Category Archives: Suriah

Profil Negara Islam ISIS

Negara Islam di Irak dan Levant (ISIL) atau yang juga dikenal sebagai Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) tumbuh dari kelompok jihad Al-Qaidah pada April 2013. Meski, dalam perkembangannya, Al-Qaidah membantah kelompok ini sebagai bagian darinya. Bahkan, seperti dikutip BBC, ISIL bersinggungan dengan pemberontak lainnya di Suriah, seperti Front al-Nusra pimpinan Ayman al-Zawahiri. Kelompok ini menyatakan diri sebagai satu-satunya afiliasi Al-Qaidah di Suriah.

Metode ISIL dianggap bertentangan dengan Al-Qaidah lantaran telah berbelok dari misi perjuangan nasional dengan menciptakan perang sektarian di Irak dan Suriah. Ketegangan keduanya semakin memanas setelah niat Baghdadi untuk menyatukan Al-Nusra dengan ISIL ditolak. Zawahiri kemudian mendesak ISIL untuk fokus pada Irak dan meninggalkan Suriah. Namun Baghdadi dan pasukannya secara terbuka menentang mereka.

Permusuhan terhadap ISIL terus tumbuh di Suriah. ISIL secara teratur menyerang sesama pemberontak di Suriah dan menyalahgunakan warga muslim pendukung oposisi Suriah sebagai bagian dari mereka. Menurut laporan Middle East Monitor, sekitar 6.000 warga sipil tewas akibat pertikaian antarkelompok ini yang dimulai Januari lalu.

Pada Sabtu, 28 Juni 2014, bersama pejuang oposisi Brigade Islam, kelompok Al-Nusra melancarkan serangan perlawanan terhadap ISIL guna merebut kembali kontrol atas Abu Kamal, wilayah timur Suriah yang berbatasan dengan Irak. Sejak Rabu, 25 Juni 2014, wilayah yang kaya akan ladang minyak ini dikuasai Al-Nusra yang membelot dan memilih bergabung dengan ISIL.

Mengutip laporan BBC, organisasi ini kini dipimpin oleh Abu Bakar al-Baghdadi. Pria kelahiran Samarra, sebelah utara Bagdad, pada 1971 ini pernah bergabung dengan pemberontakan yang meletus di Irak setelah invasi 2003 pimpinan AS. Dan pada 2010, ia muncul sebagai pimpinan Al-Qaeda di Irak yang kemudian menjelma menjadi ISIL.

Bagdadi dianggap sebagai komandan medan perang yang memiliki analisis dan taktik yang hebat sehingga membuat ISIL lebih menarik dibandingkan Al-Qaeda pimpinan teolog Islam Ayman al-Zawahiri, bagi para jihadis muda. Tidak seperti kelompok pemberontak lain di Suriah, ISIL terlihat berjuang untuk menciptakan sebuah negara Islam di sepanjang Irak dan Suriah. Telah terlihat sejumlah keberhasilan militer yang cukup besar.

Pada bulan Maret 2013, Kota Raqqa menjadi ibu kota provinsi pertama yang jatuh di bawah kendali mereka. Selanjutnya, pada Januari 2014, ISIL berhasil menguasai Kota Fallujah, di Provinsi Anbar, yang didominasi oleh kaum Sunni. Tak sampai di situ, mereka juga berhasil menguasai sebagian besar Ramadi dan muncul di sejumlah kota yang berdekatan dengan perbatasan Turki dan Suriah.

Keberhasilan besar diraih saat mereka menaklukkan Kota Mosul pada Juni lalu yang mengirimkan gelombang kejut ke seluruh dunia. AS bahkan menyebut jatuhnya Mosul sebagai ancaman bagi seluruh wilayah Irak, sebab dengan menguasai Mosul, ISIL memiliki kekayaan yang cukup besar. Negara Islam di Irak dan Levant (ISIL) telah tumbuh menjadi salah satu militan terkuat di wilayah tersebut. Untuk mendukung kegiatan pemberontakan, mereka–yang juga dikenal dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS)–dikabarkan memiliki kekayaan yang fantastis.

