Category Archives: Suriah

Serangan Senjata Kimia Terjadi 14 Kali Di Suriah

Bukti-bukti yang menunjukkan adanya penggunaan senjata kimia di Suriah semakin menguat. Rezim pemerintah Suriah diyakini menggunakan senjata kimia, termasuk klorin sebanyak 14 kali sejak akhir tahun 2013.

Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius mengungkapkan hal tersebut dalam kunjungan kenegaraannya ke Washington, Amerika Serikat. Fabius juga menyampaikan penyesalannya bahwa Presiden AS Barack Obama gagal melancarkan serangan ke Suriah sebagai hukuman atas penggunaan gas sarin, tahun lalu. Jika saja AS melakukan operasi militer di Suriah, menurut Fabius, kondisi lapangan di Suriah akan jauh berbeda.

“Kami menyesalinya karena kami pikir itu akan mengubah banyak hal … tapi apa yang sudah terjadi biarlah terjadi, dan kami tidak akan mengubah sejarah,” ucap Fabius dalam konferensi pers di Washington, seperti dilansir AFP, Rabu (14/5/2014).

Lebih lanjut, Fabius membeberkan informasi yang didapat otoritas Prancis atas penggunaan senjata kimia di Suriah, baru-baru ini. “Kami memiliki saksi-saksi mata yang kredibel atas penggunaan (senjata kimia) tersebut, sedikitnya ada 14 kali penggunaan… senjata kimia sejak Oktober 2013,” terangnya.

“Kami memiliki banyak elemen yang membawa kami pada keyakinan bahwa ada beberapa kali penggunaan senjata kimia yang disembunyikan,” imbuh Fabius.

Fabius menyatakan, otoritas Prancis tengah memeriksa elemen dan bukti-bukti yang didapat tersebut. Laporan 14 kali penggunaan senjata kimia tersebut semakin memperkuat tudingan bahwa serangan kimia masih terus terjadi meskipun Presiden Bashar al-Assad sepakat untuk memusnahkan senjata kimia milik rezimnya.

“Dalam beberapa minggu terakhir, senjata kimia baru dalam jumlah yang lebih kecil telah digunakan, utamanya jenis klorin,” terang Fabius. Sejauh ini dilaporkan proses pemusnahan senjata kimia Suriah yang diawasi oleh Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) dan PBB telah mencapai 92 persen.

Milisi ISIS Di Suriah Salibkan Muslim Yang Menolak Hukum Syariah

Adegan mengerikan berikut tertanam selamanya dalam ingatan seorang saksi mata. Sejumlah pria bertopeng menyeret mayat seorang lelaki yang berlumuran darah melintasi sebuah alun-alun di Suriah. Mereka mengikat mayat itu di sebuah tiang besi sehingga terlihat sedang disalibkan. Seutas tali warna hijau mengikat kedua lengan mayat itu yang terentang di papan kayu, sementara darah merembes dari luka tembak di kepalanya.

CNN melaporkan peristiwa itu pada Jumat (2/5/2014) berdasarkan beberan saksi mata tersebut. Menurut saksi itu, yang oleh CNN disebut sebagai Abu Ibrahim (bukan nama sebenarnya), para milisi Suriah membungkus tubuh bagian atas mayat itu, yang masih mengenakan kaus yang agak gelap, dengan apa yang tampak seperti kertas besar. Di kertas itu tertera tulisan warna merah dalam bahasa Arab yang berbunyi, “Orang ini melawan kaum Muslim dan meledakkan sebuah IED (peledak) di sini.”

Abu Ibrahim melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menyaksikan. Dia melangkah lebih dekat dan mengambil sejumlah foto dengan telepon genggamnya. Sejumlah anak di sekelilingnya, yang memiliki rasa ingin tahu, ternganga saat melihat tontonan mengerikan tersebut.

CNN melaporkan, Abu Ibrahim meminta agar identitasnya dirahasiakan karena takut akan pembalasan. Foto-foto Ibrahim mendokumentasikan sesosok mayat yang seakan mengalami penyaliban, dan sebentuk pesan dari adegan di kota Raqqa di Suriah utara. Sebuah kelompok sempalan Al Qaeda, yaitu Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), mengatakan, pertunjukan brutal itu bermaksud menjadi pelajaran bagi siapa saja yang berani menantang kekuasaannya.

Selama tiga hari, mayat pria yang “disalibkan” itu dan korban lain dilaporkan tetap tergantung di Raqqa.

“Apa yang mereka (milisi) hendak sampaikan yaitu bahwa mereka yang menentang kekuasaan ISIS berarti menentang kekuasaan Allah, dan mereka yang menjadi musuh ISIS berarti musuh Allah dan pantas untuk mendapatkan bentuk hukuman tertinggi yang dimungkinkan,” kata Abbas Barzegar, asisten profesor studi Islam di Georgia State University, AS.

