Korea Utara Nyerepet Bahaya


Bung Karno pernah membuat pidato berjudul ”Tahun Vivere Pericoloso” atau ”TAVIP”. Pidato itu disampaikan pada peringatan Hari Kemerdekaan Ke-19 RI tahun 1964.

Istilah vivere pericoloso sendiri dulu mula pertama diucapkan oleh Benito Amilcare Andrea Mussolini (1883-1945), tokoh fasisme dan pemimpin Italia. Mussolini lengkapnya mengatakan, vivere pericoloso mente, yang arti luasnya adalah hidup dalam cita-cita yang membahayakan atau terjemahan bebasnya hidup menyerempet bahaya.

Nah, praktik vivere pericoloso itulah yang kini dimainkan oleh Korea Utara. Bahkan, Peter M Beck dalam artikelnya di The Wall Street Journal (24/11) menyebut Korut adalah ”jagonya bermain nyerempet-nyerempet bahaya”, yang dalam istilah ringkasnya mungkin lebih pas disebut ”nekat”.

Bagaimana tidak nekat. Tiba-tiba, mereka menggempur Pulau Yeonpyeong, Korea Selatan, Selasa lalu. Gempuran meriam artileri itu menewaskan empat orang dan melukai sejumlah orang lainnya. Dunia kaget. Masyarakat internasional pun tidak bisa mengerti apa maunya Korut itu. Apa yang kau cari Korut? Begitu pertanyaan yang muncul.

Aksi Korut itu mengingatkan orang akan Perang Korea (1950-1953). Perang itu menewaskan paling tidak dua juta penduduk sipil Korea, sekurang-kurangnya 1,5 juta tentara komunis, lebih kurang 30.000 tentara AS, dan 400.000 tentara Korsel serta 1.000 tentara Inggris. Apakah lembaran hitam itu hendak diulang lagi?

Memang, Perang Korea boleh dibilang ”belum” berakhir. Baku tembak berhenti tanpa perjanjian perdamaian, tapi hanya gencatan senjata. Walhasil, situasi perang tetap hidup sejak 57 tahun silam. Itulah sebabnya setiap kali pecah ketegangan antara keduanya. Tahun ini saja Korut melakukan tak kurang dari delapan kenekatan mengusik Korsel. Yang terakhir insiden penenggelaman kapal perang Cheonan milik Korsel yang menewaskan 46 awaknya.

Akan tetapi, tindakan Korut itu tidak cukup benar-benar membangkitkan amarah Korsel. Tahun 1974, seorang agen Korut berusaha membunuh Park Chung-hee yang kemudian menjadi presiden. Itu pun tidak memecahkan perang. Pada tahun 1983, 17 pejabat tinggi Korsel dibunuh pasukan Korut di Myanmar. Tragedi itu pun belum mampu memicu pecahnya perang. Masih banyak provokasi Korut dan insiden lainnya selama hampir 60 tahun terakhir.

Tidak ada tentu yang mengharapkan pecah perang. Penduduk Seoul, misalnya, sangat khawatir walau sangat marah pada Pyongyang. Kota terbesar dan ibu kota Korsel itu hanya terletak sekitar 48 kilometer dari perbatasan. Di sepanjang perbatasan itu, Korut menggelar ratusan roket artileri yang dalam hitungan menit setelah ditembakkan akan berebutan menghajar Seoul! Korut juga menempatkan ratusan rudal jarak pendek dan menengah di perbatasan yang dapat menghajar banyak tempat di Korsel.

Bila perang pecah, Korsel, salah satu kekuatan ekonomi dunia (antara lain memiliki pabrik-pabrik elektronik berskala global, baja, dan mobil), lebih banyak menderita dibandingkan dengan Korut yang tahu benar akan hal ini. Korut tahu bahwa perekonomian Korsel sangat bergantung pada pasar internasional. Dan, gempuran meriam Korut itu akan menakutkan pasar, yang akan merugikan perekonomian Korsel. Sebelumnya AS sudah ”ditakut-takuti” dengan isu nuklir.

Itu berarti perang tak akan terjadi? Semua itu tergantung China (pengasuh Korut) dan AS (pelindung Korsel). Korut memang senang ”nyerempet-nyerempet bahaya” untuk memaksakan kehendaknya, sekaligus menunjukkan bahwa mereka masih ada dan berani nekat.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s