Isi Surat-surat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Bocor


Situs Wikileaks kembali merilis sekitar 250.000 dokumen berisi kawat-kawat diplomatik antara kedutaan besar Amerika Serikat di sejumlah negara dan Washington. Pemerintah AS gagal membujuk pendiri Wikileaks, Julian Assange, membatalkan penyebaran dokumen itu.

Menlu AS Hillary Clinton, Jumat (26/11), mengontak pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Afganistan, China, Jerman, Inggris, Perancis, Kanada, Denmark, Israel, Norwegia, dan Polandia. Clinton meminta kepada para pemimpin tersebut agar tidak terpengaruh dengan dokumen rahasia itu.

Di antara dokumen rahasia yang dipublikasikan beberapa media, seperti The Guardian dan The New York Times, Minggu, antara lain berisikan niat sejumlah pemimpin Arab, termasuk Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz, yang meminta AS menghentikan program nuklir Iran dengan cara apa pun, termasuk dengan opsi militer.

Pesan Raja itu disampaikan oleh Dubes Arab Saudi untuk AS Adel el-Jubair. Raja memperingatkan AS, jika Iran berhasil memiliki senjata nuklir, semua negara di kawasan ini akan berlomba memiliki senjata nuklir.

Diungkapkan, kerja sama AS- Arab Saudi untuk membendung pengaruh Iran di Irak adalah bagian dari strategi Arab Saudi.

Raja Bahrain Sheikh Hamd bin Isa al-Khalifah ketika menerima mantan Komandan Pasukan Multinasional di Irak, Jenderal David Petraeus, pada 1 November 2009 juga meminta AS segera menghentikan program nuklir Iran dengan cara apa pun. Sheik Hamd menyatakan, lebih besar risiko membiarkan program nuklir Iran ketimbang risiko untuk menghentikannya.

Dokumen rahasia itu juga mengungkapkan, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, UEA, dan Kesultanan Oman ingin meminta membeli senjata AS.

Membenci Iran

Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohamad bin Zayed ketika bertemu seorang diplomat AS pada 9 Februari 2010 mengatakan, logika perang kini mendominasi kawasan ini.

PM Qatar Sheikh Hamd bin Jaseem al-Thani ketika bertemu Menteri Urusan Energi AS Daniel Poneman pada 10 Desember 2009 mengatakan, Iran membohongi Arab dan sebaliknya.

Seorang diplomat AS di Mesir pada Februari 2009 mengungkapkan, Presiden Mesir Hosni Mubarak sangat membenci Iran, yang selalu membuat masalah.

Dokumen itu, yang juga dipublikasikan oleh harian Perancis, Le Monde, mengungkapkan, pada Desember 2009 Israel menyampaikan kepada AS perundingan dengan Iran soal program nuklir tidak akan berhasil.

Direktur Urusan Politik dan Keamanan pada Kementerian Pertahanan Israel Amos Gilad mengatakan, Iran belum membuat senjata nuklir saat ini. Namun, Iran bisa membuat senjata nuklir setiap saat jika keadaan mendorongnya.

Israel menyatakan siap menyerang Iran tanpa harus berkoordinasi dengan AS. Israel juga menegaskan keinginan mempertahankan dominasi nuklir di Timur Tengah.

Menteri Pertahanan AS Robert Gates mengatakan, serangan militer terhadap Iran tidak bisa menghentikan program nuklir Iran. Menurut Gates, serangan itu hanya menunda negara itu memperoleh senjata nuklir selama satu hingga tiga tahun.

Iran mendapatkan dari Korea Utara sejumlah rudal sangat canggih yang jangkauan tembaknya bisa mencapai Eropa. Tentang Tanzim Al Qaeda, Wikileaks mengungkapkan, adalah para dermawan asal Arab Saudi sebagai penyalur dana terbesar pada jaringan radikal pimpinan Osama bin Laden itu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s