Monthly Archives: March 2012

Gadis Cantik Maroko Pilih Bunuh Diri Daripada Dipaksa Oleh Pengadilan Menikahi Pemerkosanya Atau Dipenjara Karena Perzinahan Paksa

Seorang remaja Maroko bunuh diri setelah hakim memaksanya menikah dengan pemerkosanya. Gadis 16 tahun yang diidentifikasi sebagai Amina Filali, menelan racun tikus setelah pengadilan Tangier yang semestinya menghukum pria penyerangnya, malah memutuskan keduanya harus menikah.

Di Maroko, pemerkosa terbebas dari hukuman jika dia setuju untuk menikahi korbannya. Trauma atas kejadian perkosaan dan perkawinan paksa, Amina memutuskan bunuh diri, tulis surat kabar al-Massae. Ia menghabisi hidupnya di rumah sang suami.

Hafida Elbaz, Direktur Asosiasi Solidaritas Perempuan, mengkritik hukum Maroko itu. Ia menyatakan, pemerkosa sering menghindari hukuman dengan menikahi korban mereka. Insiden ini, katanya, menambah citra buruk perlakuan negara Islam pada wanita.

Tahun lalu, gadis Afghanistan berusia 21 tahun, Gulnaz, dipenjara karena ‘perzinahan dengan paksa’ setelah ia secara brutal diperkosa oleh sepupu suaminya. Penyerangnya dipenjara selama tujuh tahun untuk kejahatan yang menyebabkannya hamil.

Protes global membuat Presiden Afghanistan mengampuni dan membebaskannya dari penjara Bagh Badam Kabul. Kini, dia hidup dengan anak hasil perkosaan itu.

Terjadi Lagi Bom Bunuh Diri di Gereja Nigeria dan Menewaskan 10 Orang

Serangan bom bunuh diri di sebuah gereja Katolik di kota Jos, Nigeria tengah, menewaskan sepuluh orang, Minggu (11/3/2012).

Korban tewas mencakup tiga orang yang tertembak pasukan keamanan yang berusaha membubarkan massa yang berkumpul setelah pemboman itu, kata juru bicara pemerintah negara bagian Pam Ayuba kepada AFP. Menurut juru bicara itu, “ada 10 korban tewas, tujuh jemaat gereja dan tiga orang yang tertembak pasukan”. “Tiga orang tewas tertembak oleh pasukan yang berusaha membubarkan massa,” katanya.

Pelaku serangan bom itu “tidak bisa dikenali karena mayatnya terpotong-potong”. Ayuba menambahkan, bangunan gereja itu rusak parah akibat ledakan tersebut. “Bangunan gereja itu mengalami kerusakan parah, atapnya runtuh.”

Sejumlah orang cedera serius ketika penyerang meledakkan dirinya setelah menabrakkan mobilnya ke pintu gerbang Gereja Katholik St. Finbar. Ketika itu, jemaat sedang meninggalkan gereja setelah misa pagi. Pemboman itu merupakan serangan kedua terhadap sebuah gereja di kota tersebut dalam dua pekan ini, setelah serangan pada 26 Februari yang diklaim oleh kelompok militan Boko Haram menewaskan tiga orang dan mencederai 50 orang lainnya, juga pada upaca misa hari Minggu.

Jos tegang setelah pemboman itu. Kekhawatiran pun muncul mengenai serangan balasan. “Ada desas-desus mengenai pembalasan, tetapi kami berharap aparat keamanan mengendalikan situasi karena mereka telah menutup daerah tersebut,” kata Alhassan Danjuma Aliyu, ketua lokal Badan Penanganan Darurat Nasional (NEMA).

Jos terletak di Nigeria tengah yang memisahkan kawasan utara yang berpenduduk mayoritas muslim dan wilayah selatan yang sebagian besar penduduknya Kristen. Ratusan orang tewas dalam bentrokan-bentrokan antara kelompok agama dalam beberapa tahun ini di negara itu.

Kekerasan meningkat di Nigeria sejak serangan-serangan yang menewaskan puluhan orang dalam perayaan Natal 2011 yang diklaim oleh kelompok garis keras Boko Haram.

