Category Archives: Suriah

Konvoi Bantuan Kemanusiaan Dari Bulat Sabit Merah Di Suriah Di Serang Pemberontak

Sebuah konvoi bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa berada di bawah hujan tembakan saat berada Homs, distrik yang dikuasai pemberontak dan dalam kepungan tentara Bashar al-Assad, Sabtu, 8 Februari 2014. Penembakan ini mengancam operasi kemanusiaan yang dipimpin PBB untuk membawa makanan dan obat-obatan untuk 2.500 orang dan mengevakuasi warga sipil yang terperangkap berbulan-bulan dalam pertempuran di kota Suriah itu.

Bulan Sabit Merah Arab Suriah menyatakan tembakan mortir mendarat dekat dengan konvoi kendaraan bantuan. Sebuah tembakan mengenai truknya, melukai salah satu sopir. Setidaknya sembilan kendaraan Bulan Sabit Merah dan PBB bersembunyi di kota selama beberapa jam setelah gelap ketika ledakan terjadi. Menurut Bulan Sabit Merah Arab Suriah, konvoi pengangkut bantuan itu berhasil keluar sesaat sebelum pukul 10.00 waktu setempat dan meninggalkan dua truk yang rusak.

“Meskipun tim ini dihujani bom dan tembakan, kami berhasil memberikan 250 paket makanan, 190 paket kesehatan, dan obat penyakit kronis,” demikian pernyataan Bulan Sabit Merah. Pihak berwenang Suriah menuding pemberontak sebagai pelaku penyerangan, dan oposisi justru menuding pasukan Assad yang memaksa mereka keluar. Penembakan ini mengancam pelaksanaan operasi kemanusiaan di Homs, yang merupakan hasil nyata pertama dari perundingan yang diluncurkan dua minggu lalu di Jenewa untuk mencoba mengakhiri perang saudara di negara itu.

Konflik di Suriah telah menewaskan 130 ribu orang serta memaksa jutaan warganya mengungsi dan menghancurkan seluruh kota di Suriah, khususnya Homs yang menjadi pusat aksi protes kepada pemerintah Assad tahun 2011. Dalam pembicaraan damai di Jenewa, mediator internasional Lakhdar Brahimi telah mendorong adanya kesepakatan tentang pengiriman bantuan dan melepaskan tahanan di Homs, berharap bahwa kemajuan dalam isu-isu ini bisa menciptakan momentum untuk menjawab pertanyaan yang jauh lebih kontroversial dari penyelesaian krisis di Suriah, yaitu soal transisi politik di negara itu.

Bantuan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa Valerie Amos menyatakan kekecewaan yang mendalam setelah konvoi bantuan PBB dan Bulan sabit Merah Arab Suriah ditembak saat berada di distrik yang dikuasi pemberontak di Kota Homs, Suriah, Sabtu 8 Februari 2014.

“Saya sangat kecewa bahwa jeda kemanusiaan tiga hari yang telah disepakati antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, rusak hari ini dan pekerja bantuan kemanusiaan menjadi target penyerangan,” kata Amos dalam sebuah pernyataan, Sabtu 8 Februari 2014 .

“Peristiwa hari ini berfungsi sebagai pengingat jelas tentang bahaya yang dihadapi setiap hari oleh warga sipil dan pekerja kemanusiaan di Suriah,” katanya. Serangan yang terjadi Sabtu itu mengancam operasi yang dipimpin PBB untuk membawa makanan dan obat-obatan untuk 2.500 orang di Homs, serta mengevakuasi warga sipil yang terperangkap oleh pertempuran berbulan-bulan di kota itu.

Organisasi Bulan Sabit Merah Arab Suriah (SARC) mengatakan, tembakan mortir mendarat di dekat konvoi bantuan dan sebuah tembakan juga mengenai truk dan melukai salah satu supirnya. Di tengah tembakan itu, mereka sempat menyerahkan bantuan kepada warga sebelum akhirnya keluar dari kota itu.