Menurut Profesor Peter Neumann dari King College London yang dikutip BBC, kekayaan ISIL kini mencapai US$ 2 miliar setelah menguasai kota Mosul. Sebelumnya, ISIL hanya memiliki aset US$ 900. Di kota ini, ISIL dilaporkan mengambil ratusan juta dolar dari Bank Sentral Irak cabang Mosul. Kekayaan ISIL yang tak sedikit ini diperoleh dari sejumlah pemerasan terhadap orang-orang kaya di negara Teluk Arab, terutama Kuwait dan Arab Saudi.

Tak hanya mengandalkan pemerasan terhadap pengusaha, ISIL juga memperoleh pendapatan dari ladang minyak yang dikendalikan di timur Suriah dan utara Irak. Belum lagi kekayaan dari penjualan barang antik yang dijarah dari situs sejarah. Tidak seperti kelompok pemberontak lain di Suriah, ISIL terlihat berjuang untuk menciptakan sebuah negara Islam di sepanjang Irak dan Suriah dengan mengklaim sejumlah keberhasilan militer yang cukup besar.

Keberhasilan besar diraih saat mereka menaklukkan Kota Mosul pada Juni lalu yang mengirimkan gelombang kejut ke seluruh dunia. Amerika Serikat bahkan menyebut jatuhnya Mosul sebagai ancaman bagi seluruh wilayah Irak. Sebab, dengan menguasai Mosul, ISIL meraup kekayaan yang fantastis. Peter Neumann percaya, dengan menguasai Mosul, ISIL akan bertambah kaya.

Sebelumnya, Maret 2013, Raqqa menjadi ibu kota provinsi pertama yang jatuh di bawah kendali mereka. Selanjutnya, Januari 2014, ISIL berhasil menguasai Kota Fallujah di Provinsi Anbar yang didominasi kaum Sunni. Tak sampai di situ, mereka juga berhasil menguasai sebagian besar Ramadi dan muncul di sejumlah kota yang berdekatan dengan perbatasan Turki dan Suriah.

Kepiawaian Abu Bakar al-Baghdadi untuk merekrut wanita-wanita eropa muda agar mau berjihad seks bagi pejuang Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) membuat ISIS lebih menarik dibanding Al-Qaidah, bagi para pejihad muda. Seperti dilaporkan BBC, kemampuan ini, menurut Profesor Peter Neumann dari King College London, memperkirakan sekitar 80 persen dari pejuang Barat di Suriah telah bergabung dengan ISIS. Kelompok ini sendiri mengklaim memiliki pejuang dari Inggris, Prancis, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya, serta dari Amerika, Jazirah Arab, dan Kaukasus.

Akhir Januari lalu, seperti dilaporkan Associated Press, dua wanita asal Inggris terpaksa harus menghadapi persidangan atas tuduhan pelacuran untuk kaum jihad Inggris di Suriah karena mengkoordinir para wanita inggris untuk berjihad seks ke Suriah. Kemudian, pada pertengahan Maret, delapan wanita Prancis terpaksa berurusan dengan hukum karena mencoba bergabung dengan kelompok jihad Suriah. Seperti dikutip Xinhua, menurut data resmi pemerintah Prancis, sekitar 700 warganya, beberapa di antaranya masih belia, telah melakukan perjalanan untuk berperang di Suriah.

Kasus teranyar terjadi akhir Juni ini. Seorang remaja putri yang masih berusia 15 tahun asal Belanda nekat ikut berjihad di Suriah. Dia pergi dari rumah tanpa pamit kepada dua orang tuanya dan hanya meninggalkan catatan yang berbunyi, “Aku akan pergi ke Suriah.” Beruntung, polisi berhasil mencegatnya di Bandara Dusseldorf, Jerman.

Menurut laporan media setempat, baru-baru ini ada 130 pejihad dari Belanda yang melakukan perjalanan ke Suriah dan Irak. Tak hanya dari Eropa, para pejihad ini juga berasal dari Asia. Menurut laporan Malaysia Insider Mei lalu, seorang musikus kenamaan Malaysia dilaporkan berada dalam pelatihan militer untuk menjadi bagian dari kelompok jihad di luar Malaysia.

