Category Archives: Timur Tengah

Pasukan Kurdi Pukul Mundur Dan Rebut Bendungan Yang Dikuasai ISIS

Pasukan Kurdi di Irak utara berhasil merebut kembali bendungan terbesar negeri tersebut dari tangan kelompok militan Negara Islam, yang sebelumnya dikenal dengan nama Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Mengutip laporan BBC hari ini, operasi pasukan Kurdi yang juga dikenal dengan nama Peshmerga itu dilancarkan pada Ahad pagi waktu setempat, 17 Agustus 2014. Serangan ini terjadi setelah Peshmerga mendapatkan pasokan amunisi dari Amerika Serikat.

Bendungan yang sangat strategis tersebut merupakan bendungan utama yang memasok air dan listrik ke kawasan Irak utara. Sejak 7 Agustus lalu, bendungan tersebut berada di bawah kendali milisi ISIS setelah pasukan Kurdi mundur karena kehabisan amunisi. Hoshyar Zebari, mantan Menteri Luar Negeri Irak yang tak lagi menjabat sejak bulan lalu, menyatakan pasukan Peshmerga mendapat perlawanan yang tidak berarti dari ribuan pejuang ISIS dalam pertempuran merebut bendungan.

Sementara itu, dalam serangan tersebut, AS mengaku telah merusak atau menghancurkan 19 kendaraan serta pos-pos penjagaan milik ISIS. Zebari menambahkan, target berikutnya adalah membersihkan pasukan bersenjata ISIS dari Pegunungan Nineveh dan Sinjar untuk menjamin kembalinya kaum minoritas etnis Yazidi yang terus diserang ISIS.

ISIS Berkembang Di Irak Karena Janji Mendapatkan Uang Bila Bergabung

Analis kebijakan politik luar negeri asal Inggris, Lucy Fisher, menengarai faktor ekonomi merupakan penyebab utama kelompok Negara Islam (Islamic State/ISIS) berkembang di Irak. Bahkan, menurut pemenang Anthony Howard Award 2013–penghargaan untuk mengenang wartawan politik kenamaan Anthony Howard yang meninggal pada 2010–isu ekonomi inilah yang menyebabkan ISIS mendapat dukungan dari kaum Sunni di Irak.

“Masyarakat Sunni Irak selama ini ditekan oleh kepemimpinan Syiah, dan ISIS muncul menawarkan peluang hidup lebih baik,” kata Fisher seperti dilansir situs Newstatesman Inggris, Senin, 18 Agustus 2014. Fisher menuturkan kebanyakan warga Sunni Irak bekerja sebagai petani dan hidup di bawah garis kemiskinan sehingga mudah tergiur bila ditawarkan uang dan dicarikan istri.

Dia mengutip data yang menyebutkan 20-35 persen populasi penduduk Sunni Irak mengalami kesulitan ekonomi. Bahkan, selama 10 tahun lebih di bawah kepemimpinan Saddam Hussein yang merupakan keturunan Sunni Arab dari Tikrit, mereka tetap terpinggirkan. Menurut Fisher, kondisi tersebut adalah ironi bagi sebuah kawasan yang dialiri dua sungai besar di Asia, yaitu Tigris dan Efrat. “Ini ironi pahit bagi masyarakat Sunni pedesaan karena kawasan Irak termasuk subur,” ujarnya.

Puncaknya terjadi pada 2003 ketika perang antara Sunni dan Syiah menghancurkan 90 persen pertanian Irak. Walhasil, pada 2004, hingga enam tahun kemudian, Irak mengalami krisis pangan. Kondisi ekonomi penduduk Sunni Irak berpotensi memunculkan pemberontakan. Pada 2012, puluhan ribu warga Sunni Irak turun ke jalan menentang dominasi Syiah. “Mereka akhirnya dihadapkan pada tiga pilihan: menderita, menganggur, atau bekerja jadi pejuang ISIS,” katanya.

