Category Archives: Suriah

Rusia Kirim 6 Kapal Perang Ke Suriah

Rusia mengirim satu armada angkatan laut terdiri atas enam kapal perang dipimpin kapal perusak anti-kapal selam ke pangkalan angkatan lautnya di pelabuhan Tartus, Suriah, kata kantor berita Interfax pada Selasa.

Kapal Laksamana Chabanenko dan tiga kapal pendarat meninggalkan pelabuhan mereka di Severomorsk di Arctic Circle menuju laut Tengah, tempat mereka akan bergabung dengan kapal patroli Rusia Yaroslav Mudry serta satu kapal pendukung, kata sumber militer kepada kantor berita itu.

“Program pelayaran itu termasuk satu persinggahan di pelabuhan Tartus Suriah,” kata sumber yang tidak disebut namanya kepada kantor berita itu.

Sumber itu mengatakan kunjungan itu dilakukan sejalan dengan rencana-rencana kesiapan militer armada Rusia. Menurut Interfax, sumber itu menegaskan penggelaran tersebut “tidak ada hubungannya dengan situasi yang meningkat di Suriah.”

“Di Tartus kapal-kapal itu akan mengisi pasokan bahan bakar,air dan bahan makanan,” kata sumber itu dan menambahkan penggelaran kapal-kapal di Mediterania akan berlangsung sampai akhir September.

Rusia dikecam keras Barat karena tidak memutuskan hubungan militer dengan Suriah kendatipun konflik antara pemerintah itu dan pemberontak menewaskan ribuan orang, demikian AFP.

Pasukan Suriah Tembak Jatuh Pesawat Tempur Turki Diperairan Internasional

Media Turki dan Lebanon mengatakan Suriah telah menembak jatuh sebuah jet tempur Turki, sementara utusan PBB untuk Suriah mengatakan sudah waktunya bagi negara-negara untuk “meningkatkan tekanan” terhadap pemerintah dan oposisi di Suriah untuk mengakhiri kekerasan di negara itu. Berbagai laporan media mengutip para pejabat Turki mengatakan misi SAR telah diluncurkan untuk menemukan pilotnya. Sebuah stasiun TV setempat mengutip sumber-sumber militer yang tak disebutkan namanya mengatakan, bahwa pesawat itu jatuh di wilayah perairan Suriah.

Di Lebanon, televisi al-Manar milik Hizbullah melaporkan bahwa pasukan Suriah menembak jatuh pesawat itu. Televisi itu mengutip sumber-sumber keamanan Suriah. Militer Suriah menyatakan telah menembak jatuh sebuah pesawat Turki ”yang terbang dalam wilayah perairan Suriah,” seperti yang dilaporkan kantor berita Sana. Pesawat jet tersebut ditangani sesuai dengan hukum yang berlaku,” demikian isi pernyataan seorang juru bicara militer Suriah.

Turki sebelumnya meyakini bahwa salah satu jet tempur F-4 miliknya telah ditembak pasukan Suriah.Pencarian dua awak pesawat kini tengah dilakukan, melibatkan kapal penjaga pantai Suriah dan Turki.Jet jenis F-4 Phantom hilang di Mediterania, barat daya provinsi Hatay Turki, dekat pantai Suriah.Militer Turki mengatakan kehilangan kontak dengan F-4 saat melintas di atas Hatay, sekitar 90 menit setelah lepas landas dari pangkalan udara Erhac di provinsi Malatya.
Seorang juru bicara Suriah kepada Sana mengatakan bahwa sebuah ”target tak teridentifikasi” telah melanggar wilayah udara Suriah dari kawasan barat sekitar pukul 11:40 waktu setempat, Jumat (22/06).

“Pesawat jet tersebut ditangani sesuai dengan hukum yang berlaku.” Juru bicara Militer Suriah Target terbang rendah dengan kecepatan tinggi, kata juru bicara. Pertahanan anti serangan udara menembak pesawat tersebut, menjatuhkannya di laut dekat provinsi Latakia, tambahnya. “Kemudian menjadi jelas bahwa target tersebut adalah pesawat militer Turki yang telah memasuki wilayah udara kami,” demikian isi penjelasan juru bicara militer tersebut.

Sebelumnya pada Jumat malam, Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan menggelar dua jam rapat kabinet darurat dengan menteri dalam negeri, pertahanan dan luar negeri, serta Kepala Militer, Jenderal Necdet Ozel.Hasil pertemuan itu adalah Turki akan merespon dengan tegas saat kejelasan insiden tersebut telah didapat.Mengingat hubungan yang terputus diantara kedua negara terkait konflik Suriah, insiden ini memiliki potensial untuk memicu krisis serius, demikian laporan wartawan BBC Jonathan Head di Istanbul.Hal itu tergantung pada keselamatan pilot jet Turki.