Abu Bakr al-Baghdadi Pengganti Osama Bin Laden Yang Lebih Brutal dan Kejam

Abu Bakr al-Baghdadi adalah nama perang dari komandan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), kelompok militan yang secara dramatis menguasai dua kota terbesar di Irak hanya dalam waktu dua hari. Menggunakan sebuah taktik yang tak lazim, Al-Baghdadi memimpin para pejuangnya menuju ke ibu kota Irak, Baghdad. Baghdadi memiliki ambisi besar, yaitu mendirikan sebuah kekhalifahan Islam yang terbentang dari Suriah hingga ke Irak dan jika memungkinkan lebih luas lagi.

Dengan kesuksesannya itu, Al-Baghdadi kerap disebut-sebut sebagai penerus Osama bin Laden sebagai tokoh militan paling ditakuti di dunia. Bedanya, Al-Baghdadi membawa personifikasi yang berbeda ke dalam misi-misinya.

Tak berwajah
Berbeda dengan Osama bin Laden, Al-Baghdadi bukan tipe dalang teror yang duduk di sebuah goa dan mengancam dunia lewat pesan-pesan video. Hal seperti itu masih dilakukan Ayman al-Zawahiri, pemimpin Al Qaeda saat ini. Hingga saat ini , wajah dan penampilan Al-Baghdadi masih menjadi misteri. Hanya ada dua foto dirinya di seluruh dunia. Salah satu foto dirilis AS, yang menghargai kepala Baghdadi sebesar 10 juta dollar AS. Satu foto lagi disebarkan oleh Pemerintah Irak.

Selain “tak berwajah”, Al-Baghdadi memiliki banyak nama, termasuk Abu Du’a dan Dr Ibrahim. Meski namanya belum banyak didengar dunia, ada banyak alasan mengapa Al-Baghdadi mendapatkan begitu banyak dukungan dari kelompok-kelompok militan. “Selama 10 tahun terakhir atua lebih, Zawahiri bersembunyi di wilayah perbatasan Afganistan-Pakistan dan tidak melakukan banyak hal selain sejumlah pernyataan dan video,” kata Richard Barrett, mantan direktur kontraterorisme MI6, badan intelijen luar negeri Inggris.

“Sementara itu, Baghdadi melakukan banyak hal luar biasa. Dia merebut sejumlah kota. Dia memobilisasi banyak orang, dan dia banyak membunuh orang di Irak dan Suriah,” tambah Barrett. “Jika Anda orang yang mencari aksi, Anda akan mencari Al-Baghdadi,” demikian Barrett.

Terlalu brutal
Al-Baghdadi memang sudah meraih sejumlah hal. Lihat saja wilayah luas yang dikuasai ISIS di Suriah dan Irak. Taktik brutal dan kejamnya ditakuti kawan dan lawan. Itulah yang membuat Al Qaeda memutuskan untuk “menyingkirkan” ISIS dari tubuhnya pada Februari lalu. Taktik yang digunakan ISIS bahkan bagi Al-Qaeda sekalipun dianggap terlalu brutal dan tidak islami.

Hidup di bawah rezim ISIS bisa menjadi sangat menakutkan. Di sejumlah wilayah Suriah yang mereka kuasai, pemancungan adalah hal biasa. Demikian pula soal pelecehan dan pemerkosaan terhadap perempuan yang menentang mereka dan yang berada diluar rumah.

“ISIS bahkan menembaki dan merajam warga sipil Suriah serta memperkosa para wanita yang memprotes perilaku mereka,” demikian harian The Economist menulis awal tahun ini. Karena itu, tak heran jika 500.000 warga muslim kota Mosul, Irak, memilih kabur ketika ISIS mengambil alih kekuasaan di kota itu. Warga Mosul mungkin bukan yang terakhir berlari di bawah kejaran pasukan pria “tak berwajah” ini.

Tren Minta Penggalan Kepala Tentara Pro Assad Untuk Mas Kawin Meningkat Di Suriah

Apa yang biasa diminta seorang perempuan untuk maskawinnya? Mungkin uang tunai, perhiasan emas, atau mungkin hewan ternak. Namun, seorang perempuan Suriah yang hendak menikah meminta maskawin yang tak lazim. Dia meminta kekasihnya untuk memenggal dan membawa 15 kepala pasukan pro-Assad.