Terakhir, ISIS dilaporkan mengeksekusi sedikitnya 700 orang dari suku Sheitat asal Suriah timur. Ratusan warga sipil ini dipenggal kepalanya karena menolak berbaiat kepada ISIS. Aktivis hak-hak asasi manusia (HAM) Suriah mengatakan Kelompok Negara Islam (Islamic State/ISIS) mengeksekusi sedikitnya 700 orang dari suku Sheitat, Suriah Timur, dengan cara dipenggal kepalanya dalam dua pekan terakhir.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan, Sabtu, 16 Agustus 2014, aktivis HAM Suriah yang berbasis di London, Syrian Observatory for Human Rights, menyebut mayoritas korban adalah warga sipil. Warga suku Sheitat yang bermukim di wilayah timur Suriah, dipenggal kepalanya setelah ditangkap oleh kelompok ISIS. Sekitar 100 dari 700 yang dieksekusi adalah pejuang Sheitat yang melawan pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Sisanya, sekitar 600 orang lagi adalah warga sipil.

Para korban adalah warga Desa Ghranij, Abu Hamam, dan Kashkiyeh di provinsi yang dikuasai ISIS, Deir Ezzor. Aktivis HAM mendapatkan data tersebut dari jaringan aktivis dan para medis di lapangan. Menurut Ketua Observatory, Rami Abdel Rahman, nasib 1.800 anggota suku Sheitat lainnya belum diketahui.

Hari Sabtu, oposisi, Koalisi Nasional Suriah (SNC), meminta Amerika Serikat dan sekutunya juga menggempur kelompok IS di Suriah, seperti yang dilakukan di Irak. Dalam jumpa pers di Turki, pemimpin SNC, Hadi al-Bahra, menuduh komunitas internasional bersikap standar ganda.

“Tidak ada alasan bagi mereka untuk tetap menutup mata atas apa yang terjadi di Suriah, kami telah menerima laporan didukung dengan dokumen dan video soal kejahatan kemanusiaan yang dilakukan ISIS setiap hari di Deir Ezzor,” kata Al Bahra seperti dilansir Al Jazeera, Ahad, 17 Agustus 2014. (Baca: Waspadai Pencurian Paspor untuk Kepentingan ISIS)

Video pemenggalan yang beredar di dunia maya tampak terjadi di desa-desa tempat tinggal suku Sheitat. Tayangan memperlihatkan sejumlah pria tertawa dan mengolok-olok korban dengan meniru kambing saat mereka melakukan eksekusi. Beberapa korban adalah korban luka dalam pertempuran melawan kelompok ISIS. Laporan mengatakan militan ISIS menyeret mereka dari rumah sakit Hujein dan pusat medis di Kota Mayadeen sebelum memotong kepalanya.

Pembunuhan terjadi setelah tetua Sheitat menolak pembaiatan atau sumpah setia terhadap ISIS.

Minggu lalu, salah seorang pemimpin Sheitat mendesak militan IS untuk bertobat dan meninggalkan kelompok itu. Dia mengimbau para pengikut ISIS menjalankan pertobatan dan meminta pengampunan Allah, dan meninggalkan apa yang dia sebut sebagai “gerombolan murtad.”

Mereka kemudian membunuh beberapa militan ISIS dan memperlihatkan mayat mereka di Sheitat.

Pasukan Kurdi Latih Etnis Yazidi Bertempur Hadapi ISIS

Desakan kelompok militan Negara Islam (Islamic State)–lebih dikenal dengan nama Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS)–tak lantas membuat kaum minoritas Yazidi yang bermukim di Pegunungan Sinjar tinggal diam. Mereka turut membantu pasukan Kurdi melawan pasukan ISIS.

Mengenakan seragam militer hijau, kaum laki-laki, baik tua maupun muda, diajarkan cara menggunakan senapan serbu dan granat roket oleh pasukan Kurdi Suriah. Latihan dilakukan di sebuah kamp pelatihan di pangkalan militer Qamishli di bagian timur laut Suriah yang berbatasan dengan Kurdistan Irak, Sabtu, 16 Agustus 2014.

“Kaum Yazidi ingin tinggal di Suriah karena lebih aman, tapi para relawan benar-benar ingin kembali ke Irak untuk melawan gempuran ISIS,” kata Anas Hani, anggota pasukan Unit Pertahanan Rakyat (YPG), kepada Reuters, Ahad, 17 Agustus 2014. Anas menuturkan saat ini ada beberapa kamp pelatihan bagi relawan Yazidi yang ingin berperang melawan ISIS. “Dalam sepuluh hari terakhir, ratusan relawan telah lulus pelatihan. Dan kami masih melatih lebih dari jumlah itu,” tuturnya.