“Saya terus menyerukan kepada mereka yang terlibat dalam konflik brutal ini untuk menghormati jeda kemanusiaan, menjamin perlindungan warga sipil dan memfasilitasi keamanan pengiriman bantuan,” katanya. “PBB dan mitra kemanusiaannya kami tidak akan terhalangi dari melakukan yang terbaik yang kami bisa untuk mengirimkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.”

Pihak berwenang Suriah menyalahkan pemberontak sebagai pelaku serangan ini. Sebaliknya, pihak oposisi mengatakan justru pasukan Presiden Bashar al-Assad yang harus bertanggung jawab atas serangan itu.

Kesepakatan untuk mengizinkan bantuan kemanusiaan ke Homs ini adalah hasil nyata perundingan pertama yang diluncurkan dua minggu lalu di Jenewa untuk mencoba untuk mengakhiri perang saudara yang sudah berlangsung hampir tiga tahun dan telah menewaskan lebih dari 136.000 orang.

Anak Anak Suriah Mulai Direkrut Jadi Tentara dan Diperkosa

Saat anak-anak di belahan dunia lain tengah menikmati pendidikan dan masa remaja yang menyenangkan, sebagian besar anak-anak Suriah hidup di dalam tekanan. Pada usia 12-17 tahun mereka telah dilatih, dipersenjatai, dan ditempatkan di sejumlah pos pemeriksaan untuuk membantu pertempuran kelompok pemberontak.

“Hilangnya orang tua dan kerabat, mobilisasi politik, serta tekanan dari teman sebaya, keluarga, dan masyarakat, memengaruhi keterlibatan mereka dengan kelompok militan,” kata Wakil Menteri Dalam Negeri Faisal Mekdad, seperti dilansir dari BBC.

Berdasarkan hasil wawancara yang dihimpunnya dari keluarga dan anak-anak ini, mereka umumnya menyatakan bahwa keikutsertaan mereka dalam pihak oposisi merupakan bentuk tanggung jawab mereka terhadap negaranya.

Perekrutan ini telah menjadi perhatian khusus PBB. Memang, PBB tidak menerima adanya laopran mengenai perekrutan formal anak oleh pasukan pemerintah, tapi tentara dan milisi pro-pemerintah dikatakan telah mengintimidasi dan ‘memaksa’ laki-laki muda, beberapa masih berusia di bawah 18 tahun, untuk bergabung dengan mereka.

Laporan mengenai perekrutan ini telah dirilis oleh PBB. Dalam laporan tersebut, PBB juga menyatakan, baik tentara pemerintah maupun tentara pemberontak, melakukan kekerasaan terhadap anak, termasuk penyiksaan dan pelecehan seksual.

Sebuah laporan baru yang dirilis PBB mengungkapkan bagaimana konflik Suriah telah berdampak besar bagi anak-anak. Mereka disebut telah mengalami penderitaan yang “tak terkatakan dan tak bisa diterima”, termasuk penyiksaan dan pelecehan seksual.

Seperti dilansir dari laman BBC, laporan periode 1 Maret 2011-15 November 2013 menyatakan pelanggaran ini dilakukan oleh militer Suriah, intelijen, dan milisi pro-pemerintah.

Anak-anak ini ditangkap, ditahan bersama orang dewasa, dianiaya, dan disiksa pasukan pemerintah saat “kampanye” besar-besaran, khususnya pada 2011 dan 2012.

Saksi mata yang tidak disebutkan namanya mengatakan pasukan pemerintah tak segan-segan menyiksa mereka dengan kabel logam, cambuk, tongkat kayu, dan logam. Mereka disiksa dengan disundut rokok, dibiarkan kurang tidur, dan dimasukkan ke dalam sel isolasi.

Bahkan mereka sering kali disetrum di bagian kelamin atau di kaki hingga kuku mereka terlepas. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan mengalami ancaman perkosaan, atau bahkan ada yang sudah mengalami perkosaan. Batin mereka juga disiksa dengan dibiarkan melihat kerabat mereka disiksa.