Jika tidak, kemarahan publik mungkin akan mendorong pemerintah untuk melakukan tindakan hukuman terhadap Suriah.
Hubungan antara Turki – yang merupakan anggota Nato – dengan Suriah semakin memburuk sejak aksi demo menentang Presiden Suriah Bashar al-Assad dimulai Maret 2011, padahal keduanya pernah menjadi sekutu dekat.Puluhan ribu pengungsi Suriah meninggalkan kawasan kekerasan menuju perbatasan guna menyeberang ke Turki.Sementara itu di Suriah sendiri hingga saat ini kekerasan masih berlangsung.Yang terbaru adalah insiden di provinsi Aleppo. Sejumlah media melaporkan ”kelompok teroris bersenjata” menculik dan membantai 25 desa di Aleppo.

Di kota Aleppo, pemerhati ham mengatakan sejumlah orang tewas saat pasukan keamanan menembaki pendemo usai shalat Jumat.Utusan khusus PBB urusan Suriah Kofi Annan telah meminta Iran untuk terlibat dalam upaya penghentian kekerasan, hal itu merupakan proposal yang diberikan oleh Rusia tetapi ditolak AS.Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan diperkirakan segera memberikan pernyataan. Menurut berbagai laporan insiden pesawat itu telah memicu diadakannya pertemuan darurat para petinggi militer, intelijen dan pemerintah Turki.

Sementara itu Kofi Annan memberitahu para wartawan di Jenewa, Jumat, bahwa negara-negara berpengaruh perlu membujuk kedua pihak di Suriah “untuk menghentikan pembunuhan dan memulai perundingan”. Ia menambahkan bahwa Iran seharusnya menjadi “bagian dari solusi” untuk mewujudkan perdamaian di Suriah. Rusia telah menghendaki dilibatkannya Iran dalam menyelesaikan konflik itu, sementara Amerika mengatakan Iran seharusnya jangan dilibatkan.

Komentar Annan dikemukakan setelah para aktivis Suriah mengatakan, 26 orang yang dilaporkan adalah anggota milisi pro-pemerintah ‘shabiha’ tewas dalam penyergapan di provinsi Aleppo di Suriah utara.Pemerintah Turki, mengatakan satu buah pesawat tempur milik mereka yang tengah terbang di wilayah udara internasional, ditembak jatuh oleh pasukan Suriah, di hari JUmat (22/6/2012), kemarin.

Menteri Luar Negeri Turki, Ahmet Davutoglu mengatakan, pihaknya belum mengetahui alasan pesawat negaranya ditembak jatuh oleh pasukan Suriah. Ia menegaskan pesawat itu tidak dilengkapi senjata, dan juga tidak sedang melakukan misi rahasia terkait dengan kondisi di Suriah. Namun, diakuinya pesawat berjenis F-14 itu itu sempat keliru memasuki wilayah udara Suriah sebelum insiden penembakan itu terjadi.

“Menurut dugaan kami, pesawat kami ditembak jatuh saat berada di wilayah udara internasional, sekitar 24 km dari wilayah Suriah,” katanya, seperti dikutip dari BBC, MInggu (24/6/2012). Davutoglu mengatakan pesawat itu tengah melakukan latihan penerbangan untuk menguji kemampuan radar milik Turki.Suriah sendiri mengatakan tindakan mereka terhadap pesawat Turki telah sesuai dengan aturan yang berlaku, karena pesawat itu telah melanggar teritori wilayah mereka. Saat ini pasukan angkatan laut Turki dan Suriah tengah bekerja sama mencari dua awak pesawat yang jatuh tersebut.

Suriah menembak jatuh satu jet tempur Turki ketika pesawat sedang terbang di wilayah udara internasional, 15 menit menjelang burung besi itu tersesat di wilayah Suriah. “Menurut kesimpulan kami, pesawat kami ditembak jatuh di wilayah udara internasional, 13 mil laut dari Suriah,” kata Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu kepada stasiun televisi TRT, Ahad (24/6). Davutoglu mengatakan, tak ada peringatan dari Suriah sebelum pesawat itu ditembak jatuh. Padalah pesawat tak bersenjata dan terbang untuk satu misi latihan. Uji coba sistem radar.

“Suriah mengetahui dengan baik bahwa itu adalah satu pesawat militer Turki dan sifat dari misinya,” terang Davutoglu. Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan tak kalah berang. Dia mengatakan Turki akan menempuh segala cara andai benar pesawat milih mereka ditembak tanpa sebab. Hubungan Turki-Suriah kini memang tak harmonis lagi. Musababnya, Turki menentang keras tindakan kasar Presiden Surah bashar al-Assad terhadap para pemerotes dan kelompok pemberontak.

Turki kini menampung lebih dari 30.000 warga Suriah yang melarikan diri. Mereka ditempatkan di sejumlah kamp dekat perbatasan. Awal bulan ini,Turki juga menjadi tuan rumah satu pertemuan penting para aktivis oposisi Suriah.

Pengawas PBB Akhirnya Sampai Ketempat Pembantaian Warga Muslim Suriah dan Mencium Bau Daging Terbakar

Setelah sempat ditembaki pasukan Suriah, para pengamat PBB akhirnya bisa mencapai lokasi pembantaian warga sipil di Desa Al-Kubeir, Hama. Di sana, mereka bisa melihat bercak-bercak darah di tembok dan bahkan mencium bau daging terbakar.

“Di dalam beberapa rumah, darah masih terlihat di tembok-tembok dan lantai. Api masih berkobar di luar rumah-rumah dan ada bau daging terbakar yang menyengat,” kata juru bicara PBB Martin Nesirky seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (9/6/2012).