Dalam laporan pekan lalu disebutkan bahwa ISIS telah menewaskan sekitar 500 warga Yazidi. Mereka juga mengubur beberapa korban hidup-hidup. Tak hanya itu, sekitar 300 perempuan diculik dan dijadikan budak seks atau istri para pejuang ISIS. Etnis minoritas yang menghuni wilayah Pegunungan Sinjar ini menjadi target serangan Negara Islam lantaran dianggap sebagai masyarakat “pemuja setan”. Kelompok tersebut memaksa warga laki-laki Yazidi memilih: masuk Islam atau mati sedangkan untuk etnis Yazidi yang wanita bila menolak masuk Islam akan dijadikan budak seks karena etnis Yazidi merupakan keturunan Arya yang ber kulit putih, mata biru dan rambut pirang.

ISIS Rajam Perempuan Irak Karena Berzinah Tetapi Prianya Tidak

Seorang tokoh agama membacakan putusan sebelum sebuah truk datang dan menurunkan batu-batu berukuran besar dekat taman kota. Sejumlah militan Negara Islam, yang selama ini sudah dikenal dengan nama ISIS atau Negara Islam di Irak dan Suriah, membawa seorang perempuan berpakaian hitam dari ujung kepala hingga kaki dan menempatkannya di sebuah lubang kecil di tanah. Saat warga berkumpul, kaum militan itu mengatakan kepada mereka untuk menerapkan hukuman, yaitu merajam hingga tewas perempuan itu atas dugaan berzina.

Tak seorang pun dari kerumunan itu yang melangkah maju, kata seorang saksi dalam peristiwa di sebuah kota di Suriah utara itu. Maka dari itu, kaum militan yang sebagian besar ekstremis asing melakukannya sendiri. Mereka melempari Faddah Ahmad dengan batu hingga jenazahnya diseret pergi. “Bahkan, saat dia dihajar dengan batu, dia tidak menjerit atau bergerak,” kata seorang aktivis oposisi yang mengaku telah menyaksikan perajaman di dekat stadion sepak bola dan taman di kota Raqqa, basis utama kelompok ISIS di Suriah.

Pembunuhan semacam itu merupakan yang pertama di wilayah yang dikuasai pemberontak di Suriah utara, di mana militan ISIS telah menguasai daerah luas, meneror penduduk dengan interpretasi ketat hukum Islam, termasuk pemenggalan dan pemotongan tangan para pencuri. Kantor berita AP melaporkan, kaum militan baru-baru ini telah mengikat seorang anak usia 14 tahun di sebuah kayu palang dan meninggalkannya selama beberapa jam di bawah sinar matahari musim panas yang terik sebelum akhirnya menurunkannya. Tindakan itu merupakan hukuman karena bocah itu tidak berpuasa selama Ramadhan.

Militan ISIS juga telah melakukan tindakan brutal terhadap kaum Muslim Syiah dan orang-orang lain yang dalam pandangan mereka murtad. Di negara tetangga Irak, militan ISIS telah membuat kelompok minoritas agama Yazidi lari dari sejumlah kota dan desa. Ribuan warga Yazidi yang melarikan diri telah terdampar di puncak gunung selama berhari-hari. Krisis kemanusiaan itu kemudian mendorong AS untuk melancarkan serangan udara dan menurunkan bantuan lewat udara kepada warga Yazidi minggu ini.

Jumat lalu, Kamil Amin, juru bicara Kementerian Hak Asasi Manusia Irak, mengatakan, ratusan perempuan Yazidi berusia di bawah 35 telah ditahan militan ISIS di sekolah-sekolah di kota Mosul yang merupakan kota terbesar kedua di Irak, yang telah dikuasai militan itu Juni lalu.

Perajaman di Suriah bulan lalu tidak dipublikasikan secara luas ketika itu, tetapi beberapa hari kemudian tiga foto muncul di dunia maya yang tampaknya untuk mendokumentasikan tontonan mengerikan itu. Foto-foto tersebut, menurut AP, konsisten dengan sejumlah laporan kantor berita itu sebelumnya. Foto-foto tersebut, yang di-posting di akun Twitter yang baru dibuat, menunjukkan puluhan orang berkumpul di alun-alun, seorang tokoh agama membacakan sebuah putusan melalui pengeras suara dan beberapa pria berjanggut dengan senapan otomatis membawa atau mengumpulkan batu.