Penyidik menyatakan kekerasan ini dilakukan intelijen dan personel militer terhadap anak yang diduga berafiliasi dengan oposisi. Mereka memaksa anak-anak ini untuk memberikan informasi terkait hal itu.

Namun kelompok pemberontak juga diduga kuat melakukan penyiksaan serupa. Sayang, pihak penyidik tidak bisa menyelidiki lebih lanjut karena kurangnya akses ke pihak pemberontak.

Pada November tahun lalu, sebuah lembaga penelitian yang berbasis di London mengungkapkan penelitian terbarunya. Menurut lembaga ini, lebih dari 11 ribu anak tewas dalam perang saudara di Suriah yang sudah berlangsung selama tiga tahun ini.

Jenderal Suriah Tewas Dalam Pertempuran Melawan Pemberontak di Provinsi Deir Ezzor

Seorang pejabat Angkatan Bersenjata Suriah, Mayor Jenderal Jameh Jameh, tewas dalam pertempuran dengan pemberontak di Provinsi Deir Ezzor. “Mayor Jenderal Jameh Jameh adalah syuhada yang sedang membawa tugas negara untuk mempertahankan Suriah dan rakyat, serta dalam tugas mengejar teroris di Deir Ezzor,” ujar siaran televisi pemerintah, Kamis, 17 Oktober 2013.

Mayor Jenderal Jameh Jameh adalah seorang kepala intelijen provinsi, tempat pasukan rezim bertempur melawan pejuang oposisi untuk mendongkel kekuasaan Presiden Bashar al-Assad. Media pemerintah tidak memberikan keterangan rinci mengenai kapan, di mana, dan bagaimana Jameh tewas. Akan tetapi, para pemberontak mengatakan dia tewas dalam bentrok bersenjata dengan pejuang di Kota Deir Ezzor.

Rami Abdel Rahman, Direktur Syrian Observatory for Human Rights, lembaga pemerhati hak asasi manusia Suriah yang berbasis di London, menerangkan dari hasil laporan yang diperoleh, Jameh tewas akibat ditembak oleh seorang penembak jitu di Distrik Rashdiya. Namun, informasi ini belum bisa dikonfirmasi.

Kelompok hak asasi manusia ini juga melaporkan, pertempuran pecah antara pasukan pemerintah dengan pemberontak berlangsung di beberapa tempat, termasuk di kota terbesar di Suriah timur. Jameh adalah salah satu dari pejabat tertinggi keamanan Suriah di Lebanon semasa pengerahan pasukan Damaskus di negara tersebut antara 1976 dan 2005.

Dia diperiksa secara mendalam pada Februari 2005 terkait dengan pembunuhan bekas Perdana Menteri Lebanon, Rafiq Hariri. Namun belakangan, dia tidak terbukti memiliki hubungan dengan kasus pembunuhan tersebut.

Pada 2006, Departemen Keuangan Amerika Serikat memasukkan dirinya dan sejumlah jenderal Suriah lainnya ke dalam daftar hitam atas perannya mendukung kelompok teroris. Dia diyakini berasal dari Jableh, sebuah kota di pesisir Provinsi Latakia, kawasan yang dikuasai oleh pasukan rezim Suriah.

Pemberontak Suriah Gunakan Wanita Hamil dan Bayi Sebagai Sasaran Dalam Latihan Menembak Jitu

Kebiadaban baru dilaporkan terjadi di Suriah. Menurut seorang dokter Inggris yang melakukan misi kemanusiaan di sana, janin di rahim wanita Suriah menjadi sasaran penembakan dengan hadiah sebungkus rokok.

David Nott, nama dokter itu, mengaku menyaksikan bukti pejuang menggunakan warga sipil sebagai target latihan menembak dan pada beberapa kesempatan menembak wanita hamil tepat di perutnya untuk membunuh janin yang dikandungnya.