Selain itu, perempuan tersebut juga memberi syarat 50 kepala pasukan pro-Assad lagi jika nantinya pernikahan mereka kandas di tengah jalan. Kehilangan suami dan empat putranya dalam unjuk rasa anti-Assad mungkin membuat Aicha Faaourya (50) menuntut maskawin “mengerikan” itu kepada Ahmad Ramilat (75), calon suaminya.

Perempuan yang biasa dipanggil Umm Shouhada atau yang berarti ibu para syuhada itu telah bersumpah untuk mendedikasikan sisa hidupnya untuk memerangi pemerintahan Bashar al-Assad. Sementara itu, Ahmad Ramilat, anggota dewan kesukuan Suriah yang kerap disebut “Sang Bijaksana”, juga kehilangan dua putranya saat memerangi pasukan Pemerintah Suriah.

Ramilat menerima permintaan maskawin yang diajukan Aicha itu dan bersumpah akan memenggal kepala 15 anggota pasukan pro-Assad demi cintanya kepada sang tunangan. Ramilat juga berjanji akan menyediakan 50 kepala pasukan pro-Assad jika nantinya mereka harus bercerai.

Kondisi ini merupakan hasil dari perang saudara brutal yang sudah berlangsung lebih dari tiga tahun di Suriah. Akibat perang itu, lebih dari 160.000 orang tewas dan lebih dari dua juta orang terpaksa menjadi pengungsi.

Tindakan Sahabat Suriah Destruktif Untuk Perdamaian

Rusia menentang keputusan sejumlah negara yang tergabung dalam kelompok “Sahabat Suriah (Friends of Syiria)”, yang meningkatkan bantuan terhadap kelompok oposisi moderat di Suriah, menyebutnya sebagai tindakan “destruktif”. “Tidak seperti rekan kami di Barat, kami bekerja sama dengan semua pihak di Suriah, tidak hanya dengan satu kelompok saja,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov sebagaimana dikutip dari kantor berita Interfax, Kamis.

“Bagi kami, pendekatan hanya dengan salah satu pihak itu adalah tindakan yang destruktif,” kata Bogdanov. Demikian diberitakan AFP. Rusia, yang mempunyai hak veto di Dewan Keamanan PBB, selama tiga tahun terakhir ini memang memberi pemerintah Suriah dukungan krusial. Moskow berulang kali menghentikan upaya negara Barat dan Timur Tengah untuk menggulingkan Bashar.

Sebelumnya, kelompok negara “Sahabat Suriah” bertemu di London dan sepakat untuk meningkatkan bantuan terhadap kelompok oposisi moderat yang menentang kekuasaan Presiden Bashar al-Assad.Kelompok negara yang tergabung dalam “Sahabat Suriah (Friends of Syiria)” mengecam rencana Bashar al- Assad untuk menggelar Pemilu Presiden pada 3 Juni mendatang di tengah perang saudara.

Pernyataan bersama dari 11 negara yang terlibat di London itu menyebut pemilu itu sebagai pergelaran “yang tidak sah” dan merupakan “parodi demokrasi”. Mereka juga mendesak masyarakat internasional untuk menolak apapun hasilnya. Demikian diberitakan Reuters.

Kesebelas negara yang tergabung dalam “Sahabat Suriah” adalah Inggris, Mesir, Prancis, Jerman, Italia, Yordania, Qatar, Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat. “Rencana pemilu tersebut adalah lelucon yang menghina dan palsu,” kata Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry setelah pertemuan tersebut.

Selain menentang rencana gelaran Pemilu Presiden di Suriah, kelompok Sahabat Suriah ini juga akan meningkatkan bantuan kepada pihak oposisi moderat di Suriah. Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mengatakan, bahwa “Sahabat Suriah” berniat “untuk meningkatkan upaya pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa mempertimbangkan keberatan dari pihak rezim (Bashar).”

Pemerintah Suriah sendiri dinilai sering menghambat pengiriman bantuan makanan dan sejumlah peralatan lainnya dari badan internasional kepada masyarakat sipil yang semakin putus asa. Amerika Serikat, yang menyediakan bantuan kemanusiaan senilai 1,7 milyar dolar AS, menyatakan frustasi atas hal tersebut.