Kelompok jihad itu total melakukan tujuh eksekusi terbuka di Raqqa pada Selasa lalu, tetapi hanya dua mayat yang ditampilkan sesudah itu, kata Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, sebuah kelompok pemantau yang berbasis di London.

Abu Ibrahim, anggota sebuah kelompok anti-ISSI yang baru saja terbentuk di Raqqa, mengatakan, lima korban lainnya adalah anak-anak yang masih berusia di bawah 18 tahun. Salah satu dari mereka bahkan siswa kelas tujuh atau kelas satu SMP.

Menurut CNN, penyaliban yang dipertontonkan itu dimulai pada Maret lalu saat ISIS menuduh seorang gembala melakukan pembunuhan dan pencurian. Gembala itu kemudian ditembak di kepalanya dan mayatnya diikat di sebuah kayu salib.

“Kekerasan tersebut merupakan bagian dari kampanye pembalasan kaum fundamentalis, tetapi bentuk-bentuk hukuman kuno itu sudah sangat jarang walau pernah terlihat di dunia Muslim dalam beberapa abad terakhir,” kata Barzegar kepada CNN. “Hal itu telah menjadi ciri standar kelompok-kelompok Islam pinggiran untuk menghidupkan kembali praktik-praktik usang dalam upaya menghidupkan kembali apa yang mereka anggap sebagai yang paling otentik.”

Sejauh ini, tak ada bukti bahwa penyaliban benar-benar dilakukan. Penyaliban merupakan sebuah bentuk eksekusi menyakitkan, yakni para korban diikat atau dipaku di tangan dan kaki di sebuah kayu salib yang berat dan dibiarkan menderita sampai mati.

Tiga orang di Raqqa itu telah ditembak di kepala sebelum dipajang di kayu salib. Aksi mempertontonkan mayat mereka secara terbuka di tiang salib tampaknya merupakan tindakan simbolis para anggota ISIS untuk melawan anggotanya sendiri dari kalangan Sunni terkait tindakan yang dianggap sebagai pengkhianatan.

“ISIS perlu menambahkan makna pada setiap pembunuhan mereka. Kalau hanya sekadar membunuh di sebuah negara yang sedang dilanda perang tidak bermakna apa-apa, maka mereka perlu melampirkan pesan atau propaganda atas apa yang mereka lakukan,” kata Barzegar.

Pada saat perang sipil Suriah menciptakan kekosongan kekuasaan, kelompok-kelompok seperti ISIS telah melangkah masuk dengan membawa tafsiran mereka sendiri soal hukum Syariah demi menguasai penduduk sipil yang kelelahan dan diteror. CNN melaporkan, sejumlah fatwa kerap muncul dalam semalam pada selebaran yang mencolok, dengan peringatan-peringatan yang mengerikan.

“Semua pemilik toko harus menutup toko mereka segera setelah suara azan dan pergi ke masjid,” kata sebuah dekrit yang dilaporkan telah di-posting minggu ini. “Setiap pelanggaran setelah penerbitan pengumuman ini akan menghadapi konsekuensi.”

Menurut seperangkat aturan yang dikeluarkan untuk minoritas Kristen Raqqa, anggota kelompok itu harus membayar pajak khusus untuk para militan dan tidak boleh mengenakan kalung salib, memperbaiki gereja, atau berdoa di hadapan umat Islam, kata laporan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia pada Februari.

Walau penyaliban punya resonansi khusus dengan Alkitab, pertunjukkan mengerikan dan brutal di Raqqa itu tidak punya hubungan langsung dengan simbolisme Kristen, kata Barzegar. Para korban ISIS yang mayatnya digantung di salib itu semuanya Muslim. Setelah hampir setahun berada di bawah penindasan ISIS, Abu Ibrahim dan sekitar 20 aktivis lainnya membentuk kampanye pada April yang mereka sebut “Raqqa Sedang Dibantai Secara Diam-diam” guna mendorong kelompok yang main hakim sendiri pergi dari kampung halaman mereka. “Setelah kami mencapai keyakinan yang solid, tanpa bayangan keraguan, bahwa (Raqqa) menjadi panggung tontonan mengerikan yang merusak inti sesungguhnya dari revolusi Suriah, kami memutuskan sudah waktunya kami berdiri melawan kekuatan-kekuatan jahat,” demikian antara lain isi dokumen pendirian kampanye tersebut.