Sebuah foto dengan sinar X yang menunjukkan janin dengan peluru bersarang di kepala disodorkannya sebagai bukti. Ia menyatakan, banyak warga sipil Suriah yang kini terperangkap antara pasukan pemerintah dan pemberontak. Dia menggambarkannya sebagai “neraka di dalam neraka” karena nasib buruk akan menimpa bila jatuh ketangan pasukan pemerintah dan nasib yang lebih buruk akan terjadi bila jatuh ketangan pemberontak.

Ada area jalan tertentu yang menjadi ajang “lomba” para penembak jitu itu. Jika wanita dan anak-anak melintas, mereka akan menjadi target empuk. Ia melihat indikasi penembakan itu dilakukan secara terencana untuk tujuan latihan. “Suatu hari akan datang banyak pasien dengan luka tembak di paha kiri, di hari yang lain, semua pasien datang dengan luka tembak di dada kirinya,” katanya.

Nott mengatakan selama 20 tahun menjadi sukarelawan di zona perang, baru kali ini ia menyaksikan wanita hamil menjadi sasaran. Dia menyatakan sudah menangani dua pasien wanita hamil dengan peluru bersarang di kepala bayi mereka.

Perang sipil Suriah telah menewaskan lebih dari 100.000 orang. Perang ini kini mengarah pada perang saudara antara kubu Suni yang mendukung tentara pemberontah dan kubu Syiah yang mendukung pemerintah.

Setelah Rusia Kini Iran Juga Berjanji Akan Dukung Suriah Tanpa Syarat

Pejabat tinggi keamanan Iran, Saeed Jalili, mengatakan kepada Presiden Bashar al-Assad bahwa Suriah merupakan bagian penting dari aliansi regional. Ia menekankan, Teheran tidak akan mengkhianati persahabatan dengan negara itu.

Selama pembicaraan di Damaskus, Jalili mengatakan Suriah adalah bagian penting dari “poros perlawanan”. Pernyataan itu muncul sehari setelah Perdana Menteri Suriah, Riad Hijab, membelot ke kubu oposisi.

TV Suriah menunjukkan Presiden Assad mendengar langsung pernyataan dari mulut Jalili. Penampakan Assad di TV adalah yang pertama sejak dua pekan lalu.

Presiden Assad ini terakhir terlihat di televisi pemerintah pada 22 Juli – empat hari setelah sebuah bom menewaskan empat kepala keamanan di Damaskus – mengarah ke spekulasi tentang kesehatan dan keberadaannya.

Presiden Assad mengatakan kepada Jalili mengenai “tekad rakyat dan pemerintah Suriah untuk membersihkan negara itu dari para teroris dan memerangi terorisme tanpa syarat”. Ia menekankan Suriah akan “terus di jalan dialog nasional” dan bahwa langkah itu “mampu menggagalkan konspirasi asing”.

Suriah adalah salah satu sekutu Iran yang paling penting dan menjadi pijakan pro-Iran di Timur Tengah. Suriah juga disebut-sebut sebagai saluran penting bagi kontak antara Teheran dan kelompok Hizbullah di Lebanon, serta dengan Hamas di Jalur Gaza.

Beberapa laporan menyebut anggota Garda Revolusi Iran mungkin aktif di Suriah. Inilah yang menjelaskan penangkapan 48 warga Iran oleh pejuang oposisi Suriah.

Ribuan Lelucon Karangan Presiden Suriah Bashar al-Assad Dibocorkan Wikileaks

Ratusan email yang ditulis oleh Presiden Suriah Bashar al-Assad dibocorkan ke publik. Sejumlah email ternyata berisi pesan-pesan bernada lelucon kepada sang istri atau kerabat dekatnya. Namun lelucon tersebut cenderung merendahkan kaum wanita.

Bocoran surat elektronik Assad ini diungkapkan oleh WikiLeaks dan dipublikasikan oleh situs Prancis benama owni.fr pada Kamis (19/7) waktu setempat. WikiLeaks sendiri telah membocorkan sekitar 2,5 juta email yang disebut-sebut berasal dari tokoh-tokoh penting Suriah.