“Seorang perempuan yang telah menikah dirajam di hadapan sejumlah jemaah.” Demikian keterangan foto-foto di akun Twitter itu, yang sejak saat itu telah dicabut.

Abu Ibrahim Raqqawi, aktivis yang menyaksikan perajaman Ahmad, mengatakan, penduduk lokal marah melihat milisi asing memaksakan kehendak mereka kepada masyarakat. “Orang-orang terkejut dan tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi. Banyak yang terusik setelah tahu bahwa orang-orang Saudi dan Tunisia yang memberi perintah (seperti) itu,” katanya dalam sebuah wawancara lewat Skype. Ahmad, kata dia, tampaknya pingsan, dan ia telah mendengar bahwa perempuan itu sebelumnya dibawa ke rumah sakit di mana dia dibius.

Raqqawi mengatakan, perajaman tersebut terjadi malam hari, sekitar pukul 23.00. Dia tidak bisa melihat darah jenazah karena pakaian hitam yang dikenakannya. Ahmad tidak berteriak atau bergerak, dan meninggal dengan tenang. “Mereka kemudian membawa jenazah itu dalam salah satu mobil mereka dan pergi,” katanya.

Dua kasus itu pertama kali dilaporkan Observatorium Suriah untuk HAM yang berbasis di Inggris, yang mengumpulkan informasi melalui sebuah jaringan aktivis di seluruh Suriah. Bassam Al-Ahmad, juru bicara Pusat Dokumentasi Pelanggaran, sebuah kelompok Suriah yang melacak pelanggaran HAM, juga memastikan perajaman itu.

Seorang aktivis yang berbasis di Provinsi Idlib di Suriah utara, yang mengumpulkan informasi dari para aktivis lainnya di Suriah utara, mengatakan Ahmad seorang janda. Seorang pria yang minta untuk hanya diidentifikasi sebagai Asad karena takut akan aksi balas dendam, mengatakan bahwa dalam perajaman yang lain, di Tabqa, warga juga menolak untuk ambil bagian. Aktivis itu juga menegaskan bahwa aksi tersebut dilakukan ISIS.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Suriah, dalam sebuah pernyataan yang di-posting di Twitter, mengecam “perajaman barbar” terhadap seorang perempuan di Tabqa.

Kelompok hak asasi manusia internasional tidak melaporkan perajaman itu. Human Rights Watch mengatakan, pihaknya tidak punya konfirmasi independen tentang kasus itu. “Jika benar, itu merupakan tren yang sangat mengkhawatirkan,” kata peneliti Human Rights Watch, Lama Fakih.

“ISIS telah menerapkan aturan yang sangat ketat terhadap penduduk sipil yang telah membuat perempuan dan anak perempuan sangat rentan dan sudah jelas mendiskriminasikan mereka,” katanya.

Tindakan itu telah membuat waspada anggota kelompok oposisi utama Suriah yang berjuang untuk menyingkirkan Presiden Bashar Assad dari kekuasaan sejak 2011. “Perilaku-perilaku itu tidak ada hubungannya dengan sifat dan mentalitas masyarakat Suriah,” kata Abdelbaset Sieda, anggota senior Koalisi Nasional Suriah yang didukung Barat. Ia mengatakan, Koalisi Nasional Suriah tidak punya konfirmasi resmi tentang kasus perajaman itu meskipun ia tidak mengabaikan hal itu. “Kami menduga tindakan tersebut dilakukan ISIS,” katanya.

Gerakan Hazm, sebuah kelompok gerilyawan lain yang aktif di Suriah utara, mengatakan, perajaman itu terjadi. Kelompok itu menambahkan, tindakan tersebut “bertentangan dengan prinsip-prinsip revolusi” dan mendorong dunia internasional akan menahan diri dalam memberikan dukungan kepada pemberontak.

“Dunia harus tahu bahwa setiap kali mereka menunda dukungan nyata kepada kelompok-kelompok moderat yang aktif, itu sama dengan dukungan langsung kepada faksi ekstremis,” kata kelompok itu dalam menanggapi pertanyaan tertulis kantor berita AP.

