Eropa Dilandai Suhu Dingin Ekstrem -25 Derajat Yang Membunuh 28 Orang dan 500.000 Domba


Suhu dingin ekstrem di Eropa dalam sepekan terakhir telah merenggut 28 nyawa di Eropa Tengah, termasuk 18 orang yang tewas sejak Selasa di Polandia, kebanyakan tunawisma, karena suhu di sana anjlok hingga minus 33 derajat celsius (minus 27 fahrenheit).

Badai salju yang melanda benua itu dalam beberapa hari terakhir semakin intensif di sejumlah tempat pada hari Kamis, termasuk di London. Banyak pelaju terdampar dalam cuaca dingin karena moda transportasi, seperti kereta atau pesawat terbang, tidak beroperasi atau tidak bisa melanjutkan perjalanan. Banyak warga Inggris menyerah. Suatu survei menunjukkan, dua dari lima pekerja di seluruh Inggris tidak bisa masuk kerja pada Kamis pagi, dan dengan jumlah yang sama juga terlambat tiba ke kantor. Lembaga penjamin RSA memperkirakan, cuaca buruk bisa membebani ekonomi Inggris hingga 1,9 miliar dollar AS atau 2,3 miliar euro per hari.

Di Berlin, Jerman, salju mencapai 10 cm dan di Gera, tenggara negara itu, mencapai 40 cm. Salju setebal itu menyebabkan gangguan pada layanan kereta api dan penutupan banyak jalan.

Di Denmark, aparat pemerintah mengirim tentara dalam mobil lapis baja untuk mengangkut pasien, orang-orang yang lemah serta orang-orang tua ke rumah sakit di sebelah selatan Kopenhagen setelah salju hebat menghambat arus lalu lintas. Selasa merupakan hari terdingin di Denmark selama 120 tahun, suhu jatuh ke minus 22 derajat celsius di barat laut negara itu.

Di Normandia, Perancis utara, salju mencapai 60 cm di dekat kota Cherbourg, yang merupakan hujan salju terbesar dalam waktu lebih dari 40 tahun. Di Balkan barat, hujan lebat menyebabkan banjir di Bosnia, Kroasia, Serbia, dan Montenegro, dengan lebih dari 1.000 orang mengungsi dari rumah mereka, lapor media lokal.

Saat sebagian besar Eropa menggigil, penduduk ibu kota Sofia, Bulgaria, menikmati gelombang panas dengan suhu tertinggi mencapai 21 derajat celsius. Yunani juga mencatat suhu tinggi yang tidak sesuai musimnya.

Ratusan penerbangan di Inggris dibatalkan setelah salju menutup sejumlah bandara di negara itu. Telegraph.co.uk, Rabu (1/12/2010), memberitakan bahwa pelayanan terhenti, antara lain, di Gatwick, Edinburgh, Dundee, Durham Tees Valley, dan Doncaster (Robin Hood), yang menyebabkan ribuan penumpang terdampar.

Penundaan dan pembatalan juga dilaporkan di beberapa bandara lainnya, termasuk di London City, Heathrow, Leeds Bradford, dan Newcastle. Ini merupakan gangguan terburuk bagi penerbangan Inggris sejak krisis abu vulkanik pada bulan April lalu, yang membatalkan ribuan penerbangan di seluruh Eropa.

Cuaca buruk di tempat lain di Eropa menyebabkan sejumlah bandara di benua itu, termasuk Frankfurt dan Jenewa, juga ditutup. Hal ini menyebabkan ribuan penumpang terdampar di luar negeri. Mereka, bagaimanapun, berhak untuk klaim makanan dan, jika perlu, akomodasi hotel dari maskapai penerbangan mereka berdasarkan undang-undang perlindungan konsumen Uni Eropa. Dengan perkiraan cuaca yang bakal lebih buruk, dikhawatirkan kekacauan itu berlanjut selama beberapa hari ke depan.