Namun Nesirky tak bisa memastikan berapa banyak yang tewas di desa tersebut. Pemerintah Suriah sebelumnya telah membantah mendalangi pembantaian tersebut. Namun menurut para pengamat PBB yang meninjau lokasi, mereka melihat kendaraan-kendaraan lapis baja militer Suriah di sekeliling desa dan rumah-rumah yang rusak akibat roket-roket, granat dan berbagai senjata.

Dikatakan Nesirky, lebih dari 20 pengamat PBB akhirnya dibolehkan masuk ke wilayah Al-Kubeir pada Jumat, 8 Juni waktu setempat. Sehari sebelumnya, konvoi kendaraan para pengamat PBB ditembaki militer Suriah guna mencegah mereka masuk ke desa tersebut.

Menurut Nesirky, desa tersebut kosong ketika para pengamat PBB masuk ke sana. Akibatnya, mereka tak bisa berbicara dengan warga yang menjadi saksi mata serangan tersebut.

“Hal-hal seputar serangan ini masih belum jelas. Nama-nama, detail dan jumlah mereka yang tewas belum bisa dikonfirmasi. Para pengamat masih bekerja untuk mencari fakta-fakta,” pungkas Nesirky. Kelompok oposisi utama Suriah menyerukan untuk meningkatkan serangan militer terhadap pasukan rezim Suriah. Seruan ini disampaikan menyusul pembantaian warga sipil yang terjadi di wilayah Hama, Suriah.

“Dewan Nasional Suriah (SNC) menyerukan pemberontak Pasukan Suriah Bebas untuk meningkatkan serangan militer terhadap pasukan rezim guna menghentikan pengepungan penduduk sipil dan melindungi warga sipil di seluruh negeri,” kata Mohammed Sermini, juru bicara koalisi SNC kepada kantor berita AFP, Kamis (7/6/2012).

Dalam pernyataannya, SNC juga menyerukan aksi demonstrasi pada Kamis dan Jumat besok untuk memprotes pembunuhan massal di Al-Kubeir, Hama. Menurut SNC, sebanyak 100 orang tewas dalam peristiwa itu termasuk 22 anak-anak dan 20 wanita. Pihak SNC menuding pasukan pendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad bertanggung jawab atas pembantaian tersebut.

Namun pemerintah Suriah membantah tudingan itu. Ditegaskan bahwa kelompok teroris mendalangi serangan di Al-Kubeir pada Rabu, 6 Juni itu.

Sebelumnya pada 23 dan 24 Mei lalu, pembantaian warga sipil juga terjadi di Kota Houla dan menewaskan sekitar 108 orang, termasuk puluhan wanita dan anak-anak. Dewan Keamanan PBB telah mengecam pemerintah Suriah atas pembantaian tersebut. Namun rezim Assad membantah keterlibatan dalam peristiwa tersebut seraya menyebutnya sebagai ulah para teroris.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat Hillary Clinton mengecam pembantaian warga sipil yang terjadi di Hama, Suriah yang disebutnya sebagai kekerasan yang disponsori rezim. Mantan ibu negara AS itu pun mencetuskan Presiden Suriah Bashar al-Assad harus mundur.

“Assad harus menyerahkan kekuasaan dan meninggalkan Suriah,” kata Hillary seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (7/6/2012).

Hal tersebut disampaikan Hillary usai pembahasan strategi dengan negara-negara Barat dan Arab mengenai bagaimana meningkatkan tekanan terhadap rezim Suriah dan mengupayakan perubahan politik.

Diakui istri mantan presiden AS Bill Clinton itu, pemerintah AS belum berhasil mengupayakan aksi internasional yang akan berdampak pada Assad.

“Kita harus menekankan kesatuan kita, kita harus mengirimkan pesan jelas kepada negara-negara lain yang belum bekerja sama dengan kita, atau bahkan yang aktif mendukung rezim Assad, bahwa tak ada masa depan dalam hal itu,” tegas Hillary.

Sebelumnya, kelompok oposisi Dewan Nasional Suriah (SNC) menuding pasukan yang setia pada Presiden Assad “membantai” sekitar 100 orang di Al-Kubeir pada Rabu, 6 Juni waktu setempat. Di antara korban tewas tersebut termasuk 20 wanita dan 20 anak-anak. Pemerintah Assad membantah tuduhan mendalangi pembantaian tersebut seraya menyebutnya sebagai ulah para teroris.

Pada 23 dan 24 Mei lalu, pembantaian warga sipil juga terjadi di Kota Houla dan menewaskan sekitar 108 orang, termasuk puluhan wanita dan anak-anak. Dewan Keamanan PBB telah mengecam pemerintah Suriah atas pembantaian tersebut. Namun rezim Assad membantah keterlibatan dalam peristiwa tersebut.

Dua Bom Mobil Guncang Ibukota Suriah Damaskus

Hanya sehari setelah dua bom mobil mengguncang ibu kota Damaskus, sebuah bom mobil lainnya meledak di kota Aleppo di Suriah utara, Minggu (18/3/2012). Tiga orang dilaporkan tewas dalam serangan terakhir ini.