Dari jumlah tersebut, sekitar 538 email ditulis oleh Presiden Assad dengan menggunakan alamt email: sam@alshahba.com. Email-email tersebut dilaporkan ditulis dan dikirimkan sebelum aksi demo massal menentang Assad pecah di Suriah pada Maret 2011 lalu.

Bocoran email tersebut memang hanya sedikit memberi informasi mengenai aksi kekerasan pemerintahan Assad. Namun setidaknya mampu menunjukkan sisi lain Assad yang sedikit kekanak-kanakan dan ternyata memiliki pola pikir misoginis atau kurang menghargai kaum wanita. Demikian seperti dilansir oleh AFP, Jumat (20/7/2012).

“Istri: Aku berharap aku adalah koran, jadi aku bisa berada di tanganmu sepanjang hari. Suami: Aku juga berharap kamu adalah koran, jadi aku bisa punya yang baru setiap hari,” demikian salah satu bunyi gurauan Assad yang dikirim melalui emailnya pada 23 Desember 2010.

Lelucon Assad lainnya tentang seorang wanita yang bertanya kepada suaminya soal apa yang akan diberikan kepada istrinya jika berhasil mendaki Gunung Himalaya. “Sebuah dorongan yang cantik…!” demikian bunyi lelucon yang ditulis Assad.

Email-email tersebut dikirimkan Assad kepada orang-orang dekatnya, termasuk penerjemah wanitanya atau ayah mertuanya. Beberapa lelucon dalam email Assad tersebut telah beredar luas secara online, bersama dengan email lain yang berisi pendapat Assad soal isu-isu maupun pemimpin negara lainnya.

Diketahui bahwa WikiLeaks mendapatkan 2.434.899 email yang berasal dari sejumlah kementerian di Suriah, termasuk Kementerian Luar Negeri, Kementerian Keuangan dan Kantor Kepresidenan. Ada sekitar 400 ribu email yang ditulis dengan Bahasa Arab, namun ada sekitar 68 ribu email yang ditulis dengan Bahasa Rusia.

Publikasi WikiLeaks ini muncul di tengah-tengah konflik Suriah yang tiada henti. Kemarin (19/7), untuk ketiga kalinya Rusia dan China memveto resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai ancaman sanksi terhadap Suriah. Sikap kedua negara sekutu Suriah itu pun menuai kecaman negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat.

Krisis Perang Saudara Suriah Memasuki Tahap Baru Sejak Pejuang Berhasil Memasuki Damaskus

Kerusuhan dan kekacauan di beberapa kota besar Suriah sejak awal krisis telah mencapai jantung ibu kota Suriah, Damaskus, yang menghadapi peningkatan bentrokan antara militer dengan gerilyawan dalam dua hari belakangan.

Asap menutupi langit kota Damaskus dan suara ledakan berkumandang di beberapa permukiman.

Suriah menyatakan akan melanjutkan upaya memburu kelompok teror bersenjata di sejumlah daerah bergolak di Damaskus, terutama di al-Midan dan al-Qaboun.

Sementara Tentara Suriah Baru (FSA) menyatakan “pertempuran lebih besar” di Damaskus sudah dimulai dan mereka telah menggunakan taktik baru untuk melancarkan sejumlah serangan serentak di banyak daerah serta membakar ban yang dilaporkan untuk memecah perhatian militer Suriah.

Laporan media setempat meningkatkan spekulasi bahwa beberapa hari ke depan akan ada lonjakan kerusuhan. Namun menurut laporan kantor berita Xinhua, Menteri Penerangan Suriah Omran az-Zoubi pada Selasa (17/7) menegaskan situasi di Suriah “normal seperti biasa.”

Ia mengatakan bahwa apa yang telah disiarkan oleh beberapa stasiun televisi dan media mengenai situasi di Damaskus “tidak akurat dan tak mencerminkan kebenaran serta kenyataan.”

“Jujur saja, gambar ini hanya mencerminkan ilusi dan keinginan sebagian pihak, dan tak sesuai dengan kenyataan,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Ia juga mengatakan bahwa “kehidupan di Damaskus dan kota besar lain dan provinsi normal dan alamiah dan agen penegak hukum serta aparat keamanan yang kompeten melakukan tugas mereka secara tepat dan dengan penuh semangat.”