Masalah terburuk terjadi di Gatwick, di mana sekitar 600 penerbangan dibatalkan setelah landasan di bandara itu diselimuti salju. “Kami memiliki 6 inci (di landasan) dan ada 6 (inci) di jalanan,” kata juru bicara bandara itu. Sebuah pernyataan di situs bandara itu mengatakan, “Berdasarkan kondisi cuaca saat ini, keberangkatan dan kedatangan pesawat di Gatwick akan sangat terganggu. Landasan pacu saat ini tertutup untuk memungkinkan kegiatan pembersihan salju dilaksanakan. Penumpang disarankan untuk tidak berangkat ke bandara dan harus mengecek langsung ke maskapai penerbangan mereka atau kunjungi situs web kami.

Hujan salju menyapu wilayah Eropa utara dan menyebabkan bandar udara ditutup, jalan-jalan terhalang, dan layanan internasional kereta Eurostar dibatalkan. Para ahli cuaca memperkirakan, hujan salju yang lebih hebat masih akan terjadi pada Jumat (3/12/2010) ini.

Cuaca dingin yang mendadak datang dan tak sesuai musimnya itu telah berlangsung hampir seminggu. Kondisi itu telah menyebabkan aktivitas di Inggris terhenti, dengan ribuan sekolah ditutup dan para pelaju terdampar karena layanan kereta api dibatalkan serta jalan yang tertutup es dianggap tidak aman untuk dilalui. Bandara Gatwick, bandara kedua tersibuk di Inggris setelah Heathrow, ditutup dua hari berturut-turut dan telah memicu kemarahan warga karena negara dinilai tidak mampu mengatasi suhu dingin.

Bandara London mengatakan, pihaknya berharap untuk bisa beroperasi lagi pada Jumat pagi, tetapi tetap memperingatkan para wisatawan tentang kemungkinan penundaan lebih lanjut serta gangguan. Pejabat Pemerintah Inggris telah berjanji untuk meninjau bagaimana jaringan transportasi menghadapi masalah itu, sedangkan laporan media mengatakan, Inggris telah menjadi “bahan tertawaan” luar negeri.

Namun, di seluruh wilayah Eropa sedang mengalami masalah yang sama akibat suhu yang mendadak anjlok. Eurostar, yang mengoperasikan kereta antara London-Paris-Brussels, membatalkan lebih dari 20 kereta api pada hari Kamis dan mengatakan akan mengurangi layanan secara signifikan sampai hari Minggu. Bandara internasional Jenewa hanya dibuka pada Kamis pagi setelah salju hebat menyebabkan bandara itu ditutup selama satu setengah hari, tetapi jadwal masih mengalami penundaan parah.

Di bandara Dublin, Irlandia, penerbangan dibuka kembali pada Kamis malam, setelah itu ditutup untuk memungkinkan pembersihan salju dan es dari landasan pacu. Sementara puluhan penerbangan masih dibatalkan atau ditunda di bandara di Paris, Praha, dan Frankfurt.

Lebih dari separuh dari semua domba yang baru dilahirkan di Southland, dataran rendah South Island, Selandia Baru, pada musim ini mati akibat badai salju besar pekan lalu.

Presiden Federasi Petani Selandia Baru Don Nicholson, Minggu (26/9/2010), mengatakan, sedikitnya 500.000 domba telah musnah.

“Badai tersebut menjadi pukulan sangat telak terhadap moral petani. Petani menderita kerugian sangat besar, satu domba berharga 100 dolar Selandia Baru (71 dollar AS, atau sekitar Rp 700.000),” kata Don Nicholson.

Nicholson mengatakan, banyak domba dewasa juga telah mati sehingga produksi susu dari peternak juga telah merosot.

Badai salju tersebut telah dinyatakan sebagai peristiwa penyimpangan cuaca tingkat menengah oleh pemerintah Selandia Baru sehingga memicu pengurangan pajak dan pengeluaran dana bagi Rural Support Trust untuk menyediakan dukungan kesejahteraan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s