Category Archives: Timur Tengah

Israel Mobilisasikan Pasukan Untuk Siapkan Serangan Darat Ke Gaza

Saat kekhawatiran akan serangan darat Israel berkembang di antara penduduk Gaza pada Kamis (10/7/2014), Israel mengungkapkan bahwa pihaknya telah memperkuat pasukannya dengan memanggil sekitar 30.000 tentara cadangan ke unit-unit mereka. “Kami memanfaatkan pasukan itu untuk memungkinkan kami menciptakan sebuah kekuatan besar di sekitar Gaza, yang jika diperlukan, kami akan dapat memobilisasinya sesegera mungkin,” kata juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Peter Lerner kepada CNN.

Kabinet Israel telah melakukan otorisasi militer untuk memanggil 40.000 tentara jika diperlukan. Jumlah itu 10.000 lebih banyak dari yang dipanggil saat serangan Israel ke Gaza pada November 2012. Juru bicara pemerintah Mark Regev mengatakan, banyak dari tentara cadangan itu telah dikerahkan. “Kami sudah siap pergi, jika kami harus pergi,” katanya kepada CNN. Regev mengatakan, Israel tidak menginginkan situasi di mana Hamas diberi jeda waktu yang dapat digunakan kelompok itu untuk kembali menyusun kekuatan sebelum memulai lagi serangannya.

Suasana muram terjadi di Gaza, di mana orang-orang memperkirakan yang terburuk. Banyak orang tidak punya tempat untuk melarikan diri dan tidak ada tempat untuk berlindung dari bom. “Saya tidak bisa pergi. Saya tak punya tempat untuk pergi. Lebih baik tinggal di rumah, di dalam dan aman,” kata salah seorang warga kota Bait Hanoun di Gaza utara kepada CNN.

Sebagian besar penduduk tinggal di rumah-rumah tanpa ruangan yang aman dan dinding yang hanya terbuat dari beton ringan, di mana peluru bisa tembus seperti menembus kertas. Di perbatasan Gaza dengan Mesir, sejumlah warga Mesir dan orang asing diberitahu bahwa mereka bisa meninggalkan Gaza. “Saya sudah menunggu tiga hari di (sekitar) Rafah sejak serangan udara dimulai,” kata seorang warga Kanada-Palestina kepada CNN. “Saya ingin pergi. Situasinya berbahaya di sini, tetapi Mesir tidak membuka perbatasan sampai hari ini, dan saya sudah menunggu di sini selama tiga jam. Saya harus pergi.”

Seorang sopir ambulans mengatakan bahwa beberapa orang yang telah terluka juga telah diizinkan untuk pergi, tetapi hanya beberapa orang yang mampu melakukan itu. Ada sejumlah petunjuk selama beberapa hari ini dari para pejabat Israel tentang kemungkinan serangan darat di Gaza. Namun, ada sejumlah pertanyaan terkait hasrat pemerintah untuk terlibat dalam konflik seperti itu.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan pada Kamis pagi bahwa pihaknya akan meningkatkan serangan terhadap Hamas. “Operasi ini akan diperluas dan akan berlanjut sampai penembakan terhadap warga kita berhenti dan ketenangan dipulihkan,” kata Netanyahu. Namun, dia tidak merinci perluasan seperti apa yang akan diperlukan, tetapi mengatakan bahwa militer Israel “siap untuk segala kemungkinan”.

Serangan udara Israel telah menewaskan sedikitnya 90 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, dan melukai lebih dari 500 orang.Serangkaian serangan udara Israel menghantam sejumlah sasaran di Gaza dan menewaskan belasan orang pada Rabu (9/7/2014) saat puluhan roket kaum militan Hamas melesat ke Israel.

Tembakan roket-roket Hamas yang bertubi-tubi mendorong Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meningkatkan serangan terhadap kelompok militan itu. “Operasi ini akan diperluas dan akan berlanjut sampai penembakan terhadap warga kita berhenti dan ketenangan dipulihkan,” kata Netanyahu. Dia tidak merinci perluasan seperti apa yang akan diperlukan tetapi mengatakan bahwa militer Israel “siap untuk segala kemungkinan.”

Presiden Israel Shimon Peres, yang perannya secara umum seremonial dan tidak terlibat dalam menetapkan kebijakan, mengatakan dalam sebuah wawancara eksklusif dengan CNN bahwa ia yakin serangan darat “mungkin akan terjadi segera” kecuali Hamas berhenti menembakkan roket ke Israel.”Kami memperingatkan mereka. Kami meminta mereka menghentikannya,” kata Peres. “Kami menunggu satu hari, dua hari, tiga hari dan mereka terus berlanjut, dan mereka roket ke daerah-daerah lainnya di Israel.” Meski Peres berbicara atas nama dirinya sendiri dan posisinya tidak dapat menjelaskan kebijakan resmi pemerintah, Menteri Intelijen Israel Yuval Steinitz sebelumnya mengatakan kepada CNN bahwa operasi darat “mungkin diperlukan.”

Sementara itu, Presiden Otorita Palestina Mahmoud Abbas mengadakan pertemuan darurat dengan kabinetnya guna membahas krisis itu. “Perang ini bukan melawan Hamas atau partai politik lain tetapi ini melawab rakyat Palestina,” katanya kepada media sesudah rapat tersebut. “Apa nama yang anda berikan untuk kejahatan ini? Apa jenis kejahatan ini menurut hukum internasional? Membunuh seluruh keluarga, apakah ini hukuman kolektif? Ini merupakan genosida kolektif!”

Seorang juru bicara Hamas, Sami Abu Zuhri, mengatakan bahwa ancaman Israel untuk meluncurkan serangan darat yang “bodoh” itu tidak akan membuat takut siapa pun. Ia menegaskan bahwa para pejuang sayap militer Hamas siap untuk menghadapi para tentara “pengecut” Israel di Gaza.Komentar tersebut terjadi saat korban tewas meningkat di Gaza, di mana militer Israel telah menyerang 550 sasaran Hamas sejak melancarkan serangannya Senin. Militer Israel mengatakan, sasaran itu termasuk 60 peluncur roket, 31 terowongan dan rumah dari 11 pemimpin senior Hamas, yang digambarkan tentara Israel sebagai “pusat komando.”

Setidaknya 61 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 550 orang terluka dalam serangan udara Israel itu, kata sumber-sumber medis dan pejabat Departemen Kesehatan Palestina.Di antara yang tewas adalah delapan wanita dan 11 orang anak, termasuk seorang bayi berusia 18 bulan dan seorang wanita 80 tahun. Demikian menurut sebuah daftar yang disediakan sumber-sumber medis Palestina dan pejabat Departemen Kesehatan.

