Isu Perang Kurs Mata Uang Semakin Melemahkan Posisi Dollar Amerika


Harga minyak mentah jenis Brent North Sea naik menjadi 84,23 dollar AS di New York. Harga emas ditutup pada harga 1.379,50 dollar AS per troy ounce, sebuah rekor baru, di Hongkong, Jumat (15/10). Hal itu terjadi seiring dengan anjloknya kurs dollar AS terhadap yen.

Dalam satu dekade terakhir muncul gejala kuat, di mana setiap kali dollar AS anjlok terhadap euro atau terhadap mata uang dunia kuat lainnya selalu diikuti dengan naiknya harga komoditas, seperti minyak dan emas.

Anjloknya kurs dollar AS membuat investasi global atau nilai aset-aset dalam denominasi dollar AS anjlok jika dikalkulasikan kembali dengan mata uang kuat lainnya. Keadaan ini membuat para investor mengompensasikannya dengan memburu komoditas safe haven, yang membuat harga semakin naik.

Pada perdagangan Jumat, kurs 1 euro setara dengan 1,4076 dollar AS. Kurs yen adalah 81,24 yen per dollar AS, terendah dalam 15 tahun terakhir.

Goldman Sachs memperkirakan, harga minyak bisa mencapai 92 dollar AS per barrel, bahkan bisa mencapai 101 dollar AS dalam 12 bulan mendatang.

Anjloknya kurs dollar AS mudah dijelaskan, yakni pesimisme pasar akan kebangkitan ekonomi AS. Stimulus ekonomi AS dinilai gagal.

Namun, AS mengatakan, kehancuran ekonomi mereka adalah akibat sikap China yang membuat kurs yuan rendah. Pemerintah AS sedang berpikir untuk memberikan label manipulator kurs kepada China. Alasannya, kurs yuan dipatok 6,8 yuan per dollar AS atau 40 persen lebih rendah daripada seharusnya sehingga barang-barang China menyerbu pasar AS dan merebut pekerjaan di AS.

Juru bicara Departemen Perdagangan China, Yao Jian, mengatakan, kekacauan ekonomi AS sebaiknya jangan dijadikan sebagai alasan untuk mencari kambing hitam.

AS adalah negara dengan utang besar dan tabungan rendah, di sisi lain memiliki konsumsi tinggi dan produktivitas yang rendah. Kekacauan korporasi raksasa AS yang berjatuhan karena bangkrut adalah buah dari kerakusan Wall Street yang mengacaukan ekonomi AS.

Mengkhawatirkan

Apa pun argumentasi di balik kekacauan itu, Perdana Menteri Jepang Naoto Kan mengatakan kekhawatirannya bahwa perang kurs sedang terjadi. ”Masalahnya, gejolak kurs akhir-akhir ini agak luar biasa.”

Sementara itu, Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) juga mengingatkan dampak dari gejolak kurs global pada penurunan arus investasi global.

Lembaga UNCTAD menyatakan, aliran investasi asing langsung dapat terpukul jika ”perang kurs mata uang” terus merebak dan semakin meluas.

Menteri Strategi dan Keuangan Korea Selatan Yoon Jeung-hyun juga mengatakan, tensi antara negara maju dan berkembang mengenai kurs mata uang semakin lama semakin meluas. ”Pemulihan ekonomi global bisa semakin tertunda,” katanya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s