Gadis Yazidi Kisahkan Pengalaman Horornya Menjadi Budak Seks ISIS

Seorang gadis muda dari komunitas agama minoritas Yazidi yang ditangkap Negara Islam di Irak dan Suriah atau yang lebih dikenal dengan nama ISIS melukiskan horor yang dialaminya selama disekap menjadi budak seks kelompok ekstremis itu dan satu satu harapannya agar pasukan muslim Kurdi Peshmerga (milisi Islam Kurdi) datang menjadi pembebas bagi mereka.

Gadis 17 tahun itu mengatakan, dia merupakan salah satu dari sekelompok 40-an perempuan Yazidi yang masih disekap dan hingga kini setiap hari mengalami pemerkosaan oleh kaum militan ISIS. Gadis itu mengatakan, dirinya ditangkap 3 Agustus lalu dalam sebuah serangan ISIS terhadap kota Sinjar di Irak utara dan sekarang sedang disekap dalam perbudakan seksual dengan kondisi mengerikan di sebuah desa di selatan Mosul.

Sejumlah ekstremis asal Inggris yang berperang di Suriah dan Irak telah membual di Twitter dan media sosial lainnya bahwa sejumlah perempuan Yazidi telah diculik dan dijadikan “budak seks”. Gadis muda itu mengatakan, dia sedang ditahan di sebuah bangunan dengan jendela berjeruji dan dijaga sejumlah pria bersenjata.

“Saya mohon kepada Anda untuk tidak memublikasikan nama saya karena saya sangat malu dengan apa yang mereka lakukan terhadap saya. Sebagian diri saya sudah ingin mati saja. Namun, yang sebagian masih berharap bahwa saya akan diselamatkan dan sehingga saya akan dapat merangkul orangtua saya sekali lagi,” katanya kepada harian Italia, La Repubblica. Laporan La Repubblica itu kemudian dikutip sejumlah media lain, antara lain harian The Telegraph dari Inggris. La Repubblica berhasil mewawancarai gadis itu dengan menelepon ke telepon genggamnya. Nomor kontaknya diberi oleh orangtuanya yang kini berada di sebuah kamp pengungsi di Kurdistan, Irak.

Perempuan itu mengatakan, para penculiknya awalnya menyita ponselnya dan semua ponsel milik perempuan lainnya. Namun, para penculiknya kemudian “mengubah strategi”. Mereka mengembalikan ponsel-ponsel para perempuan itu sehingga mereka bisa menceritakan kepada dunia luar bagaimana pengalaman mereka menjadi budak seks yang terjadi pada mereka. “Untuk lebih menyakiti kami, mereka mengatakan kepada kami agar menjelaskan secara rinci kepada orangtua kami apa yang mereka lakukan. Mereka menertawakan kami karena mereka berpikir mereka tak terkalahkan. Mereka menganggap diri mereka “superman”. Namun, mereka adalah orang-orang yang tidak punya hati.

Gadis itu melanjutkan, “Para penyiksa kami bahkan tidak mengasihani sejumlah perempuan yang (disekap) bersama dengan anak-anak mereka. Mereka juga tidak mengasihani sejumlah gadis yang masih belia. Beberapa dari kelompok kami bahkan belum genap 13 tahun usianya. Beberapa dari mereka kini tidak lagi mengucapkan sepatah kata pun.”

Perempuan itu, yang oleh La Repubblica diberi nama samaran Mayat, mengatakan bahwa para perempuan itu diperkosa di lantai paling atas bangunan, di dalam tiga bilik. Para gadis dan perempuan dewasa itu diperkosa sampai tiga kali sehari oleh kelompok-kelompok pria ISIS yang berbeda-beda.

“Mereka memperlakukan kami laksana kami adalah budak mereka. Orang-orang itu memukul dan mengancam kami ketika kami mencoba untuk menolak. Saya sering berharap agar mereka memukul saya sedemikian parah sehingga saya mati.” Gadis itu mengatakan bahwa beberapa dari kaum militan itu merupakan orang-orang muda yang baru berperang di Suriah, sementara yang lain merupakan orang-orang tua.