Dalam sebuah serangan udara pada Rabu, dua orang anak dan ibu mereka termasuk di antara lima orang tewas ketika pasukan Israel menyasar rumah mereka. Sejumlah sumber keamanan Palestina mengatakan, beberapa anggota keluarga itu diyakini punya hubungan dengan Hamas. Kabinet Israel telah mengotorisasi pihak militer untuk memanggil 40.000 tentara jika diperlukan. Jumlah itu 10.000 lebih banyak dari yang dipanggil saat serangan Israel ke Gaza pada November 2012. Namun sejauh ini baru sekitar 1.000 yang telah dimobilisasi.

Militer Israel mengatakan, sebanyak 72 roket menghujani negara itu pada Rabu. Beberapa dari roket tersebut jatuh di daerah tidak berpenghuni, sementara yang lainnya dicegat oleh sistem pertahanan Iron Dome negara itu di atas Tel Aviv, Ashkelon dan Dimona. Belum ada laporan tentang korban. Dimona merupakan lokasi pembangkit nuklir. Media Israel melaporkan, fasilitas tersebut tidak terkena serangan roket.

Hamas diyakini memiliki 10.000 roket dengan rentang yang berbeda-beda, kata Letnan Kolonel Peter Lerner, seorang juru bicara militer Israel. Negara Yahudi itu mengatakan, sekitar 3,5 juta penduduk tinggal di daerah yang berada dalam jangkauan roket.Duta Besar RI untuk Mesir Nurfaizi Suwandi mengimbau semua relawan dari Indonesia untuk sementara mengurungkan niat ke Jalur Gaza akibat kondisi keamanan dan sulitnya izin masuk ke wilayah bergolak itu.

“Para relawan Indonesia hendaknya tidak berkunjung ke Gaza dalam kondisi saat ini,” kata Dubes Nurfaizi di Kairo, Jumat (11/7/2014), seperti dikutip Antaranews.com. Menurut Dubes Nurfaizi, dalam kondisi saat ini pintu perbatasan Rafah, yang menghubungkan Mesir dan Jalur Gaza, ditutup oleh Badan Sandi Negara Mesir (General Intelligence Service/GIS). Saat ini, tidak ada warga yang diizinkan untuk masuk ke Gaza.

Untuk masuk ke Gaza, kata Dubes Nurfaizi, harus memperoleh izin khusus dari Kementerian Luar Negeri Mesir, dan surat izin tersebut melalui proses yang cukup lama memakan waktu lebih dari sebulan. Pemerintah Mesir hanya mengizinkan keluar dari Gaza bagi korban luka-luka akibat serangan Israel untuk menjalani pengobatan di berbagai rumah sakit di Mesir. Pemerintah Mesir juga mengawasi arus masuk ke arah Gaza dengan diberlakukan sekitar 10 titik pemeriksaan ketat oleh militer Israel.

Oleh karena itu, katanya, bantuan yang akan diberikan sebaiknya disalurkan melalui Bulan Sabit Mesir atau Dubes Palestina di Jakarta. Dubes menekankan bahwa kondisi kian memburuk karena pasukan Israel terus melancarkan penyerangan terhadap rakyat Palestina di Gaza hingga kini. Setiap orang yang akan memasuki Gaza pasti akan melalui pintu perbatasan Rafah yang dijaga ketat oleh pasukan militer Mesir.

Meskipun Jalur Gaza merupakan wilayah berbatasan dengan Mesir, kata dia, tetapi kantong Palestina itu merupakan daerah akreditasi KBRI Amman, Yordania. Kendati Jalur Gaza merupakan daerah akreditasi KBRI Amman, KBRI Kairo berkewajiban memantau perkembangan di Gaza, terutama warga negara Indonesia (WNI) yang berada di sana. Sebelumnya, delegasi DPR-RI saat berkunjung ke Gaza pada akhir 2012, sempat berjanji akan mengupayakan agar Jalur Gaza dimasukkan dalam akreditasi KBRI Kairo, dan KBRI Amman membawahi Tepi Barat Palestina. Namun, hingga kini belum ada tanggapan dari pemerintah.

Saat ini terdapat 21 WNI di Gaza, 19 WNI di antaranya adalah para relawan MER-C yang sedang membangun rumah sakit di Kota Gaza. Menurut Dubes Nurfaizi, semua WNI tersebut saat ini dalam kondisi aman.Tujuh warga Palestina tewas dalam beberapa serangan udara Israel pada Sabtu (12/7/2014) dini hari. Jumlah total korban tewas sejak operasi militer digulirkan Israel pada Selasa (8/7/2014), sudah mencapai 112 orang.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Palestina Ashraf al-Qudra, mengatakan empat orang tewas dalam serangan ke Jebaliya di kawasan utara Jalur Gaza dan dua orang lain tewas dalam serangan di kawasan selatan Deir el Balah. Tak berselang lama, lanjut al-Qudra, seorang remaja 17 tahun tewas dalam serangan ke Gaza City.

Operation Protective Edge merupakan operasi militer Israel paling mematikan ke Gaza sejak November 2012. Sebagai balasan, para pejuang Palestina melontarkan 520 mortir dan roket ke wilayah Israel, dengan 140 di antaranya bisa dicegat sistem anti-rudal Israel, Iron Dome, berdasarkan pernyataan militer Israel, Jumat (11/7/2014).

Sejauh ini belum ada satu pun warga Israel tewas karena serangan balik dari para pejuang Palestina. Seorang tentara Israel dikabarkan terluka parah dalam serangan mortir pada Kamis (10/7/2014) malam dan seorang pria lain Israel terluka ketika sebuah roket menghantam pompa bensin di selatan Asdod pada Jumat pagi.

Dua tentara Israel mengalami luka ringan di perbatasan wilayah Gaza, ketika Palestina menembakkan rudal anti-tank ke arah mereka. Lalu seorang perempuan mengalami luka ringan ketika roket menghantam rumahnya di kota Beersheva. Israel telah memanggil 40.000 pasukan cadangan untuk menopang operasi ini.Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, Jumat (11/7/2014), menyatakan Israel dapat dinyatakan melanggar hukum perang atas aksinya membombardir rumah warga Palestina di Jalur Gaza. Pernyataan ini muncul seiring jumlah korban tewas serangan Israel sudah mencapai 100 orang.

“Kami telah menerima laporan yang mengganggu bahwa banyak korban sipil, termasuk anak-anak, dalam serangan (Israel) ke rumah-rumah (warga),” kata juru bicara komisi ini, Ravina Shamdasani, di Geneva, Swiss. Hukum humaniter internasional adalah aturan PBB tentang hukum perang. Shamdasani mengatakan menargetkan rumah warga sebagai sasaran adalah pelanggaran hukum tersebut kecuali bangunan itu jelas dipakai untuk keperluan militer, yang itu pun berlaku sejumlah pembatasan.

Per Jumat, jumlah korban tewas di Gaza akibat serangan Israel sudah mencapai 100 orang. Operation Protective Edge yang digelar Israel sejak Selasa (8/7/2014), merupakan operasi paling mematikan negara ini ke Gaza sejak November 2012. “Dalam hal ada keraguan terhadap bangunan yang biasanya dipakai untuk keperluan sipil, seperti rumah, tetap tidak sah dijadikan target (serangan) militer,” tegas Shamdasani.