Syrian Observatory for Human Rights yang bermarkas di London, Inggris, menyatakan, ledakan tersebut terjadi di dekat kantor-kantor pasukan keamanan. Selain 3 warga sipil yang tewas, 25 orang lainnya terluka.

Kantor berita SANA hanya memberitakan, sebuah bom mobil “teroris” meledak di dekat dua bangunan tempat tinggal di Distrik Sulaiymaniyah, Aleppo, tanpa menyebutkan jumlah korban.

Salah satu aktivis hak asasi manusia di Aleppo mengatakan kepada wartawan AFP di Beirut, Lebanon, bahwa ledakan terjadi sekitar pukul 12.50 waktu setempat (17.50 WIB). Tayangan televisi memperlihatkan bangunan dan mobil-mobil yang hancur akibat ledakan itu.

Aleppo juga menjadi sasaran serangan bom pada 10 Februari, yang menewaskan 28 orang.

Sabtu kemarin, dua bom mobil meledak berturut-turut di dekat markas polisi dan dinas intelijen angkatan udara di Damaskus. Dua ledakan itu menewaskan 27 orang dan melukai sekitar 140 orang, sebagian besar warga sipil.

Dua ledakan keras, Sabtu (17/3), mengguncang Damaskus, ibu kota Suriah. Akibat ledakan itu, sebanyak 44 orang tewas dan lebih dari 100 orang cedera. Sejumlah warga sipil dipastikan tewas akibat ledakan bom itu.

Para aktivis juga mengungkapkan, ada ledakan ketiga di dekat kamp pengungsi Palestina di kawasan Yarmouk.

Televisi pemerintah memberitakan, satu dari dua ledakan tersebut menghantam kantor intelijen Angkatan Udara dan ledakan lain terjadi di dekat kantor keamanan urusan kriminal.

Menurut televisi pemerintah itu, penyidikan awal menunjukkan dua ledakan itu berasal dari bom mobil dan dilakukan kelompok teroris. Teroris yang dimaksudkan di sini adalah segelintir pihak yang ingin menjatuhkan pemerintahan.

Pemerintah Suriah selalu beranggapan, pihak asing adalah motor utama di balik aksi oposisi, yang menuntut pergantian rezim. Kubu oposisi membantah turut berperan di balik aksi pengeboman itu.

Dalam tayangan televisi Aljazeera, masih terlihat pekatnya bubungan asap dari ledakan di distrik Al-Jamarik.

Juru bicara Dewan Pimpinan Revolusi, kubu oposisi, Murad Shami mengatakan ledakan ketiga terjadi beberapa menit dari dua ledakan sebelumnya di Jalan Tsalatsin dekat kamp pengungsi Palestina di kawasan Yarmouk. Suriah juga merupakan negara yang turut menampung warga Palestina, yang melarikan diri dari Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Dalam beberapa bulan terakhir, Damaskus dihantam serangan bersenjata dan ledakan bom. Pada 6 Januari, sebuah serangan bunuh diri menghantam Damaskus. Pada kejadian ini, 24 orang tewas dan 46 orang luka-luka, yang sebagian besar dari warga sipil. Pada 23 Desember 2011, dua bom mobil menghantam kantor keamanan dan menewaskan 30 orang.

Sama seperti ledakan terbaru itu, pelaku ledakan-ledakan sebelumnya juga tak pernah jelas.

Seruan Annan

Dalam konteks politik, utusan khusus PBB dan Liga Arab, Kofi Annan, memperingatkan dampak krisis di Suriah jika tidak segera diatasi secara benar. Ia meminta negara-negara anggota Dewan Keamanan (DK) PBB bersatu menekan Presiden Bashar al-Assad.

Annan, Sabtu, seusai memberi keterangan di forum DK PBB, mengatakan, hendaknya semua pihak berhati-hati menangani isu Suriah. Ini bertujuan untuk menghindari eskalasi yang bisa mengganggu stabilitas kawasan. Menurut Annan, kondisi di Suriah lebih kompleks dari kondisi di Libya.

Ia juga memperingatkan, jika otoritas Suriah masih mengulur-ulur waktu, masyarakat internasional segera mengambil sikap tegas.

Ia menambahkan, ia secara pribadi telah menyampaikan kepada para pejabat Suriah ketika berkunjung ke Damaskus bahwa rakyat Suriah sudah lelah dengan penderitaan. Otoritas Suriah harus memperhatikan aspirasi rakyat agar bisa meraih stabilitas.

Di forum DK PBB Annan mengungkapkan, jawaban otoritas Suriah atas usulannya tentang solusi krisis Suriah mengecewakan. Namun Annan mengatakan, komunikasi dengan otoritas Suriah masih berlanjut.

Ia menambahkan, usulannya terdiri dari enam butir dan masih terus dibahas dengan otoritas Suriah. Menurut Annan, ia mengirim tim ke Damaskus pekan depan untuk mendiskusikan lagi usulan itu dengan pihak-pihak terkait di Damaskus.