ISIS Kubur Hidup Hidup Anak-Anak dan Jadikan Ratusan Perempuan Irak Sebagai Budak Seks

Militan Negara Islam yang sebelumnya dikenal dengan nama ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) telah menewaskan sekitar 500 anggota etnis minoritas Yazidi di Irak selama serangan mereka di Sinjar, wilayah utara negara ini yang merupakan rumah bagi umat Yazidi. Pernyataan ini disampaikan Menteri Hak Asasi Manusia Irak Mohammed al-Sudani Syiah kepada Reuters pada Ahad, 10 Agustus 2014.

Ia mengatakan milisi ISIS telah mengubur beberapa korban mereka hidup-hidup, termasuk perempuan dan anak-anak. Tak hanya itu, sekitar 300 perempuan diculik dan dijadikan budak seks karena ketimpangan jumlah pejuang laki-laki dan perempuan yang menjadi pengikut ISIS.

“Beberapa korban, termasuk perempuan dan anak-anak dikubur hidup-hidup di kuburan massal yang tersebar di dalam dan sekitar Sinjar,” tutur Sudani. Sinjar merupakan rumah bagi etnis Yazidi yang dianggap sebagai masyarakat “pemuja setan” oleh militan ISIS. Kelompok ini mengancam Yazidi untuk masuk Islam atau mati.

“Kami telah mengantongi bukti yang kuat yang kami peroleh dari anggota Yazidi yang melarikan diri,” kata Sudani dalam sebuah wawancara telepon sebagai laporan pertama tentang masalah ini yang muncul di media.

Kisah Bocah Yang Lolos Dari Cengkraman ISIS Setelah Diculik Untuk Dijadikan Tentara

Diculik pada akhir Mei saat dalam perjalanan menuju lokasi ujian di Kobani, Suriah, remaja laki-laki berusia 14 tahun, Lawand, akhirnya berhasil kabur dari cengkeraman kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dua bulan kemudian. Kepada The Daily Beast, Senin, 4 Agustus 2014, Lawand menuturkan kisahnya. Pada akhir Juli lalu, Lawand dan empat temannya mulai merencanakan pelarian mereka. Hingga pada suatu malam, mereka berhasil mencuri kunci pintu dari penjaga yang tangah tidur nyenyak.

Selama di sel penjara dalam kamp pelatihan ISIS, Lawand menjadi saksi bagaimana kawan-kawannya mencoba kabur. Namun banyak yang berakhir pilu. Mereka yang berhasil tertangkap lagi mengalami siksaan, beberapa malah mengadapi kematian. Namun nasib mujur berpihak pada Lawand. Malam itu, ia berhasil keluar melompat melewati dinding ruangan. Ia dan empat temannya berjalan dalam kegelapan dan bersembunyi di sebuah situs konstruksi di dekatnya. Saat fajar menyingsing, mereka keluar menuju permukiman.

Di sana mereka mencoba meminta uang receh dari warga yang lewat. Uang itu kemudian digunakan Lawand untuk menghubungi keluarganya melalui warung Internet setempat. Anak-anak itu pun berhasil kembali ke rumah pada 24 Juli 2014. Lawand hanyalah satu dari ratusan anak Suriah yang diculik ISIS untuk dijadikan jihadis. Di kamp pelatihan tersebut, menurut kesaksian Lawand, mereka dicekoki dengan materi-materi jihad serta video pemenggalan kepala. Mereka juga diajari cara menggunakan senjata. Kelak, ujar Lawand, anak-anak ini akan dijadikan sukarelawan bom bunuh diri.

Penuturan Lawand yang berhasil melarikan diri ternyata bertolak belakang dengan klaim ISIS dalam video yang mereka rilis. Anak-anak memang merupakan tema umum dari propaganda ISIS. Dalam propaganda ini, ISIS mengklaim bahwa anak-anak itu juga menginginkan berdirinya sebuah negara Islam. “Mereka punya impian, dan impian mereka adalah untuk mendirikan negara Islam,” tutur salah satu pemimpin ISIS dalam video yang mereka rilis Juli lalu.