Di luar negeri, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran memperingatkan setiap peningkatan dalam kondisi keamanan di Suriah akan menciptakan kondisi yang serupa di seluruh wilayah tersebut.

Beralihnya kekacauan ke Damaskus telah mengirim sinyal bahwa rencana enam-pasal yang diajukan utusan khusus PBB-Liga Arab untuk Suriah Kofi Annan guna memantau gencatan senjata di negeri itu benar-benar telah macet.

Annan sudah memberitahu Moskow bahwa situasi di Suriah telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan, sementara Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan Moskow akan melakukan apa saja untuk membuat berhasil upaya Annan mencapai penyelesaian politik di Suriah.

Annan mengeluarkan pernyataan tersebut sehari sebelum Dewan Keamanan PBB melakukan pemungutan suara bagi resolusi baru di tengah perpecahan di kalangan negara besar dunia. Suara dentuman senjata terdengar di wilayah Tadamun, Damaskus, kata beberapa saksi mata, sementara media resmi melaporkan personel pemerintah memburu pelaku teror yang meledakkan bom di daerah yang sama, Ahad sore.

Bentrokan tersebut membuat sejumlah warga setempat mengungsi ke kamp Palestina, Yarmuk –yang berdekatan, saat suara tembakan di Tadamun dapat terdengar di seluruh bagian Ibu Kota Suriah itu, kata beberapa saksi mata.
Laman pro-pemerintah di Facebook menyatakan militer pemerintah sedang membersihkan permukiman tersebut dari petempur oposisi yang bersenjata.

Suara bentrokan dan baku-tembak juga terdengar di kebun buah Kafar Souseh di Damaskus, demikian laporan Xinhua –yang dipantau ANTARA News di Jakarta, Senin pagi.

Belum ada laporan mengenai korban jiwa, tapi banyak pegiat mengatakan banyak orang telah cedera dalam operasi militer pemerintah di Tadamun, Damaskus. Stasiun TV pan-Arab al-Mayadeen melaporkan satu bom rakitan meledakkan satu bus militer di permukiman Midan, Damaskus, dan perincian lebih lanjut akan disiarkan.

Akhir pekan lalu Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon meminta menteri luar negeri China menggunakan “pengaruhnya” untuk membantu menekan Presiden Suriah Bashar al-Assad agar mengakhiri konflik, kata juru bicara PBB.

China merupakan salah satu pemain kunci di Dewan Keamanan PBB menyangkut sanksi terhadap pemimpin Suriah. China selama ini menyokong Rusia dalam menentang tuntutan pihak Barat bagi aksi-aksi internasional untuk menekan Bashar.

Ban Ki-moon dan Menteri Luar Negeri China Yang Jiechi pada Sabtu (14/7) berbicara melalui telepon dan membahas masalah Suriah menjelang lawatan yang dijadwalkan dilakukannya ke China, Senin, kata juru bicara PBB Martin Nesirky.

Sekretaris Jenderal, kata Nesirky, “meminta China untuk menggunakan pengaruhnya guna memastikan adanya penerapan penuh dan segera” terhadap rencana perdamaian rancangan utusan PBB-Liga Arab, Kofi Annan, dan komunike internasional, yang disepakati China pada 30 Juni lalu –yang menyerukan bagi transisi politik di Suriah.

Jenderal Penting Suriah Munaf Tlass Membelot Bersama 18 Jenderal Lain Bergabung Bersama Pemberontak

Seorang jenderal penting dan dekat dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad serta keluarganya membelot, pukulan baru bagi pemerintah itu, kata sumber dekat dengan pemerintah kepada AFP pada Jumat.

“Jenderal Munaf Tlass membelot tiga hari lalu dan ia agaknya telah meninggalkan Suriah,” kata sumber itu, yang tidak bersedia namanya disebut. Demikian diberitakan AFP yang dipantau oleh ANTARA News di Jakarta, Jumat.

