Category Archives: Suriah

ISIS Mulai Berhasil Kuasai Sepertiga Kota Kobani Di Suriah

Kaum militan Negara Islam atau ISIS, Kamis (9/10/2014), mengontrol lebih dari sepertiga kota Kobani, Suriah, yang terletak di dekat perbatasan dengan Turki setelah memukul mundur para pejuang muslim Sunni Kurdi. “Meski ada perlawanan sengit dari pasukan Muslim Sunni Kurdi, ISIS bergerak maju pada malam hari dan menguasai lebih dari sepertiga Kobani,” kata Rami Abdel Rahman, Direktur Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, kepada kantor berita AFP.

Ia mengatakan, seorang pemimpin milisi Kurdi dan sejumlah anak buahnya tewas saat kaum militan ISIS menguasai sebuah bangunan yang pejuang Kurdi gunakan sebagai basis di timur laut kota itu. Sementara itu wanita pejuang Kurdi meledakan bom bunuh diri ditengah militan ISIS yang menewaskan sedikitnya 20 militan ISIS. Laju pergerakan militan ISIS terjadi meski ada serangan udara intensif yang dipimpin AS yang bertujuan untuk mencegah Kobani jatuh ke tangan kaum militan itu.

Kota itu, yang juga dikenal dengan nama Ain al-Arab, akan menjadi sebuah hadiah besar bagi ISIS. Dengan menguasai kota itu, ISIS dapat melakukan kontrol atas wilayah luas yang membentang dari perbatasan Suriah dengan Turki hingga ke Raqqa, kota yang telah dinyatakan sebagai ibu kota kelompok itu. Pertempuran jalanan yang intens berkecamuk di kota Kobani, Suriah, Senin (6/10/2014), saat kaum militan ISIS mendekat untuk menguasai wilayah penting di perbatasan dengan Turki itu.

Seorang saksi mata dari dalam kota itu mengatakan kepada CNN, kaum militan ISIS menancapkan bendera mereka di sebuah bukit di sisi timur Kobani, kemudian bertahan demi membuka rute bagi pasukannya. Para kru CNN, Senin, juga melihat sendiri apa yang tampak seperti bendera hitam ISIS berkibar dari puncak sebuah bukit di sisi timur kota itu. Bendera tersebut berada lebih jauh di dalam sisi timur kota itu ketimbang sebuah bendera yang terlihat berada di atas sebuah gedung dalam video Reuters dan juga terlihat oleh para kru CNN.

Saksi mata itu mengatakan, puluhan milisi muslim sunni Kurdi yang mempertahankan kota itu terluka dan tewas, sedangkan ratusan militan ISIS juga tewas saat bentrokan berlangsung dari jalan ke jalan karena milisi Kurdi lebih mengetahui medan tempur dikota tersebut.

Jatuhnya kota itu akan membawa simbol dan dampak strategis yang besar, yang akan membuat ISIS menguasai sebuah wilayah yang tidak terganggu yang terbentang antara perbatasan Turki hingga ke Raqqa yang telah dinyatakan sebagai ibu kota kelompok itu, yang berjarak sekitar 100 kilometer dari Kobani.

Militer Turki, yang telah menempatkan pertahanan di sepanjang perbatasan dalam beberapa hari terakhir saat pertempuran berkobar, menghalangi orang-orang melarikan diri dari kota yang terkepung itu untuk melintasi perbatasan. “Kami ingin pergi ke seberang!” teriak calon pengungsi ketika mereka menempel di pagar perbatasan.

Seorang saksi mata di dalam kota Kobani mengatakan kepada CNN bahwa ia telah menunggu untuk meninggalkan kota itu bersama ratusan orang lain sejak hari Minggu malam. “Kami akan terbunuh jika kami tetap tinggal,” katanya. Saat kaum militan ISIS menyerang dengan menggunakan tank dan artileri berat, para pembela kota ini bersumpah untuk terus berjuang. “Kami takut akan hal ini. Kami berkewajiban untuk mempertahankan rumah kami, kota kami,” kata pejabat Kurdi Kobani, Idriss Nassan. “Kami tidak memilih perang ini, tetapi kami berkewajiban untuk melawan demi membela agama”

ISIS berhasil mendekati Kobani meskipun ada serangan udara Amerika Serikat dan pasukan sekutu selama akhir pekan dan pada hari Senin. Serangan udara terbaru itu menyasar dua posisi pertempuran dekat Kobani dan dua tank dekat Raqqa, serta dua unit kecil ISIS, dua posisi mortir dan sebuah bangunan di Irak, kata militer AS, Senin.