ISIS segera bereaksi atas kampanye itu. Kelompok itu menghukum para aktivis dengan hukuman mati karena “tidak percaya pada Islam dan advokasi mereka terhadap sekularisme.” ISIS bahkan menawarkan hadiah uang tunai dalam jumlah besar bagi informasi tentang keberadaan anggota kelompok kampanye itu, kata Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia.

“Ini merupakan kewajiban kami untuk menghadapi mereka (ISIS) dan jika kami tetap takut terhadap mereka maka mereka akan menjajah kami selamanya. Memang benar ini berbahaya dan kami telah menerima lebih dari satu kali ancaman kematian, tetapi kami mengandalkan popularitas halaman Facebook kami sebagai perlindungan,” kata Abu Ibrahim kepada CNN melalui koneksi Skype.

Di halaman Facebook mereka yang memiliki hampir 12.000 pengikut, para aktivis mem-posting perkembangan terkait dugaan kejahatan yang dilakukan ISIS terhadap rakyat Raqqa dan menerbitkan seruan untuk bertindak, seperti mengusulkan pemogokan para pemilik toko pada hari Sabtu untuk memprotes kenaikan pajak oleh ISIS.

“Hidup di sini sangat sulit. Orang-orang lelah dan mereka membenci segalanya. Jika Anda tidak menutup toko Anda selama waktu shalat Anda mendapatkan cambukan, jika Anda merokok Anda mendapatkan cambukan, jika Anda mengatakan satu hal yang salah Anda dapat dieksekusi. Semudah itu bagi ISIS,” kata Abu Ibrahim.

PBB, oposisi Suriah, dan kelompok hak asasi manusia telah menguatkan adanya adegan horor di Raqqa. Awal tahun ini, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Navi Pillay, mengatakan, laporan tentang eksekusi massal di Raqqa mungkin menjadi kejahatan perang, dan dalam laporan terpisah yang diterbitkan bulan lalu, kantor Pillay mendokumentasikan penyiksaan dan berbagai perlakuan buruk, termasuk pemukulan berulang-ulang tahanan di sejumlah sekolah dan rumah sakit yang dikendalikan ISIS.

“Begitu banyak keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih mereka dan mereka tidak tahu di mana mereka atau apa yang terjadi pada mereka. Bagian terburuk adalah orang terlalu takut untuk bertanya tentang suami atau anak-anak mereka,” kata Abu Ibrahim.

Hampir setiap setelah shalat Jumat, sejumlah tahanan muncul di publik di mana puluhan penonton berdiri saat dakwaan dibicarakan secara tergesa-gesa dan hukuman terhadap terdakwa dilakukan, mulai dari cambukan hingga eksekusi. Sejumlah foto mengerikan sering beredar di situs media sosial, kadang-kadang di-posting oleh akun yang mengaku punya kaitan dengan kelompok ekstremis.

“Laksana air terjun dari darah. Ada lebih banyak eksekusi dan sekarang anak-anak menonton sepertinya mereka sudah terbiasa dengan itu. Itu merupakan adegan yang aneh dan menarik dan mereka tidak takut untuk melihat,” kata Abu Ibrahim.

Serangan militer ISIS melawan bahkan para mantan sekutunya. Komando pusat Al Qaeda pada awal tahun ini telah menyangkal bahwa ISIS merupakan afiliasinya. Namun pemimpin kelompok itu, Abu Bakr al Baghdadi, berjanji untuk tetap tinggal di Suriah dan melawan semua pihak yang menentangnya, bahkan sesama pelaku jihad.

Para pendiri kampanye damai “Raqqa Sedang Dibantai Secara Diam-diam” mengatakan mereka akan berhasil walau orang lain telah gagal. “Kata-kata sering lebih kuat ketimbang peluru, dan kehendak rakyat merupakan yang paling kuat dari semuanya,” kata Abu Ibrahim.

Pemuda Arab Saudi Pulang Dari Jihad Di Suriah Karena Ternyata Pejuang Al-Nusra Suka Mabuk dan Main Perempuan

Seorang pemuda Arab Saudi yang baru kembali dari bertempur di Suriah mencurahkan unek-uneknya dalam sebuah acara bincang-bincang di sebuah stasiun televisi Saudi. Dalam acara itu, Misfer (17) mengaku merasa tertipu sejumlah tokoh agama yang menyarankan para pemuda untuk berjihad di Suriah melawan rezim Bashar al-Assad. Awal tahun ini, Misfer berangkat ke Suriah setelah mendengarkan dakwah online seorang ulama yang menggunakan dalil-dalil agama untuk meyakinkan para pemuda bahwa berperang ke Suriah merupakan sebuah kewajiban seorang Muslim.