“Jika suatu hari penyiksaan ini berakhir, hidup saya akan selalu ditandai oleh apa yang saya alami dalam minggu-minggu ini. Bahkan, jika saya bertahan hidup, saya tidak tahu bagaimana saya akan menghilangkan horor ini dari pikiran saya. Kami telah meminta para sipir untuk menembak mati kami, membunuh kami, tetapi kami terlalu berharga buat mereka. Mereka terus mengatakan kepada kami bahwa kami adalah orang-orang kafir dan bahwa kami merupakan milik mereka, seperti rampasan perang. Mereka mengatakan kami seperti kambing yang dibeli di pasar.”

Para perempuan tawanan itu berharap datangnya penyelamatan, baik oleh pasukan darat anti-ISIS maupun intervensi internasional. “Satu-satunya harapan adalah bahwa pasukan muslim Kurdi Peshmerga (milisi Islam Kurdi) datang dan menyelamatkan kami. Saya tahu Amerika mengebom (posisi ISIS). Saya ingin mereka bergegas dan mengusir mereka semua keluar karena saya tidak tahu berapa lama lagi saya bisa bertahan. Mereka sudah membunuh tubuh saya. Sekarang mereka sedang membunuh pikiran saya.”

Dia mengatakan, dia pernah mendengar sejumlah wanita Kristen Arab juga telah ditangkap dan dipenjarakan sebagai budak seks oleh ISIS. Namun, kelompoknya hanya terdiri para perempuan Yazidi, yang semuanya berasal dari kota Sinjar.

Kota itu terletak di kaki Gunung Sinjar, di mana ribuan warga Yazidi terpaksa mengungsi bulan lalu setelah dikepung ISIS. Walau banyak dari pengungsi itu akhirnya berhasil melarikan diri ke gunung, yang lainnya ditangkap kelompok ekstremis.

PBB telah menuduh ISIS melakukan pembersihan etnis di Irak utara. Kelompok militan itu dikatakan telah melakukan penahanan dan eksekusi massal di kantong kelompok-kelompok minoritas di wilayah itu.

Identitas Jack The Ripper Terungkap Melalui Test DNA

Identitas pelaku pembunuhan berantai yang paling ditakuti di Inggris, Jack the Ripper, akhirnya terkuak. Dari hasil tes DNA, ilmuwan menemukan bahwa Jack the Ripper bernama asli Aaron Kosminski, seorang imigran Polandia yang merupakan salah satu pasien rumah sakit jiwa. Penyelidikan ini dimulai saat pengusaha Russel Edwards membeli selendang di badan lelang khusus barang-barang langka. Belakangan syal itu diketahui milik salah satu korban Jack, Catherine Eddowes. Menurut catatan polisi, pembunuhan Eddowes terjadi 126 tahun silam.

Mengetahui hal itu, Edwards lalu meminta bantuan dokter Jari Louhelainen untuk menyelidiki bekas darah yang terdapat pada syal itu. Menggunakan bantuan teknologi canggih, Louhelainen, yang merupakan ahli genetika terkenal di dunia, mengekstrak DNA Jack dan membandingkannya dengan DNA keturunan keluarga Eddowes.

“Untuk mengambil sampel DNA, saya menggunakan teknik ciptaan saya sendiri untuk menarik materi genetik asli dari syal. Lalu, saya menstabilkan dan mengurutkan DNA-nya. Ketepatan temuan ini mencapai 99,2 persen. Namun, dengan pengujian kedua, saya menemukan kecocokan hingga 100 persen,” kata Louhelainen, seperti dilaporkan Daily Mail, Sabtu, 6 September 2014.

Aaron Kosminski merupakan satu dari tiga tersangka yang paling diduga kuat sebagai Jack the Ripper. Kepala Inspektur Donald Swanson telah mencatat nama Kosminski sejak awal penyelidikan. Dari hasil laporan, Kosminski diketahui menderita skizofrenia. Saat Kosminski berhasil ditangkap, polisi tidak memiliki cukup bukti untuk menjebloskannya ke bui. Padahal keterangan dari saksi sudah sangat kuat. Meski tak dipenjara, Kosminski harus menginap di rumah sakit jiwa selama hidupnya. “Saya yakin Kosminski adalah orang yang kami cari,” kata Edward.

Jack the Ripper melakukan pembunuhan di jalan-jalan kecil di Kota London sejak 1888. Kasus pembunuhan Jack The Ripper terus menjadi misteri dan tidak pernah terpecahkan sejak saat itu. Jack the Ripper telah membunuh lebih dari 100 orang selama aksinya. Beberapa korbannya bahkan adalah orang-orang penting di Inggris, seperti cucu Ratu Victoria bernama Pangeran Albert Victor, pelukis Walter Sickert, dan mantan Perdana Menteri Libera William Gladstone. Temuan Louhelainen akan diterbitkan pekan ini dalam buku berjudul Naming Jack The Ripper.