Perang Afghanistan Tidak Sebanding Dengan Biaya Serta Manfaat

Sebanyak 60 persen warga AS percaya, perang di Afghanistan tidak sebanding dengan biaya perang itu, dan dalam persentase yang hampir sama menganjurkan penarikan lebih awal pasukan AS dari negara itu, demikian hasil sebuah jajak pendapat baru.

Survei yang dilakukan ABC News dan The Washington Post itu menunjukkan, jumlah orang yang skeptis hampir dua kali lipat dari 35 persen orang yang mengatakan bahwa upaya selama satu dekade itu sebanding dengan biaya dan nyawa yang hilang.

Secara keseluruhan, 54 persen warga AS ingin menarik pasukan AS dari Afghanistan bahkan walaupun tentara Afganistan tidak cukup terlatih untuk melanjutkan tugas yang akan ditinggal tentara AS dan lebih memilih membiarkan rakyat Afghanistan bila ingin saling membunuh.

Sekitar enam dari 10 anggota Partai Demokrat dan independen mendukung posisi tersebut, kata jajak pendapat itu. Di kalangan Partai Republik, empat dari 10 orang mengambil posisi yang sama.

Hanya 30 persen orang Amerika yang percaya bahwa rakyat Afganistan mendukung strategi AS saat ini di negara mereka, kata survei itu. AS dan sekutu NATO-nya berencana untuk menarik pasukan mereka dari Afganistan pada akhir 2014, kemudian menyerahkan operasi keamanan kepada tentara Afganistan.

Jutawan dan Kolektor Wine Asal Indonesia Rudy Kurniawan Ditangkap FBI Karena Memalsukan Anggur Wine Langka

Jutawan kolektor wine (anggur) asal Indonesia, Rudy Kurniawan telah bertahun-tahun hidup mewah di Los Angeles, Amerika Serikat berkat usaha wine-nya. Dia dikenal sebagai kolektor dan penjual wine langka yang harganya selangit.

Namun pada Kamis, 8 Maret waktu setempat, pria kelahiran Jakarta itu ditangkap oleh FBI di Los Angeles. Dia ditahan atas sejumlah dakwaan penipuan termasuk mencoba menjual wine palsu, yang jika asli, bisa terjual dengan harga ribuan dolar AS per botol.

Para penyidik seperti dilansir The New York Times, Jumat (9/3/2012) mengatakan, Rudy membuat beberapa kesalahan sederhana yang menyebabkan terbongkarnya penipuan yang dilakukan pria berumur 35 tahun itu.

Salah satunya, adalah tentang botol-botol anggur Domaine Ponsot yang coba dilelangnya pada tahun 2008. Wine tersebut dikatakan Rudy dibuat pada tahun 1929. Padahal perusahaan pembuat anggur itu baru memulai proses pembotolan anggur pada tahun 1934.

Dakwaan kriminal yang dijatuhkan kepada Rudy dibuat setelah bertahun-tahun muncul kecurigaan terhadap Rudy di kalangan para kolektor wine. Sejumlah wine milik Rudy pernah ditarik dari peredaran pada tahun 2007 silam setelah sebuah rumah lelang menyebut wine tersebut palsu.

Para jaksa penuntut umum di New York menuntut Rudy terlibat “dalam berbagai skema penipuan terkait bisnis anggurnya”.

Itu termasuk menjual 84 botol wine palsu Domaine Ponsot pada sebuah lelang tahun 2008. Juga 78 botol anggur palsu Burgundy dari Domaine de la Romanee-Conti dalam sebuah acara lelang pada Februari lalu.

Bahkan menurut jaksa, Rudy juga telah memalsukan surat-surat untuk mendapatkan pinjaman jutaan dolar AS guna membiayai gaya hidupnya yang tinggi.

The New York Times melaporkan, Rudy ditangkap oleh agen-agen dari skuad elite FBI yang berbasis di New York, yang fokus pada kejahatan-kejahatan yang melibatkan seni, barang-barang antik dan koleksi-koleksi lainnya.