Tak banyak berharap

Anggota Dewan Nasional Suriah (SNC), Farouk Taefour, kepada harian Aharq al Awsat mengatakan, SNC tidak banyak berharap pada misi Kofi Annan. Namun, misi Annan saat ini merupakan satu-satunya upaya di lapangan dan tidak ada pilihan bagi SNC kecuali mendukung serta menunggu hasilnya.

Anggota lain SNC, Muhammad Sarmini, juga menyatakan bahwa ada kriteria dasar yang harus dipenuhi bagi keberhasilan misi Annan. Kriteria dasar tersebut adalah solusi politik harus memenuhi aspirasi rakyat Suriah, yaitu Presiden Assad harus mundur.

Di Ankara, Pemerintah Turki menyatakan akan mempertimbangkan membentuk zona penyangga di kawasan perbatasan Turki-Suriah. Zona ini bertujuan untuk melindungi warga sipil Suriah dari serangan pasukan pemerintah. Turki juga menuduh pasukan Pemerintah Suriah telah menyebar ranjau di kawasan dekat perbatasan Turki-Suriah untuk mencegah warga sipil lari ke Turki.

Irak juga turut menekan Suriah dengan menghambat semua pasokan logistik dari Iran menuju Suriah, yang hendak diangkut lewat darat via Irak. Jubir pemerintahan Irak, Ali al-Dabbagh, Sabtu, di Baghdad menegaskan hal itu

Presiden Suriah Bashar al-Assad Ternyata Ketahuan Suka Selingkuh Setelah Email Pribadinya Berhasil Dibongkar Oposisi

Bocornya email pribadi Presiden Suriah Bashar al-Assad mengungkap sejumlah fakta menarik. Salah satunya tentang wanita misterius yang memakai bra putih dan tampil provokatif demi Assad. Siapa dia?

Diberitakan Telegraph, Sabtu (17/3/2012), foto itu muncul di kiriman email pribadi Assad yang bocor beberapa hari lalu. Pihak oposisi berhasil mencuri password email presiden kontroversial itu dan membocorkannya ke publik.

Dari fotonya, wanita itu tampak masih muda. Dia hanya mengenakan BH putih sambil menghadap tembok dengan pose sensual.

Foto itu dikirim ke Assad pada 11 Desember 2011 lalu oleh seorang wanita yang dipastikan bukan istrinya. Tidak ada ucapan apa pun dalam email tersebut. Identitas wanita tersebut juga masih misteri.

Para anggota oposisi yakin wanita itu juga mengirim email dengan akun lain. Isinya, pesan-pesan intim antara Assad dan wanita tersebut.

Salah satu pesan yang bocor tercatat pada 1 Desember 2011. Si wanita mengirim pesan “Hi”, lalu Assad membalasnya dengan “Hi and a half”.

Beberapa minggu kemudian, komunikasi keduanya lebih berbau asmara. Mereka saling berbagi musik romantis dan bertukar kado.

Nah, pada 17 Januari 2012, Assad juga menerima email dari akun lain wanita tersebut yang bertuliskan “I love you” dalam bahasa Arab. Lalu pada tanggal 25 Januari 2012, email lainnya dikirim dengan hanya mencantumkan huruf ‘X’, simbol populer untuk sebuah ciuman di dunia maya.

Meski tidak ada bukti otentik ada hubungan seksual di antara keduanya, kasus ini bisa berdampak negatif bagi Assad. Terlebih lagi, dia kini menjadi sorotan internasional bersama sang istri Asma al-Assad.

Hingga saat ini, Assad masih belum bisa dimintai konfirmasi.

Suriah Kini Berubah Menjadi Neraka Dunia

Sudah 40 tahun Jacques Beres, seorang dokter bedah Perancis, beroperasi di berbagai kawasan perang, namun di kondisi di Suriah merupakan salah satu satu yang paling mengerikan yang pernah dilihatnya.

Beres “menyelundupkan diri” ke Homs, kota yang digempur pasukan pemerintah Suriah, selama dua minggu Februari lalu. Di kota itu dia mendirikan rumah sakit darurat di sebuah rumah di mana dia mengoperasi 89 orang dalam 12 hari.

Sebagian besar adalah para lanjut usia dan anak-anak. Dia berhasil menyelamatkan sebagian besar pasiennya, namun sembilan orang meninggal di meja operasi.

Dalam sebuah pertemuan para aktivis hak asasi manusia di Jenewa, Swiss, Selasa (13/3/2012), dokter berusia 71 tahun itu, merupakan satu-satunya dokter Barat yang berhasil masuk Homs. Dalam pertemuan itu dia mengisahkan pertumpahan darah dan kondisi mengerikan yang disaksikannya di kota itu.

“Seperti neraka,” kata Beres, yang juga salah satu pendiri organisasi Doctors Without Borders dan Doctors of the World. Beres sendiri pernah bekerja di sejumlah wilayah perang seperti Vietnam, Rwanda, dan Irak.

“Yang terjadi adalah pembunuhan massal. Sangat tidak adil. Tidak bisa dibenarkan,” tegasnya.

Beres berangkat ke Suriah atas permintaan dua kelompok, France-Syrie Democracy dan Union of Muslim Associations in France. Dia masuk Suriah dari Lebanon secara ilegal dan mendirikan meja operasi di sebuah rumah kosong hanya dengan tiga tempat tidur.

Kata warga Paris, Perancis itu, tantangan terbesarnya adalah hal-hal mendasar sperti langkanya listrik dan mendapatkan ruang yang cukup untuk tandu.

Beres mengatakan, warga Homs, yang merupakan jantung perlawanan terhadap rezim Presiden Bashar al-Assad, hidup dalam keputusasaan meskipun mereka menyampaikan terima kasih pada para wartawan yang mengabarkan pada dunia tentang yang sedang mereka hadapi.

“Mereka bilang, memang baik kalian memikirkan kami, tetapi mereka bilang ‘itu tidak memberi kami makanan, obat, ataupun senjata,” kata Beres menirukan warga Homs di KTT Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Jenewa.

Pemberontakan di Suriah dimulai pada Maret 2011. Berawal dari unjuk rasa damai di provinsi-provinsi yang miskin di negara itu. Ketika aparat keamanan menindas para pengunjuk rasa hingga menewaskan ribuan orang, protes pun berkembang dan memanas hingga memicu pemberontakan bersenjata.

Badan urusan pengungsi PBB mengatakan 230.000 warga Suriah mengungsi sejak perlawanan terhadap rezim Assad dimulai tahun lalu. Menurut PBB, lebih dari 7.500 orang terbunuh dalam 12 bulan terakhir. Kelompok-kelompok aktivis mengatakan, jumlah korban tewas bahkan sudah melewati angka 8.000.

Hadeel Kouki, aktivis Suriah berusia 20 tahun, mengatakan, dia ditahan selama 52 hari setelah dinas intelijen Suriah memeriksanya. Perempuan muda itu mengaku membagikan selebaran berisi anjuran pada teman-teman kampusnya untuk berdemonstrasi.

“Ada sekitar 10.000 orang tewas hingga saat ini dan pembunuhan itu terus berlanjut. Dalam catatan kami 100 orang tewas setiap hari. Banyak di antaranya anak-anak. Mereka tewas di rumah,” tutur mahasiswi sastra Inggris dan hukum itu.

Dalam pertemuan di Jenewa itu, Kouki menceritakan pengalaman pertamanya ditangkap. Ketika itu dia dikurung di penjara selama 40 hari dengan “kondisi mengerikan”. Setelah itu dia dua kali lagi ditahan. “Aparat menyiksa saya dengan listrik dan memukulinya di penjara,” ujarnya.

Dia memang dibebaskan tetapi dilarang kembali universitas di Aleppo. Kouki kini tinggal di Mesir dan terlibat dalam aktivitas dunia maya melawan Presiden Bashar al Assad.

Rezim Assad selalu mengatakan, bahwa pasukannya memerangi teroris asing dan geng-geng kriminal. Assad juga membantah yang sedang terjadi di negaranya adalah revolusi seperti yang dialami Libya, Mesir, atau Tunisia.

Kata Kouki, tidak ada pejuang asing di Suriah. “Saya bisa katakan bahwa hal itu tidak benar. Tidak ada orang asing, tidak ada teroris. Itu propaganda pemerintah,” tegasnya.

Dulu Bermusuhan Kini Al Qaeda dan Amerika Serikat Bahu Membahu Membantu Oposisi Di Suriah

Al-Qaidah memberikan dukungan penuh kepada kelompok oposisi di Suriah dalam upaya menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad. Mereka diminta tidak tergantung pada Barat dan negara-negara Arab.

Dalam rekaman video yang diunggah melalui Internet, Ahad, 12 Februari 2012, Ayman al-Zawahri menyerukan agar para pemberontak tidak tergantung pada Barat dan negara-negara Arab dalam upaya menggulingkan Presiden Bashra al-Assad.

Siaran video berdurasi delapan menit bertajuk “Melihat Masa Depan Singa Suriah” juga berisi permintaan pria kelahiran Mesir itu agar umat muslim di Turki, Irak, Lebanon, dan Yordania memberikan bantuan kepada pemberontak Suriah guna menghadapi pasukan keamanan Suriah.

“Hari demi hari darah telah tumpah di Suriah, sementara tukang daging, putra tukang daging Bashar bin Hafiz (Hafez al-Assad) tidak bersedia menghentikannya,” kata Zawahri yang tampak mengenakan surban putih di depan kamera.

“Namun perlawanan rakyat kami di Suriah terus berlangsung kendati mengalami rasa sakit, perlu pengorbanan, dan eskalasi pertumpahan darah meningkat,” ujarnya.

Zawahri mengambil alih tongkat komando Al-Qaidah menyusul kematian Usamah bin Ladin yang tewas akibat diserbu pasukan khusus Amerika Serikat di Pakistan, Mei tahun lalu. “Setiap muslim harus membantu saudara-saudaranya di Suriah dengan apa saja yang bisa dilakukan, termasuk nyawa, uang, fitnah, atau apa pun,” kata Zawahri.

Pria ini melanjutkan, “Wahai rakyat kami di Suriah, jangan tergantung pada Barat atau Amerika Serikat atau pemerintah Arab dan Turki,” ucapnya yang diyakini bakal mendapatkan sambutan baik dari kelompok oposisi di Suriah.