Tlass adalah perwira militer tertinggi yang meninggalkan pemerintah Suriah. Ia adalah putra mantan menteri pertahanan Mustafa Tlass, kawan dekat Hafez al-Assad almarhum, ayah Bashar al-Assad. Tlass juga seorang anggota kalangan dalam pemerintah di Suriah dan teman Bashar semasa kecil.

Keluarga pejabat Sunni itu berasal dari kota Rastan yang dikuasai pemberontak, di provinsi Homs, yang kini dikepung dan ditembaki pasukan pemerintah. Seorang jenderal di pasukan elit Pengawal Republik, yang bertugas melindungi pemerintah, Tlass disisihkan lebih setahun lalu, setelah ia tampaknya tidak dipercaya.

Menurut sumber yang punya hubungan dekat dengan Damaskus, Tlass telah melakukan beberapa misi rekonsiliasi tetapi gagal antara para pendukung pemerintah dan pemberontak di Rastan dan provinsi Daraa di selatan.Beberapa bulan kemudian ia menyerahkan seragam militernya dan menggantikan dengan pakaian sipil. Ia menetap di Damaskus, di mana ia membiarkan janggut dan rambutnya panjang.

Satu sumber lainnya di Damakus mengemukakan kepada AFP hubungan Tlass dengan pihak penguasa tidak dapat didamaikan setelah serangan pemerintah terhadap distrik Baba Amr, Homs Februari tahun ini.

Tlass kabarnya menolak memimpin suatu tugas untuk menguasai kembali bekas pangkalan pemberontak itu dan Bashar kemudian mengemukakan kepada dia agar tinggal di rumah saja.

Sumber-sumber yang dekat dengan Tlass mengatakan keluarganya kini berada di Dubai, termasuk abangnya Firas, yang adalah seorang pengusaha. Saudara sepupu Tlass, Abdel Razzak, membelot dari militer beberapa bulan lalu memimpin Batalyon Farouk dari Tentara Pembebasan Suriah di Homs.

Kelompok Observatorium Hak Asasi Manusia Suriah yang bermarkas di London mengatakan lebih dari 16.500 orang tewas sejak pemberontakan terhadap pemerintah Bashar meletus pertengahan Maret tahun lalu.

Seorang jenderal dan beberapa tentara Suriah menyeberang ke Turki, Senin, kata seorang diplomat Turki kepada AFP, menjadikan jumlah pembelotan jenderal dari rezim diperangi Bashar al-Assad setidaknya 18 orang.

Turki telah menjadi rumah bagi puluhan pembelot yang menyeberang ke perbatasan dan membentuk Tentara Pembebasan Suriah dalam penentangan terhadap rezim Assad.

Pembelotan terbaru itu menjadikan 18 jumlah jenderal yang telah melarikan diri ke Turki sejak konflik meletus di Suriah pada Maret tahun lalu.

Diplomat Turki, yang juga berbicara kepada AFP tanpa menyebut nama, Selasa mengatakan, bahwa hampir 42.700 pengungsi Suriah sekarang hidup di kamp-kamp dekat perbatasan dengan Suriah.

“Kami melihat peningkatan jumlah pengungsi Suriah yang tiba di Turki, apakah mereka warga sipil atau militer,” kata diplomat itu.

Di Washington, pejabat Departemen Luar Negeri AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan total 1.280 orang Suriah telah melarikan diri ke Turki semalam, termasuk jenderal dan lainnya.

“Jelas rezim itu panik pada saat ini,” tambah pejabat Amerika Serikat itu.

Rusia Kirim Kapal Perang Ke Suriah dan Lakukan Simulasi Perang Di Mediterania

Sekelompok kapal perang dari tiga armada Rusia akan melakukan misi pelatihan tempur di Mediterania dan Laut Hitam, kata Kementerian Pertahanan Rusia, Selasa. Kekuatan angkatan laut terdiri dari kapal anti-kapal selam Admiral Chabanenko, Alexander Otrakovsky, Georgy Pobedonosets dan kapal serang besar amfibi Kondopoga, serta kapal pendukung Nikolai Chiker dan Sergei Osipov, kata kementerian itu dalam satu pernyataan, lapor Xinhua.