Rudy ditahan pada Kamis (8/3/2012) waktu Amerika Serikat. Dia ditahan atas tuduhan mencoba menjual anggur palsu, yang jika asli, akan bernilai sekitar US$ 1,3 juta.

Rudy yang tinggal di Arcadia, California, juga dituduh melakukan kecurangan dalam mendapatkan pinjaman jutaan dolar untuk membiayai apa yang disebut jaksa sebagai “gaya hidup tingkat tingginya”.

Dalam hearing di Pengadilan Distrik AS di Los Angeles, jaksa mengatakan bahwa dari penggeledahan di rumah Rudy didapatkan benda-benda yang digunakan untuk memalsukan botol-botol anggur.

Rudy pernah menjual anggur-anggur yang total harganya mencapai US$ 35 juta pada tahun 2006. Penangkapan Rudy terjadi setelah adanya tuduhan penipuan yang diajukan ke pengadilan federal di New York. Para jaksa di kantor kejaksaan di Manhattan rencananya akan mengirimkan Rudy ke New York dalam beberapa hari mendatang.

Miliarder Amerika Serikat (AS) William ‘Bill’ Koch menggugat kolektor sekaligus penjual wine Rudy Kurniawan karena Rudy menjual wine palsu. 5 Botol wine yang didapatkan Koch dari Rudy, 3 di antaranya didapatkan dari lelang dan 2 botol dari penjualan privat. Apa saja?

Berikut data 5 botol wine palsu tersebut yang tercantum di surat gugatan miliarder AS William ‘Bill’ Koch yang diteken pengacaranya Bruce A Wessel dari firma hukum Irrel & Manella LLP pada 10 September 2009 yang didaftarkan ke Pengadilan Tinggi California untuk wilayah Los Angeles:

  1. Botol 1949 Chateau Lafleur, didapatkan saat pelelangan di rumah lelang the Acker, Merall & Condit Company (AMC) di New York pada 23 April 2005, senilai US$ 10.575 atau Rp 96,5 juta.
  2. Botol 1947 Chateau Petrus, dibeli dalam penjualan privat dari AMC pada Mei 2005 senilai US$ 30.000 atau Rp 273,9 juta.
  3. Botol 1945 Comte Georges de Vogue Musigny, Cuvee Vielles Vignes yang dibeli secara privat dari AMC pada Juli 2005, senilai US$ 11.500 atau Rp 104,9 juta.
  4. Dua botol 1934 DRC Romanee-Conti yang dibeli dalam pelelangan dari rumah lelang AMC di New York pada 27 Januari 2006 senilai US$ 25.850 atau Rp 236 juta.

Total kerugian yang diderita Koch dari 5 botol wine palsu itu adalah sekitar US$ 75.000 atau sekitar Rp 684 juta.

Sebelumnya diberitakan dalam surat gugatan Koch pada 10 September 2009 yang diajukan pada Pengadilan Tinggi California untuk wilayah Los Angeles, disebutkan, Koch dan kolektor wine lainnya membeli wine Rudy pada pelelangan wine namun tak tahu bahwa Rudy ternyata adalah penjual.

“Koch baru-baru ini menyatakan bahwa banyak koleksi botol-botol wine-nya adalah palsu. Koch telah melacak bahwa beberapa wine palsu dibeli dari Kurniawan (Rudy). Koch menuntut ini untuk menghentikan Kurniawan menjual wine palsu dan untuk kepentingan korban lain penjualan wine palsu Kurniawan,” tulis surat gugatan yang diteken pengacara Bill Koch, Bruce A Wessel dari firma hukum Irrel & Manella LLP.

Sebelumnya, The New York Times melaporkan, Rudy ditangkap oleh agen-agen dari skuad elite FBI yang berbasis di New York, yang fokus pada kejahatan-kejahatan yang melibatkan seni, barang-barang antik dan koleksi-koleksi lainnya.

Rudy ditahan pada Kamis (8/3/2012) waktu Amerika Serikat. Dia ditahan atas tuduhan mencoba menjual anggur palsu, yang jika asli, akan bernilai sekitar US$ 1,3 juta.