Rusia Dukung Suriah Tanpa Syarat Setelah Hapus Hutang Luar Negeri Suriah Karena Merupakan Sekutu Terakhir Di Timur Tengah

Kasus veto Rusia dan China terhadap rancangan resolusi Arab-Barat yang diajukan Maroko dua pekan lalu di forum Dewan Keamanan PBB menjadi isu utama yang terus diperbincangkan di berbagi forum di dunia Arab. Ada yang mendukung, tetapi lebih banyak yang mengkritik penggunaan hak veto itu.

Tindakan Rusia menggunakan hak veto tersebut dilihat sebagai bentuk dukungan tanpa batas terhadap Suriah, khususnya selama berkobarnya aksi unjuk rasa antirezim Presiden Bashar al Assad, 11 bulan terakhir ini.

Rusia juga terus menyuplai senjata ke Suriah. Rusia bulan lalu telah mengirim kapal perangnya ke kota pelabuhan Tartus di Suriah sebagai simbol dukungan terhadap rezim Presiden Assad. Pangkalan militer Rusia (dulu Uni Soviet) sudah dibangun di kota pelabuhan Tartus sejak tahun 1963.

Bagi Rusia, Suriah memiliki nilai strategis secara militer dan politik maupun ekonomi. Suriah adalah pasar senjata Rusia terbesar di Timur Tengah. Hampir semua peralatan militer Suriah adalah buatan Rusia.

Uni Soviet (sebelum bubar menjadi Rusia) adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Suriah pada tahun 1946. Hubungan Uni Soviet-Suriah semakin kuat setelah Presiden Hafez Assad, ayah Presiden Suriah sekarang, memegang kekuasaan di Damaskus pada tahun 1970.

Kontrak senjata

Setelah penasihat militer Uni Soviet diusir dari Mesir pada tahun 1972, Uni Soviet semakin mengandalkan Suriah yang diperintah partai sosialis Baath untuk memperkuat pengaruhnya di Timur Tengah. Peralatan militer Uni Soviet semakin mengalir banyak ke Suriah saat itu. Uni Soviet juga menjadi jaminan bagi dukungan politik Suriah di pentas internasional.

Hubungan strategis Rusia- Suriah itu tergambarkan pula ketika Rusia pada tahun 2005 menghapus 75 persen utang Suriah kepada Rusia. Sebagian besar utang Suriah kepada Rusia berasal dari pembelian senjata buatan Rusia oleh Suriah. Utang Suriah terhadap Rusia saat itu mencapai 13 miliar dollar AS.

Meski Rusia terpaksa menghapus sebagian besar utang Suriah ke Moskwa, ekspor peralatan militer Rusia ke Suriah justru naik antara 7 dan 10 persen sejak saat itu.

Di tengah gencarnya aksi unjuk rasa antirezim Presiden Assad di berbagai kota di Suriah, Rusia saat ini justru mengirim 60 ton senjata, lengkap dengan suku cadangnya.

Rusia dan Suriah bulan lalu berhasil mencapai kesepakatan untuk menyuplai Suriah dengan 130 pesawat jet tempur tipe Yak-130 dengan nilai kontrak 550 juta dollar AS dan kontrak bisnis peralatan militer lainnya senilai 700 juta dollar AS.

Neraca perdagangan Rusia-Suriah saat ini mencapai nilai hampir dua miliar dollar AS, khususnya dalam kerja sama di bidang minyak dan gas.

Sejumlah pengamat mengatakan, dukungan tanpa batas Rusia atas Suriah saat ini hanya semata untuk menghentikan hegemoni Amerika Serikat di Timur Tengah. Rusia ingin menunjukkan bahwa Barat, khususnya AS, tidak bisa bergerak semena-mena secara sepihak.

Namun, bagi pengkritik, tindakan Rusia menggunakan hak veto, untuk menggagalkan rancangan resolusi Arab-Barat di forum DK PBB, lebih banyak membawa kerugian daripada keuntungan bagi Rusia. Kini banyak tangisan warga di Suriah yang merasa terancam setiap hari. Pemerintah Suriah seperti tidak peduli pada tuntutan sah rakyat soal demokrasi.

Pasukan Asing Mulai Turun Bergerilya Membantu Pejuang Kemerdekaan Oposisi Di Suriyah

Kehadiran militer asing mulai terendus dalam konflik Suriah. Media terkemuka Rusia, RT Network, melontarkan isu ini dalam berita utama mereka dengan mengutip peringatan Majelis Rendah tentang kekhawatiran Suriah jadi Libya Jilid II.

Ketua Komite Internasional Mejelis Rendah, Alexei Pushkov, berbicara menyusul laporan bahwa gugus tugas asing telah dikirim ke Suriah dalam upaya memberikan bantuan kepada kubu oposisi.

“Menurut laporan terbaru yang sekarang sedang diverifikasi, satuan tugas khusus asing telah dikerahkan ke Suriah,” kata Pushkov kepada wartawan pada hari Jumat. “Jika laporan ini terbukti benar, skenario akan benar-benar sama seperti di Libya.”