Kapal perang dari Utara, Baltik dan armada Laut Hitam, telah menuju Atlantik untuk bergabung dalam kelompok kapal Armada Baltik, dan akan melaksanakan tugas-tugas mereka di perairan target. Namun, kementerian itu tidak memberikan tanggal spesifik bagi misi pelatihan tersebut. Pada Januari, tiga kapal Rusia, termasuk Laksamana Chabanenko dan dua kapal pengawal, mengunjungi pelabuhan Suriah Tartus. Moskow mengatakan, langkah tersebut belum-dijadwalkan dan tidak ada hubungannya dengan situasi di Suriah.

Sejak Desember lalu, Rusia telah mengirim beberapa kapal perang ke perairan Suriah, termasuk armada unggulan Admiral Kuznetsov, meskipun ada kekhawatiran dari negara-negara Barat yang bergerak terkait dengan situasi Suriah.

Rusia bersiap mengirim kapal perangnya ke Suriah kalau-kalau diperlukan untuk melindungi personel dan memindahkan peralatan dari instalasi Angkatan Lautnya di Pelabuhan Tartus di Laut Tengah. Suriah adalah pijakan paling kuat bagi Moskow di Timur Tengah, membeli senjata dari Rusia dengan nilai miliaran dolar AS, dan menjadi satu-satunya tempat pelabuhan permanen air hangat Rusia di luar bekas Uni Sovyet.

Laporan tersebut mengutip keterangan perwira yang tak disebutkan jatidirinya di jajaran komando Angkatan Laut Rusia. Angkatan Laut dan Kementerian Pertahanan Rusia tak bersedia memberi komentar. Presiden Vladimir Putin dan Presiden AS Barack Obama dijadwalkan bertemu Senin malam untuk pembicaraan di sisi pertemuan tingkat tinggi G20 di Meksiko, demikian laporan Reuters, Senin malam.

Rusia telah menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan guna mencegah upaya Barat untuk mengutuk Presiden Bashar dan memastikan penyingkirannya. Moskow berpendapat desakan terhadap pemerintah untuk menggunakan tekanan luar negeri tak bisa diterima. Hanya dialog antara pemerintah dan oposisi dapat menyelesaikan krisis tersebut, kata Moskow.

Rusia Kirim 6 Kapal Perang Ke Suriah

Rusia mengirim satu armada angkatan laut terdiri atas enam kapal perang dipimpin kapal perusak anti-kapal selam ke pangkalan angkatan lautnya di pelabuhan Tartus, Suriah, kata kantor berita Interfax pada Selasa.

Kapal Laksamana Chabanenko dan tiga kapal pendarat meninggalkan pelabuhan mereka di Severomorsk di Arctic Circle menuju laut Tengah, tempat mereka akan bergabung dengan kapal patroli Rusia Yaroslav Mudry serta satu kapal pendukung, kata sumber militer kepada kantor berita itu.

“Program pelayaran itu termasuk satu persinggahan di pelabuhan Tartus Suriah,” kata sumber yang tidak disebut namanya kepada kantor berita itu.

Sumber itu mengatakan kunjungan itu dilakukan sejalan dengan rencana-rencana kesiapan militer armada Rusia. Menurut Interfax, sumber itu menegaskan penggelaran tersebut “tidak ada hubungannya dengan situasi yang meningkat di Suriah.”

“Di Tartus kapal-kapal itu akan mengisi pasokan bahan bakar,air dan bahan makanan,” kata sumber itu dan menambahkan penggelaran kapal-kapal di Mediterania akan berlangsung sampai akhir September.

Rusia dikecam keras Barat karena tidak memutuskan hubungan militer dengan Suriah kendatipun konflik antara pemerintah itu dan pemberontak menewaskan ribuan orang, demikian AFP.