Rudy yang tinggal di Arcadia, California, juga dituduh melakukan kecurangan dalam mendapatkan pinjaman jutaan dolar untuk membiayai apa yang disebut jaksa sebagai “gaya hidup tingkat tingginya”.

Dalam hearing di Pengadilan Distrik AS di Los Angeles pada Kamis, 8 Maret waktu setempat, jaksa mengatakan bahwa dari penggeledahan di rumah Rudy didapatkan benda-benda yang digunakan untuk memalsukan botol-botol anggur.

Rudy pernah menjual anggur-anggur yang total harganya mencapai US$ 35 juta pada tahun 2006. Penangkapan Rudy terjadi setelah adanya tuduhan penipuan yang diajukan ke pengadilan federal di New York. Para jaksa di kantor kejaksaan di Manhattan rencananya akan mengirimkan Rudy ke New York dalam beberapa hari mendatang.

Isu pemalsuan wine menghangat pasca penangkapan kolektor wine kelas kakap, Rudy Kurniawan. Para penipu memiliki modus tersendiri.

“Secara umum ada dua modus memalsukan wine,” kata pakar wine Indonesia, Yohan Handoyo, dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (9/3/2012).

Modus pertama yakni penipuan yang dilakukan para produsen wine yang tidak bertanggng jawab. Mereka menggunakan jenis anggur yang tidak diperbolehkan atau mencampur wine dengan lebih banyak anggur kualitas rendahan.

Yohan mencontohkan, pada tahun 2010, seorang penghasil wine ternama dari Italia, Marchesi de Frescobaldi yang sudah membuat wine selama lebih dari 700 tahun dituntut.

“Ia dituntut karena menggunakan campuran anggur Italia Selatan dalam persentase yang jauh lebih tinggi dari yang diperbolehkan,” ujarnya.

Modus kedua, dilakukan oleh sejumlah orang yang memanfaatkan harga wine berkualitas atas dan langka yang kini meroket. Mereka memalsukan wine-wine yang menjadi favorit pembeli.

Wine-wine yang favorit dipalsukan adalah wine berharga mahal yang sudah berumur tua. Kebanyakan wine tersebut berasal dari Bordeaux dan dari tahun-tahun seperti 1921, 1945, 1947, dan 1961.

“Tapi dari tahun-tahun yang lebih muda pun tidak luput dari kejahatan seperti ini,” jelasnya.

Pada tahun 2002, Bea dan Cukai Hong Kong menyita Chateau Lafite 1982 palsu sebanyak 30 botol. Tahun 2003 polisi Italia menemukan Sassicaia tahun 1995 palsu sebanyak 20.000 botol.

“Tahun itu dianggap luar biasa. Jumlah botol di pasaran pada tahun itu sedikit sekali. Jadi mereka bikin wine palsu dari tahun itu,” ungkapnya.

Menurut Yohan, modus kedua ini dilakukan karena memang harga wine di rumah pelelangan sudah menyamai harga barang-barang seni. Menurut laporan majalah Wine Spectator di edisi Desember 2006, nilai penjualan rare and fine wines saja di rumah pelelangan seluruh dunia pada tahun tersebut mencapai $240.53 juta! Dan angka ini merupakan kenaikan 45% dari tahun sebelumnya.

Rudy diduga menggunakan modus kedua ini. Dia diadukan oleh William ‘Bill’ Koch, miliarder AS yang merasa tertipu oleh dagangan Rudy pada 2009. Rudy nantinya akan diadili di New York. Jaminan penangguhan penahanannya ditolak hakim karena hakim khawatir dia kabur ke Indonesia.

Rudy Kurniawan, kolektor sekaligus penjual wine asal Indonesia yang ditangkap FBI di Los Angeles (LA) AS, Kamis (8/3) ternyata sudah mendapat lisensi dari otoritas pengendalian alkohol California menjadi penjual wine. Toko atau butik wine Rudy bernama ‘The Wine Hotel’ yang kemudian berubah menjadi ‘Terroir’ di LA.

Hal ini terungkap dari surat gugatan miliarder AS William ‘Bill’ Koch yang diteken pengacaranya Bruce A Wessel dari firma hukum Irrel & Manella LLP pada 10 September 2009 yang didaftarkan ke Pengadilan Tinggi California untuk wilayah Los Angeles.

