Menlu: Tak Ada Tekanan dari China


Indonesia merasa tidak pernah mendapatkan tekanan apa pun dari pihak mana pun terkait kehadiran maupun ketidakhadirannya dalam setiap upacara penganugerahan Hadiah Nobel Perdamaian, Jumat (10/12) di Oslo, Norwegia.

Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa seusai penutupan Bali Democracy Forum (BDF) III, yang digelar 9-10 Desember 2010. Menurut dia, dalam acara itu Indonesia ada Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar RI di Oslo, Norwegia.

”Panitia Nobel Perdamaian memang mengundang Indonesia. Sudah jadi kebiasaan, yang mewakili adalah duta besar. Sayangnya dalam undangan ditulis, nama yang diundang tidak bisa diganti orang lain. Padahal, dubes kita, Esti Andayani, sudah sejak lama dijadwalkan untuk hadir di BDF III. Namun, untungnya di menit-menit terakhir, panitia membolehkan KUAI KBRI Wening Esthyprobo untuk menggantikan,” ujar Marty.

Lebih lanjut Marty menolak anggapan bahwa Indonesia mengirim seorang perwakilan yang tidak berbobot. Menlu tidak sepakat jika hal itu kemudian dikaitkan dengan kemungkinan sikap sungkan Indonesia terhadap China. Menurut dia, tidak pernah ada tekanan dari China.

”Indonesia sangat menghormati institusi Nobel, juga prinsip-prinsip yang mendasari penganugerahan hadiah itu. Hal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan siapa penerima hadiahnya,” ujar Marty.

Marty juga menambahkan, dari informasi yang diketahuinya, Ketua Komisi HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga tidak bisa hadir karena pada saat bersamaan harus menghadiri acara lain, peringatan Hari HAM Sedunia.

Beberapa negara tidak mengirim wakilnya ke acara tersebut, antara lain Rusia, Kazakhstan, Arab Saudi, Argentina, Tunisia, Pakistan, Serbia, Irak, Vietnam, Iran, Afganistan, Mesir, Sudan, Kuba, Maroko, dan Aljazair.

Nobel diserahkan ke kursi

Piagam dan trofi Hadiah Nobel Perdamaian 2010 diserahkan secara simbolis oleh Ketua Komite Nobel Norwegia Thorbjoern Jagland ke kursi kosong yang sedianya diduduki Liu Xiaobo atau anggota keluarganya. Gemuruh tepukan tangan langsung terdengar saat itu.

Aktris Norwegia, Liv Ullmann, membacakan pernyataan yang ditulis oleh Liu. ”Kebencian tidak akan pernah merenggut kecerdasan dan nurani seseorang. Mentalitas permusuhan akan meracuni spirit bangsa, memicu perjuangan hidup mati nan kejam, merusak toleransi warga, dan menghambat arah negara menuju kebebasan dan demokrasi,” demikian Ullmann, membacakan pernyataan Liu, yang telah membikin Beijing belingsatan.

Namun, Liu, mantan profesor sastra, tetap mencuatkan sebuah optimisme. ”Saya dirasuki optimisme, mengharapkan kebangkitan di masa datang, yakni China yang bebas. Karena sesungguhnya tidak ada kekerasan yang bisa menghambat perjuangan manusia menuju kebebasan, China pada akhirnya akan menjadi sebuah negara yang diatur hukum, dan di mana hak asasi manusia akan dijunjung tinggi-tinggi.”

Sindiran Jagland juga cukup pedas tentang China. Upaya kontrol memperlihatkan kekerdilan China. ”Teknologi informasi tidak bisa dihilangkan. Teknologi akan terus membuka sebuah masyarakat.”

”Liu telah meminta kepada istrinya bahwa Hadiah Nobel ini dipersembahkan untuk korban tewas pada 4 Juni 1989,” kata Jagland merujuk pada tragedi Tiananmen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s