AS-Korsel Akan Latihan Lagi dengan Peluru Sungguhan


Militer Amerika Serikat dan Korea Selatan akan meningkatkan lagi pelatihan militer gabungan untuk memperingatkan Korea Utara setelah serangannya terhadap Pulau Yeonpyeong, 23 November lalu.

Berbeda dengan sebelumnya, latihan yang akan digelar nanti dirancang untuk menggunakan peluru tajam atau sungguhan.

Hal itu diungkap oleh seorang perwira di Seoul, Rabu (8/12). Dia menjelaskan, serangan terhadap Yeonpyeong yang menewaskan dua marinir dan dua warga sipil telah melukai hati dan harga diri rakyat Korsel. Serangan itu ilegal dan tidak dapat diterima. Ia menyebutnya sebagai sebuah ”serangan yang sengaja, tetapi tidak sah”.

Laksamana Mike Mullen, Kepala Staf Gabungan AS, akan mengunjungi Seoul untuk menunjukkan solidaritas atas insiden Yeonpyeong. Insiden itu, selain membawa korban tewas dan terluka, juga menghancurkan 29 rumah penduduk.

Mike Mullen dan rekan sejawatnya dari Korsel, Han Min-koo, mengatakan, tindakan Korut yang kejam harus dikecam oleh publik internasional.

Para komandan militer kedua negara, AS dan Korsel, sepakat untuk memperkuat usaha-usaha bersama menangkal provokasi lanjutan dari Korut. Mereka akan memperbarui rencana-rencana yang ada agar mereka dapat menanggapi dengan tegas terhadap agresi Korut selanjutnya.

AS-Korsel menyatakan, mereka pasti akan melanjutkan latihan gabungan yang bertujuan untuk menangkal secara efektif serangan-serangan Korut. Latihan yang hendak digelar dirancang untuk menggunakan peluru sungguhan atau peluru tajam. Sebab, serangan terhadap Yeonpyeong ”tidak manusiawi” dan melanggar Piagam PBB dan perjanjian gencatan senjata yang mengakhiri Perang Korea 1950-1953.

Pernyataan terbaru dari dua negara tersebut meningkatkan lagi ketegangan di Semenanjung Korea. Korut diduga kuat terus mengintip aktivitas militer di negara tetanggannya itu. Militernya pun diduga sedang melakukan pelatihan diam-diam guna mengantisipasi kemungkinan adanya provokasi dari AS-Korsel.

Mullen juga mengekspresikan kekecewaannya terhadap China, yang dinilainya tidak berbuat banyak memengaruhi sekutu utamanya, Korut. China tidak berperan apa-apa dalam meredakan ketegangan pascapenyerangan terhadap Yeonpyeong. Kasus ini menunjukkan, Beijing diduga berada di balik Pyongyang.

Studi banding

Selain itu, pihak militer Korsel berniat akan melakukan studi banding ke salah satu pulau di wilayah Taiwan. Pulau itu dilaporkan rusak diserang China selama masa Perang Dingin. Mereka berharap bisa memetik pelajaran penting menyusul serangan Korut, demikian laporan media Taiwan, Rabu.

United Evening News di Taiwan melaporkan bahwa Presiden Korsel Lee Myung-bak telah menginstruksikan militernya agar membentuk delegasi untuk mengunjungi Pulau Kinmen, Taiwan. Delegasi militer Korsel tersebut dijadwalkan tiba pada 20 Desember, kata laporan tersebut, mengutip sumber anonim.

Kinmen adalah pulau yang telah mengingatkan ketegangan lama antara Taiwan dan China sejak mereka berpisah di akhir perang sipil pada 1949. Wakil Menteri Pertahanan Taiwan Chaou Shih Chang menuturkan, ”Kami akan belajar dari pengalaman masing-masing.” Ia tak mau berkomentar lebih rinci mengenai rencana kunjungan itu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s