Berbicara dalam acara bincang-bincang “Al-Thamina ma Dawood” yang dipandu pembawa acara ternama Saudi, Dawood al-Shirian, Misfer mengakui pernyataan para pemuka agama itu yang membuatnya nekat berangkat ke Suriah. “Saya pergi ke Suriah setelah menjelajahi internet dan menemukan beberapa orang menggunakan pernyataan Sheikh Arour terkait perang di Suriah. Pernyataan itu sangat memengaruhi saya dan membuat saya memutuskan untuk pergi ke Suriah,” ujar Misfer.

Tanpa persetujuan kedua orangtuanya, Misfer mengatakan, dia memesan tiket penerbangan dari Jeddah menuju Antakya, Turki. Dari sana, dia membayar sejumlah uang untuk melintasi perbatasan Turki-Suriah di Latakia. Di Suriah, Misfer kemudian bergabung dengan sejumlah pejuang Saudi yang sudah terlebih dahulu berada di Suriah. Di Suriah, Misfer bertugas untuk membantu para pejuang yang terluka.

Namun, setelah beberapa bulan berada di Suriah, ternyata kenyataan yang dilihatnya jauh berbeda dengan yang dibayangkannya selama ini. “Semua seruan berjihad di Suriah adalah bohong. Para pemberontak minum alkohol dan bermain perempuan. Para pejuang front Al-Nusra juga tak jauh berbeda,” kata remaja itu. Melihat kenyataan itu, Misfer memutuskan untuk pulang ke Arab Saudi, tetapi khawatir akan hukuman yang menanti di tanah kelahirannya itu.

“Banyak warga Saudi (di Suriah) ingin pulang, tetapi mereka khawatir akan disiksa aparat keamanan Saudi. Saya nyaris memercayai hal itu sehingga saya terkejut saat tim medis menyambut saya di bandara dan membawa saya ke sebuah hotel,” kenang Misfer. Pada awal Januari, Dawood al-Shirian mewawancarai ibunda Misfer. Dalam wawancara itu, sang ibu menangis dan mengatakan bahwa seseorang memaksa Misfer untuk bergabung dengan para pejuang radikal di Suriah.

Dalam acara itu, Dawood al-Shirian mengecam sejumlah tokoh agama yang menggunakan media sosial untuk merekrut para pemuda Saudi berperang di Suriah. Namun, wawancara dengan ibunda Misfer itu membuat sejumlah tokoh agama di Saudi berang dan menuding wawancara itu penuh rekayasa.

Fatoum al-Jassem Gadis Suriah Yang Dirajam Karena Membuka Facebook

Seorang gadis Suriah dirajam hingga tewas hanya karena membuka akun Facebook. Demikian kata sejumlah laporan media. Gadis itu, yang dalam sejumlah laporan disebut bernama Fatoum al-Jassem, dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan syariah di Al Reqqa setelah pengadilan yang sama menetapkan bahwa punya akun Facebook merupakan perilaku tidak bermoral.

Gadis itu diseret ke pengadilan oleh kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (Islamic State of Iraq and Syria/ISIS) setelah dia tertangkap menggunakan situs jejaring sosial itu. Demikian kata laporan-laporan itu.

Menurut sebuah media berbahasa Arab, yaitu Al-Al-Youm, pengadilan yang berada di bawah yurisdiksi ISIS itu menetapkan bahwa menjadi anggota jejaring media sosial layak dihukum dengan cara yang sama seperti yang ditimpakan terhadap pelaku perzinaan. Laporan soal perajaman itu tampaknya pertama kali muncul di Al-Al-Youm, yang kemudian dikutip oleh kantor berita Fars, sebuah kantor berita semiotonom yang terkait dengan Pemerintah Iran. Dari Fars laporan itu menyebar ke sejumlah media di dunia, termasuk ke India Today dan Examiner.com yang berbasis di AS. Laporan Examiner kemudian dikutip Daily Mail .

ISIS kini telah mendukung Presiden Bashar Al-Assad dalam perang sipil di Suriah. Adapun ISIS awalnya merupakan kelompok jihad yang dahulu pro Al Qaeda tetapi kini Al Qaeda menyatakan bahwa ISIS tidak terafiliasi dengan mereka karena kebrutalannya dalam perang termasuk membunuh wanita dan anak-anak. Sejak itu, ISIS beralih menjadi salah satu kelompok jihad utama yang secara de-facto membantu pasukan Bashar Al-Assad di Suriah untuk memadamkan pemberontakan rakyat Suriah serta mengusir Al-Qaeda.

Kelompok itu mengambil alih wilayah Al Reqqa dari tangan para pemberontak menyerbu kota itu pada Maret 2013. Al Reqqa merupakan ibu kota provinsi pertama di Suriah yang jatuh di bawah kendali pemberontak serta melakukan pembunuhan massal terhadap para pemberontak. Para pemberontak yang telah menyuarakan penentangannya terhadap ISIS kemudian menemukan diri mereka ditangkap dan dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan disiksa dan dibunuh.

