

Sebelumnya, setelah membocorkan dokumen soal Afganistan dan Irak, Assange juga ditahan dengan tuduhan serupa. Namun, otoritas di Swedia kemudian mencabut tuduhan itu dengan alasan kasus tidak cukup kuat.

Di London pada hari Senin lalu sejumlah pendukung Assange melakukan protes. Kelompok bernama The Stop The War Coalition, yang memimpin protes itu, menuduh AS dan sekutunya berkolaborasi untuk meredam langkah Assange dengan tuduhan yang amat meragukan.

”Kami menuntut pembebasan segera terhadap Assange, batalkan semua tuduhan dan akhiri sensor kebebasan pers,” demikian seruan kelompok itu di depan Kedutaan Besar Swedia di London.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s