Category Archives: Suriah

ISIS Berhasil Kuasai Pangkalan Militer Suriah

Ribuan milisi dari kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) berhasil menguasai pangkalan militer utama Suriah, Brigade 93, di Provinsi Raqa pada Kamis, 7 Agustus 2014. “ISIS menguasai Brigade 93 setelah melakukan peperangan dan serangan bunuh diri,” kata Direktur Syrian Observatory for Human Rights Rami Abdel Rahman, Jumat, 8 Agustus 2014.

Pemerintah Suriah pada Juli 2014 lalu telah menarik pasukannya yang ditugaskan di Brigade 93 setelah ISIS menguasai Divisi 17. Divisi ini merupakan pangkalan militer lainnya di Provinsi Raqa, yang dijaga oleh sedikitnya 85 pasukan Suriah. Semua pasukan Suriah tersebut tewas terbunuh dalam pertempuran yang berlangsung sengit dari dini hari hingga menjelang sore.

Observatory menjelaskan, dalam serangan terhadap Brigade 93 itu, “Sebanyak 36 tentara tewas. Beberapa di antara mereka dipenggal kepalanya, sementara korban lain tewas dalam pertempuran atau korban bom bunuh diri.”

Dalam peperangan yang sengit antara ribuan milisi ISIS dan 85 tentara reguler Suriah, sedikitnya 15 kaum jihadis tewas. Termasuk tiga pelaku bom bunuh diri yang meledakkan dirinya di pintu gerbang Brigade 93 saat memulai serangan pada Rabu, 6 Agustus 2014. “Presiden Assad berjanji akan merebut kembali Raqa. Dia tidak hanya gagal melakukannya, Assad juga telah kehilangan beberapa pangkalan militernya,” kata Rahman.

Tata Cara Penghancuran Senjata Kimia

Pemindahan senjata kimia Suriah dari kapal kontainer Denmar ke kapal Amerika Serikat telah selesai pada Rabu lalu di sebuah pelabuhan di Italia. Departemen Pertahanan Amerika Serikat menyatakan proses pembuangan senjata nuklir tersebut menandai puncak program pembersihan cadangan senjata kimia Suriah.

Pembersihan ini dianggap penting setelah rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad menggunakan senjata kimia untuk menyerang pengunjuk rasa yang menentangnya di pinggiran Kota Damaskus pada 23 Agustus 2013. Sekitar 1.400 orang tewas dalam serangan tersebut.

“Transfer bahan kimia Suriah dari kapal kontainer Denmark, Ark Futura, ke kapal motor Cape Ray telah selesai,” kata Sekretaris Bidang Pers Departemen Pertahanan Amerika Serikat Laksamana John Kirby, seperti dilansir Channel News Asia, Kamis, 3 Juli 2014. Proses netralisasi akan membutuhkan waktu beberapa minggu.

Pemindahan ratusan ton gas mustard dan bahan-bahan pembuat gas sarin dari kapal Denmark tersebut dikawal ketat oleh pejabat Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPWC), penjaga pantai Italia, dan helikopter militer. Kirby menyampaikan ucapan terima kasih kepada Sekretaris Pertahanan Amerika Serikat Chuck Hagel kepada otoritas Denmark dan Italia yang membantu pemindahan tersebut. “Sekretaris Hagel berterima kasih atas dukungan keduanya dalam proses ini dan sangat bangga dengan kinerja orang-orang yang membantu keberhasilan pemindahan ini,” ujar Kirby.

Lebih dari 1.300 metrik ton bahan kimia berbahaya, termasuk gas mustard dan komponen bahan pembuat bahan kimia lainnya, dipindahkan dari kapal Denmark ke sebuah kapal laut Amerika Serikat di Pelabuhan Gioia Tauro, Italia.

Jenderal Phillip M. Breedlove dari Angkatan Udara Amerika Serikat mengatakan kapal akan transit di perairan internasional untuk menetralisir bahan kimia dengan cara yang aman dan ramah lingkungan. Proses pemindahan ini diperkirakan akan selesai dalam waktu sekitar dua bulan.