Menurut laporan CNN, kaum perempuan di kota itu telah diperintahkan ISIS, melalui poster-posternya, untuk menutupi kecantikan mereka dan dilarang bertemu para dokter pria atau bahkan meninggalkan rumah tanpa saudara laki-laki.

Konvoi Bantuan Kemanusiaan Dari Bulat Sabit Merah Di Suriah Di Serang Pemberontak

Sebuah konvoi bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa berada di bawah hujan tembakan saat berada Homs, distrik yang dikuasai pemberontak dan dalam kepungan tentara Bashar al-Assad, Sabtu, 8 Februari 2014. Penembakan ini mengancam operasi kemanusiaan yang dipimpin PBB untuk membawa makanan dan obat-obatan untuk 2.500 orang dan mengevakuasi warga sipil yang terperangkap berbulan-bulan dalam pertempuran di kota Suriah itu.

Bulan Sabit Merah Arab Suriah menyatakan tembakan mortir mendarat dekat dengan konvoi kendaraan bantuan. Sebuah tembakan mengenai truknya, melukai salah satu sopir. Setidaknya sembilan kendaraan Bulan Sabit Merah dan PBB bersembunyi di kota selama beberapa jam setelah gelap ketika ledakan terjadi. Menurut Bulan Sabit Merah Arab Suriah, konvoi pengangkut bantuan itu berhasil keluar sesaat sebelum pukul 10.00 waktu setempat dan meninggalkan dua truk yang rusak.

“Meskipun tim ini dihujani bom dan tembakan, kami berhasil memberikan 250 paket makanan, 190 paket kesehatan, dan obat penyakit kronis,” demikian pernyataan Bulan Sabit Merah. Pihak berwenang Suriah menuding pemberontak sebagai pelaku penyerangan, dan oposisi justru menuding pasukan Assad yang memaksa mereka keluar. Penembakan ini mengancam pelaksanaan operasi kemanusiaan di Homs, yang merupakan hasil nyata pertama dari perundingan yang diluncurkan dua minggu lalu di Jenewa untuk mencoba mengakhiri perang saudara di negara itu.

Konflik di Suriah telah menewaskan 130 ribu orang serta memaksa jutaan warganya mengungsi dan menghancurkan seluruh kota di Suriah, khususnya Homs yang menjadi pusat aksi protes kepada pemerintah Assad tahun 2011. Dalam pembicaraan damai di Jenewa, mediator internasional Lakhdar Brahimi telah mendorong adanya kesepakatan tentang pengiriman bantuan dan melepaskan tahanan di Homs, berharap bahwa kemajuan dalam isu-isu ini bisa menciptakan momentum untuk menjawab pertanyaan yang jauh lebih kontroversial dari penyelesaian krisis di Suriah, yaitu soal transisi politik di negara itu.

Bantuan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa Valerie Amos menyatakan kekecewaan yang mendalam setelah konvoi bantuan PBB dan Bulan sabit Merah Arab Suriah ditembak saat berada di distrik yang dikuasi pemberontak di Kota Homs, Suriah, Sabtu 8 Februari 2014.

“Saya sangat kecewa bahwa jeda kemanusiaan tiga hari yang telah disepakati antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, rusak hari ini dan pekerja bantuan kemanusiaan menjadi target penyerangan,” kata Amos dalam sebuah pernyataan, Sabtu 8 Februari 2014 .

“Peristiwa hari ini berfungsi sebagai pengingat jelas tentang bahaya yang dihadapi setiap hari oleh warga sipil dan pekerja kemanusiaan di Suriah,” katanya. Serangan yang terjadi Sabtu itu mengancam operasi yang dipimpin PBB untuk membawa makanan dan obat-obatan untuk 2.500 orang di Homs, serta mengevakuasi warga sipil yang terperangkap oleh pertempuran berbulan-bulan di kota itu.

Organisasi Bulan Sabit Merah Arab Suriah (SARC) mengatakan, tembakan mortir mendarat di dekat konvoi bantuan dan sebuah tembakan juga mengenai truk dan melukai salah satu supirnya. Di tengah tembakan itu, mereka sempat menyerahkan bantuan kepada warga sebelum akhirnya keluar dari kota itu.

“Saya terus menyerukan kepada mereka yang terlibat dalam konflik brutal ini untuk menghormati jeda kemanusiaan, menjamin perlindungan warga sipil dan memfasilitasi keamanan pengiriman bantuan,” katanya. “PBB dan mitra kemanusiaannya kami tidak akan terhalangi dari melakukan yang terbaik yang kami bisa untuk mengirimkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.”