Menurut Shamdasani, rumah penduduk hanya bisa menjadi target serangan militer ketika sudah diindentifikasi dengan tepat telah dipakai untuk kepentingan militer. Serangan tersebut tetap harus proporsional, imbuh dia, dengan perlindungan penuh kepada warga sipil. Sebelumnya, Israel menuduh para pejuang Palestina termasuk kelompok Hamas sengaja menempatkan instalasi militer di pemukiman padat penduduk di Gaza dan menjadikan warga sipil sebagai perisai.

Kepala Komisi HAM PBB, Navi Pillay pada Jumat juga membuat pernyataan yang mendesak Israel maupun Palestina untuk menghentikan retorika “beracun” dan aksi saling balas yang mematikan, untuk mendukung resolusi damai di kawasan tersebut. “Israel, Hamas, dan kelompok-kelompok bersenjata Palestina di Gaza telah menyusuri jalan ini sebelumnya, dan itu hanya menyebabkan kematian, kehancuran, ketidakpercayaan, dan perpanjangan konflik yang menyakitkan,” kata Pillay dalam pernyataan tertulisnya.

“Kali ini, sekali lagi, warga sipil menanggung beban konflik. Saya mendorong semua pihak untuk tabah menghormati kewajiban mereka menurut hukum hak asasi manusia internasional dan hukum humaniter internasional untuk melindungi warga sipil,” imbuh Pillay. Dia pun menyerukan penyelidikan menyeluruh dan efektif atas segala bentuk dugaan pelanggaran hukum militer terkait serangan Israel ke Gaza ini.

ISIS akan Serang Qatar Bila Selenggarakan Piala Dunia 2022

Piala Dunia 2014 belum usai. Namun, kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sudah menebar ancaman untuk Piala Dunia 2022 yang akan digelar di Qatar. ISIS memperingatkan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) jika turnamen empat tahunan itu tetap digelar di Qatar, ISIS akan beraksi dengan menembakkan rudal jarak jauh Scud ke Qatar.

Ancaman itu muncul dalam sebuah pesan yang diunggah ke sebuah forum ISIS di dunia maya, alplatformmedia.com, pada Minggu (6/7/2014), yang kemudian dipublikasikan harian terbitan Mesir, Al Wattan. Dalam pesan itu, ISIS menyerukan kepada Presiden FIFA Joseph Blatter agar memindahkan Piala Dunia dari negeri Teluk tersebut. Inilah isi pesan ISIS tersebut:

“Yth Joseph,

Kami sudah memberimu pesan pada 2010, saat Anda memutuskan atau saat Anda disuap oleh mantan Emir Qatar untuk menggelar Piala Dunia 2022 di Qatar. Sekarang setelah Kekhalifahan Islam berdiri, kami memutuskan bahwa tidak akan ada Piala Dunia di Qatar karena Qatar akan menjadi wilayah Kekhalifahan di bawah pemerintahan Kalifah Ibrahim bin Awad Alqarshi (nama lengkap Abu Bakr al-Baghdadi, pemimpin ISIS) yang tak mengizinkan korupsi dan pemecahbelahan Islam di tanah umat Muslim.

Itulah sebabnya kami menyarankan agar Anda mencari pengganti negara penyelenggara selain Qatar. Kekhalifahan Islam memiliki rudal jarak jauh Scud yang bisa mencapai Qatar, seperti yang sudah diketahui Amerika.

Terima kasih.”

Meski ISIS mengancam akan menembakkan rudal Scud, sejumlah pengamat meragukan kelompok itu memiliki kapabilitas untuk mewujudkan ancaman itu. Dalam foto yang diunggah di media sosial bulan ini, ISIS terlihat mengarak sebuah rudal balistik Scud di jalanan kota Raqqa, Suriah, yang dalam beberapa tahun terakhir dikuasai ISIS.

Meski terlihat jelas bahwa rudal itu adalah Scud, sejumlah pengamat mengatakan tampaknya rudal Scud itu bisa dioperasikan.

Profil Abu-Bakr Baghdadi Pemimpin Negara Islam Irak dan Suriah

Ada yang menarik saat pimpinan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Abu-Bakr Baghdadi muncul untuk pertama kalinya di depan publik beberapa hari lalu. Bukan tentang isi pidatonya yang diduga disampaikan dalam sebuah masjid di Irak Utara, melainkan penampilannya. Media asing menyoroti benda warna perak di pergelangan tangan yang menyembul di balik jubah hitamnya.

Kritikus mengklaim bahwa arloji yang digunakan sang imam terlalu mencolok, menyimbolkan kemewahan. Situs-situs Barat menyebut, jam tangan itu adalah limited edition produsen jam tangan mewah Rolex. Media CNN menyebut, jam tangan Rolex itu terbuat dari stainless steel dengan tipe WA-10S. Jam tangan ini banyak dimiliki kaum Muslim tajir, karena dapat diprogram dengan waktu shalat yang benar untuk ratusan kota di seluruh dunia.

Jam tangan dapat diatur agar berdering setiap kali adzan berkumandang dimanapun pemakainya berada, menurut situs CNN. Waktu shalat didasarkan pada pergerakan matahari, sehingga jadwal shalat bervariasi di tempat yang berbeda di dalam kota yang sama.Selain alarm shalat, arloji buatan Swiss ini dilengkapi kompas untuk menunjukkan arah Mekah, kiblat bagi umat Islam. Penanggalan dalam arloji itu juga bisa diatur, apakah mau berdasar pada kalender Masehi atau Hijriyah.

Model deluxe juga memiliki fitur bookmark Quran yang memungkinkan Anda untuk merekam surat terakhir berikut nomor ayatnya. Sehingga saat menderasnya di lain waktu, penggunanya tak akan kesulitan menemukannya. Ditanya mengenai kebenaran bahwa jam tangan yang dikenakan al-Baghdadi adalah Rolex, seorang karyawan perusahaan itu mengatakan kepada CNN, “Kami tidak bisa memastikan 100 persen bahwa jam itu buatan kami, tapi setelah melihat gambar itu kita bisa berasumsi itu adalah Al-Fajr WA-10S Deluxe. Atau setidaknya, identik dengan itu.”

Setelah Kuasai Pabrik Senjata Kimia, ISIS Melaju Mendekati Mekkah

Kelompok gerilyawan yang menamakan diri sebagai Negara Islam Irak dan Suriah, ISIS, terus melancarkan serangannya. Seperti dikutip Fox News, Kamis, 10 Juli 2014, mereka terus menghancurkan tempat-tempat ibadah seperti masjid atau gereja di seluruh wilayah Irak dan Suriah. Bahkan, mereka diyakini sudah mendekati Kota Mekah di Arab Saudi.