Identitas pembunuh berantai yang terkenal di London, Inggris, Jack The Ripper, akhirnya terungkap. Lewat hasil penelitian DNA, diketahui bahwa Jack The Ripper bernama asli Aaron Kosminski. Dikutip dari Daily Mail, Sabtu, 6 September 2014, Kosminski adalah seorang imigran dari Polandia yang bekerja di Whitechapel, rumah bagi para pengungsi Yahudi, di East End London, Inggris, sebagai seorang tukang cukur rambut pada 1881. Ia pindah bersama istrinya, Golda nee Lubnowska.

Aksi Jack The Ripper mencuat saat ditemukannya sebelas gadis yang tewas di Whitechapel pada 1888. Di antara tiga pelaku yang diduga menjadi pembunuh, menurut Kepala Penelitian Donald Swanson, Kosminski adalah orang yang paling mungkin menjadi Jack The Ripper. Namun, karena kekurangan bukti, Kosminski tidak bisa ditahan begitu saja. Padahal dugaan telah diperkuat dengan pengakuan para saksi dan keluarga korban.

Pada 1891, Kosminski dilaporkan mengalami halusinasi dan gangguan jiwa. Ia masuk ke Rumah Sakit Jiwa Colney selama tiga tahun. Kosminski dipindahkan lagi ke Leavesden Asylum karena sering mengalami halusinasi, paranoid, dan self-abuse. Karena dihantui paranoid yang amat parah, Kosminski tidak mau menerima makanan dari orang lain. Ia lebih memilih makan sampah. Hal itu menyebabkan berat badannya turun drastis hingga 44 kilogram. Pada Februari 1919, ia meninggal saat usianya 53 tahun.

Aaron Kosminski diklaim sebagai orang di balik sosok pembunuh legendaris Jack The Ripper pada 1888 di London. Aaron adalah imigran Yahudi asal Polandia yang diduga kuat sebagai pembunuh berantai itu. Polisi menyebut Jack pembunuh profesional karena mampu beraksi di jalan yang gelap dan sempit, serta membunuh korban hanya dengan pisau.

Dikutip dari Casebook.org, pada 1888 hingga 1891, kematian sebelas wanita di sekitar Whitechapel, distrik kecil di London timur, membuat polisi menggelar investigasi dengan sandi “Pembunuh Whitechapel”. Tujuh korban tewas dengan leher terputus dan empat lainnya dimutilasi. Kepala Inspektur Donald Swanson, yang mengepalai penyelidikan, telah mengantongi satu nama, yaitu Kosminski.

Dari kasus “Pembunuh Whitechapel”, polisi menemukan kemiripan pola penyerangan dalam beberapa kasus sebelumnya. Jack akan berhadapan langsung dengan korban dan segera menyergapnya. Jack akan mencekik korban agar tidak bisa napas hingga mati. Beberapa peneliti kasus Jack juga menyebut Jack melakukan anal seks dengan korban setelah membuat mereka pingsan.

Pencekikan hingga mati itu dilakukan agar korban tidak berteriak dan menghindari saksi mata. Setelah korban diletakkan di tanah, Jack akan menggorok leher korban. Hal ini terlihat dari cipratan darah yang mengalir ke samping atau bawah korban. Menurut polisi, teknik pembunuhan ini sangat menguntungkan Jack karena ia tidak akan terkena cipratan darah. Setelah tewas, korban lantas dimutilasi. Dari kebanyakan kasus, ginjal dari jenazah korban sudah tidak ada. Menurut ahli medis, Jack sangat memahami cara memotong ginjal tanpa merusak organ lainnya. Di kalangan pembunuh, pengambilan organ tubuh adalah “piala” yang patut dibanggakan.

Selain mengincar wanita, beberapa kali Jack juga menyerang orang-orang penting di Inggris. Jack juga membunuh cucu Ratu Victoria, Prince Albert Victor, pelukis terkenal Walter Sickert, dan mantan Perdana Menteri Liberal William Gladstone. Dari sekian banyaknya korban, kematian Catherine Eddowes menjadi kunci penemuan identitas Jack. Syal yang dikenakan Eddowes pada 126 tahun lalu ternyata masih menyimpan DNA Kosminski, yaitu dari sperma yang terciprat pada syal, dan merujuk pada identitas Kosminski.