Pihak berwenang Suriah menyalahkan pemberontak sebagai pelaku serangan ini. Sebaliknya, pihak oposisi mengatakan justru pasukan Presiden Bashar al-Assad yang harus bertanggung jawab atas serangan itu.

Kesepakatan untuk mengizinkan bantuan kemanusiaan ke Homs ini adalah hasil nyata perundingan pertama yang diluncurkan dua minggu lalu di Jenewa untuk mencoba untuk mengakhiri perang saudara yang sudah berlangsung hampir tiga tahun dan telah menewaskan lebih dari 136.000 orang.

Anak Anak Suriah Mulai Direkrut Jadi Tentara dan Diperkosa

Saat anak-anak di belahan dunia lain tengah menikmati pendidikan dan masa remaja yang menyenangkan, sebagian besar anak-anak Suriah hidup di dalam tekanan. Pada usia 12-17 tahun mereka telah dilatih, dipersenjatai, dan ditempatkan di sejumlah pos pemeriksaan untuuk membantu pertempuran kelompok pemberontak.

“Hilangnya orang tua dan kerabat, mobilisasi politik, serta tekanan dari teman sebaya, keluarga, dan masyarakat, memengaruhi keterlibatan mereka dengan kelompok militan,” kata Wakil Menteri Dalam Negeri Faisal Mekdad, seperti dilansir dari BBC.

Berdasarkan hasil wawancara yang dihimpunnya dari keluarga dan anak-anak ini, mereka umumnya menyatakan bahwa keikutsertaan mereka dalam pihak oposisi merupakan bentuk tanggung jawab mereka terhadap negaranya.

Perekrutan ini telah menjadi perhatian khusus PBB. Memang, PBB tidak menerima adanya laopran mengenai perekrutan formal anak oleh pasukan pemerintah, tapi tentara dan milisi pro-pemerintah dikatakan telah mengintimidasi dan ‘memaksa’ laki-laki muda, beberapa masih berusia di bawah 18 tahun, untuk bergabung dengan mereka.

Laporan mengenai perekrutan ini telah dirilis oleh PBB. Dalam laporan tersebut, PBB juga menyatakan, baik tentara pemerintah maupun tentara pemberontak, melakukan kekerasaan terhadap anak, termasuk penyiksaan dan pelecehan seksual.

Sebuah laporan baru yang dirilis PBB mengungkapkan bagaimana konflik Suriah telah berdampak besar bagi anak-anak. Mereka disebut telah mengalami penderitaan yang “tak terkatakan dan tak bisa diterima”, termasuk penyiksaan dan pelecehan seksual.

Seperti dilansir dari laman BBC, laporan periode 1 Maret 2011-15 November 2013 menyatakan pelanggaran ini dilakukan oleh militer Suriah, intelijen, dan milisi pro-pemerintah.

Anak-anak ini ditangkap, ditahan bersama orang dewasa, dianiaya, dan disiksa pasukan pemerintah saat “kampanye” besar-besaran, khususnya pada 2011 dan 2012.

Saksi mata yang tidak disebutkan namanya mengatakan pasukan pemerintah tak segan-segan menyiksa mereka dengan kabel logam, cambuk, tongkat kayu, dan logam. Mereka disiksa dengan disundut rokok, dibiarkan kurang tidur, dan dimasukkan ke dalam sel isolasi.

Bahkan mereka sering kali disetrum di bagian kelamin atau di kaki hingga kuku mereka terlepas. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan mengalami ancaman perkosaan, atau bahkan ada yang sudah mengalami perkosaan. Batin mereka juga disiksa dengan dibiarkan melihat kerabat mereka disiksa.

Penyidik menyatakan kekerasan ini dilakukan intelijen dan personel militer terhadap anak yang diduga berafiliasi dengan oposisi. Mereka memaksa anak-anak ini untuk memberikan informasi terkait hal itu.

Namun kelompok pemberontak juga diduga kuat melakukan penyiksaan serupa. Sayang, pihak penyidik tidak bisa menyelidiki lebih lanjut karena kurangnya akses ke pihak pemberontak.

Pada November tahun lalu, sebuah lembaga penelitian yang berbasis di London mengungkapkan penelitian terbarunya. Menurut lembaga ini, lebih dari 11 ribu anak tewas dalam perang saudara di Suriah yang sudah berlangsung selama tiga tahun ini.