Kelompok Islam militan di Suriah tak hanya merekrut orang dewasa untuk melakukan gerakan pemberontakan. Menurut laporan pegiat hak asasi manusia, Human Right Watch (HRW), kelompok militan Islamic State in Iraq and the Levant (ISIL) merekrut anak-anak berusia 15 tahun dan mengirim mereka ke medan pertempuran dengan menjanjikan pendidikan gratis.

ISIL yang telah merebut secara masif wilayah-wilayah di perbatasan Irak diketahui mempersenjatai anak-anak tersebut dan melatih mereka di Suriah. Bahkan anak-anak berusia belasan tahun itu dipersiapkan untuk menjadi pengebom bunuh diri. Selain itu, HRW menemukan bukti bahwa anak-anak itu juga dimobilisasi oleh kelompok yang lebih moderat, seperti Free Syrian Army dan kelompok Al-Qaeda yang berafiliasi dengan Front al-Nusra.

“Kengerian konflik bersenjata di Suriah diperburuk dengan melibatkan anak-anak di garis terdepan pertempuran,” kata Priyanka Motaparthy, penulis laporan yang mendokumentasikan 25 anak-anak, seperti dilansir Reuters, Senin, 23 Juni 2014. Syrian Observatory for Human Rights, kelompok pemantau berbasis di London, mengatakan bahwa para kerabat siswa yang diculik di Suriah khawatir ISIL akan menggunakan anak-anak untuk aksi bom mobil atau serangan bunuh diri.

Konflik di Suriah awalnya dimulai dengan aksi demonstrasi damai untuk menuntut perubahan politik pada 2011. Namun konflik berubah menjadi perang saudara ketika kelompok setia Presiden Bashar al-Assad mulai melawan kelompok oposisi dengan kekerasan. Perseteruan gerilyawan oposisi ini kemudian menjadi konflik yang semakin rumit. Hingga menimbulkan ketegangan sektarian di wilayah Timur Tengah dan merembet ke negara-negara tetangga.

HRW belum dapat menghitung jumlah anak-anak yang bergabung dalam perang Suriah. Namun The Violations Documenting Center, kelompok pemantau Suriah, telah mendokumentasikan 194 angka kematian anak-anak lelaki “non-sipil” di negara itu sejak September 2011. Pengakuan seorang anak berusia 16 tahun bernama Majed sungguh mengejutkan. Dia mengatakan anak-anak yang direkrut telah dilatih sebagai penembak jitu, menjadi garda terdepan pertempuran, dan kadang mengalami luka di medan perang.

Majed mengaku dirinya dan anak-anak lain direkrut oleh kelompok Front al-Nusra di selatan Kota Deraa, dekat perbatasan Yordania. Kelompok al-Nusra menyediakan sekolah gratis di sebuah masjid lokal yang juga dijadikan tempat pelatihan militer. Para pemimpin kelompok meminta anak-anak tersebut menjadi pelaku serangan bunuh diri.

“Terkadang para pemimpin mengatakan ‘Allah telah memilihmu’, dan kadang-kadang pejuang mau ikut secara sukarela,” kata Majed seperti tertulis dalam laporan HRW. Sebanyak 150 siswa di Suriah terpaksa mendekam di kamp tahanan milik ISIS sejak akhir Mei lalu. Para siswa yang bersekolah di Kota Kobani, Suriah, itu diculik saat hendak menuju Aleppo untuk mengikuti ujian. Mereka ke Aleppo dengan tiga bus sekolah. Saat sedang beristirahat di sebuah restoran kecil di tepi Sungai Efrat, tiba-tiba dua truk pick-up yang membawa sejumlah militan ISIS datang.

The Daily Beast, Senin, 4 Juli 2014 lalu, mengutip keterangan Lawand, bocah berusia 14 tahun yang berada di antara ratusan siswa itu, mengisahkan kronologis penculikan. Pada awalnya, kata Lawand, militan ISIS berbicara dengan lembut kepada para siswa dan meminta mereka ikut. Para siswa dijanjikan akan dilepaskan dalam waktu tiga hari. Meski begitu, anak-anak ini tetap tak bisa menyembunyikan ketakutannya. Nyali mereka semakin ciut saat melihat orang bersenjata tersebut ada yang mengenakan rompi bom dan menunjukkan bahwa mereka siap bunuh diri kapan saja.