“Kurniawan diberikan lisensi oleh Departemen Pengendalian Alkohol Negara Bagian California (State of California Department of Alcohol Control) untuk menjual wine secara eceran. Dia mengoperasikan bisnis wine dengan nama Terroir, dan dia menerima lisensi dari Negara Bagian pada 2008,” demikian ditulis dalam surat gugatan itu.

Kemudian surat gugatan itu menunjukkan fakta gugatan, yaitu:

  1. Kurniawan disebut sebagai salah satu pembeli wine mahal dan langka dalam beberapa tahun ini. Pada Oktober 2008, Majalah LA Times menggambarkan Kurniawan sebagai ‘satu dari kolektor Burgundy di dunia’. Gudang penyimpanan wine miliknya dilaporkan berisi puluhan ribu botol wine, namun jumlah pastinya tidak diketahui.
  2. Kurniawan juga berkecimpung dalam bisnis wine eceran (retail). Dia mendirikan perusahaan yang dinamakan ‘Wine Hotel’ yang menawarkan penyimpanan wine, penjualan retail, tasting (pencicipan), dan kelas kursus. Perusahaan itu kini beroperasi dengan nama ‘Terroir’, dideskripsikan pada website-nya sebagai ‘full service wine retail store’.
  3. Kurniawan juga membeli dan menjual banyak botol-botol wine miliknya melalui penjualan privat dan lelang.
  4. Pada 2005 dan 2006, Koch (William ‘Bill’ Koch) membeli 5 botol wine dari Acker (rumah lelang, red). Acker tidak mengumumkan sumber-sumber botol wine yang dilelang karena terkait materi promosi dan iklan.
  5. Acker mengumumkan baru-baru ini bahwa 5 botol yang dijual ke Koch semuanya berasal dari Kurniawan. Masing-masing botolnya adalah palsu.
  6. Berdasarkan informasi dari investigasi yang dilakukan Koch, ditemukan bahwa Koch membeli botol wine palsu itu dari Kurniawan.

Sementara dari situs In & Around Los Angeles, ‘The Wine Hotel’ ini adalah butik wine yang melayani jasa penyimpanan wine dalam suhu yang sudah dikontrol. Dijelaskan pula bahwa The Wine Hotel ini sudah berubah menjadi ‘Terroir LA’.

“Tak begitu lama, pemilik baru mengambil alih dan memulai perubahan lambat yang bahkan lebih baik. Dari situ kami mengerti walaupun masih dipanggil dengan nama lamanya, The Wine Hotel, tujuannya adalah untuk mengubah menjadi ‘Terroir LA,’” tulis situs In & Around Los Angeles.

Bahkan situs yang mengulas tempat-tempat wisata dan kuliner di LA itu menyebutkan tempat ini ‘highly recommended’, untuk membeli bahkan sekadar mencicipi wine. Situs itu mencantumkan alamat ‘The Wine Hotel 5800 West Third Street Los Angeles, CA 90036 (323) 937-9463. Hours*: Monday-Saturday 11-7 Sunday CLOSED’.

Rudy Kurniawan, kolektor sekaligus penjual wine (anggur) asal Indonesia ditangkap di Los Angeles, Amerika Serikat, dibekuk oleh agen FBI, Kamis (8/3). Nama asli Rudy Kurniawan adalah Zhen Wang Huang. Masuk ke AS memakai visa pelajar.

Hal ini terungkap dari surat gugatan miliarder AS William ‘Bill’ Koch yang diteken pengacaranya Bruce A Wessel dari firma hukum Irrel & Manella LLP pada 10 September 2009, yang didaftarkan pada Pengadilan Tinggi California untuk wilayah Los Angeles.

Dalam surat gugatan itu Rudy disebutkan bernama asli Zhen Wang Huang, yang merupakan penduduk wilayah Los Angeles, California, AS. Rudy ternyata masuk ke AS memakai visa pelajar. Namun, tahun berapa Rudy pertama kali masuk ke AS, belum diketahui.