Kisah Gadis Remaja Yazidi Yang Berhasil Meloloskan Diri Saat Akan Dijual Jadi Budak Seks Oleh ISIS

Saat Adeba Shaker tiba di sebuah rumah di Raabia, Irak, setelah diculik kaum militan Negara Islam atau ISIS bulan lalu, salah seorang dari penculiknya menerima panggilan telepon. Tak lama kemudian, kelima pria di apartemen itu mengambil senjata mereka dan bergegas keluar. Shaker, gadis berusia 14 tahun dari etnis minoritas Yazidi, mendengar suara sejumlah truk meninggalkan tempat itu. Suasana lalu senyap. Itu kali pertama dalam 20 hari dia dan seorang gadis lain yang disekap bersamanya berada dalam kondisi sendirian, tanpa penjaga, dan pintu terbuka.

Kaum militan ISIS telah memperdagangkan Shaker dari desanya di Sinjar di Irak timur laut ke perbatasan Suriah. Gadis itu dijadikan “hadiah seks” untuk para anggota militan di garis depan. Dia harus menganut Islam dan dipaksa untuk menikah dengan salah satu dari mereka.

“Ketika (para anggota militan itu) meninggalkan kami, saya panik. Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya lihat sebuah tas yang penuh ponsel dan saya menelepon saudara saya,” kata Shaker via telepon dari sebuah kamp untuk pengungsi di Irak.

Di telepon, Samir, kakaknya, menyuruh gadis itu pergi ke sebuah rumah terdekat dan meminta bantuan serta petunjuk untuk mencapai perbatasan tempat pejuang dari Partai Pekerja Negara Kurdistan (PKK) sedang memerangi kelompok militan ISIS. Samir mengatakan bahwa PKK akan membantu dia. “Itu seperti berjudi karena saya tidak tahu siapa yang menjadi teman dan siapa yang menjadi musuh,” kata Shaker.

Dia dan temannya memutuskan untuk mencoba keberuntungan mereka. Kedua gadis itu menyelinap keluar dari rumah tersebut dan mengetuk pintu rumah tetangga. “Kami menjelaskan situasinya kepada mereka dan mereka menunjukkan kepada kami jalan ke perbatasan. Kami tidak pernah menoleh.”

Kedua gadis itu berangkat ke garis depan.
“Saya tak bisa berjalan tegak, kaki saya gemetaran dan jantung saya berdetak sangat cepat. Kami berlari, berjalan, dan kami tidak pernah melihat ke belakang,” kata Shaker. Setelah dua jam berjalan, mereka mendengar suara tembakan. Saat mereka mendekat, mereka melihat sekelompok pejuang PKK. Mereka pun mulai berlari ke arah pejuang PKK itu. “Saya menangis dan tertawa pada saat bersamaan,” katanya. “Kami bebas!”

Adeba Shaker adalah salah satu dari beberapa warga Yazidi yang lolos dari kaum militan ISIS yang telah mengambil alih sebagian besar wilayah Irak dan Suriah dalam beberapa bulan terakhir. Puluhan ribu warga Yazidi melarikan diri dari tanah air leluhur mereka di Sinjar dan desa-desa lain. Mereka lari dari kejaran kelompok militan ISIS, yang menganggap warga Yazidi sebagai penyembah setan yang harus menganut Islam versi radikal kelompok itu atau mereka akan mati.

Selain Shaker, kelompok militan itu menculik sedikitnya 73 perempuan dan anak-anak dari desanya dan memperdagangkan mereka di Irak utara. Shaker ingat bagaimana para anggota militan itu memisahkan perempuan tua dari kelompok mereka. Perempuan muda dan para gadis remaja dilaporkan menghadapi nasib yang mengerikan. Setelah diperkosa beramai-ramai, mereka akan dijual kepada penawar tertinggi.

Perempuan dewasa dan gadis remaja dilelang seharga sedikit 10 dollar AS (atau sekitar Rp 100.000), kata sejumlah laporan. Yang lainnya, seperti Shaker, harus menikah dengan para anggota militan. “Saat paling menakutkan adalah pada malam pertama setelah mereka menangkap kami,” kenang Shaker. “Kami tiba di sebuah kantor polisi di kota lain. Semua orang dalam kondisi menangis dan menjerit. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami.”