ISIS juga disebut sudah mulai mengarahkan target serangannya ke tempat suci bagi seluruh umat Islam di dunia. Mereka pun menyatakan tidak ragu untuk menghancurkan Kabah karena dianggap melenceng dari ajaran agama Islam. Soalnya, ISIS menilai jika umat Islam mendatangi Kabah bukan untuk beribadah, melainkan menyentuh kiblat salat orang muslim di dunia.

Serangan ISIS pun sudah berhasil merebut kota-kota di Irak, termasuk Mosul, salah satu kota besar. Mereka pun terus memperluas wilayah cengkeramannya ke perbatasan Irak dengan Suriah. Beberapa ahli mengatakan pemerintah Yordania, Turki, dan Arab Saudi sudah memberikan perhatian khusus terhadap ISIS.

“Kecenderungan yang ikonis dari kelompok ISIS cukup ekstrem,” kata Profesor Carl W. Ernst, pakar keagamaan dari University of North Carolina. Dia menyatakan isu penghancuran Kabah itu sesuatu yang mengejutkan, tetapi bukan hal baru. Dia mengatakan pada abad ke-10, Qarmatis, kelompok ekstrimis Syiah, pernah menguasai Mekah dan membakar Kabah. “Tapi jika ISIS betul-betul mencoba menghancurkan Kabah, maka mereka akan memiliki posisi yang luar biasa,” ujar Ersnt.

Profesor Muhammad Ali dari University of California Riverside menyatakan ISIS tidak mendapatkan dukungan sedikit pun di wilayah Timur Tengah meski beranggotakan ribuan orang. Menurut dia, kelompok Sunni dan Syiah di Timur Tengah tidak satu pun yang sependapat dengan aksi yang dilakukan ISIS. “Para pemimpin Sunni dan Syiah tidak sedikit pun mendukung ideologi dan aksi penghancuran mereka,” kata Ali. Menurut dia, tujuan ISIS untuk membangun kekhalifahan baru dianggap mustahil untuk diwujudkan. “Tidak mungkin karena dunia muslim sudah terbagi oleh negara dan orientasi politik,” katanya.

Gerilyawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) berhasil menguasai lokasi bekas pabrik pembuatan senjata kimia di Irak. Baghdad membenarkan kabar ini, namun, dalam sebuah surat kepada Persatuan Bangsa-Bangsa, mereka mengatakan tak mampu menunaikan kewajiban menghancurkan senjata kimia. Kompleks pabrik yang terletak di Kota Muthanna, barat laut Baghdad, disebut-sebut menyimpan banyak roket yang diisi dengan sarin dan agen saraf mematikan lainnya. PBB dan Amerika Serikat mengatakan amunisi telah terdegradasi dan pemberontak tidak akan mampu membuat senjata kimia yang dapat mereka gunakan.

Dalam surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, Duta Besar Irak untuk PBB, Mohamed Ali Alhakim, mengatakan para pemberontak mengambil alih kompleks pada 11 Juni lalu setelah melucuti senjata tentara yang menjaga situs itu. Dokumen tersebut menyatakan sistem pengawasan Muthanna menunjukkan bahwa ada penjarahan beberapa peralatan di pabrik yang lokasinya sekitar 70 kilometer di barat laut ibu kota Irak.

Atas pengambilalihan tersebut, surat itu menyatakan Irak tidak mampu “memenuhi kewajibannya menghancurkan senjata kimia”. Namun mereka menyatakan pemerintah akan melanjutkan komitmennya “segera setelah situasi keamanan telah membaik dan kontrol atas fasilitas telah pulih”. Sekitar 2.500 roket yang diisi dengan agen saraf–termasuk sarin dan gas mustard–disimpan di Muthanna. PBB mengatakan setidaknya 2.417 warga Irak, termasuk 1.531 warga sipil, tewas dalam “tindakan kekerasan dan terorisme” selama Juni. Lebih dari satu juta orang kini hidup di pengungsian.

ISIS Akan Hancurkan Kabah Jika Berhasil Kuasai Mekah

Kelompok gerilyawan yang menamakan diri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) bersumpah akan menghancurkan Kabah jika berhasil menguasai Arab Saudi. Mereka menyatakan Kabah menyebabkan seseorang “menyembah batu selain Allah”.

Menurut Khaama Press, anggota senior ISIS, Abu Turab Al Mugaddasi, menegaskan hal itu melalui akun Twitter-nya. “Jika Allah menghendaki, kami akan membunuh mereka yang menyembah batu di Mekah dan menghancurkan Kabah. Orang-orang pergi ke Mekah untuk menyentuh batu, bukan untuk Allah,” katanya.

Kelompok ini mengindikasikan bahwa mereka akan mengambil alih Kabah setelah berhasil menembus wilayah Aruss di Arab Saudi melalui padang Anbar. ISIS juga mengancam untuk membunuh pemimpin Syiah Ayatollah Ali al-Sistani.

“Saat ini pemimpin agama Syiah di Irak adalah seseorang bernama Ali Sistani yang merupakan sisa dari generasi Safawi. Kami memperingatkan kaum Syiah bahwa Sistani harus meninggalkan Irak. Jika tidak, kami akan membunuhnya,” demikian pernyataan kelompok ini. Laporan menunjukkan bahwa akun Twitter yang mengirimkan pesan asli, telah dihapus. Sejauh ini, keaslian akun sebagai milik anggota ISIS belum diverifikasi.

Namun, Khaama Press menyatakan cuit itu agak aneh. Menurut mereka, jika memang pernyataan itu dari seorang anggota ISIS, maka akan sangat mengejutkan mengingat bahwa ISIS telah berusaha untuk meningkatkan perekrutan dari kaum muslim di seluruh dunia dengan menyatakan tujuan organisasi ini adalah untuk mendirikan kekhalifahan Islam.

Kabah adalah situs yang paling suci umat Islam. Rumah Allah ini menjadi kiblat salat bagi kaum muslim di seluruh dunia.

Arab Saudi Tempatkan 30 Ribu Tentara di Perbatasan Irak Untuk Hadang ISIS

Arab Saudi mengerahkan 30 ribu tentara di perbatasan negeri itu dengan Irak. Televisi Al-Arabiya pada hari Kamis menyatakan penempatan tentara itu dianggap penting setelah wilayah itu dibiarkan Baghdad tanpa penjagaan.

Raja Abdullah memerintahkan untuk mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi kerajaan terhadap potensi “ancaman teroris”. Seruan raja, menurut kantor berita negara SPA, dijawab militer dengan menempatkan tentaranya hari itu juga.

Dalam situsnya, Al-Arabiya mengatakan Arab Saudi memutuskan mengirim tentara ke daerah perbatasan setelah pasukan pemerintah Irak menarik diri, lalu meninggalkan wilayah yang berbatasan dengan Arab Saudi dan Suriah itu tanpa perlindungan. Namun situs yang berbasis di Dubai ini sama sekali tak menyinggung ancaman gerilyawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) untuk menghancurkan Kabah.

Dari Bagdad, juru bicara militer Kantor Perdana Menteri Irak membantah mereka menarik pasukan dari wilayah itu. “Ini adalah berita palsu yang bertujuan untuk mempengaruhi moral bangsa kita dan semangat heroisme pejuang kita,” kata Letnan Jenderal Qassim Atta kepada wartawan di Bagdad. Ia mengatakan daerah perbatasan, yang sebagian besar merupakan wilayah gurun tanpa penghuni, adalah “sepenuhnya dalam genggaman pasukan perbatasan Irak.”

Al Arabiya mengatakan mereka memiliki rekaman video yang menunjukkan 2.500 tentara Irak kembali ke gurun di wilayah timur dari Kota Karbala setelah ditarik kembali dari perbatasan. Seorang petugas dalam video itu mengatakan bahwa tentara telah diperintahkan untuk meninggalkan pos penjagaan karena alasan keamanan jiwa. Namun sejauh ini, keaslian rekaman tidak bisa segera diverifikasi.

Profil Negara Islam ISIS

Negara Islam di Irak dan Levant (ISIL) atau yang juga dikenal sebagai Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) tumbuh dari kelompok jihad Al-Qaidah pada April 2013. Meski, dalam perkembangannya, Al-Qaidah membantah kelompok ini sebagai bagian darinya. Bahkan, seperti dikutip BBC, ISIL bersinggungan dengan pemberontak lainnya di Suriah, seperti Front al-Nusra pimpinan Ayman al-Zawahiri. Kelompok ini menyatakan diri sebagai satu-satunya afiliasi Al-Qaidah di Suriah.

Metode ISIL dianggap bertentangan dengan Al-Qaidah lantaran telah berbelok dari misi perjuangan nasional dengan menciptakan perang sektarian di Irak dan Suriah. Ketegangan keduanya semakin memanas setelah niat Baghdadi untuk menyatukan Al-Nusra dengan ISIL ditolak. Zawahiri kemudian mendesak ISIL untuk fokus pada Irak dan meninggalkan Suriah. Namun Baghdadi dan pasukannya secara terbuka menentang mereka.

Permusuhan terhadap ISIL terus tumbuh di Suriah. ISIL secara teratur menyerang sesama pemberontak di Suriah dan menyalahgunakan warga muslim pendukung oposisi Suriah sebagai bagian dari mereka. Menurut laporan Middle East Monitor, sekitar 6.000 warga sipil tewas akibat pertikaian antarkelompok ini yang dimulai Januari lalu.

Pada Sabtu, 28 Juni 2014, bersama pejuang oposisi Brigade Islam, kelompok Al-Nusra melancarkan serangan perlawanan terhadap ISIL guna merebut kembali kontrol atas Abu Kamal, wilayah timur Suriah yang berbatasan dengan Irak. Sejak Rabu, 25 Juni 2014, wilayah yang kaya akan ladang minyak ini dikuasai Al-Nusra yang membelot dan memilih bergabung dengan ISIL.

Mengutip laporan BBC, organisasi ini kini dipimpin oleh Abu Bakar al-Baghdadi. Pria kelahiran Samarra, sebelah utara Bagdad, pada 1971 ini pernah bergabung dengan pemberontakan yang meletus di Irak setelah invasi 2003 pimpinan AS. Dan pada 2010, ia muncul sebagai pimpinan Al-Qaeda di Irak yang kemudian menjelma menjadi ISIL.

Bagdadi dianggap sebagai komandan medan perang yang memiliki analisis dan taktik yang hebat sehingga membuat ISIL lebih menarik dibandingkan Al-Qaeda pimpinan teolog Islam Ayman al-Zawahiri, bagi para jihadis muda. Tidak seperti kelompok pemberontak lain di Suriah, ISIL terlihat berjuang untuk menciptakan sebuah negara Islam di sepanjang Irak dan Suriah. Telah terlihat sejumlah keberhasilan militer yang cukup besar.

Pada bulan Maret 2013, Kota Raqqa menjadi ibu kota provinsi pertama yang jatuh di bawah kendali mereka. Selanjutnya, pada Januari 2014, ISIL berhasil menguasai Kota Fallujah, di Provinsi Anbar, yang didominasi oleh kaum Sunni. Tak sampai di situ, mereka juga berhasil menguasai sebagian besar Ramadi dan muncul di sejumlah kota yang berdekatan dengan perbatasan Turki dan Suriah.

Keberhasilan besar diraih saat mereka menaklukkan Kota Mosul pada Juni lalu yang mengirimkan gelombang kejut ke seluruh dunia. AS bahkan menyebut jatuhnya Mosul sebagai ancaman bagi seluruh wilayah Irak, sebab dengan menguasai Mosul, ISIL memiliki kekayaan yang cukup besar. Negara Islam di Irak dan Levant (ISIL) telah tumbuh menjadi salah satu militan terkuat di wilayah tersebut. Untuk mendukung kegiatan pemberontakan, mereka–yang juga dikenal dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS)–dikabarkan memiliki kekayaan yang fantastis.

Menurut Profesor Peter Neumann dari King College London yang dikutip BBC, kekayaan ISIL kini mencapai US$ 2 miliar setelah menguasai kota Mosul. Sebelumnya, ISIL hanya memiliki aset US$ 900. Di kota ini, ISIL dilaporkan mengambil ratusan juta dolar dari Bank Sentral Irak cabang Mosul. Kekayaan ISIL yang tak sedikit ini diperoleh dari sejumlah pemerasan terhadap orang-orang kaya di negara Teluk Arab, terutama Kuwait dan Arab Saudi.

Tak hanya mengandalkan pemerasan terhadap pengusaha, ISIL juga memperoleh pendapatan dari ladang minyak yang dikendalikan di timur Suriah dan utara Irak. Belum lagi kekayaan dari penjualan barang antik yang dijarah dari situs sejarah. Tidak seperti kelompok pemberontak lain di Suriah, ISIL terlihat berjuang untuk menciptakan sebuah negara Islam di sepanjang Irak dan Suriah dengan mengklaim sejumlah keberhasilan militer yang cukup besar.

Keberhasilan besar diraih saat mereka menaklukkan Kota Mosul pada Juni lalu yang mengirimkan gelombang kejut ke seluruh dunia. Amerika Serikat bahkan menyebut jatuhnya Mosul sebagai ancaman bagi seluruh wilayah Irak. Sebab, dengan menguasai Mosul, ISIL meraup kekayaan yang fantastis. Peter Neumann percaya, dengan menguasai Mosul, ISIL akan bertambah kaya.

Sebelumnya, Maret 2013, Raqqa menjadi ibu kota provinsi pertama yang jatuh di bawah kendali mereka. Selanjutnya, Januari 2014, ISIL berhasil menguasai Kota Fallujah di Provinsi Anbar yang didominasi kaum Sunni. Tak sampai di situ, mereka juga berhasil menguasai sebagian besar Ramadi dan muncul di sejumlah kota yang berdekatan dengan perbatasan Turki dan Suriah.