“Kurniawan tiba di California, kemungkinan memakai visa pelajar, untuk masuk California State Northridge (universitas, red) walaupun dia drop out setahun kemudian,” demikian ditulis dalam surat gugatan itu.

Rudy, imbuh surat gugatan itu, dikatakan tak pernah bersedia menjelaskan asal-usul persisnya dari mana uang yang keluarganya dapatkan. Rudy mengaku mendapatkan nama keluarga Indonesia yang berbeda dari nama keluarganya yang China.

“Dia terkadang melaporkan bahwa ayahnya masih hidup, dan di lain waktu, sudah meninggal. Ada banyak pertanyaan yang belum jelas yang butuh dibahas dalam penemuan,” tulis surat gugatan itu.

Pertanyaan yang perlu dijawab adalah:

  1. Bagaimana status keimigrasian saat dia memasuki pasar wine?
  2. Dari mana kekayaan keluarganya berasal, apakah nyata semua?
  3. Mengapa seseorang dengan usia 20-an menghabisan puluhan juta US Dollar untuk membeli wine dengan cepat?
  4. Mengapa dia membeli dan menjual wine bernilai jutaan US Dollar pada saat yang sama?
  5. Mengapa Kurniawan menawar wine saat pelelangan, apakah rumah lelang mengetahui bahwa dia memiliki uang untuk membayar wine?
  6. Apakah rumah lelang berdiskusi dengannya dan berapa banyak dia harus menawar? Apakah dia (Rudy) mengatur itu?
  7. Apakah hal itu dilakukan orang lain, atau apakah dia hanya boneka untuk orang lain dalam bisnis wine yang diuntungkan dari penawaran agresif untuk menaikkan harga?

Wine identik dengan gaya hidup kelas atas. Maklum saja, harganya selangit. Contohnya, 3 botol wine berkualitas tinggi merek DRC harganya setara satu Ferrari 430 baru!

Soal harga selangit ini diceritakan oleh pakar wine Indonesia, Yohan Handoyo, dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (9/12/2012).

Yohan menceritakan, Aubert de Villaine dari Domaine de la Romanee-Conti (DRC) – produsen wine termahal di dunia dari Burgundy, Prancis – suatu hari mengumpulkan para kolektor kelas kakap yang sangat sangat bangga dengan koleksi DRC Richebourg tahun 1947 mereka dan dengan nada prihatin menjelaskan bahwa pada tahun 1947 DRC Richebourg tidak diproduksi karena mereka sedang menanam ulang pohon anggur mereka.

“Jika saya salah satu dari kolektor itu, mungkin saya akan terkena serangan jantung mendadak karena sekarang ini harga 3 botol DRC ukurang Jeroboam harganya sama dengan satu Ferrari F430 baru!” ungkap Yohan.

Ferrari F430 adalah mobil sport besutan perusahaan otomotif Italia, Ferrari, yang keluar pada 2004-2009, yang harganya sekitar Rp 1,9 miliar.

Yohan juga menceritakan, pengadilan distrik New York malah baru-baru ini menyidangkan gugatan William I Koch, seorang miliarder asal Florida, yang murka karena yakin bahwa tiga botol wine milik Thomas Jefferson (presiden ketiga Amerika Serikat) yang dibelinya seharga lima miliar rupiah dari Hardy Rodenstock adalah wine palsu. Saking seriusnya ia menyiapkan gugatan ini, wine yang diyakininya palsu itu ia kirimkan ke para ilmuwan untuk dicek umurnya dengan teknologi carbon dating yang juga dipakai untuk menyelediki “kain kafan Yesus” (the shroud of Turin).

“Memang runyam nasib para wine lover saat ini. Setelah harus menghadapi resiko meminum wine rusak, wine yang sudah berubah menjadi cuka, dan harga wine yang menyebalkan, kini kita harus menghadapi risiko membeli wine yang palsu,” tuturnya.

Terkait wine palsu, Yohan menjelaskan, ada dua modus pemalsuan. Pertama, penggunaan bahan-bahan tidak berkualitas oleh produsen. Kedua, memalsukan wine mahal yang langka, yang harganya setara dengan karya seni.