“Bantuan tidak sampai ke tangan orang yang membutuhkan. Bantuan itu harus melalu satu pintu, yaitu Damaskus, dan dikontrol oleh rezim Bashar. Ini tentu saja tidak dapat diterima,” kata Kerry. Suara yang sama juga sempat dinyatakan pada pekan lalu oleh direktur pelaksana bantuan PBB di Suriah, John Ging. Dia menuduh pemerintah Bashar telah memblokade bantuan medis yang ditujukan kepada penduduk wilayah kelompok oposisi.

Sementara di tempat terpisah Rusia menyatakan bahwa tindakan kelompok negara “Sahabat Suriah” yang hanya membantu satu pihak saja–yaitu kelompok oposisi moderat di Suriah– menyebutnya sebagai “tindakan destruktif”.

Serangan Senjata Kimia Terjadi 14 Kali Di Suriah

Bukti-bukti yang menunjukkan adanya penggunaan senjata kimia di Suriah semakin menguat. Rezim pemerintah Suriah diyakini menggunakan senjata kimia, termasuk klorin sebanyak 14 kali sejak akhir tahun 2013.

Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius mengungkapkan hal tersebut dalam kunjungan kenegaraannya ke Washington, Amerika Serikat. Fabius juga menyampaikan penyesalannya bahwa Presiden AS Barack Obama gagal melancarkan serangan ke Suriah sebagai hukuman atas penggunaan gas sarin, tahun lalu. Jika saja AS melakukan operasi militer di Suriah, menurut Fabius, kondisi lapangan di Suriah akan jauh berbeda.

“Kami menyesalinya karena kami pikir itu akan mengubah banyak hal … tapi apa yang sudah terjadi biarlah terjadi, dan kami tidak akan mengubah sejarah,” ucap Fabius dalam konferensi pers di Washington, seperti dilansir AFP, Rabu (14/5/2014).

Lebih lanjut, Fabius membeberkan informasi yang didapat otoritas Prancis atas penggunaan senjata kimia di Suriah, baru-baru ini. “Kami memiliki saksi-saksi mata yang kredibel atas penggunaan (senjata kimia) tersebut, sedikitnya ada 14 kali penggunaan… senjata kimia sejak Oktober 2013,” terangnya.

“Kami memiliki banyak elemen yang membawa kami pada keyakinan bahwa ada beberapa kali penggunaan senjata kimia yang disembunyikan,” imbuh Fabius.

Fabius menyatakan, otoritas Prancis tengah memeriksa elemen dan bukti-bukti yang didapat tersebut. Laporan 14 kali penggunaan senjata kimia tersebut semakin memperkuat tudingan bahwa serangan kimia masih terus terjadi meskipun Presiden Bashar al-Assad sepakat untuk memusnahkan senjata kimia milik rezimnya.

“Dalam beberapa minggu terakhir, senjata kimia baru dalam jumlah yang lebih kecil telah digunakan, utamanya jenis klorin,” terang Fabius. Sejauh ini dilaporkan proses pemusnahan senjata kimia Suriah yang diawasi oleh Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) dan PBB telah mencapai 92 persen.

Milisi ISIS Di Suriah Salibkan Muslim Yang Menolak Hukum Syariah

Adegan mengerikan berikut tertanam selamanya dalam ingatan seorang saksi mata. Sejumlah pria bertopeng menyeret mayat seorang lelaki yang berlumuran darah melintasi sebuah alun-alun di Suriah. Mereka mengikat mayat itu di sebuah tiang besi sehingga terlihat sedang disalibkan. Seutas tali warna hijau mengikat kedua lengan mayat itu yang terentang di papan kayu, sementara darah merembes dari luka tembak di kepalanya.

CNN melaporkan peristiwa itu pada Jumat (2/5/2014) berdasarkan beberan saksi mata tersebut. Menurut saksi itu, yang oleh CNN disebut sebagai Abu Ibrahim (bukan nama sebenarnya), para milisi Suriah membungkus tubuh bagian atas mayat itu, yang masih mengenakan kaus yang agak gelap, dengan apa yang tampak seperti kertas besar. Di kertas itu tertera tulisan warna merah dalam bahasa Arab yang berbunyi, “Orang ini melawan kaum Muslim dan meledakkan sebuah IED (peledak) di sini.”

Abu Ibrahim melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menyaksikan. Dia melangkah lebih dekat dan mengambil sejumlah foto dengan telepon genggamnya. Sejumlah anak di sekelilingnya, yang memiliki rasa ingin tahu, ternganga saat melihat tontonan mengerikan tersebut.

CNN melaporkan, Abu Ibrahim meminta agar identitasnya dirahasiakan karena takut akan pembalasan. Foto-foto Ibrahim mendokumentasikan sesosok mayat yang seakan mengalami penyaliban, dan sebentuk pesan dari adegan di kota Raqqa di Suriah utara. Sebuah kelompok sempalan Al Qaeda, yaitu Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), mengatakan, pertunjukan brutal itu bermaksud menjadi pelajaran bagi siapa saja yang berani menantang kekuasaannya.

Selama tiga hari, mayat pria yang “disalibkan” itu dan korban lain dilaporkan tetap tergantung di Raqqa.

“Apa yang mereka (milisi) hendak sampaikan yaitu bahwa mereka yang menentang kekuasaan ISIS berarti menentang kekuasaan Allah, dan mereka yang menjadi musuh ISIS berarti musuh Allah dan pantas untuk mendapatkan bentuk hukuman tertinggi yang dimungkinkan,” kata Abbas Barzegar, asisten profesor studi Islam di Georgia State University, AS.

Kelompok jihad itu total melakukan tujuh eksekusi terbuka di Raqqa pada Selasa lalu, tetapi hanya dua mayat yang ditampilkan sesudah itu, kata Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, sebuah kelompok pemantau yang berbasis di London.

Abu Ibrahim, anggota sebuah kelompok anti-ISSI yang baru saja terbentuk di Raqqa, mengatakan, lima korban lainnya adalah anak-anak yang masih berusia di bawah 18 tahun. Salah satu dari mereka bahkan siswa kelas tujuh atau kelas satu SMP.

Menurut CNN, penyaliban yang dipertontonkan itu dimulai pada Maret lalu saat ISIS menuduh seorang gembala melakukan pembunuhan dan pencurian. Gembala itu kemudian ditembak di kepalanya dan mayatnya diikat di sebuah kayu salib.

“Kekerasan tersebut merupakan bagian dari kampanye pembalasan kaum fundamentalis, tetapi bentuk-bentuk hukuman kuno itu sudah sangat jarang walau pernah terlihat di dunia Muslim dalam beberapa abad terakhir,” kata Barzegar kepada CNN. “Hal itu telah menjadi ciri standar kelompok-kelompok Islam pinggiran untuk menghidupkan kembali praktik-praktik usang dalam upaya menghidupkan kembali apa yang mereka anggap sebagai yang paling otentik.”

Sejauh ini, tak ada bukti bahwa penyaliban benar-benar dilakukan. Penyaliban merupakan sebuah bentuk eksekusi menyakitkan, yakni para korban diikat atau dipaku di tangan dan kaki di sebuah kayu salib yang berat dan dibiarkan menderita sampai mati.

Tiga orang di Raqqa itu telah ditembak di kepala sebelum dipajang di kayu salib. Aksi mempertontonkan mayat mereka secara terbuka di tiang salib tampaknya merupakan tindakan simbolis para anggota ISIS untuk melawan anggotanya sendiri dari kalangan Sunni terkait tindakan yang dianggap sebagai pengkhianatan.

“ISIS perlu menambahkan makna pada setiap pembunuhan mereka. Kalau hanya sekadar membunuh di sebuah negara yang sedang dilanda perang tidak bermakna apa-apa, maka mereka perlu melampirkan pesan atau propaganda atas apa yang mereka lakukan,” kata Barzegar.

Pada saat perang sipil Suriah menciptakan kekosongan kekuasaan, kelompok-kelompok seperti ISIS telah melangkah masuk dengan membawa tafsiran mereka sendiri soal hukum Syariah demi menguasai penduduk sipil yang kelelahan dan diteror. CNN melaporkan, sejumlah fatwa kerap muncul dalam semalam pada selebaran yang mencolok, dengan peringatan-peringatan yang mengerikan.

“Semua pemilik toko harus menutup toko mereka segera setelah suara azan dan pergi ke masjid,” kata sebuah dekrit yang dilaporkan telah di-posting minggu ini. “Setiap pelanggaran setelah penerbitan pengumuman ini akan menghadapi konsekuensi.”

Menurut seperangkat aturan yang dikeluarkan untuk minoritas Kristen Raqqa, anggota kelompok itu harus membayar pajak khusus untuk para militan dan tidak boleh mengenakan kalung salib, memperbaiki gereja, atau berdoa di hadapan umat Islam, kata laporan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia pada Februari.

Walau penyaliban punya resonansi khusus dengan Alkitab, pertunjukkan mengerikan dan brutal di Raqqa itu tidak punya hubungan langsung dengan simbolisme Kristen, kata Barzegar. Para korban ISIS yang mayatnya digantung di salib itu semuanya Muslim. Setelah hampir setahun berada di bawah penindasan ISIS, Abu Ibrahim dan sekitar 20 aktivis lainnya membentuk kampanye pada April yang mereka sebut “Raqqa Sedang Dibantai Secara Diam-diam” guna mendorong kelompok yang main hakim sendiri pergi dari kampung halaman mereka. “Setelah kami mencapai keyakinan yang solid, tanpa bayangan keraguan, bahwa (Raqqa) menjadi panggung tontonan mengerikan yang merusak inti sesungguhnya dari revolusi Suriah, kami memutuskan sudah waktunya kami berdiri melawan kekuatan-kekuatan jahat,” demikian antara lain isi dokumen pendirian kampanye tersebut.

ISIS segera bereaksi atas kampanye itu. Kelompok itu menghukum para aktivis dengan hukuman mati karena “tidak percaya pada Islam dan advokasi mereka terhadap sekularisme.” ISIS bahkan menawarkan hadiah uang tunai dalam jumlah besar bagi informasi tentang keberadaan anggota kelompok kampanye itu, kata Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia.

“Ini merupakan kewajiban kami untuk menghadapi mereka (ISIS) dan jika kami tetap takut terhadap mereka maka mereka akan menjajah kami selamanya. Memang benar ini berbahaya dan kami telah menerima lebih dari satu kali ancaman kematian, tetapi kami mengandalkan popularitas halaman Facebook kami sebagai perlindungan,” kata Abu Ibrahim kepada CNN melalui koneksi Skype.

Di halaman Facebook mereka yang memiliki hampir 12.000 pengikut, para aktivis mem-posting perkembangan terkait dugaan kejahatan yang dilakukan ISIS terhadap rakyat Raqqa dan menerbitkan seruan untuk bertindak, seperti mengusulkan pemogokan para pemilik toko pada hari Sabtu untuk memprotes kenaikan pajak oleh ISIS.

“Hidup di sini sangat sulit. Orang-orang lelah dan mereka membenci segalanya. Jika Anda tidak menutup toko Anda selama waktu shalat Anda mendapatkan cambukan, jika Anda merokok Anda mendapatkan cambukan, jika Anda mengatakan satu hal yang salah Anda dapat dieksekusi. Semudah itu bagi ISIS,” kata Abu Ibrahim.

PBB, oposisi Suriah, dan kelompok hak asasi manusia telah menguatkan adanya adegan horor di Raqqa. Awal tahun ini, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Navi Pillay, mengatakan, laporan tentang eksekusi massal di Raqqa mungkin menjadi kejahatan perang, dan dalam laporan terpisah yang diterbitkan bulan lalu, kantor Pillay mendokumentasikan penyiksaan dan berbagai perlakuan buruk, termasuk pemukulan berulang-ulang tahanan di sejumlah sekolah dan rumah sakit yang dikendalikan ISIS.

“Begitu banyak keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih mereka dan mereka tidak tahu di mana mereka atau apa yang terjadi pada mereka. Bagian terburuk adalah orang terlalu takut untuk bertanya tentang suami atau anak-anak mereka,” kata Abu Ibrahim.

Hampir setiap setelah shalat Jumat, sejumlah tahanan muncul di publik di mana puluhan penonton berdiri saat dakwaan dibicarakan secara tergesa-gesa dan hukuman terhadap terdakwa dilakukan, mulai dari cambukan hingga eksekusi. Sejumlah foto mengerikan sering beredar di situs media sosial, kadang-kadang di-posting oleh akun yang mengaku punya kaitan dengan kelompok ekstremis.