Proses pemusnahan senjata kimia Suriah tersebut didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amerika Serikat, dan Rusia sejak September tahun lalu. Pemusnahan senjata kimia Suriah ini juga diharapkan bisa mengakhiri perang saudara berkepanjangan yang terjadi di negara Timur Tengah itu. erman menyatakan akan membantu menghancurkan persediaan bahan kimia Suriah sebagai bagian dari upaya internasional untuk membebaskan dunia ini dari gas beracun dan gas saraf. “Para ahli Jerman berada di situs dekat Hamburg untuk menyingkirkan zat kimia sisa hasil penghancuran,” kata Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen, Kamis, 9 Januari 2014.

Suriah dikabarkan memiliki 1.300 ton senjata kimia yang berada di 23 situs. Penghancuran senjata kimia itu akan dilakukan di atas kapal di laut lepas. Tahap pertama, bahan kimia beracun itu akan diangkut menggunakan kapal Kargi Denmark di Pelabuhan Latakia, Suriah, dan dikirim menuju perairan internasional. Leyen mengatakan, zat akan dibakar di fasilitas yang didanai pemerintah di Munster atas permintaan Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia. “Kami akan membantu,” katanya.

Sebelumnya, beberapa negara juga menyatakan komitmennya akan ikut mengambil peran penghancuran senjata kimia milik Suriah ini. Rusia akan mengirimkan kapal perang. Kremlin telah menyediakan 50 truk dan 15 kendaraan lapis baja untuk membantu pengangkutan senjata kimia. Amerika Serikat menyediakan beberapa ribu kontainer yang dilengkapi alat pelacak untuk memonitor rute senjata kimia setiap saat. Kapal pengangkut Cape Ray akan diturunkan.

Adapun Cina menawarkan kamera pengawas dan 10 ambulans untuk membantu misi OPCW dan mengirim sebuah kapal perang. Tim tanggap darurat senjata kimia Finlandia siap maju apabila kapal kehilangan muatan atau terjadi bencana alam. Inggris setuju menghancurkan 150 ton bahan kimia kelas industri di sebuah fasilitas komersial Suriah. Puluhan negara turut menyumbang dana untuk menutup biaya program pelucutan. Uni Eropa memberi 12 juta euro. Sementara Jerman menambah 3 juta euro.

Arab Saudi Tempatkan 30 Ribu Tentara di Perbatasan Irak Untuk Hadang ISIS

Arab Saudi mengerahkan 30 ribu tentara di perbatasan negeri itu dengan Irak. Televisi Al-Arabiya pada hari Kamis menyatakan penempatan tentara itu dianggap penting setelah wilayah itu dibiarkan Baghdad tanpa penjagaan.

Raja Abdullah memerintahkan untuk mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi kerajaan terhadap potensi “ancaman teroris”. Seruan raja, menurut kantor berita negara SPA, dijawab militer dengan menempatkan tentaranya hari itu juga.

Dalam situsnya, Al-Arabiya mengatakan Arab Saudi memutuskan mengirim tentara ke daerah perbatasan setelah pasukan pemerintah Irak menarik diri, lalu meninggalkan wilayah yang berbatasan dengan Arab Saudi dan Suriah itu tanpa perlindungan. Namun situs yang berbasis di Dubai ini sama sekali tak menyinggung ancaman gerilyawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) untuk menghancurkan Kabah.

Dari Bagdad, juru bicara militer Kantor Perdana Menteri Irak membantah mereka menarik pasukan dari wilayah itu. “Ini adalah berita palsu yang bertujuan untuk mempengaruhi moral bangsa kita dan semangat heroisme pejuang kita,” kata Letnan Jenderal Qassim Atta kepada wartawan di Bagdad. Ia mengatakan daerah perbatasan, yang sebagian besar merupakan wilayah gurun tanpa penghuni, adalah “sepenuhnya dalam genggaman pasukan perbatasan Irak.”

Al Arabiya mengatakan mereka memiliki rekaman video yang menunjukkan 2.500 tentara Irak kembali ke gurun di wilayah timur dari Kota Karbala setelah ditarik kembali dari perbatasan. Seorang petugas dalam video itu mengatakan bahwa tentara telah diperintahkan untuk meninggalkan pos penjagaan karena alasan keamanan jiwa. Namun sejauh ini, keaslian rekaman tidak bisa segera diverifikasi.

Profil Negara Islam ISIS

Negara Islam di Irak dan Levant (ISIL) atau yang juga dikenal sebagai Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) tumbuh dari kelompok jihad Al-Qaidah pada April 2013. Meski, dalam perkembangannya, Al-Qaidah membantah kelompok ini sebagai bagian darinya. Bahkan, seperti dikutip BBC, ISIL bersinggungan dengan pemberontak lainnya di Suriah, seperti Front al-Nusra pimpinan Ayman al-Zawahiri. Kelompok ini menyatakan diri sebagai satu-satunya afiliasi Al-Qaidah di Suriah.

Metode ISIL dianggap bertentangan dengan Al-Qaidah lantaran telah berbelok dari misi perjuangan nasional dengan menciptakan perang sektarian di Irak dan Suriah. Ketegangan keduanya semakin memanas setelah niat Baghdadi untuk menyatukan Al-Nusra dengan ISIL ditolak. Zawahiri kemudian mendesak ISIL untuk fokus pada Irak dan meninggalkan Suriah. Namun Baghdadi dan pasukannya secara terbuka menentang mereka.

Permusuhan terhadap ISIL terus tumbuh di Suriah. ISIL secara teratur menyerang sesama pemberontak di Suriah dan menyalahgunakan warga muslim pendukung oposisi Suriah sebagai bagian dari mereka. Menurut laporan Middle East Monitor, sekitar 6.000 warga sipil tewas akibat pertikaian antarkelompok ini yang dimulai Januari lalu.

Pada Sabtu, 28 Juni 2014, bersama pejuang oposisi Brigade Islam, kelompok Al-Nusra melancarkan serangan perlawanan terhadap ISIL guna merebut kembali kontrol atas Abu Kamal, wilayah timur Suriah yang berbatasan dengan Irak. Sejak Rabu, 25 Juni 2014, wilayah yang kaya akan ladang minyak ini dikuasai Al-Nusra yang membelot dan memilih bergabung dengan ISIL.

Mengutip laporan BBC, organisasi ini kini dipimpin oleh Abu Bakar al-Baghdadi. Pria kelahiran Samarra, sebelah utara Bagdad, pada 1971 ini pernah bergabung dengan pemberontakan yang meletus di Irak setelah invasi 2003 pimpinan AS. Dan pada 2010, ia muncul sebagai pimpinan Al-Qaeda di Irak yang kemudian menjelma menjadi ISIL.

Bagdadi dianggap sebagai komandan medan perang yang memiliki analisis dan taktik yang hebat sehingga membuat ISIL lebih menarik dibandingkan Al-Qaeda pimpinan teolog Islam Ayman al-Zawahiri, bagi para jihadis muda. Tidak seperti kelompok pemberontak lain di Suriah, ISIL terlihat berjuang untuk menciptakan sebuah negara Islam di sepanjang Irak dan Suriah. Telah terlihat sejumlah keberhasilan militer yang cukup besar.

Pada bulan Maret 2013, Kota Raqqa menjadi ibu kota provinsi pertama yang jatuh di bawah kendali mereka. Selanjutnya, pada Januari 2014, ISIL berhasil menguasai Kota Fallujah, di Provinsi Anbar, yang didominasi oleh kaum Sunni. Tak sampai di situ, mereka juga berhasil menguasai sebagian besar Ramadi dan muncul di sejumlah kota yang berdekatan dengan perbatasan Turki dan Suriah.

Keberhasilan besar diraih saat mereka menaklukkan Kota Mosul pada Juni lalu yang mengirimkan gelombang kejut ke seluruh dunia. AS bahkan menyebut jatuhnya Mosul sebagai ancaman bagi seluruh wilayah Irak, sebab dengan menguasai Mosul, ISIL memiliki kekayaan yang cukup besar. Negara Islam di Irak dan Levant (ISIL) telah tumbuh menjadi salah satu militan terkuat di wilayah tersebut. Untuk mendukung kegiatan pemberontakan, mereka–yang juga dikenal dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS)–dikabarkan memiliki kekayaan yang fantastis.

Menurut Profesor Peter Neumann dari King College London yang dikutip BBC, kekayaan ISIL kini mencapai US$ 2 miliar setelah menguasai kota Mosul. Sebelumnya, ISIL hanya memiliki aset US$ 900. Di kota ini, ISIL dilaporkan mengambil ratusan juta dolar dari Bank Sentral Irak cabang Mosul. Kekayaan ISIL yang tak sedikit ini diperoleh dari sejumlah pemerasan terhadap orang-orang kaya di negara Teluk Arab, terutama Kuwait dan Arab Saudi.

Tak hanya mengandalkan pemerasan terhadap pengusaha, ISIL juga memperoleh pendapatan dari ladang minyak yang dikendalikan di timur Suriah dan utara Irak. Belum lagi kekayaan dari penjualan barang antik yang dijarah dari situs sejarah. Tidak seperti kelompok pemberontak lain di Suriah, ISIL terlihat berjuang untuk menciptakan sebuah negara Islam di sepanjang Irak dan Suriah dengan mengklaim sejumlah keberhasilan militer yang cukup besar.

Keberhasilan besar diraih saat mereka menaklukkan Kota Mosul pada Juni lalu yang mengirimkan gelombang kejut ke seluruh dunia. Amerika Serikat bahkan menyebut jatuhnya Mosul sebagai ancaman bagi seluruh wilayah Irak. Sebab, dengan menguasai Mosul, ISIL meraup kekayaan yang fantastis. Peter Neumann percaya, dengan menguasai Mosul, ISIL akan bertambah kaya.

Sebelumnya, Maret 2013, Raqqa menjadi ibu kota provinsi pertama yang jatuh di bawah kendali mereka. Selanjutnya, Januari 2014, ISIL berhasil menguasai Kota Fallujah di Provinsi Anbar yang didominasi kaum Sunni. Tak sampai di situ, mereka juga berhasil menguasai sebagian besar Ramadi dan muncul di sejumlah kota yang berdekatan dengan perbatasan Turki dan Suriah.

Kepiawaian Abu Bakar al-Baghdadi untuk merekrut wanita-wanita eropa muda agar mau berjihad seks bagi pejuang Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) membuat ISIS lebih menarik dibanding Al-Qaidah, bagi para pejihad muda. Seperti dilaporkan BBC, kemampuan ini, menurut Profesor Peter Neumann dari King College London, memperkirakan sekitar 80 persen dari pejuang Barat di Suriah telah bergabung dengan ISIS. Kelompok ini sendiri mengklaim memiliki pejuang dari Inggris, Prancis, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya, serta dari Amerika, Jazirah Arab, dan Kaukasus.

Akhir Januari lalu, seperti dilaporkan Associated Press, dua wanita asal Inggris terpaksa harus menghadapi persidangan atas tuduhan pelacuran untuk kaum jihad Inggris di Suriah karena mengkoordinir para wanita inggris untuk berjihad seks ke Suriah. Kemudian, pada pertengahan Maret, delapan wanita Prancis terpaksa berurusan dengan hukum karena mencoba bergabung dengan kelompok jihad Suriah. Seperti dikutip Xinhua, menurut data resmi pemerintah Prancis, sekitar 700 warganya, beberapa di antaranya masih belia, telah melakukan perjalanan untuk berperang di Suriah.

Kasus teranyar terjadi akhir Juni ini. Seorang remaja putri yang masih berusia 15 tahun asal Belanda nekat ikut berjihad di Suriah. Dia pergi dari rumah tanpa pamit kepada dua orang tuanya dan hanya meninggalkan catatan yang berbunyi, “Aku akan pergi ke Suriah.” Beruntung, polisi berhasil mencegatnya di Bandara Dusseldorf, Jerman.

Menurut laporan media setempat, baru-baru ini ada 130 pejihad dari Belanda yang melakukan perjalanan ke Suriah dan Irak. Tak hanya dari Eropa, para pejihad ini juga berasal dari Asia. Menurut laporan Malaysia Insider Mei lalu, seorang musikus kenamaan Malaysia dilaporkan berada dalam pelatihan militer untuk menjadi bagian dari kelompok jihad di luar Malaysia.

Abu Bakr al-Baghdadi Pengganti Osama Bin Laden Yang Lebih Brutal dan Kejam

Abu Bakr al-Baghdadi adalah nama perang dari komandan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), kelompok militan yang secara dramatis menguasai dua kota terbesar di Irak hanya dalam waktu dua hari. Menggunakan sebuah taktik yang tak lazim, Al-Baghdadi memimpin para pejuangnya menuju ke ibu kota Irak, Baghdad. Baghdadi memiliki ambisi besar, yaitu mendirikan sebuah kekhalifahan Islam yang terbentang dari Suriah hingga ke Irak dan jika memungkinkan lebih luas lagi.

Dengan kesuksesannya itu, Al-Baghdadi kerap disebut-sebut sebagai penerus Osama bin Laden sebagai tokoh militan paling ditakuti di dunia. Bedanya, Al-Baghdadi membawa personifikasi yang berbeda ke dalam misi-misinya.

Tak berwajah
Berbeda dengan Osama bin Laden, Al-Baghdadi bukan tipe dalang teror yang duduk di sebuah goa dan mengancam dunia lewat pesan-pesan video. Hal seperti itu masih dilakukan Ayman al-Zawahiri, pemimpin Al Qaeda saat ini. Hingga saat ini , wajah dan penampilan Al-Baghdadi masih menjadi misteri. Hanya ada dua foto dirinya di seluruh dunia. Salah satu foto dirilis AS, yang menghargai kepala Baghdadi sebesar 10 juta dollar AS. Satu foto lagi disebarkan oleh Pemerintah Irak.

Selain “tak berwajah”, Al-Baghdadi memiliki banyak nama, termasuk Abu Du’a dan Dr Ibrahim. Meski namanya belum banyak didengar dunia, ada banyak alasan mengapa Al-Baghdadi mendapatkan begitu banyak dukungan dari kelompok-kelompok militan. “Selama 10 tahun terakhir atua lebih, Zawahiri bersembunyi di wilayah perbatasan Afganistan-Pakistan dan tidak melakukan banyak hal selain sejumlah pernyataan dan video,” kata Richard Barrett, mantan direktur kontraterorisme MI6, badan intelijen luar negeri Inggris.

“Sementara itu, Baghdadi melakukan banyak hal luar biasa. Dia merebut sejumlah kota. Dia memobilisasi banyak orang, dan dia banyak membunuh orang di Irak dan Suriah,” tambah Barrett. “Jika Anda orang yang mencari aksi, Anda akan mencari Al-Baghdadi,” demikian Barrett.

Terlalu brutal
Al-Baghdadi memang sudah meraih sejumlah hal. Lihat saja wilayah luas yang dikuasai ISIS di Suriah dan Irak. Taktik brutal dan kejamnya ditakuti kawan dan lawan. Itulah yang membuat Al Qaeda memutuskan untuk “menyingkirkan” ISIS dari tubuhnya pada Februari lalu. Taktik yang digunakan ISIS bahkan bagi Al-Qaeda sekalipun dianggap terlalu brutal dan tidak islami.

Hidup di bawah rezim ISIS bisa menjadi sangat menakutkan. Di sejumlah wilayah Suriah yang mereka kuasai, pemancungan adalah hal biasa. Demikian pula soal pelecehan dan pemerkosaan terhadap perempuan yang menentang mereka dan yang berada diluar rumah.

“ISIS bahkan menembaki dan merajam warga sipil Suriah serta memperkosa para wanita yang memprotes perilaku mereka,” demikian harian The Economist menulis awal tahun ini. Karena itu, tak heran jika 500.000 warga muslim kota Mosul, Irak, memilih kabur ketika ISIS mengambil alih kekuasaan di kota itu. Warga Mosul mungkin bukan yang terakhir berlari di bawah kejaran pasukan pria “tak berwajah” ini.

Tren Minta Penggalan Kepala Tentara Pro Assad Untuk Mas Kawin Meningkat Di Suriah

Apa yang biasa diminta seorang perempuan untuk maskawinnya? Mungkin uang tunai, perhiasan emas, atau mungkin hewan ternak. Namun, seorang perempuan Suriah yang hendak menikah meminta maskawin yang tak lazim. Dia meminta kekasihnya untuk memenggal dan membawa 15 kepala pasukan pro-Assad.

Selain itu, perempuan tersebut juga memberi syarat 50 kepala pasukan pro-Assad lagi jika nantinya pernikahan mereka kandas di tengah jalan. Kehilangan suami dan empat putranya dalam unjuk rasa anti-Assad mungkin membuat Aicha Faaourya (50) menuntut maskawin “mengerikan” itu kepada Ahmad Ramilat (75), calon suaminya.

Perempuan yang biasa dipanggil Umm Shouhada atau yang berarti ibu para syuhada itu telah bersumpah untuk mendedikasikan sisa hidupnya untuk memerangi pemerintahan Bashar al-Assad. Sementara itu, Ahmad Ramilat, anggota dewan kesukuan Suriah yang kerap disebut “Sang Bijaksana”, juga kehilangan dua putranya saat memerangi pasukan Pemerintah Suriah.

Ramilat menerima permintaan maskawin yang diajukan Aicha itu dan bersumpah akan memenggal kepala 15 anggota pasukan pro-Assad demi cintanya kepada sang tunangan. Ramilat juga berjanji akan menyediakan 50 kepala pasukan pro-Assad jika nantinya mereka harus bercerai.

Kondisi ini merupakan hasil dari perang saudara brutal yang sudah berlangsung lebih dari tiga tahun di Suriah. Akibat perang itu, lebih dari 160.000 orang tewas dan lebih dari dua juta orang terpaksa menjadi pengungsi.

Tindakan Sahabat Suriah Destruktif Untuk Perdamaian

Rusia menentang keputusan sejumlah negara yang tergabung dalam kelompok “Sahabat Suriah (Friends of Syiria)”, yang meningkatkan bantuan terhadap kelompok oposisi moderat di Suriah, menyebutnya sebagai tindakan “destruktif”. “Tidak seperti rekan kami di Barat, kami bekerja sama dengan semua pihak di Suriah, tidak hanya dengan satu kelompok saja,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov sebagaimana dikutip dari kantor berita Interfax, Kamis.

“Bagi kami, pendekatan hanya dengan salah satu pihak itu adalah tindakan yang destruktif,” kata Bogdanov. Demikian diberitakan AFP. Rusia, yang mempunyai hak veto di Dewan Keamanan PBB, selama tiga tahun terakhir ini memang memberi pemerintah Suriah dukungan krusial. Moskow berulang kali menghentikan upaya negara Barat dan Timur Tengah untuk menggulingkan Bashar.

Sebelumnya, kelompok negara “Sahabat Suriah” bertemu di London dan sepakat untuk meningkatkan bantuan terhadap kelompok oposisi moderat yang menentang kekuasaan Presiden Bashar al-Assad.Kelompok negara yang tergabung dalam “Sahabat Suriah (Friends of Syiria)” mengecam rencana Bashar al- Assad untuk menggelar Pemilu Presiden pada 3 Juni mendatang di tengah perang saudara.

Pernyataan bersama dari 11 negara yang terlibat di London itu menyebut pemilu itu sebagai pergelaran “yang tidak sah” dan merupakan “parodi demokrasi”. Mereka juga mendesak masyarakat internasional untuk menolak apapun hasilnya. Demikian diberitakan Reuters.

Kesebelas negara yang tergabung dalam “Sahabat Suriah” adalah Inggris, Mesir, Prancis, Jerman, Italia, Yordania, Qatar, Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat. “Rencana pemilu tersebut adalah lelucon yang menghina dan palsu,” kata Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry setelah pertemuan tersebut.

Selain menentang rencana gelaran Pemilu Presiden di Suriah, kelompok Sahabat Suriah ini juga akan meningkatkan bantuan kepada pihak oposisi moderat di Suriah. Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mengatakan, bahwa “Sahabat Suriah” berniat “untuk meningkatkan upaya pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa mempertimbangkan keberatan dari pihak rezim (Bashar).”

Pemerintah Suriah sendiri dinilai sering menghambat pengiriman bantuan makanan dan sejumlah peralatan lainnya dari badan internasional kepada masyarakat sipil yang semakin putus asa. Amerika Serikat, yang menyediakan bantuan kemanusiaan senilai 1,7 milyar dolar AS, menyatakan frustasi atas hal tersebut.

“Bantuan tidak sampai ke tangan orang yang membutuhkan. Bantuan itu harus melalu satu pintu, yaitu Damaskus, dan dikontrol oleh rezim Bashar. Ini tentu saja tidak dapat diterima,” kata Kerry. Suara yang sama juga sempat dinyatakan pada pekan lalu oleh direktur pelaksana bantuan PBB di Suriah, John Ging. Dia menuduh pemerintah Bashar telah memblokade bantuan medis yang ditujukan kepada penduduk wilayah kelompok oposisi.

Sementara di tempat terpisah Rusia menyatakan bahwa tindakan kelompok negara “Sahabat Suriah” yang hanya membantu satu pihak saja–yaitu kelompok oposisi moderat di Suriah– menyebutnya sebagai “tindakan destruktif”.