Jenderal Suriah Tewas Dalam Pertempuran Melawan Pemberontak di Provinsi Deir Ezzor

Seorang pejabat Angkatan Bersenjata Suriah, Mayor Jenderal Jameh Jameh, tewas dalam pertempuran dengan pemberontak di Provinsi Deir Ezzor. “Mayor Jenderal Jameh Jameh adalah syuhada yang sedang membawa tugas negara untuk mempertahankan Suriah dan rakyat, serta dalam tugas mengejar teroris di Deir Ezzor,” ujar siaran televisi pemerintah, Kamis, 17 Oktober 2013.

Mayor Jenderal Jameh Jameh adalah seorang kepala intelijen provinsi, tempat pasukan rezim bertempur melawan pejuang oposisi untuk mendongkel kekuasaan Presiden Bashar al-Assad. Media pemerintah tidak memberikan keterangan rinci mengenai kapan, di mana, dan bagaimana Jameh tewas. Akan tetapi, para pemberontak mengatakan dia tewas dalam bentrok bersenjata dengan pejuang di Kota Deir Ezzor.

Rami Abdel Rahman, Direktur Syrian Observatory for Human Rights, lembaga pemerhati hak asasi manusia Suriah yang berbasis di London, menerangkan dari hasil laporan yang diperoleh, Jameh tewas akibat ditembak oleh seorang penembak jitu di Distrik Rashdiya. Namun, informasi ini belum bisa dikonfirmasi.

Kelompok hak asasi manusia ini juga melaporkan, pertempuran pecah antara pasukan pemerintah dengan pemberontak berlangsung di beberapa tempat, termasuk di kota terbesar di Suriah timur. Jameh adalah salah satu dari pejabat tertinggi keamanan Suriah di Lebanon semasa pengerahan pasukan Damaskus di negara tersebut antara 1976 dan 2005.

Dia diperiksa secara mendalam pada Februari 2005 terkait dengan pembunuhan bekas Perdana Menteri Lebanon, Rafiq Hariri. Namun belakangan, dia tidak terbukti memiliki hubungan dengan kasus pembunuhan tersebut.

Pada 2006, Departemen Keuangan Amerika Serikat memasukkan dirinya dan sejumlah jenderal Suriah lainnya ke dalam daftar hitam atas perannya mendukung kelompok teroris. Dia diyakini berasal dari Jableh, sebuah kota di pesisir Provinsi Latakia, kawasan yang dikuasai oleh pasukan rezim Suriah.

Pemberontak Suriah Gunakan Wanita Hamil dan Bayi Sebagai Sasaran Dalam Latihan Menembak Jitu

Kebiadaban baru dilaporkan terjadi di Suriah. Menurut seorang dokter Inggris yang melakukan misi kemanusiaan di sana, janin di rahim wanita Suriah menjadi sasaran penembakan dengan hadiah sebungkus rokok.

David Nott, nama dokter itu, mengaku menyaksikan bukti pejuang menggunakan warga sipil sebagai target latihan menembak dan pada beberapa kesempatan menembak wanita hamil tepat di perutnya untuk membunuh janin yang dikandungnya.

Sebuah foto dengan sinar X yang menunjukkan janin dengan peluru bersarang di kepala disodorkannya sebagai bukti. Ia menyatakan, banyak warga sipil Suriah yang kini terperangkap antara pasukan pemerintah dan pemberontak. Dia menggambarkannya sebagai “neraka di dalam neraka” karena nasib buruk akan menimpa bila jatuh ketangan pasukan pemerintah dan nasib yang lebih buruk akan terjadi bila jatuh ketangan pemberontak.

Ada area jalan tertentu yang menjadi ajang “lomba” para penembak jitu itu. Jika wanita dan anak-anak melintas, mereka akan menjadi target empuk. Ia melihat indikasi penembakan itu dilakukan secara terencana untuk tujuan latihan. “Suatu hari akan datang banyak pasien dengan luka tembak di paha kiri, di hari yang lain, semua pasien datang dengan luka tembak di dada kirinya,” katanya.

Nott mengatakan selama 20 tahun menjadi sukarelawan di zona perang, baru kali ini ia menyaksikan wanita hamil menjadi sasaran. Dia menyatakan sudah menangani dua pasien wanita hamil dengan peluru bersarang di kepala bayi mereka.

Perang sipil Suriah telah menewaskan lebih dari 100.000 orang. Perang ini kini mengarah pada perang saudara antara kubu Suni yang mendukung tentara pemberontah dan kubu Syiah yang mendukung pemerintah.

Setelah Rusia Kini Iran Juga Berjanji Akan Dukung Suriah Tanpa Syarat

Pejabat tinggi keamanan Iran, Saeed Jalili, mengatakan kepada Presiden Bashar al-Assad bahwa Suriah merupakan bagian penting dari aliansi regional. Ia menekankan, Teheran tidak akan mengkhianati persahabatan dengan negara itu.