Mereka pun diminta kembali naik ke tiga buah bus sekolah yang mengangkut mereka dari sekolah. Dengan dikawal para militan, mereka pun tak lagi pergi ujian, bahkan tak lagi pulang. Belakangan terungkap bahwa mereka diarahkan ke kamp pelatihan milik ISIS di Kobani.

Janji dilepaskan dalam waktu tiga hari ternyata janji kosong. Nyatanya, sebagian besar dari mereka masih berada di tangan militan hingga kini. Di kamp perlatihan ISIS di Kobani, mereka diberi pendidikan Islam garis keras, diajarkan sejumlah teknik berperang, dan disiksa jika tidak mengikuti perintah atau tak mau bekerja sama.

Penuturan Lawand yang berhasil melarikan diri bertolak belakang dengan klaim ISIS dalam video yang mereka rilis. Anak-anak memang merupakan tema umum dari propaganda ISIS. Dalam propaganda ini, ISIS mengklaim bahwa anak-anak itu juga menginginkan berdirinya sebuah negara Islam. “Mereka punya impian dan impian mereka adalah untuk mendirikan negara Islam,” kata salah satu pemimpin ISIS dalam video yang mereka rilis Juli lalu.

Pesawat Tempur AS Mulai Bombardir ISIS Untuk Cegah Pembersihan Etnis Yazidi Di Irak

Sejumlah jet tempur Amerika Serikat dikabarkan telah menyerang persenjataan artileri milik Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Demikian ungkap juru bicara Pentagon, Jumat (8/8/2014). Sejauh ini, belum diperoleh rincian soal serangan udara AS terhadap target-target milik ISIS yang kini menguasai wilayah yang cukup luas di Irak utara. Sebelumnya, Presiden AS Barack Obama, Kamis (7/8/2014) malam waktu AS, mengatakan, dirinya telah mengotorisasi serangan udara terhadap ISIS di Irak utara jika kelompok militan itu mengancam kepentingan Amerika. Namun, Obama menegaskan, tentara AS tidak akan kembali ke Irak.

Obama mengatakan, AS akan bertindak untuk mencegah aksi genosida terhadap kelompok minoritas di negara itu. “AS tidak bisa dan tidak boleh campur tangan setiap kali ada krisis di dunia,” kata Obama seperti dikutip BBC. “Kami bisa bertindak dengan hati-hati dan bertanggung jawab guna mencegah sebuah tindakan yang potensial menimbulkan genosida,” lanjut Obama. “Hari ini Amerika akan datang membantu,” tambah dia. Dia menambahkan, AS bisa dan harus mendukung kekuatan moderat yang dapat membawa stabilitas buat Irak.

Menurut ABC News, jika kelompok teroris ISIS sudah mencapai Erbil, Obama akan memerintahkan serangan udara AS guna melindungi kepentingan Amerika di sana. AS punya kantor kedutaan dan sejumlah staf di kota itu. Obama mengatakan, ia tidak akan membiarkan AS terseret ke sebuah perang lain di Irak dan pasukan tempur AS tidak akan kembali ke sana.

AS telah mengirim sejumlah pesawat kargo untuk menjatuhkan sejumlah paket bantuan dan pasokan kemanusiaan kepada warga Irak yang terdampar dan terancam kelompok ISIS, kata sejumlah pejabat AS, Kamis. Misi penurunan bantuan lewat udara itu telah selesai, kata Presiden, dalam sebuah pernyataan dari Gedung Putih.

Upaya darurat sedang dilakukan untuk membantu sekitar 40.000 warga Yazidi, sebuah kelompok etnis Kurdi, yang melarikan diri dari desa-desa desa di Irak utara yang berada di bawah ancaman ISIS. Kaum Yazidi melarikan diri ke Pegunungan Sinjar, sebuah daerah terpencil di Irak utara dekat perbatasan dengan Suriah, di mana mereka terjebak tanpa makanan atau air, sementara pasukan ISIS berkumpul di pangkalan di pegunungan itu.

ISIS telah mengambil alih sebagian besar wilayah Irak utara, termasuk kota Mosul, selama dua bulan terakhir. Mereka secara simultan melancarkan kampanye di wilayah Suriah dan Lebanon dalam upaya untuk membentuk sebuah negara Islam yang akan meliputi wilayah tiga negara.