Menurut Pushkov, mereka mendukung oposisi dengan memasok senjata. “Mereka juga mengkondisikan sebuah resolusi tidak seimbang pada rezim yang berkuasa di Suriah, untuk menyerah pada tuntutan oposisi,” katanya.

Dunia internasional, katanya, ingin mengulang skenario Libya di Suriah.

Komentarnya datang pada hari yang sama saat anggota parlemen Rusia diharapkan mengadopsi rancangan pernyataan mengenai Suriah. Pushkov menyatakan Majelis Rendah mendukung posisi resmi Rusia untuk memfasilitasi penyelesaian konflik di dalam wilayah Suriah.

Dalam salah satu bab draf Majelis Rendah, mereka menyebut hal yang sangat penting adalah PBB, khusus untuk Dewan Keamanan, untuk tidak memihak salah satu pihak dalam konflik itu.

“Pendekatan semacam ini tidak seimbang akan merusak peluang untuk dialog yang adil dan konstruktif,” tulis draf itu.

Draf juga mengkritik ultimatum yang dikeluarkan hanya untuk satu pihak. “Sementara, pada saat yang sama, menyerukan perubahan rezim sebagai prasyarat wajib untuk menyelesaikan konflik.”

Mereka juga mengutuk intervensi militer dalam urusan dalam negeri negara lain.
“Rusia tidak akan mendukung satu dokumen yang menyiratkan atau memungkinkan intervensi tersebut tanpa persetujuan langsung Dewan Keamanan PBB.”

Rusia telah menyatakan kekhawatirannya atas meningkatnya kecenderungan pemerintah asing, terutama negara-negara NATO, untuk menyelesaikan konflik internal di negara-negara asing melalui kekuatan militer. Intervensi terbaru terjadi di Libya, yang baru saja mengalami perang sipil besar-besaran.

Setelah berlalunya resolusi PBB mengenai Libya yang menyerukan perlindungan warga sipil yang tidak bersalah, negara-negara NATO melancarkan serangan udara besar yang menimbulkan korban lebih banyak. Rusia menyebut NATO telah melampaui mandat.

Misi NATO mendapat kecaman lebih lanjut saat rekaman video menunjukkan pemimpin Libya Muammar Gaddafi yang ditangkap hidup-hidup oleh Tentara Pembebasan Nasional di Sirte, tapi kemudian dieksekusi.

Pasukan Suriah Bantai 3 Keluarga Oposisi Dengan Korban 20 Warga Sipil Terdiri Dari Wanita dan Anak Anak

Pasukan milisi yang loyal pada Presiden Suriah Bashar al-Assad kemarin menembak mati tiga keluarga yang terdiri atas 20 orang di Kota Homs. “Shabbiha (hantu dalam bahasa Arab) atau pasukan milisi Assad menyerbu tiga rumah milik keluarga Ghantawi, Tirkawi, dan Al-Zamel. Mereka menewaskan ayah, ibu, serta anak-anak,” kata Rami Abdelrahman, ketua lembaga Observatori Hak Asasi Manusia Suriah di London.

Shabbiha merupakan pasukan elite yang terdiri atas etnis Alawiyah, etnis penguasa di Suriah saat ini. Pada 27 Januari lalu, milisi ini membantai 14 anggota keluarga Sunni di Kota Homs. Delapan di antaranya anak-anak berumur delapan bulan hingga sembilan tahun. “Ini bukan pembunuhan etnis. Mereka melakukan apa pun untuk mencegah jatuhnya rezim Assad,” ujar Abdelrahman.

Serangan ini menambah jumlah korban tewas menjadi sedikitnya 67 orang di kota tersebut. Ini merupakan serangan terburuk dalam 11 bulan terakhir. Sejak dinihari kemarin, pasukan pemerintah membombardir kawasan penduduk muslim Sunni, seperti Bab Amro, Al-Bayada, Al-Khalidiya, dan Wadi al-Arab. “Setelah listrik kembali normal, kami bisa menghubungi warga di kawasan tersebut. Kami menghitung ada 47 korban tewas sejak tengah malam,” ucap aktivis Mohammad Hassan.

Padahal, sehari sebelumnya, Assad telah berjanji kepada Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov akan mematuhi resolusi awal Liga Arab, yakni akan membuka pintu dialog dengan demonstran prodemokrasi, membebaskan tahanan politik, serta menarik pasukan dari kawasan konflik.

Dalam pertemuan dengan Assad di Damaskus pada Selasa lalu, Lavrov mengungkapkan, Assad meminta Wakil Presiden Farouk al-Sharaa untuk berdialog dengan demonstran. Namun ia menolak resolusi terbaru Liga Arab yang didukung Dewan Keamanan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memaksa Assad mundur. “Jangan memaksa. Biarkan pihak oposisi dan pemerintahan Assad bertemu dan menemukan solusi,” tutur Lavrov di Moskow kemarin.

Menteri Luar Negeri Australia Kevin Rudd dalam kesempatan terpisah di Canberra memanggil diplomat senior Suriah, Jawdat Ali. Kepada Ali, Rudd mendesak Assad agar segera mundur. “Pesan kami kepada pemerintah Suriah jelas, Assad harus mencari jalan keluar terbaik sebelum semakin banyak nyawa melayang,” Rudd menegaskan.