Selama pembicaraan di Damaskus, Jalili mengatakan Suriah adalah bagian penting dari “poros perlawanan”. Pernyataan itu muncul sehari setelah Perdana Menteri Suriah, Riad Hijab, membelot ke kubu oposisi.

TV Suriah menunjukkan Presiden Assad mendengar langsung pernyataan dari mulut Jalili. Penampakan Assad di TV adalah yang pertama sejak dua pekan lalu.

Presiden Assad ini terakhir terlihat di televisi pemerintah pada 22 Juli – empat hari setelah sebuah bom menewaskan empat kepala keamanan di Damaskus – mengarah ke spekulasi tentang kesehatan dan keberadaannya.

Presiden Assad mengatakan kepada Jalili mengenai “tekad rakyat dan pemerintah Suriah untuk membersihkan negara itu dari para teroris dan memerangi terorisme tanpa syarat”. Ia menekankan Suriah akan “terus di jalan dialog nasional” dan bahwa langkah itu “mampu menggagalkan konspirasi asing”.

Suriah adalah salah satu sekutu Iran yang paling penting dan menjadi pijakan pro-Iran di Timur Tengah. Suriah juga disebut-sebut sebagai saluran penting bagi kontak antara Teheran dan kelompok Hizbullah di Lebanon, serta dengan Hamas di Jalur Gaza.

Beberapa laporan menyebut anggota Garda Revolusi Iran mungkin aktif di Suriah. Inilah yang menjelaskan penangkapan 48 warga Iran oleh pejuang oposisi Suriah.

Ribuan Lelucon Karangan Presiden Suriah Bashar al-Assad Dibocorkan Wikileaks

Ratusan email yang ditulis oleh Presiden Suriah Bashar al-Assad dibocorkan ke publik. Sejumlah email ternyata berisi pesan-pesan bernada lelucon kepada sang istri atau kerabat dekatnya. Namun lelucon tersebut cenderung merendahkan kaum wanita.

Bocoran surat elektronik Assad ini diungkapkan oleh WikiLeaks dan dipublikasikan oleh situs Prancis benama owni.fr pada Kamis (19/7) waktu setempat. WikiLeaks sendiri telah membocorkan sekitar 2,5 juta email yang disebut-sebut berasal dari tokoh-tokoh penting Suriah.

Dari jumlah tersebut, sekitar 538 email ditulis oleh Presiden Assad dengan menggunakan alamt email: sam@alshahba.com. Email-email tersebut dilaporkan ditulis dan dikirimkan sebelum aksi demo massal menentang Assad pecah di Suriah pada Maret 2011 lalu.

Bocoran email tersebut memang hanya sedikit memberi informasi mengenai aksi kekerasan pemerintahan Assad. Namun setidaknya mampu menunjukkan sisi lain Assad yang sedikit kekanak-kanakan dan ternyata memiliki pola pikir misoginis atau kurang menghargai kaum wanita. Demikian seperti dilansir oleh AFP, Jumat (20/7/2012).

“Istri: Aku berharap aku adalah koran, jadi aku bisa berada di tanganmu sepanjang hari. Suami: Aku juga berharap kamu adalah koran, jadi aku bisa punya yang baru setiap hari,” demikian salah satu bunyi gurauan Assad yang dikirim melalui emailnya pada 23 Desember 2010.

Lelucon Assad lainnya tentang seorang wanita yang bertanya kepada suaminya soal apa yang akan diberikan kepada istrinya jika berhasil mendaki Gunung Himalaya. “Sebuah dorongan yang cantik…!” demikian bunyi lelucon yang ditulis Assad.

Email-email tersebut dikirimkan Assad kepada orang-orang dekatnya, termasuk penerjemah wanitanya atau ayah mertuanya. Beberapa lelucon dalam email Assad tersebut telah beredar luas secara online, bersama dengan email lain yang berisi pendapat Assad soal isu-isu maupun pemimpin negara lainnya.

Diketahui bahwa WikiLeaks mendapatkan 2.434.899 email yang berasal dari sejumlah kementerian di Suriah, termasuk Kementerian Luar Negeri, Kementerian Keuangan dan Kantor Kepresidenan. Ada sekitar 400 ribu email yang ditulis dengan Bahasa Arab, namun ada sekitar 68 ribu email yang ditulis dengan Bahasa Rusia.

Publikasi WikiLeaks ini muncul di tengah-tengah konflik Suriah yang tiada henti. Kemarin (19/7), untuk ketiga kalinya Rusia dan China memveto resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai ancaman sanksi terhadap Suriah. Sikap kedua negara sekutu Suriah itu pun menuai kecaman negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat.