Kerja Sama APEC Di Bogor Tidak Membuahkan Hasil


Meskipun ada berbagai kemajuan, target yang ditetapkan para pemimpin Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik di Bogor tahun 1994 tidak sepenuhnya tercapai. Survei atas lima negara industri maju membuktikan target perdagangan dan investasi yang lebih dibuka yang dicanangkan lewat Deklarasi Bogor tidak sepenuhnya tercapai.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan hal tersebut dari Yokohama, Jepang, Senin (15/11), seusai menghadiri Pertemuan Pemimpin Ekonomi (AELM) ke-18 dalam kerangka Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), pekan lalu.

Deklarasi Bogor meminta negara maju anggota APEC agar membuka pasar dan investasi lebih lebar pada 2010. Negara berkembang diminta melakukan hal serupa pada 2020.

Tahun 2010 dilakukan penilaian terhadap lima negara maju (Australia, Kanada, Jepang, Selandia Baru, dan Amerika Serikat) dan negara berkembang paling maju di levelnya, yaitu Cile, Hongkong, Korea Selatan, Meksiko, Peru, Singapura, Malaysia, dan Taiwan. Para pemimpin APEC menggarisbawahi, ada sejumlah kemajuan, tetapi juga masih banyak yang harus dilakukan.

Masalah yang belum tuntas itu terkait liberalisasi perdagangan, investasi, dan sektor jasa yang belum sesuai dengan target semula. ”Namun, para pemimpin APEC sepakat bahwa Tujuan-tujuan Bogor (Bogor Goals) masih relevan sebagai visi dan panduan APEC,” kata Hatta.

Dalam pertemuan AELM ke-18 itu, Pemerintah Indonesia diundang Jepang untuk menyampaikan presentasi tentang pencapaian Bogor Goals. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan perkembangan APEC sejak berdiri hingga rencana-rencana ke depan.

Pengembangan kapasitas

APEC tidak mengikat anggota terhadap setiap kesepakatan yang dicapai. Semua kesepakatan dicapai berdasarkan konsensus dan implementasinya diserahkan kepada tiap-tiap anggota.

Dalam pembahasan mengenai isu perdagangan, APEC sepakat mengedepankan kerja sama untuk pengembangan kapasitas dan berbagi pengalaman strategis, yang berorientasi pada hasil, dan berjangka panjang.

Pengembangan kapasitas itu amat diperlukan untuk menyeimbangkan kemampuan ekonomi negara-negara anggota APEC yang amat berbeda.

Untuk itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri Jepang Tadashi Okamura menekankan, inovasi merupakan hal yang penting untuk mengatasi berbagai masalah di kawasan Asia Pasifik.

Inovasi tidak hanya terkait ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga berhubungan dengan upaya tambahan yang mengarah pada proses reformasi ekonomi, termasuk manajemen dan kerangka kerja sosial. ”Jika APEC dapat mencapai itu, saya percaya hal itu akan meningkatkan vitalitas APEC,” tuturnya

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s