Pemerintah Irak sejauh ini kesulitan melawan ISIS. ISIS, Kamis kemarin, merebut lebih banyak wilayah di Irak Utara, termasuk sejumlah kota berpenduduk mayoritas Kristen, sehingga memaksa ribuan warganya mengungsi. Saksi-saksi mata mengatakan, militan melangsungkan ofensif malam hari dekat kawasan semi-otonomi etnis Kurdi dan merebut beberapa kota, seperti Qaraqoush dan Tal Kayf.

Kementerian Pertahanan AS, Jumat (8/8/2014), menyatakan, dua pesawat tempurnya telah menggempur posisi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di wilayah utara Irak setelah ISIS menembakkan persenjataan artileri yang nyaris mengenai personel AS. Serangan udara itu, yang merupakan keterlibatan AS paling signifikan di Irak sejak mundur pada 2011, terjadi sehari setelah Presiden Barack Obama menyetujui penggunaan senjata untuk mencegah genosida di Irak.

Dua pesawat jet jenis F/A-18 menjatuhkan beberapa bom berpemandu laser seberat 250 kilogram yang menghancurkan dua mobil artileri milik ISIS di dekat kota Arbil, ibu kota wilayah otonomi Kurdi. “AS menyerang posisi pejuang ISIS yang menembaki pasukan Kurdi yang mempertahankan Arbil, tempat personel AS ditempatkan,” kata juru bicara Pentagon, Laksamana Muda John Kirby.

Serangan yang digelar pada pukul 10.45 GMT atau sekitar pukul 17.45 WIB itu mengincar pergerakan pasukan ISIS yang menguasai sebagian wilayah Irak dan Suriah. “Seperti telah dijelaskan presiden, militer AS akan terus melakukan tindakan terhadap ISIS jika mereka mengancam personel dan fasilitas milik AS,” kata Kirby.

Obama, yang menentang invasi AS ke Irak pada 2003 dan bersumpah tak akan mengirim lagi pasukan darat ke negeri itu, pada Kamis (7/8/2014), mengizinkan aksi militer terbatas untuk mencegah genosida setelah ribuan warga etnis minoritas Yazidi mengungsi menghindari buruan ISIS. Pada Kamis, AS menjatuhkan ribuan galon air bersih dan 8.000 paket makanan untuk warga etnis Yazidi yang bersembunyi di pegunungan tanpa perbekalan yang memadai.

Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udaranya di wilayah utara Irak yang menjadi basis Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Suriah. Pesawat F/A-16 ini menghancurkan iring-iringan tujuh mobil ISIS yang tengah berjalan. Serangan dilancarkan pada Jumat (8/8/2014) pukul 14.00 GMT.

“Militer AS terus menyerang ISIS di dekat Arbil. Pada hari ini, kami melakukan dua serangan udara untuk membela kota di mana terdapat personnel AS yang membantu pemerintah Irak,” kata Juru Bicara Pentagon, Laksamana Muda John Kirby. Belum ada laporan lebih lanjut mengenai jumlah korban di pihak ISIS akibat serangan udara ini. Sebelumnya, dua pesawat jet jenis F/A-18 menjatuhkan beberapa bom berpemandu laser seberat 250 kilogram yang menghancurkan dua mobil artileri milik ISIS di dekat kota Arbil, ibu kota wilayah otonomi Kurdi.

“AS menyerang posisi pejuang ISIS yang menembaki pasukan Kurdi yang mempertahankan Arbil, tempat personel AS ditempatkan,” terang Kirby. Sebelum melakukan serangan udara, AS terlebih dahulu menjatuhkan ribuan galon air bersih dan 8.000 paket makanan untuk warga etnis Yazidi yang bersembunyi di pegunungan tanpa perbekalan yang memadai.

Obama, yang menentang invasi AS ke Irak pada 2003 dan bersumpah tak akan mengirim lagi pasukan darat ke negeri itu, pada Kamis (7/8/2014), mengizinkan aksi militer terbatas untuk mencegah genosida setelah ribuan warga etnis minoritas Yazidi mengungsi menghindari buruan ISIS.