Tiga Wanita Malaysia Penuhi Imbauan ISIS Untuk Lakukan Jihad Seks

Tiga wanita asal Malaysia diyakini telah bergabung dengan militan Negara Islam Irak dan Suriah. Pejabat intelijen senior Malaysia mengatakan kepada Malaysia Insider bahwa ketiganya telah berangkat ke Timur Tengah.

“Mereka diyakini telah menawarkan diri untuk memberikan kenyamanan seksual kepada pejuang ISIS yang sedang berusaha mendirikan Negara Islam,” kata pejabat yang tidak mau disebutkan namanya itu seperti dikutip Malaysian Insider, Rabu, 27 Agustus 2014.

Ia menuturkan salah satu wanita pergi ke Timur Tengah sejak bulan Desember tahun lalu. “Wanita itu berusia 30-an. Ia pergi ke Turki sebelum bertemu dengan perantara yang membantunya untuk bisa masuk ke Suriah lewat jalur darat,” ujar pejabat itu. Wanita lain yang berusia 40-an juga menuju Timur Tengah pada April lalu.

Setelah berhasil menguasai Kota Mosul, ISIS mengeluarkan dekrit yang memerintahkan wanita muslim yang belum menikah untuk melakukan jihad seks. Dalam proklamasinya, ISIS mengancam akan memberlakukan hukum syariah pada siapa saja yang tidak mematuhi hukum tersebut. Bahkan terhadap wanita dari etnis minoritas Yazidi, ISIS mengeluarkan ancaman masuk Islam dan lakukan jihad seks atau bila menolak akan dijadikan budak seks.

Perdamaian Menang Di Jalur Gaza … Israel dan Hamas Rayakan Kemenangan

Terhitung sejak Selasa 26 Agustus pukul 19.00 waktu setempat, gencatan senjata diberlakukan di Jalur Gaza. Pasukan dari kedua belah pihak ditarik, saling tembak roket dihentikan. Kesepakatan yang dihasilkan lewat perundingan Israel-Palestina di Mesir itu mengakhiri konflik yang memuncak sejak 8 Juli 2014 lalu, sejak diberlakukannya Operation Protective Edge, yang menewaskan sekitar 2.200 orang.

Gencatan senjata dirayakan meriah di Gaza. Orang-orang turun ke jalan, berpawai, melepaskan tembakan ke udara. “Kita berada di sini hari ini untuk menyatakan kemenangan bagi Gaza atas pertolongan Allah dan ketabahan rakyat kita dan perlawanan mulia,” kata juru bicara Hamas Sami Abu Zuhri.

Kemenangan juga diklaim pihak Israel. “Hamas dihantam keras dan tak mendapatkan satu pun tuntutannya,” kata PM Israel Benjamin Netanyahu dalam konferensi pers di Yerusalem, Palestina, Rabu 27 Agustus kemarin. Netanyahu mengatakan, operasi militer di Gaza telah menghapus kemampuan Hamas melakukan pembunuhan massal di Israel. Meski terbukti tak bisa menggulingkan faksi itu.

Tak hanya itu. Juru bicara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, seperti dikutip dari VOA News, Kamis (28/8/2014) mengatakan, terowongan yang digunakan militan Hamas untuk menyelinap ke Israel dan melancarkan serangan telah hancur.

Menurut dia, Hamas gagal dalam upaya mengakhiri blokade Gaza dan membuka pelabuhan dan bandara wilayah yang dilanda perang itu. Di sisi lain, Hamas mengklaim telah membunuh 64 tentara Israel selama perang tersebut, korban militer terbesar negeri zionis itu sejak tahun 2006. Sementara lebih dari 2.100 warga Palestina tewas akibat serangan udara Israel, sebagian dari mereka warga sipil — juga pemimpin Hamas.

Berdasarkan pandangan para analis, yang salah satunya kepala berita di surat kabar Israel Maariv, hasil konflik kedua kubu itu imbang. Sementara media lain memberitakan, kedua pihak menyepakati gencatan senjata terbuka sejak Selasa 26 Agustus, karena mereka sudah lelah bertempur.

Kebahagiaan warga Gaza atas kesepakatan gencatan senjata dalam perundingan antara Hamas dan Israel di Mesir, Kairo, tak sepenuhnya terasa. Pasalnya, aksi perayaan warga Gaza yang turun ke jalan ini berbuah petaka. Mengutip laporan Jewish Business News, hari ini, perayaan yang dilakukan dengan menembakkan roket dan mortir ke udara itu menewaskan dua orang. Sementara itu, Jewish Press, menambahkan, 45 warga lainnya juga terluka.

Ribuan warga Gaza turun ke jalan merayakan keberhasilan perundingan di Kairo yang berarti tak akan ada lagi saling tembak antara Israel dan Hamas yang mengorbankan mereka. Namun riuh kebahagiaan ini membuat mereka lupa, bahwa roket yang mereka tembakkan ke udara akan kembali turun ke tanah dan berpotensi melukai mereka.

Israel dan Hamas mencapai kesepakatan dalam perundingan Kairo. Keduanya setuju untuk gencatan senjata jangka panjang di Jalur Gaza yang berlaku sejak Selasa, 26 Agustus 2014, pukul 19.00 waktu setempat. Namun, menurut laporan Israel, selang satu setengah jam setelah gencatan senjata berlaku, Hamas kembali menembakkan roket ke wilayah Israel hingga menewaskan dua orang dan melukai lima lainnya. Sumber-sumber Palestina belum mengkonfirmasi hal ini tapi malah balik mengklaim bahwa IDF lebih dulu melancarkan serangan ke selatan Gaza

Kekhalifahan Islam Kini Terbagi Dua Antara ISIS Di Suriah dan Boko Haram Di Afrika

Pemimpin kelompok militan Boko Haram, Abubakar Shekau, Minggu (24/8/2014), memproklamasikan berdirinya kekhalifahan Islam di sebuah kota di timur laut Nigeria yang direbut Boko Haram pada awal bulan ini. “Terima kasih Allah yang memberikan kemenangan untuk saudara-saudara kita di kota Gwoza dan membuat kota ini menjadi bagian dari kekhalifahan Islam,” kata Abubakar Shekau dalam sebuah video berdurasi 52 menit.

Selain mendeklarasikan kekhalifahan, Shekau juga menyatakan kota Gwoza di negara bagian Borno kini sudah bukan bagian dari Nigeria. “Kita tidak akan meninggalkan kota ini. Kita akan tinggal di kota ini,” lanjut Shekau yang kini sudah menjadi teroris global di mata AS dan mendapatkan sanksi dari DK PBB.

Selain menduduki kota Gwoza, Boko Haram juga diyakini telah menguasai kawasan dekat Gwoza di wilayah selatan Borno. Kelompok ini juga menguasai wilayah yang cukup luas di sebelah utara Borno dan setidaknya satu kota di negara bagian Yobe yang bertetangga dengan Borno.

Namun, memetakan secara persis kawasan yang diduduki Boko Haram nyaris tidak mungkin. Sebab, melakukan perjalanan ke kawasan itu sangat berbahaya. Selain itu, sejak Mei tahun lalu, Pemerintah Nigeria memberlakukan situasi darurat, membuat hubungan telepon di daerah itu sulit dilakukan.

Para pakar menggambarkan kemajuan yang diperoleh Boko Haram dalam beberapa pekan terakhi sangat di luar dugaan. Para pakar itu juga mengatakan, kini Boko Haram semakin dekat dengan cita-citanya mendirikan sebuah negara Islam di wilayah utara Nigeria.

Namun, banyak pengamat meyakini militer Nigeria memiliki kapasitas untuk membalikkan keadaan dan mendesak mundur Boko Haram. Sayangnya, pekan ini para prajurit Nigeria menolak dikirim ke Gwoza tanpa persenjataan yang lebih baik.

Aktivis HAM Boikot Pembelian Hotel Oleh Sultan Brunei

Aktivis hak asasi manusia memiliki pesan sangat jelas untuk Sultan Brunei, yang dikabarkan akan membeli Plaza Hotel di New York. “Kau tidak diterima di New York!” Kelompok aktivis seperti Human Rights Campaign mengimbau warga New York untuk menentang penjualan hotel di kota itu ke Sultan Brunei. Sultan dikabarkan akan membayar seharga 2,2 miliar dollar AS atau setara Rp 25 triliun lebih untuk membeli hotel itu ditambah dua hotel lainnya dari Subrata Roy, pemilik perusahaan properti Sahara Group.

Para aktivis menyatakan bahwa ketatnya pelaksanaan hukum syariah di Brunei yang memuat hukum rajam pada perempuan dan gay (LGBT) adalah tindakan barbar. Untuk itulah, Sultan Brunei dinilai tidak perlu menjadi pemilik dari salah satu landmark utama New York. Para selebriti seperti Ellen DeGeneres dan Russell Crowe, serta Kim Kardashian juga berpartisipasi dalam boikot publik tersebut.

“Aliran laba AS yang mengalir dari hotel ini ke rezim Sultan harus berhenti. Kami mendesak semua warga New York untuk memiliki satu pesan sederhana dan lurus ke depan untuk Sultan. Berbisnislah di tempat lain,” kata Ty Cobb, anggota Human Rights Campaign. Namun, seorang juru bicara Sultan Brunei membantah hal itu.

“Badan Investasi Brunei ataupun Pemerintah Brunei tidak terlibat dengan cara apa pun dalam pembelian Grosvenor House di London atau Plaza dan Dream Downtown di New York,” kata juru bicara tersebut. Adapun hasil penjualan portofolio, yang juga termasuk Grosvenor House Hotel di London Dream Hotel Downtown akan membebaskan pemiliknya saat ini dari sel penjara di New Delhi, yaitu miliarder flamboyan, Roy.