Isu tentang wine mencuat pasca penangkapan kolektor wine kelas kakap asal Indonesia, Rudy Kurniawan (35).

Amerika Serikat Beri Israel Hadiah Senjata Modern Super Canggih Karena Mau Menunda Serangan Ke Iran Sampai Tahun 2013

Pemerintah Amerika Serikat dikabarkan menawarkan persenjataan canggih baru kepada Israel namun dengan syarat. Syaratnya, Israel harus berkomitmen untuk tidak menyerang fasilitas nuklir Iran tahun ini.

Demikian diberitakan harian Israel, Maariv seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (8/3/2012) yang mengutip diplomat-diplomat Barat yang tidak disebutkan namanya dan sumber-sumber intelijen.

Dituliskan media tersebut, saat kunjungan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu ke Washington pekan ini, pemerintah AS menawarkan kepada Israel untuk menyediakan bom-bom penghancur bunker dan pesawat-pesawat pengisi bahan bakar jarak jauh.

Bom-bom penghancur bunker yang ditawarkan AS tersebut jauh lebih hebat daripada bom-bom serupa yang dimiliki Israel saat ini. Dengan bom-bom tersebut, Israel akan bisa menargetkan fasilitas-fasilitas nuklir meski berada di bawah bebatuan yang kuat karena memiliki daya ledak beberapa kali lebih besar dari bom atom.

Sebagai imbalan atas persenjataan canggih tersebut, Israel setuju untuk menunda kemungkinan serangan terhadap Iran hingga tahun 2013, setelah pemilihan presiden AS pada November 2012 mendatang.

Pemerintah AS dan Israel belakangan terus bertentangan mengenai cara menghadapi ambisi nuklir Iran. Pemerintah AS berulang kali mengingatkan bahwa serangan militer terhadap Iran akan berkonsekuensi besar bagi wilayah Timur Tengah juga global.

Karena itu AS terus menyerukan sekutunya itu untuk bersabar menunggu hasil proses diplomatik dan sanksi-sanksi terhadap Iran. Sementara pemerintah Israel mencetuskan bahwa sanksi-sanksi terhadap Iran telah gagal membuat negeri itu menghentikan ambisi nuklirnya. “Kami tak bisa menunggu lebih lama lagi,” cetus Netanyahu beberapa hari lalu.

Mahasiswi Taiwan Yang Ditelanjangi Dua Monyet Ekor Panjang Saat Ke Sacred Monkey Forest di Ubud Bali Kini Menjadi Model Terkenal

Charmian Chen, mahasiswi asal Taiwan, tidak pernah menyangka bahwa insiden memalukan saat dua ekor monyet ekor panjang membuat atasan bikininya melorot justru membuat dia jadi tenar di dunia maya. Chen, yang kebetulan seorang model, mengunjungi kawasan Sacred Monkey Forest di Ubud, Bali, bulan lalu saat dua primata yang “kurang ajar” itu “menggerayangi” dia dan membuat atasan pakaiannya melorot.

charmianchen-sitting-monkey
Mahasiswi berusia 22 tahun itu sedang berlibur dan tengah memberi makan monyet-monyet ketika peristiwa tersebut terjadi. Dua monyet itu rupanya melihat ada biji jagung yang jatuh mengenai bagian atas tubuh Chen. Primata tersebut menginginkan biji jagung itu.

Charmian Chen  Sacred Monkey Forest Ubud - slip monkey-three-1
Meskipun Chen berusaha keras mengusir para monyet itu, salah seekor berhasil menarik bikini model itu hingga melorot. Chen pun jadi malu dan berusaha untuk menutupi dirinya sebaik mungkin dengan menggunakan tangannya.

charmianchen

Peristiwa liburan yang membuatnya malu dan terasa konyol itu justru telah membuat Chen jadi bintang tenar di internet. Foto-foto kejadian itu menjadi berita utama di Taiwan, sejumlah stasiun televisi meminta dia untuk tampil dan berbicara tentang kejadian tersebut. Foto-foto tersebut juga telah menyebar ke seluruh dunia, muncul di situs blog, forum, serta media di AS, Inggris, dan Eropa, demikian antara lain menurut Daily Mail dan The Sun, Selasa (29/11/2011).

monkey-top_2070847i
Chen bilang, “Saya sedang berlibur dan pada awalnya foto-foto itu lucu saja. Namun, ketika saya kembali ke Taiwan, semua orang mencoba menambahkan saya sebagai teman mereka di Facebook. Saya berpikir, ini agak aneh.”