Seorang pejabat pertahanan senior AS mengatakan akan melancarkan lebih banyak serangan udara terhadap sasaran ISIS di daerah Kobani pada Senin. Namun hal itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Seorang pejabat senior militer lain mengatakan banyak target ISIS di Kobani yang terlalu dekat dengan perbatasan Turki atau pasukan Kurdi untuk diserang. Dan Pentagon, kata pejabat itu, yakin situasi di Kobani telah dibesar-besarkan karena wartawan ada di sana. Banyak kota-kota lain telah jatuh ke tangan ISIS tanpa ada kru televisi yang hadir, kata pejabat itu.

Nassan mengatakan, dia tidak terlalu peduli apa peran serangan udara AS ke depan. “Ketika saya berbicara dengan orang-orang di sini di Kobani, mereka mengucapkan terima kasih kepada masyarakat internasional, dan Amerika Serikat, mereka mengucapkan terima kasih kepada negara-negara yang menyerang ISIS. Namun semua orang yakin itu tidak cukup,” katanya. “Masyarakat internasional tidak dapat mengalahkan ISIS dengan hanya menyerang mereka dari langit. Mereka harus membantu orang-orang yang sedang berperang, yaitu (Unit Perlindungan Rakyat Kurdi) YPG, (pemberontak) Tentara Pemebebasan Suriah yang ada di sini, di darat.”

Para pejuang muslim sunni Kurdi dan militan ISIS terlibat bentrokan sengit untuk merebut kota perbatasan Kobani di Suriah, yang menimbulkan korban tewas cukup besar pada kedua pihak dan bantuan senjata berat berdatangan dari wilayah sekitar kepada militan ISIS.

Badan Pemantau HAM Suriah yang berkantor di Inggris melaporkan sedikitnya 370 militan ISIS dan 19 pejuang muslim Kurdi tewas dalam pertempuran hari Minggu dan Senin. Jumlah ini termasuk seorang pejuang perempuan Kurdi yang meledakkan dirinya dan menewaskan sejumlah militan ISIS.

Sebuah bendera hitam dengan tulisan Arab yang serupa dengan bendera ISIS juga terlibat berkibar di sebuah gedung di kota Kobani, yang berbatasan dengan Turki, tetapi pasukan Kurdi mengatakan mereka sedang mengusir para militan itu. Tembakan mortir masih menghujani kota yang juga dikenal sebagai Ayn Al-Arab itu. Amerika dalam tiga minggu ini telah berupaya mencegah kemajuan pasukan ISIS dan militer Amerika hari Senin berhasil menghancurkan dua posisi tempur militan itu dalam serangan terbaru mereka.

Gadis Yazidi Kisahkan Pengalaman Horornya Menjadi Budak Seks ISIS

Seorang gadis muda dari komunitas agama minoritas Yazidi yang ditangkap Negara Islam di Irak dan Suriah atau yang lebih dikenal dengan nama ISIS melukiskan horor yang dialaminya selama disekap menjadi budak seks kelompok ekstremis itu dan satu satu harapannya agar pasukan muslim Kurdi Peshmerga (milisi Islam Kurdi) datang menjadi pembebas bagi mereka.

Gadis 17 tahun itu mengatakan, dia merupakan salah satu dari sekelompok 40-an perempuan Yazidi yang masih disekap dan hingga kini setiap hari mengalami pemerkosaan oleh kaum militan ISIS. Gadis itu mengatakan, dirinya ditangkap 3 Agustus lalu dalam sebuah serangan ISIS terhadap kota Sinjar di Irak utara dan sekarang sedang disekap dalam perbudakan seksual dengan kondisi mengerikan di sebuah desa di selatan Mosul.

Sejumlah ekstremis asal Inggris yang berperang di Suriah dan Irak telah membual di Twitter dan media sosial lainnya bahwa sejumlah perempuan Yazidi telah diculik dan dijadikan “budak seks”. Gadis muda itu mengatakan, dia sedang ditahan di sebuah bangunan dengan jendela berjeruji dan dijaga sejumlah pria bersenjata.

“Saya mohon kepada Anda untuk tidak memublikasikan nama saya karena saya sangat malu dengan apa yang mereka lakukan terhadap saya. Sebagian diri saya sudah ingin mati saja. Namun, yang sebagian masih berharap bahwa saya akan diselamatkan dan sehingga saya akan dapat merangkul orangtua saya sekali lagi,” katanya kepada harian Italia, La Repubblica. Laporan La Repubblica itu kemudian dikutip sejumlah media lain, antara lain harian The Telegraph dari Inggris. La Repubblica berhasil mewawancarai gadis itu dengan menelepon ke telepon genggamnya. Nomor kontaknya diberi oleh orangtuanya yang kini berada di sebuah kamp pengungsi di Kurdistan, Irak.

Perempuan itu mengatakan, para penculiknya awalnya menyita ponselnya dan semua ponsel milik perempuan lainnya. Namun, para penculiknya kemudian “mengubah strategi”. Mereka mengembalikan ponsel-ponsel para perempuan itu sehingga mereka bisa menceritakan kepada dunia luar bagaimana pengalaman mereka menjadi budak seks yang terjadi pada mereka. “Untuk lebih menyakiti kami, mereka mengatakan kepada kami agar menjelaskan secara rinci kepada orangtua kami apa yang mereka lakukan. Mereka menertawakan kami karena mereka berpikir mereka tak terkalahkan. Mereka menganggap diri mereka “superman”. Namun, mereka adalah orang-orang yang tidak punya hati.

Gadis itu melanjutkan, “Para penyiksa kami bahkan tidak mengasihani sejumlah perempuan yang (disekap) bersama dengan anak-anak mereka. Mereka juga tidak mengasihani sejumlah gadis yang masih belia. Beberapa dari kelompok kami bahkan belum genap 13 tahun usianya. Beberapa dari mereka kini tidak lagi mengucapkan sepatah kata pun.”

Perempuan itu, yang oleh La Repubblica diberi nama samaran Mayat, mengatakan bahwa para perempuan itu diperkosa di lantai paling atas bangunan, di dalam tiga bilik. Para gadis dan perempuan dewasa itu diperkosa sampai tiga kali sehari oleh kelompok-kelompok pria ISIS yang berbeda-beda.

“Mereka memperlakukan kami laksana kami adalah budak mereka. Orang-orang itu memukul dan mengancam kami ketika kami mencoba untuk menolak. Saya sering berharap agar mereka memukul saya sedemikian parah sehingga saya mati.” Gadis itu mengatakan bahwa beberapa dari kaum militan itu merupakan orang-orang muda yang baru berperang di Suriah, sementara yang lain merupakan orang-orang tua.

“Jika suatu hari penyiksaan ini berakhir, hidup saya akan selalu ditandai oleh apa yang saya alami dalam minggu-minggu ini. Bahkan, jika saya bertahan hidup, saya tidak tahu bagaimana saya akan menghilangkan horor ini dari pikiran saya. Kami telah meminta para sipir untuk menembak mati kami, membunuh kami, tetapi kami terlalu berharga buat mereka. Mereka terus mengatakan kepada kami bahwa kami adalah orang-orang kafir dan bahwa kami merupakan milik mereka, seperti rampasan perang. Mereka mengatakan kami seperti kambing yang dibeli di pasar.”

Para perempuan tawanan itu berharap datangnya penyelamatan, baik oleh pasukan darat anti-ISIS maupun intervensi internasional. “Satu-satunya harapan adalah bahwa pasukan muslim Kurdi Peshmerga (milisi Islam Kurdi) datang dan menyelamatkan kami. Saya tahu Amerika mengebom (posisi ISIS). Saya ingin mereka bergegas dan mengusir mereka semua keluar karena saya tidak tahu berapa lama lagi saya bisa bertahan. Mereka sudah membunuh tubuh saya. Sekarang mereka sedang membunuh pikiran saya.”

Dia mengatakan, dia pernah mendengar sejumlah wanita Kristen Arab juga telah ditangkap dan dipenjarakan sebagai budak seks oleh ISIS. Namun, kelompoknya hanya terdiri para perempuan Yazidi, yang semuanya berasal dari kota Sinjar.

Kota itu terletak di kaki Gunung Sinjar, di mana ribuan warga Yazidi terpaksa mengungsi bulan lalu setelah dikepung ISIS. Walau banyak dari pengungsi itu akhirnya berhasil melarikan diri ke gunung, yang lainnya ditangkap kelompok ekstremis.

PBB telah menuduh ISIS melakukan pembersihan etnis di Irak utara. Kelompok militan itu dikatakan telah melakukan penahanan dan eksekusi massal di kantong kelompok-kelompok minoritas di wilayah itu.

Pria Inggris Yang Akan Dibunuh ISIS Ternyata Pernah Membela Muslim Bosnia

Seorang pria Inggris yang disandera Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan diancam akan dieksekusi ternyata adalah seorang pekerja kemanusiaan yang pernah membantu komunitas Muslim di Balkan.

Pria yang oleh media Inggris tidak disebutkan namanya karena permintaan keluarga itu ditampilkan dalam video yang berisi eksekusi jurnalis AS, Steven Sotloff. Pria berusia 44 tahun itu sudah disandera selama 17 bulan sejak diculik di dekat kamp pengungsi Atmeh di dekat perbatasan Suriah dan Turki pada Maret 2013.

Seorang mantan rekan kerja pria ini kepada harian The Telegraph mengatakan, dia pernah bekerja untuk sebuah organisasi amal untuk membangun kembali masyarakat di Kroasia pada 1999-2004. Dia dan istrinya kemudian menetap di dekat kota Zagreb, Kroasia.

“Saya ikut membantunya membangun kembali komunitas masyarakat di sana. Kami membangun kembali rumah, memulai kembali sekolah yang hancur dalam perang,” ujar sang kolega.

“Dia membantu semua pihak, Serbia, Kroasia, membantu Muslim. Dia sangat adil kepada mereka semua dan ingin meningkatkan kehidupan semua etnis. Itulah sebabnya saya sangat terkejut ketika dia diculik Muslim karena dia berusaha keras membantu mereka,” tambah pria itu.

Dalam video yang dirilis ISIS itu, pria yang mengeksekusi Sotloff memperlihatkan sandera Inggris itu di hadapan kamera. Dia mengancam akan membunuh ayah dua anak itu jika AS dan Inggris tidak berhenti memerangi ISIS.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Inggris mengatakan, pemerintah akan mempelajari semua kemungkinan untuk melindungi sandera Inggris itu. Pemerintah Inggris mengakui, pasukan Amerika Serikat pernah berupaya untuk membebaskan dia, tetapi operasi itu berujung pada kegagalan

ISIS Siapkan Pasukan Untuk Mulai Serbu Rusia Karena Mendukung Suriah

Kelompok militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) melontarkan ancaman bagi Presiden Rusia Vladimir Putin. ISIS bersumpah akan menggulingkan Putin karena mendukung rezim Suriah. Ancaman tersebut disampaikan dalam video ISIS yang diposting di situs berbagi video YouTube pada Selasa (2/9) kemarin. Kantor Jaksa Agung Rusia telah meminta video tersebut untuk diblokir.

“Ini merupakan pesan untuk Anda, hai Vladimir Putin, ini adalah jet tempur yang Anda kirimkan untuk Bashar (Bashar al-Assad), kami akan mengirimkannya kepada Anda, insya Allah, ingatlah itu,” ujar salah satu anggota ISIS dalam video tersebut, seperti dilansir AFP, Kamis (4/9/2014).

Anggota ISIS tersebut berbicara dalam bahasa Arab, namun terdapat arti terjemahan dalam bahasa Rusia di video tersebut. “Dan kami akan membebaskan Ceko dan seluruh Kaukasus, insya Allah. ISIS sedang dan akan terus berkembang, insya Allah,” lanjut anggota ISIS dalam video tersebut.

“Takhta Anda sudah mulai begroyang, berada di bawah ancaman dan akan jatuh ketika kami datang kepada Anda karena Allah berada di pihak kami. Kami sudah dalam perjalanan, insya Allah,” imbuhnya.

Dalam video yang sama, sejumlah anggota ISIS yang mengenakan jubah tradisional mengancam Presiden Suriah Bashar al-Assad dari dalam jet tempur. “Ini merupakan milik Rusia,” bunyi narasi dalam video tersebut, yang terdengar beraksen Rusia, saat kamera mengambil gambar kabin pesawat dari dekat.

Kantor Jaksa Agung Rusia telah memerintahkan penyelidik untuk memulai penyelidikan kriminal atas video tersebut.

Kekhalifahan Islam Kini Terbagi Dua Antara ISIS Di Suriah dan Boko Haram Di Afrika

Pemimpin kelompok militan Boko Haram, Abubakar Shekau, Minggu (24/8/2014), memproklamasikan berdirinya kekhalifahan Islam di sebuah kota di timur laut Nigeria yang direbut Boko Haram pada awal bulan ini. “Terima kasih Allah yang memberikan kemenangan untuk saudara-saudara kita di kota Gwoza dan membuat kota ini menjadi bagian dari kekhalifahan Islam,” kata Abubakar Shekau dalam sebuah video berdurasi 52 menit.

Selain mendeklarasikan kekhalifahan, Shekau juga menyatakan kota Gwoza di negara bagian Borno kini sudah bukan bagian dari Nigeria. “Kita tidak akan meninggalkan kota ini. Kita akan tinggal di kota ini,” lanjut Shekau yang kini sudah menjadi teroris global di mata AS dan mendapatkan sanksi dari DK PBB.

Selain menduduki kota Gwoza, Boko Haram juga diyakini telah menguasai kawasan dekat Gwoza di wilayah selatan Borno. Kelompok ini juga menguasai wilayah yang cukup luas di sebelah utara Borno dan setidaknya satu kota di negara bagian Yobe yang bertetangga dengan Borno.

Namun, memetakan secara persis kawasan yang diduduki Boko Haram nyaris tidak mungkin. Sebab, melakukan perjalanan ke kawasan itu sangat berbahaya. Selain itu, sejak Mei tahun lalu, Pemerintah Nigeria memberlakukan situasi darurat, membuat hubungan telepon di daerah itu sulit dilakukan.

Para pakar menggambarkan kemajuan yang diperoleh Boko Haram dalam beberapa pekan terakhi sangat di luar dugaan. Para pakar itu juga mengatakan, kini Boko Haram semakin dekat dengan cita-citanya mendirikan sebuah negara Islam di wilayah utara Nigeria.

Namun, banyak pengamat meyakini militer Nigeria memiliki kapasitas untuk membalikkan keadaan dan mendesak mundur Boko Haram. Sayangnya, pekan ini para prajurit Nigeria menolak dikirim ke Gwoza tanpa persenjataan yang lebih baik.

ISIS Ancam Tenggelamkan Amerika Serikat Dalam Darah dan Penggal Wartawan James Foley

Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) merilis sebuah video yang berisi ancaman terhadap Amerika Serikat (AS). Lewat video itu, ISIS mengancam akan menyerang warga sipil Amerika jika serangan udara AS menewaskan anggota militer pasukannya. Dalam video yang juga menampilkan seorang warga AS yang dipenggal saat pasukan AS menduduki Irak, ISIS menyelipkan pernyataan dalam bahasa Inggris yang artinya, “Kami akan menenggelamkan kalian dalam darah.”

ISIS marah besar setelah keberhasilanya selama ini musnah karena serangan udara AS mengakibatkan gerak maju ISIS ke dalam wilayah Kurdi terhenti total dan bahkan membuat pasukan Kurdi yang mendapat bantuan amunisi mampu merebut kembali bendungan Mosul yang direbut ISIS pada 10 hari lalu. Serangan udara AS itu dipicu gerak maju ISIS saat menggilas kota Sinjar, yang dihuni etnis minoritas Yazidi. Akibatnya, ratusan anak-anak dibunuh dan wanita etnis Yazidi diperkosa dan dijadikan budak seks sementara yang lain terpaksa mengungsi ke pegunungan tanpa perbekalan yang memadai.

Sebelumnya, aksi ISIS juga memaksa puluhan ribu warga Kristen Irak menyingkir dari beberapa kota, termasuk Mosul, demi menghindari aksi brutal organisasi sempalan Al-Qaeda itu yang memaksakan mereka memeluk agama Islam atau mati. Namun, tak seperti Al-Qaeda yang melakukan serangan global terhadap semua kepentingan AS, hingga saat ini, ISIS masih memusatkan gerakannya di wilayah Irak dan Suriah. Sebelumnya, Presiden AS Barack Obama dalam sebuah jumpa pers di Washington DC mengatakan, ISIS merupakan ancaman nyata, tak hanya untuk Irak, tetapi juga untuk seluruh kawasan.

Intelijen Amerika Serikat, Selasa (19/8/2014), tengah berusaha memastikan keaslian video yang disebut memperlihatkan seorang wartawan asal negara itu dipenggal oleh anggota gerakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Video itu juga menampilkan sosok satu wartawan lain, yang hidupnya disebut tergantung pada kebijakan Amerika Serikat. “Kami telah melihat video yang disebut sebagai pembunuhan warga AS James Foley oleh ISIS,” kata juru bicara wakil Dewan Keamanan Nasional Caitlin Hayden. James Foley adalah reporter asal Amerika Serikat berumur 40 tahun.

“Intelijen akan bekerja secepat mungkin untuk memastikan asli atau tidaknya video tersebut,” lanjut Hayden. “Bila (video itu) asli, kami terkejut dengan pembunuhan brutal atas wartawan Amerika yang tak bersalah, dan kami menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga dan teman-temannya.” Unggahan video di YouTube dengan mengatasnamakan ISIS, memperlihatkan adegan pemenggalan Foley, wartawan yang hilang pada November 2012 dalam peliputan di Suriah. Pesan video itu adalah penghentian serangan militer Amerika Serikat ke Irak.

Foley terlihat berlutut di samping seseorang berpakaian serba hitam. Dia terlihat membaca pesan tertulis yang mengatakan bahwa pembunuh dirinya yang sejati adalah Amerika. Dalam video itu, Foley juga menyampaikan harapannya, “Saya berharap bisa punya lebih banyak waktu. Saya berharap bisa punya harapan untuk bebas dan bertemu keluarga saya sekali lagi.”

Video itu menampakkan pula sosok jurnalis lain asal Amerika Serikat, yang diyakini adalah Steven Sotloff. Kontributor untuk Time tersebut diculik di Suriah pada 2013. Salah satu sosok milisi dalam video itu mengatakan hidup wartawan ini akan tergantung pada kebijakan berikutnya dari Presiden Amerika Serikat Barack Obama soal ISIS.

Pasukan Hezbollah Bunuh Seorang Komandan ISIS di Suriah

Pasukan Hezbollah Lebanon dikabarkan telah membunuh seorang pemimpin Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang merencanakan serangan ke Lebanon. Demikian ungkap Organisasi Pengamat HAM Suriah (19/8/2014). Organisasi ini menyatakan, para pejuang Hezbollah menewaskan Abu Abdullah al-Iraqi dalam pertempuran di Qalamun, Suriah, dekat perbatasan dengan Lebanon.

Abu Abdullah adalah salah seorang pemimpin ISIS yang mempersiapkan serangan bom bunuh diri ke Lebanon. “Abu Abdullah tewas akibat ledakan jebakan bom yang ditanam Hezbollah yang diledakkan saat kendaraan yang ditumpangi Abu Abdullah lewat,” demikian ungkap Lembaga Pengamat HAM Suriah.

Sementara itu, stasiun televisi milik Hezbollah, Al Manar, juga melaporkan kematian Abu Abdullah al-Iraqi. Namun, Al-Manar menyebut Abu Abdullah tewas dibunuh tentara Suriah. “Abu Abdullah al-Iraqi tengah mempersiapkan para pengebom bunuh diri dan sejumlah mobil yang akan digunakan untuk menyerang Lebanon,” demikian Al-Manar.

Kelompok Hezbollah yang beraliran Syiah adalah sekutu dekat rezim Bashar al-Assad dan sudah lebih dari setahun membantu pasukan Suriah memerangi kelompok pemberontak, termasuk ISIS. Keterlibatan Hezbollah sangat membantu militer Suriah merebut kembali sejumlah posisi kunci tetapi membuat konflik Suriah merembet ke Lebanon. Ratusan warga muslim sipil di Lebanon tewas setelah menjadi sasaran serangan bom bunuh diri dan bom mobil oleh pejuang ISIS.

Sejumlah serangan bom itu diklaim beberapa kelompok militan Suriah, termasuk ISIS. Mereka mengancam akan terus menyerang Hezbollah jika kelompok itu masih membantu rezim Suriah. Pada pertengahan April lalu, militer Suriah dan Hezbollah menguasai sebagian besar wilayah Qalamun. Namun, kelompok pemberontak, termasuk kelompok-kelompok militan, masih bertahan di kawasan pegunungan yang membatasi Suriah dan Lebanon.