Presiden Kirgistan Diultimatum untuk Serahkan Diri Setelah Kekebalan Hukum Dicabut


Otoritas pemerintahan transisi Kirgistan, Asia Tengah, Selasa (13/4), mencabut status kekebalan hukum atau impunitas dari Presiden tersingkir, Kumanbek Bakiyev. Dia diultimatum untuk segera menyerahkan diri jika tidak ingin ditangkap secara paksa.

Menteri Keamanan Pemerintahan Transisi Azimbek Beknazarov menegaskan, pihaknya akan melakukan penangkapan jika Bakiyev tidak menyerah. ”Kami telah menghapus status kekebalannya,” kata Beknazarov.

Dia juga menjelaskan, pemerintahan sementara yang dipimpin Roza Otunbayeva sudah memulai penyelidikan atas kejahatan Bakiyev. ”Jika Bakiyev tidak segera menyerahkan diri, kami akan menangkap dia dengan bantuan pasukan khusus,” ujarnya.

Bakiyev tersingkir lewat aksi kerusuhan massa pada hari Rabu (7/4) yang menewaskan sekitar 100 orang. Dua pejabat pemerintahan Bakiyev menjadi korban penganiayaan massa, yakni Wakil Perdana Menteri Aklybek Japarov dan Mendagri Moldomusa Kongatiyev yang dilaporkan tewas.

Sesaat setelah kerusuhan massa yang diwarnai aksi penjarahan itu, Bakiyev melarikan diri ke wilayah Osh, Kirgistan selatan. Setelah bersembunyi beberapa hari, akhirnya dia tampil untuk pertama kalinya, Senin (12/4) di depan publik Teyit, daerah kelahirannya di Kirgistan selatan.

Pada hari Selasa, massa yang terdiri dari ribuan pendukung setia Bakiyev di Jalalabad, Kirgistan selatan, malah menggelar aksi unjuk rasa untuk mendukung kepemimpinan Bakiyev. Massa menuduh pemerintahan Otunbayeva tidak sah, merampas kekuasaan yang sah dari tangan Bakiyev.

Tetap tak mau mundur

Sama seperti ketika berpidato di depan pendukungnya di Teyit sehari sebelumnya, Bakiyev pada hari Selasa di Jalalabad kembali menggelorakan massa pendukungnya dengan kecaman-kecaman terhadap Otunbayeva. Dia berkali-kali menegaskan, tidak akan meletakkan jabatan karena merasa masih sebagai presiden.

Bakiyev juga menegaskan, dia akan kembali ke Bishkek jika ada jaminan keamanan bagi dirinya dan semua anggota keluarganya. Namun, pernyataan saling serang antara pejabat pemerintahan Otunbayeva dan Bakiyev semakin berpotensi memicu konflik baru di negara bekas bagian dari Uni Soviet itu.

Konflik politik di negara kaya minyak dan gas ini sepertinya menegaskan dugaan bahwa konflik itu merepresentasikan pertarungan Rusia dan AS. Kedua negara ini memiliki kepentingan strategis di Kirgistan. Para analis menduga, AS dan Rusia ada di balik kerusuhan pekan lalu.

AS memiliki pangkalan udara di Manas, yang menjadi pusat distribusi logistik dan personel tentara NATO untuk mendukung operasi militer di Afganistan. Di Manas terdapat 1.100 personel tentara, termasuk kontingen Perancis dan Spanyol. Rusia juga tak mau kehilangan pengaruh dengan mempertahankan pangkalan udara di pinggiran Bishkek.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s