Kepiawaian Abu Bakar al-Baghdadi untuk merekrut wanita-wanita eropa muda agar mau berjihad seks bagi pejuang Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) membuat ISIS lebih menarik dibanding Al-Qaidah, bagi para pejihad muda. Seperti dilaporkan BBC, kemampuan ini, menurut Profesor Peter Neumann dari King College London, memperkirakan sekitar 80 persen dari pejuang Barat di Suriah telah bergabung dengan ISIS. Kelompok ini sendiri mengklaim memiliki pejuang dari Inggris, Prancis, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya, serta dari Amerika, Jazirah Arab, dan Kaukasus.

Akhir Januari lalu, seperti dilaporkan Associated Press, dua wanita asal Inggris terpaksa harus menghadapi persidangan atas tuduhan pelacuran untuk kaum jihad Inggris di Suriah karena mengkoordinir para wanita inggris untuk berjihad seks ke Suriah. Kemudian, pada pertengahan Maret, delapan wanita Prancis terpaksa berurusan dengan hukum karena mencoba bergabung dengan kelompok jihad Suriah. Seperti dikutip Xinhua, menurut data resmi pemerintah Prancis, sekitar 700 warganya, beberapa di antaranya masih belia, telah melakukan perjalanan untuk berperang di Suriah.

Kasus teranyar terjadi akhir Juni ini. Seorang remaja putri yang masih berusia 15 tahun asal Belanda nekat ikut berjihad di Suriah. Dia pergi dari rumah tanpa pamit kepada dua orang tuanya dan hanya meninggalkan catatan yang berbunyi, “Aku akan pergi ke Suriah.” Beruntung, polisi berhasil mencegatnya di Bandara Dusseldorf, Jerman.

Menurut laporan media setempat, baru-baru ini ada 130 pejihad dari Belanda yang melakukan perjalanan ke Suriah dan Irak. Tak hanya dari Eropa, para pejihad ini juga berasal dari Asia. Menurut laporan Malaysia Insider Mei lalu, seorang musikus kenamaan Malaysia dilaporkan berada dalam pelatihan militer untuk menjadi bagian dari kelompok jihad di luar Malaysia.

Pasukan Irak dan Milisi ISIS Terlibat Pertempuran Merebut Kilang Minyak

Pasukan pemerintah Irak, Kamis (19/6/2014), melancarkan serangan untuk menangkis serangan kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang hendak menguasai kompleks penyulingan minyak terbesar di Irak. Kompleks penyulingan minyak Baiji terletak 200 kilometer di sebelah utara ibu kota Baghdad itu menjadi medan pertempuran antara pemerintah Irak dan pasukan ISIS serta para sekutunya.

Dalam video yang ditayangkan stasiun televisi Al-Arabiya, terlihat asap hitam mengepul dari komplek penyulingan itu dan sebuah bendera hitam milik ISIS berkibar di salah satu bangunan. Ratusan pekerja terjebak di dalam kompleks yang wilayahnya mencakul lahan yang sangat luas hingga mencapai tepian Sungai Tigris.

Dengan kondisi ini diduga ISIS menguasai sebagian besar kompleks itu dan pasukan keamanan terkonsentrasi di sekitar ruang kendali komplek tersebut. Meski demikian pemerintah Irak membantah kompleks penyulingan minyak itu segera jatuh ke tangan ISIS.

Pada Kamis (19/6/2014) pagi, sebanyak 250-300 staf komplek penyulingan yang tersisa dievakuasi, kata salah seorang pekerja lewat telepon. “Sepanjang malam helikopter militer terus menyerang posisi-posisi militan,” tambah pekerja itu seperti dikutip Reuters.

Baiji, 40 kilometer di sebelah utara kota kelahiran Saddam Hussein, Tikrit, terletak di wilayah yang pekan lalu direbut ISIS yang bertekad mendirikan kekalifahan Islam di Irak dan Suriah. Gerak maju ISIS menuju Baghdad terhambat setelah militer Irak, milisi Syiah dan para sukarelawan berhasil menyusun kekuatan.

Namun, ISIS berhasil menguasai kota kecil Mutasim, di selatan Samarra, salah satu kota suci Syiah. Dengan dikuasainya Mutasim, ISIS bisa menguasai kota Samarra. Seorang polisi setempat mengatakan pasukan pemerintah mundur tanpa bertempur ketika mengetahui puluhan kendaraan milik ISIS mengepung Mutasim dari tiga arah.Pasukan pemerintah Irak, Kamis (19/6/2014), berhasil menguasai sepenuhnya kilang penyulingan minyak terbesar di Irak setelah terlibat baku tembak hebat dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Pada Rabu (18/6/2014), kelompok ISIS menyerang kompleks penyulingan minyak Baiji yang terletak di sebelah selatan kota Mosul yang sudah direbut kelompok itu. Akibat serangan tersebut, sejumlah tangki penyimpanan minyak terbakar dalam sebuah langkah untuk mengguncang pasar minyak dunia.

“Pasukan pemerintah sudah sepenuhnya mengendalikan komplek penyulingan Baiji,” kata Letnan Jenderal Qassem Atta, juru bicara keamanan pemerintah Irak. Sementara itu, seorang pekerja kilang kepada AFP mengatakan pasukan ISIS mundur meninggalkan kompleks penyulingan itu di bawah tembakan gencar pasukan pemerintah.

Baku tembak berlangsung sejak Rabu pagi yang mengakibatkan sejumlah tanki penyimpanan minyak untuk produksi terbakar. Baku tembak terus terjadi hingga tengah malam dan berlanjut secara sporadis pada Kamis.

Kilang penyulingan Baiji adalah yang terbesar di Irak dan menghasilkan sekitar separuh dari kebutuhan bahan bakar Irak

Amerika Serikat Siap Penuhi Tuntutan Pemerintah Irak Untuk Serang Kaum Militan ISIL

Baghdad secara resmi meminta bantuan serangan udara AS untuk melawan kaum militan yang telah menyerang kilang minyak utama Irak dan merebut sejumlah kota penting serta wilayah luas di utara negara itu. Permintaan tersebut menempatkan Presiden AS Barack Obama di bawah tekanan, Kamis (19/6/2014), di tengah kecemasan bahwa Irak bakal tercerai-berai.

Gedung Putih mengatakan, Obama tidak mengesampingkan serangan semacam itu setelah sebuah ofensif kilat delapan hari para petempur Sunni, yang dipimpin militan Negara Islam Irak dan Levant atau ISIL. Kelompok itu diperkirakan akan dengan cepat masuk ke ibu kota Baghdad. Walau sejumlah pejabat menyebut beberapa kemajuan, ISIL merebut tiga desa di Irak utara, dan India mengatakan bahwa 40 warga negaranya diculik di Mosul, kota yang direbut pemberontak pada awal serangan mereka pekan lalu.