Shaker sebelumnya tinggal di sebuah desa kecil bersama 25 anggota keluarganya. Dia mencintai sekolah dan ingin menjadi seorang guru. Saat keluarga itu mendengar bahwa anggota militan ISIS mendekat, mereka pun lari ke desa terdekat. Namun, kaum militan mengejar mereka tak lama kemudian.

“Mereka berjanji, mereka tidak akan menyakiti kami jika kami menyerah,” kata gadis itu. “Mereka memisahkan perempuan dewasa dan anak-anak dari para lelaki…. Mereka kemudian mengambil semua perhiasan, uang, telepon, dan kendaraan kami.” Dua jam kemudian, semua tahanan dimuat ke sejumlah truk dan dipindahkan ke tujuan yang tidak diketahui. “Awalnya (mereka) berusaha bersikap baik kepada kami …. Mereka mencoba menenangkan kami.” Tak lama setelah itu, sikap mereka berubah dan mereka menjadi “kasar dan agresif”.

Akhirnya, Shaker dan keluarganya tiba di kota Badoosh, dekat Mosul, tempat mereka bergabung dengan sekitar 1.000 perempuan Yazidi dan anak-anak lainnya. Dia dipisahkan dari ibunya dan seluruh keluarganya. Gadis itu kemudian dikirim ke rumah di Raabia itu, tempat dia berhasil melarikan diri.

Shaker kini aman di sebuah kamp pengungsi di Irak. Di situ dia bertemu kembali dengan dua saudara laki-lakinya. Dia belum tahu nasib 22 anggota keluarga lainnya yang masih berada di tangan kelompok militan ISIS. “Kadang-kadang saya tidak bisa tidur pada malam hari. Saya sangat khawatir dengan mereka,” katanya. “Itulah waktu terburuk … Semua orang tertidur dan saya masih berpikir tentang pelarian diri saya.”

“Saya tahu, saya beruntung. Tuhan menyelamatkan saya.”

Kisah Prajurit Syiah Lolos Dari Pembantaian ISIS Meski Sudah Dieksekusi

Saat pasukan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menggulung wilayah utara Irak pada awal Juni lalu, ratusan tentara Irak menjadi korban baik di dalam baku tembak maupun dieksekusi setelah menyerah.

Salah satu prajurit Irak yang ditangkap ISIS saat merebut kota Tikrit pada 12 Juni lalu adalah Ali (23). Bersama ratusan orang lainnya, Ali tertangkap saat berusaha kabur ke jalan raya utama dari sebuah pangkalan militer.

Ali mengatakan, dia ada di antara para tahanan yang ditampung di sebuah kontainer di sebuah istana di kota itu sebelum dibawa dalam sebuah kelompok berisi 10 orang pada pukul 17.00 waktu setempat.

Pasukan ISIS kemudian memerintahkan ke-10 orang itu berbaris untuk ditembak satu per satu dengan menggunakan pistol.

Kepada Human Right Watch (HRW), Ali mengatakan, dia selamat dengan cara menjatuhkan diri dan berpura-pura mati. Ali sungguh beruntung karena entah bagaimana peluru dari pistol yang ditembakkan sang eksekutor meleset dari tubuhnya.

Setelah berpura-pura mati, Ali menunggu selama beberapa jam sebelum meloloskan diri di dalam kegelapan malam.

Seorang juru bicara HRW kepada harian The Independent mengatakan, Ali kemudian bersembunyi di kawasan yang dipenuhi alang-alang selama beberapa hari sebelum memberanikan diri keluar dari persembunyiannya. “Dia kini sudah aman berada jauh di luar wilayah yang dikuasai ISIS,” kata juru bicara HRW itu.

Pada Juni lalu, ISIS mengklaim telah mengeksekusi 1.700 orang tahanan Irak, yang menurut mereka adalah para prajurit Irak yang memeluk Syiah. Tak lama setelah klaim itu, ISIS mengunggah serangkaian foto yang memperlihatkan para tahanan dinaikkan ke atas sejumlah truk. Foto lain memperlihatkan para tahanan dengan tangan terikat berbaring telungkup di dekat sebuah parit yang dangkal.

Pria Inggris Yang Akan Dibunuh ISIS Ternyata Pernah Membela Muslim Bosnia

Seorang pria Inggris yang disandera Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan diancam akan dieksekusi ternyata adalah seorang pekerja kemanusiaan yang pernah membantu komunitas Muslim di Balkan.

Pria yang oleh media Inggris tidak disebutkan namanya karena permintaan keluarga itu ditampilkan dalam video yang berisi eksekusi jurnalis AS, Steven Sotloff. Pria berusia 44 tahun itu sudah disandera selama 17 bulan sejak diculik di dekat kamp pengungsi Atmeh di dekat perbatasan Suriah dan Turki pada Maret 2013.

Seorang mantan rekan kerja pria ini kepada harian The Telegraph mengatakan, dia pernah bekerja untuk sebuah organisasi amal untuk membangun kembali masyarakat di Kroasia pada 1999-2004. Dia dan istrinya kemudian menetap di dekat kota Zagreb, Kroasia.

“Saya ikut membantunya membangun kembali komunitas masyarakat di sana. Kami membangun kembali rumah, memulai kembali sekolah yang hancur dalam perang,” ujar sang kolega.

“Dia membantu semua pihak, Serbia, Kroasia, membantu Muslim. Dia sangat adil kepada mereka semua dan ingin meningkatkan kehidupan semua etnis. Itulah sebabnya saya sangat terkejut ketika dia diculik Muslim karena dia berusaha keras membantu mereka,” tambah pria itu.

Dalam video yang dirilis ISIS itu, pria yang mengeksekusi Sotloff memperlihatkan sandera Inggris itu di hadapan kamera. Dia mengancam akan membunuh ayah dua anak itu jika AS dan Inggris tidak berhenti memerangi ISIS.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Inggris mengatakan, pemerintah akan mempelajari semua kemungkinan untuk melindungi sandera Inggris itu. Pemerintah Inggris mengakui, pasukan Amerika Serikat pernah berupaya untuk membebaskan dia, tetapi operasi itu berujung pada kegagalan

NATO Akan Kirim Pasukan Untuk Lawan Pasukan Rusia Di Ukraina

Para pemimpin Organisasi Pertahanan Atlantik Utara, NATO, dalam sebuah pertemuan di Inggris Raya menunjukkan sikap bersatu melawan Rusia. Sikap tersebut diambil terkait dengan konflik di Ukraina setelah Prancis menunda pengiriman kapal perang ke Moskow. Selain masalah Ukraina, para pemimpin negara-negara anggota NATO pada pertemuan dua hari, Kamis-Jumat, 4-5 September 2014, di Newport, Wales, tersebut membahas berbagai ancaman baru, yakni kelompok Islamic State of Iraq dan Syria (ISIS).

Komandan tertinggi NATO, Anders Fogh Rasmussen, pada pertemuan itu memperingatkan bahwa intervensi Rusia di Ukraina menjadi sebuah ancaman sangat serius sejak Perang Dingin. Pernyataan keras Rasmunssen tersebut disusul sikap Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Perdana Menteri Inggris David Cameron. Kedua pemimpin negeri maju itu dalam pernyataan bersama, sebagaimana ditulis koran Times, Kamis, 4 September 2014, bersumpah akan berdiri tegak mendukung Ukraina melawan Rusia.

“Rusia telah merobek buku aturan secara ilegal. Negeri itu mencaplok Crimea dengan mengirimkan bala tentara ke Ukraina dan melakukan pelanggaran terhadap negara berdaulat,” ucap kedua pemimpin. Presiden Rusia Vladimir Putin dalam telewicara via telepon dengan Presiden Komisioner Eropa Jose Manuel Barroso mengatakan Rusia dapat saja menguasai Kiev, ibu kota Ukraina, dalam tempo dua minggu. Namun, ia tidak melakukan hal itu.

“Jika mau, saya dapat ambil Kiev dalam dua minggu,” kata Putin seperti dilansir The Huffington Post, 2 September 2014. Putin bersikeras bahwa Rusia akan terus melindungi kepentingan nasionalnya di Ukraina. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Senin lalu mengatakan Moskow menyangkal bahwa mereka telah melakukan intervensi militer di Ukraina. Lavrov menegaskan negaranya tidak bermaksud mengabaikan ancaman sanksi berat dari Barat.

Di House of Commons, Perdana Menteri Inggris David Cameron mengecam keberadaan pasukan militer Rusia di tanah Ukraina. Hal tersebut dianggap sebagai langkah ilegal dan tidak dapat diterima. Moskow dituduh tidak memberikan pilihan yang lebih demokratis terhadap Ukraina.

Sampai saat ini, konflik di sebelah timur Ukraina masih terus berlangsung. Perundingan antara pemerintah Ukraina dengan pemimpin kelompok separatis sekarang dilakukan di Minsk, ibu kota Belarusia. Pada Ahad lalu para pemimpin di Eropa memerintahkan adanya pembahasan terkait sanksi baru kepada para pejabat pertahanan, energi dan sektor finansial Kremlin.

Kondisi menjadi semakin kompleks karena Presiden Ukraina Petro Poroshenko akan menghadiri pertemuan dengan para pemimpin negara anggota NATO minggu ini di Wales. Padahal, Ukraina bukanlah anggota NATO. Di lain pihak, pasukan Inggris akan ambil bagian dalam latihan militer dengan negara-negara Blok Timur.

Gagal Dikendalikan … Korban Tewas Ebola Sudah Capai 1.900 Orang

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan korban tewas akibat virus ebola di Afrika barat sudah mencapai 1.900 orang. Direktur Jenderal WHO, Margaret Chan, menyatakan ada 3.500 kasus ebola yang telah terkonfirmasi, dan kebanyakan kasus berada di tiga negara, yaitu Guinea, Sierra Leone, dan Liberia.

“Wabah ini berkembang cepat di saat negara-negara tersebut berupaya keras mengendalikan penyebarannya,” kata dia seperti dikutip dari BBC, Rabu, 3 September 2014. WHO dijadwalkan mengadakan pertemuan untuk membahas proses perawatan yang paling menjanjikan bagi pasien dan mendiskusikan bagaimana mempercepat pengujian obat untuk ebola agar bisa segera diproduksi.

Para pakar pengendalian penyakit, peneliti medis, pejabat dari negara-negara yang terinfeksi, dan spesialis etika pengobatan akan menghadiri pertemuan di Jenewa untuk membahas kasus ebola tersebut. Sebelumnya, WHO telah memperingatkan bahwa lebih dari 20 ribu orang bisa terinfeksi virus ebola sebelum virus yang mewabah itu bisa dikendalikan dan dicegah. WHO memperkirakan upaya untuk mengendalikan wabah ini membutuhkan dana sebesar US$ 490 juta.

Margaret Chan menggambarkan virus ebola sebagai wabah terparah dan paling kompleks yang pernah dihadapi. “Tidak ada seorang pun, bahkan pada kasus wabah yang sama di masa lalu saat 1976 hingga 1995. Orang-orang yang terlibat langsung dengan wabah saat itu, tidak satu pun dari mereka yang pernah melihat sesuatu seperti yang terjadi saat ini,” katanya. Data WHO hingga 3 September menyebutkan, 40 persen kematian akibat virus ebola terjadi dalam waktu tiga minggu.

Pada Rabu kemarin, Nigeria melaporkan dua kasus baru yang terjadi di Kota Port Harcout. Sebelumnya, Nigeria melaporkan hanya ada satu kasus ebola di luar Kota Lagos, di mana lima orang tewas akibat virus tersebut.

“Wabah virus ebola di Port Harcout memiliki potensi untuk berkembang lebih besar dan menyebar lebih cepat daripada yang di Lagos,” kata WHO. USA Today melansir negara-negara yang terkena ebola tidak memiliki sumber daya untuk memerangi virus tersebut. Bahkan, sejumlah rumah sakit yang ada pun tidak memiliki cukup tempat tidur untuk menampung dan merawat mereka yang terinfeksi ebola di wilayah Afrika barat.

Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat telah menandatangani kontrak 18 bulan senilai US$ 25 juta dengan perusahaan Mapp Biopharmaceutical untuk mempercepat pengembangan obat ZMapp. ZMapp adalah obat eksperimental yang diberikan kepada pasien ebola sebagai upaya terakhir untuk menyembuhkan mereka.

Orang yang terinfeksi virus ebola akan menunjukkan gejala seperti diare, muntah, dan pendarahan dari beberapa lubang tubuh. Virus dapat menular melalui kontak langsung dengan darah yang terinfeksi, kotoran atau keringat. Ebola juga dapat menyebar melalui kontak seksual.