“Laksana air terjun dari darah. Ada lebih banyak eksekusi dan sekarang anak-anak menonton sepertinya mereka sudah terbiasa dengan itu. Itu merupakan adegan yang aneh dan menarik dan mereka tidak takut untuk melihat,” kata Abu Ibrahim.

Serangan militer ISIS melawan bahkan para mantan sekutunya. Komando pusat Al Qaeda pada awal tahun ini telah menyangkal bahwa ISIS merupakan afiliasinya. Namun pemimpin kelompok itu, Abu Bakr al Baghdadi, berjanji untuk tetap tinggal di Suriah dan melawan semua pihak yang menentangnya, bahkan sesama pelaku jihad.

Para pendiri kampanye damai “Raqqa Sedang Dibantai Secara Diam-diam” mengatakan mereka akan berhasil walau orang lain telah gagal. “Kata-kata sering lebih kuat ketimbang peluru, dan kehendak rakyat merupakan yang paling kuat dari semuanya,” kata Abu Ibrahim.

Pemuda Arab Saudi Pulang Dari Jihad Di Suriah Karena Ternyata Pejuang Al-Nusra Suka Mabuk dan Main Perempuan

Seorang pemuda Arab Saudi yang baru kembali dari bertempur di Suriah mencurahkan unek-uneknya dalam sebuah acara bincang-bincang di sebuah stasiun televisi Saudi. Dalam acara itu, Misfer (17) mengaku merasa tertipu sejumlah tokoh agama yang menyarankan para pemuda untuk berjihad di Suriah melawan rezim Bashar al-Assad. Awal tahun ini, Misfer berangkat ke Suriah setelah mendengarkan dakwah online seorang ulama yang menggunakan dalil-dalil agama untuk meyakinkan para pemuda bahwa berperang ke Suriah merupakan sebuah kewajiban seorang Muslim.

Berbicara dalam acara bincang-bincang “Al-Thamina ma Dawood” yang dipandu pembawa acara ternama Saudi, Dawood al-Shirian, Misfer mengakui pernyataan para pemuka agama itu yang membuatnya nekat berangkat ke Suriah. “Saya pergi ke Suriah setelah menjelajahi internet dan menemukan beberapa orang menggunakan pernyataan Sheikh Arour terkait perang di Suriah. Pernyataan itu sangat memengaruhi saya dan membuat saya memutuskan untuk pergi ke Suriah,” ujar Misfer.

Tanpa persetujuan kedua orangtuanya, Misfer mengatakan, dia memesan tiket penerbangan dari Jeddah menuju Antakya, Turki. Dari sana, dia membayar sejumlah uang untuk melintasi perbatasan Turki-Suriah di Latakia. Di Suriah, Misfer kemudian bergabung dengan sejumlah pejuang Saudi yang sudah terlebih dahulu berada di Suriah. Di Suriah, Misfer bertugas untuk membantu para pejuang yang terluka.

Namun, setelah beberapa bulan berada di Suriah, ternyata kenyataan yang dilihatnya jauh berbeda dengan yang dibayangkannya selama ini. “Semua seruan berjihad di Suriah adalah bohong. Para pemberontak minum alkohol dan bermain perempuan. Para pejuang front Al-Nusra juga tak jauh berbeda,” kata remaja itu. Melihat kenyataan itu, Misfer memutuskan untuk pulang ke Arab Saudi, tetapi khawatir akan hukuman yang menanti di tanah kelahirannya itu.

“Banyak warga Saudi (di Suriah) ingin pulang, tetapi mereka khawatir akan disiksa aparat keamanan Saudi. Saya nyaris memercayai hal itu sehingga saya terkejut saat tim medis menyambut saya di bandara dan membawa saya ke sebuah hotel,” kenang Misfer. Pada awal Januari, Dawood al-Shirian mewawancarai ibunda Misfer. Dalam wawancara itu, sang ibu menangis dan mengatakan bahwa seseorang memaksa Misfer untuk bergabung dengan para pejuang radikal di Suriah.

Dalam acara itu, Dawood al-Shirian mengecam sejumlah tokoh agama yang menggunakan media sosial untuk merekrut para pemuda Saudi berperang di Suriah. Namun, wawancara dengan ibunda Misfer itu membuat sejumlah tokoh agama di Saudi berang dan menuding wawancara itu penuh rekayasa.