Penguasa Rusia di Kremlin, Kamis (24/7), membantah laporan yang menyebutkan rencana negara itu membuka pangkalan militer di luar Rusia, termasuk menempatkan pesawat pengebom Tu-160 yang mampu membawa senjata nuklir di Kuba. AS bereaksi keras dengan laporan rencana Rusia ini.
”Rusia yang menganut kebijakan damai tidak berniat membuka pangkalan militer apa pun di wilayah negara lain,” ujar Ilshat Baichurin, juru bicara Departemen Pertahanan Rusia, sebagaimana dikutip kantor berita RIA Novosti.
”Kami melihat berita pendek yang mengutip sumber tanpa identitas ini sebagai kesalahan informasi,” kata Baichurin berkaitan dengan berita di surat kabar Izvestia edisi Senin lalu.
Harian Rusia Izvestia mengutip dari sumber tingkat tinggi Rusia menyebutkan, Moskwa memutuskan untuk menempatkan pesawat pengebom supersonik Tu-160 dan pengebom strategis Tu-95 Bear bermesin propeler di Kuba. Kedua pesawat ini mampu membawa senjata nuklir.
Kebijakan Moskwa ini, menurut Izvestia, sebagai balasan atas rencana AS dan NATO menempatkan sistem pertahanan rudal di Polandia dan Ceko. Rusia sejak awal menolak keberadaan sistem pertahanan rudal yang sudah melanggar kesepakatan Pakta Kekuatan Konvensional di Eropa (CFE) dengan NATO.
Washington marah
Sinyalemen Izvestia ini membuat Washington geram. Jenderal terkemuka AS, Norton Schwartz, Selasa, mengatakan, Rusia akan melanggar ”garis merah” dengan menggunakan Kuba, yang berjarak 150 km dari garis pantai AS.
Pemimpin Kuba Fidel Castro menegaskan, pihaknya tidak perlu minta maaf kepada Washington soal laporan Rusia memulai penerbangan pengebom jarak jauh ke Kuba. Castro juga mengatakan, negerinya punya ”saraf baja dari era genosida”. ”Kami punya saraf baja dan AS sudah paham itu,” ujar Castro menyinggung situasi Perang Dingin.
Sekalipun belum ada pengumuman resmi, situasi ini mengingatkan pada Krisis Rudal antara AS dan Uni Soviet tahun 1962. Soviet saat itu menggelar rudal di Kuba, membuat Presiden AS John F Kennedy mengancam menyerang Kuba. Soviet pun membongkar rudal-rudal itu.
biarin amerika tau sekarang “who rules the world’.