“Irak telah secara resmi meminta Washington untuk membantu … dan untuk melakukan serangan udara terhadap kelompok teroris,” kata Menteri Luar Negeri Irak Hoshyar Zebari kepada wartawan di Arab Saudi. Namun, Zebari mengatakan, “Pendekatan militer tidak akan cukup. Kami mengakui perlunya solusi politik yang drastis.”

Amerika Serikat telah menghabiskan dana miliaran dollar selama beberapa tahun terakhir untuk melatih dan mempersenjatai pasukan keamanan Irak setelah membubarkan tentara yang dipimpin kaum Sunni, menyusul invasi tahun 2003 yang menggulingkan diktator Saddam Hussein.

Washington telah menempatkan sebuah kapal induk ke Teluk dan mengirim sejumlah personel militer untuk meningkatkan penjagaan keamanan kedutaannya di Baghdad. Namun, Obama menegaskan bahwa kembali bertempur di Irak tidak ada dalam rencana. Irak telah bereaksi untuk menghadang serangan militan itu. Perdana Menteri Nouri al Maliki telah memecat sejumlah komandan keamanan yang berkinerja buruk dan bersumpah untuk “menghadapi terorisme dan melawan konspirasi.” “Kami akan memberi (kaum militan) pelajaran dan menyerang mereka,” katanya.

Juru bicara keamanan Maliki, Letnan Jenderal Qassem Atta, mengatakan bahwa pasukan keamanan akan segera merebut kembali kontrol penuh atas Tal Afar, sebuah kota kaum Syiah di utara yang terletak di koridor strategis ke Suriah. Ia mengatakan, perebutan kembali kota itu akan memberikan basis untuk memulai operasi merebut kembali Mosul.

Dengan ketegangan regional yang meningkat, Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan, republik Islam itu “akan melakukan segalanya” untuk melindungi tempat-tempat suci Syiah di kota-kota Irak dari serangan militan. Sementara itu, Arab Saudi memperingatkan risiko perang saudara di Irak dengan konsekuensi tak terduga bagi kawasan tersebut. Adapun Uni Emirat Arab telah memanggil pulang duta besarnya di Baghdad.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel menyalahkan bahwa agenda sektarian pemerintah yang dipimpin kaum Syiah telah memicu munculnya kelompok militan itu. “Pemerintahan Irak saat ini tidak pernah memenuhi komitmen yang dibuatnya untuk menyelenggarakan pemerintahan bersama-sama kalangan Sunni, Kurdi, dan Syiah,” katanya. Presiden Barack Obama mengatakan, Amerika Serikat siap untuk melakukan aksi militer terhadap kelompok militan di Irak. Obama mengatakan aksi itu akan dilakukan “bila situasi di lapangan memerlukannya”.

Namun ia menekankan, “pasukan Amerika tidak akan kembali bertempur di Irak.” Ia mengatakan sekitar 300 penasehat militer akan dikirim untuk membantu pemerintah Irak. Tetapi Obama menekankan tidak “ada solusi militer” dalam krisis ini dan yang diperlukan adalah solusi politik. Pemerintah Irak telah meminta Amerika Serikat untuk melakukan serangan udara terhadap militan yang dipimpin oleh kelompok Negara Islam di Irak dan Levant (ISIL) yang menguasai sejumlah tempat dalam 10 hari terakhir.

Selain mengirim penasehat militer, Obama mengatakan Amerika Serikat akan meningkatkan upaya intelijen dan mendirikan “pusat operasi bersama di Baghdad dan di Irak utara, untuk berbagi informasi intelijen dan merencanakan koordinasi”.

Ribuan warga Syiah dari Irak selatan secara sukarela membantu tentara Irak. Milisi Syiah telah dikerahkan untuk membantu pertahanan ibu kota Propinsi Diyala yang secara efektif menjadi garis depan dan di dekat kota Samarra, lokasi tempat suci Syiah.

Milisi ISIL Bantai 1.700 Prajurit Muslim Irak Yang Telah Menyerah

Milisi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIL) melalui Twitter mengklaim telah membunuh 1.700 prajurit muslim pemerintah Irak. Milisi itu juga mengunggah foto-foto pembantaian sadis itu untuk mendukung klaim mereka. Lokasi pembantaian itu diperkirakan di provinsi Salahuddin diantaranya di kota Tikrit. Target pembunuhan ISIS diduga kuat adalah orang-orang yang bekerja atau mendukung pemerintah Irak.

Namun pemerintah Irak, seperti dilansir New York Times, Ahad, 15 Juni, 2014, meragukan klaim ISIS tentang pembantaian massal itu dengan alasan tidak ada laporan adanya pemakaman dalam jumlah besar di provinsi Salahuddin. Namun, Peneliti lembaga internasional Human Rights Watch di Irak, Erin Evers mengatakan, pihaknya akan berusaha memverifikasi seluruh foto-foto yang diunggah di media sosial itu , meski dirinya meragukan kebenarannya. “Saya tidak yakin itu asli,” kata Erin Evers.

Sementara pejabat intelijen militer Irak membenarkan aparat militer mengetahui tentang pembantaian yang terjadi di Provinsi Salahuddin termasuk di kota Tikrit. Namun, dia mengaku tidak tahu pasti jumlahnya. Ketua Dewan Kebangkitan di Samarra,kelompok pendukung pemerintahan Sunni, Kolonel Suhail al-Samaraie membenarkan tentang pembantaian dalam skala besar di Salahuddin pada pekan lalu. Hanya saja dia tidak tahu pasti jumlahnya. “Mereka menyasar siapa saja yang bekerja untuk pemerintah,” ujarnya. Milisi itu membunuh baik itu warga muslim Sunni maupun Syiah.

Suhail menyebutkan satu korban pembantaian milisi itu pekan lalu bernama Ibrahim al-Jabouri. Ibrahim, seorang perwira polisi berpangkat kolonel yang bekerja di divisi investigasi kriminal di Tikrit. Seorang jurnalis yang kerap meliput aktivitas militer Irak di Provinsi Salahuddin mengatakan, Divis Keempat Tentara Irak hancur lebur atas serangan mendadak milisi pekan lalu. Sebanyak empat ribu pasukan diyakini telah ditangkap, baik penganut Sunni maupun Syiah.

Akses informasi untuk memverifikasi klaim milisi ISIS mengalami kesulitan karena pemerintah Irak telah memblokir jaringan sosial media pekan lalu termasuk YouTube, Twitter, dan Facebook. Seorang pekerja New York Times di Tikrit melalui telepon menjelaskan, penduduk bercerita telah menyaksikan ratusan tawanan ditangkap ketika mereka berusaha lari dari Camp Speicher, bekas pangkalan militer Amerika yang kemudian diubah menjadi pusat pelatihan Irak. Para tahanan Sunni mengenakan pakaian sipil dan dikirim ke rumah. Sedangkan tahanan Syiah dikirim ke istana tua milik Saddam Hussein di Tikrit. Mereka dieksekusi di sana dan jasad mereka dibuang ke sungai Tigris.