Ia melanjutkan, “Kemudian salah satu dari mereka bilang, mereka sudah melihat foto-foto (saya) itu dan saya benar-benar terkejut. Hal berikutnya yang saya tahu adalah saya mendapat telepon dari stasiun televisi. Saya sedang berlibur di Bali, jadi saya tidak keberatan. Tapi, kembali di Taiwan, saya masih ingin belajar, jadi saya tidak ingin menjadi terkenal hanya karena payudara saya. Tapi sesungguhnya itu menyenangkan, orang mendatangi saya dan bilang ‘you’re the monkey girl’ dan hal itu membuat saya tertawa.”

charmianchen-monkey-ubud
Chen mengatakan, monyet-monyet itu, selain lapar, juga tertarik pada bikini-bikini yang dipakai banyak pengunjung. Dia menambahkan, “Saya pikir, ketika monyet-monyet itu menarik pakaian saya, itu karena ada jagung. Namun, staf taman itu mengatakan, pengunjung yang berbikini cerah memang menarik perhatian para monyet. Saya pikir, warna-warna cerah itu mereka kira mungkin buah. Saya tidak tahu tentang hal itu (sebelumnya), tapi sangat aneh ketika itu.”

charmianchen-bikini

charmianchen-bikini-white

charmian chen slip monkey-22

charmian_chen_slip_monkey_41

Libya Dibawah Pimpinan Muammar Khadafi Miliki Ribuan Senjata Kimia Yang Tidak Dilaporkan

Di bawah kepemimpinan Muammar Khadafi, Libya ternyata memiliki senjata kimia terselubung. Senjata yang disebut gas mustard tersebut tidak dilaporkan kepada Organisasi Pencegahan Senjata Kimia (OPCW), padahal Libya merupakan anggotanya.

Keberadaan senjata kimia ini diungkap oleh para pengawas OPCW usai datang berkunjung ke Libya, pekan lalu. Kedatangan tim pengawas OPCW tersebut untuk memeriksa temuan senjata sisa-sisa rezim Khadafi yang belum diketahui sebelumnya, yang ditemukan oleh Dewan Transisi Nasional (NTC) usai Khadafi lengser.

“Sesuai dengan permintaan pemerintah Libya, para pengawas datang untuk memeriksa persediaan senjata, terutama peluru meriam, yang kemudian ditetapkan sebagai senjata kimia dan seharusnya dilaporkan,” demikian pernyataan OPCW, seperti dilansir oleh AFP, Jumat (20/1/2012).

Meriam-meriam yang bisa diisi bahan kimia tersebut disimpan di sebuah gudang senjata di Ruwagha, Libya bagian tenggara. Diketahui bahwa meriam tersebut disimpan bersama dengan persediaan sulfur mustard dan senjata kimia lainnya dalam jumlah banyak. Untuk senjata kimia lainnya telah dilaporkan oleh Khadafi, namun ternyata tidak juga dihancurkan hingga sekarang.

“Libya sekarang harus mengajukan rincian rencana dan waktu untuk penghancuran semua bahan kimia yang telah dilaporkan kepada OPCW tersebut, tidak lebih dari tanggal 29 April 2012, itu batas akhir penghancuran,” imbuhnya.

Rezim Khadafi telah bergabung dengan OPCW yang bermarkas di Den Haag, pada 2004 lalu. Namun ternyata Khadafi hanya menghancurkan 45 persen persediaan senjata kimia yang dilaporkannya, sebelum fasilitas penghancuran rusak pada Februari 2011 lalu akibat serangan pemberontak.

Di gudang persenjataan tersebut ditemukan sebanyak 11,5 ton gas mustard. Jumlah ini belum ditambah dengan persediaan senjata yang ditemukan oleh NTC pada tahun lalu.