Setelah menguasai Kota Mosul, kini militan negara Islam Irak dan Levant (ISIL) bergerak ke Kota Tikrit, yang merupakan kampung halaman mantan Presiden Irak Saddam Hussein pada Rabu, 11 Juni 2014. Kepada Al Jazeera, seorang sumber mengatakan bahwa pada Rabu orang-orang bersenjata telah mendirikan pos-pos pemeriksaan di sekitar Tikrit, yang terletak di antara Bagdad dan Mosul, yang merupakan kota terbesar kedua di Irak yang lebih dulu dikuasai ISIL pada hari Selasa.

“Seluruh wilayah Tikrit kini berada di tangan para militan,” kata seorang kolonel polisi kepada kantor berita AFP. Namun demikian, televisi pemerintah Irak sempat melaporkan bahwa pasukan tentara khusus telah berjuang untuk kembali mengambil kontrol atas ibu kota Provinsi Salahuddin tersebut. Di lain pihak, sumber lain juga menyatakan bahwa kota terdekat Kirkuk yang merupakan kilang minyak terbesar Irak juga sudah dikuasai ISIL. Di kota ini ISIL mengatakan akan menjamin keselamatan tentara Irak jika mereka menyerahkan senjata mereka sehingga para tentara tersebut tidak perlu takut dibantai seperti yang terjadi pada rekan mereka di Mosul setelah menyerah pada militan ISIL.

Begitu pula di Kota Samarra yang berada di sebelah selatan Tikrit. Saksi mata menuturkan bahwa militan bersenjatakan senapan mesin telah tiba. Polisi juga menuturkan unitnya telah terlibat pertempuran. Kota Tikrit menjadi kota ketiga yang dikuasai ISIL pada tahun ini. Pada Januari lalu, kelompok militan Sunni yang berafiliasi dengan Al-Qaeda tersebut telah menguasai Kota Falujjah, Provinsi Anbar. Kota kedua, Mosul, dikuasai pada Selasa kemarin.

Kelompok militan Islam yang ditangkap di dua kota besar di Irak pekan lalu mengunggah foto yang menunjukkan pejuang mereka tengah membantai puluhan tentara yang ditangkap. Mereka yang mengatasnamakan diri Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) membawa tawanan ke truk sebelum memaksa mereka berbaring tertelungkup di selokan dangkal dengan tangan terikat di belakang punggung mereka. Dalam hitungan detik, mereka tergenang dalam kolam darah.

Gambar-gambar mengerikan ini kian mempertajam ketegangan sektarian karena ratusan warga Syiah menjawab panggilan dari pemimpin spiritual yang paling dihormati untuk mengangkat senjata melawan kelompok militan Sunni. ISIL telah bersumpah untuk menguasai Bagdad dan kota-kota Syiah di selatan negeri itu. Meski mereka belum bergerak ke Bagdad, ketegangan mulai muncul setelah ratusan orang Syiah berpawai di jalanan dalam menanggapi panggilan oleh Ayatullah Ali al-Sistani bagi rakyat Irak untuk membela negara mereka. Mereka secara sukarela bergabung untuk bersama-sama melawan ISIL.

Meskipun keamanan di ibu kota Irak itu diperketat, serangkaian ledakan menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai lebih dari 30 di kota tersebut. Satu bom mobil meledak di pusat kota, menewaskan 10 orang dan melukai 21 orang lainnya. Pada malam hari, ledakan lain menghantam daerah itu, menewaskan dua orang dan melukai lima orang lainnya. Ledakan ketiga terjadi di dekat sebuah toko di distrik Kota Sadr, menewaskan tiga orang dan melukai tujuh orang lainnya.

Peledakan dengan bom bunuh diri dan bom mobil intensitasnya meningkat di Bagdad dalam beberapa bulan terakhir; sebagian besar menargetkan lingkungan Syiah atau aparat keamanan. Keamanan diperketat terutama di batas kota utara dan barat, lokasi yang mungkin digunakan pejuang ISIL untuk merangsek ke pusat kota. Krisis di Irak ini telah mendorong Amerika Serikat mengirim sebuah kapal induk ke Teluk Persia. Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel memerintahkan kapal USS George H.W. Bush dari Laut Arab bagian utara ketika Presiden Barack Obama mempertimbangkan opsi militer untuk Irak. Sekretaris Pers Kementerian Pertahanan Laksamana John Kirby mengatakan langkah tersebut akan memberikan Obama fleksibilitas tambahan jika aksi militer diperlukan.

Di negara tetangga, Iran, Pelaksana Tugas Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Kiomars Heidari mengatakan Iran telah meningkatkan pertahanannya di sepanjang perbatasan barat dengan Irak. Namun ia menyatakan sejauh ini tidak ada ancaman langsung terhadap perbatasan. Perdana Menteri Irak, Nouri al-Mailiki, mengatakan kepada media, Selasa, 10 Juni 2014, bahwa pemerintahannya akan mempersenjatai warga sipil sebagai relawan guna melawan pemberontak.

Ucapan tersebut disampaikan beberapa jam setelah militan Islam yang tergabung ke dalam organisasi Negara Islam Irak dan Mediterania (ISIL) menguasai kota terbesar kedua Irak, Mosul. Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah secara nasional itu, Maliki mengatakan kabinetnya mengambil terobosan untuk merekrut relawan yang akan dipersenjatai dengan perlengkapan tempur.

“Pemerintah berharap kepada warga negara, putra para pemimpin suku bersedia menjadi relawan dan memanggul senjata untuk mempertahankan kampung halaman dan berperang melawan teroris,” ucap Maliki. Beberapa jam seusai menyampaikan pidatonya, pemberontak mengumumkan bahwa mereka berhasil menguasai kawasan di Provinsi Kirkuk. Keterangan tersebut disampaikan seorang pejabat kepolisian sebagaimana dikutip AFP. “Mereka menguasai Hawijah, Zab, Riyadh, dan Abbasi, kawasan di sebelah barat Kota Kirkuk, serta Rashad dan Yankaja,” kata Kolonel Ahmed Taha.

Gubernur Arbil, Nouzad Hadi, mengecam pemerintahan Maliki atas jatuhnya Provinsi Nineveh, termasuk ibu kota provinsi, Mosul. Hadi mengatakan kepada saluran televisi Dubai, Hadath TV, pasukan militer Irak memiliki senjata sangat baik dari Amerika Serikat, namun kebijaksanaan keamanan Maliki telah gagal mengatasi pemberontak. “Ini benar-benar sebuah tragedi,” ucap Hadi.

Pihak berwenang Irak menyatakan negara dalam keadaan darurat menyusul jatuhnya Mosul ke pemberontak. “Kota Mosul telah lepas dari genggaman pemerintah dan sekarang dikuasai pemberontak,” kata seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Irak kepada AFP. Koresponden Al Arabiya Chanel dalam laporannya mengatakan sedikitnya 2.725 tahanan kabur dari terali besi di Mosul menyusul gempuran senjata pemberontak terhadap pasukan keamanan Irak.