Roy dipenjara sejak Maret lalu, ketika Mahkamah Agung India menuduhnya gagal melunasi utang kepada pemegang obligasi. Penjualan hotel bisa membantunya membayar uang tebusan yang besar dan kuat untuk keluar dari sel tersebut. Seperti diketahui, Plaza Hotel kali terakhir dijual dengan harga 570 juta dollar AS atau setara Rp 6,6 miliar pada 2012 lalu, yaitu ketika Sahara membelinya dari perusahaan Israel, Elad Property, setelah renovasi besar-besaran.

Koki Cina Tewas Digigit Ular Kobra Yang Sudah Dipenggal dan Akan Dimakannya

Kejadian mengejutkan terjadi di sebuah restoran di Kota Foshan, Provinsi Guangdong, China. Suasana dinner atau makan malam pengunjung langsung heboh lantaran ada seorang koki yang tewas digigit ular. Anehnya, ia digigit kepala ular yang sudah dipenggal sekitar 20 menit sebelumnya.

Ketika itu, juru masak bernama Peng Fan itu sedang memasak sup spesial yang berisi daging ular kobra. Pertama-tama, ia memulai mengolah menu khas restoran itu dengan memenggal kepala ular Indochina. Bagian tubuh dan kepala sudah Peng pisahkan. Namun saat sang koki membuang kepala ular yang sudah berpisah dengan badan 20 menit sebelumnya, ia lantas digigit.

Ular Indochina dikenal memiliki bisa yang mematikan. Nyawa Peng tak terselamatkan, karena racun sudah merasuk ke dalam sel tubuhnya. Tim medis sudah terlambat untuk memberikan vaksin. Seorang pengunjung, Lin Sun mengaku kaget saat mendengar teriakan seseorang dari dalam dapur. Kemudian ia mendapat kabar ada koki yang digigit ular.

“Kami penasaran apa yang sedang terjadi di sana. Ternyata ada koki digigit ular. Dokter sudah dipanggil, tapi ia tak tertolong. Kami semua waktu itu langsung tak nafsu makan,” ujar Lin, seperti dikutip dari New York Daily News, Minggu (24/8/2014).

Juru bicara kepolisian setempat mengatakan kasus ini sebagai hal yang luar biasa. Tapi hal itu dinilai murni kecelakaan. “Dia sedang memasak dan tak terduga ia mendapat malapetaka. Tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk menyelamatkannya,” ujarnya kepada The Mirror.

Ahli ular kobra Yang Hong-Chang mengungkap alasan kenapa ular tersebut masih bisa menggigit sang koki. Dia mengatakan semua jenis kepala reptil masih bisa hidup selama 1 jam meski sebagian atau seluruhnya tubuhnya sudah dipotong.

Ular kobra jenis Indochinese kerap dijadikan salah satu bahan makanan lezat di Asia, termasuk China. Reptil yang ukuran rata-ratanya sekitar lima kaki ini kerap ditemui di negara Asia Tenggara Selain mematikan, bisa ular ini juga bisa dijadikan obat setelah diolah.

Kisah Bangsawan Cantik Dan Sadis Yang Suka Mandi Darah Perawan

Hari itu, 21 Agustus 1614, 400 tahun lalu, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed tamat. Ia meninggal dunia dalam sebuah kamar sempit di Kastil Cachtice, tempatnya dikurung. Pada usia 54 tahun. Elizabeth ditemukan dalam kondisi telungkup, di ruangan tertutup yang hanya menyisakan lubang kecil yang digunakan untuk memasukan makanan dan minuman.

Bangsawan tinggi Kerajaan Hungaria itu lekat dengan dengan imej sebagai ‘Countess Berdarah’, perempuan pembunuh berantai paling sadis sepanjang sejarah. Ia dan 3 kaki tangannya dituduh menyiksa dan membantai ratusan gadis, jumlahnya antara 100 hingga 650 orang — entah berapa pastinya — antara tahun 1585 hingga 1610.

Kabar yang beredar menyebut, Elizabeth mandi dengan darah para korbannya. Ia meyakini, darah perawan akan membuatnya memiliki kecantikan abadi. ‘Rahasia awet muda’. Ia menyakini, darah gadis muda memancarkan cahaya kemudaan mereka. Sang countess masuk ke dalam bak mandi dan berendam dalam kubangan darah korbannya.

Hingga kini, reruntuhan kastil kuno di atas bukit, tempatnya menghembuskan nafas terakhir, sekaligus tempat menyiksa korbannya, membayangi Desa Cachtice, Slovakia. Menghembuskan hawa horor. Penulis wisata, John Malathronas kepada CNN menulis, kisah hidup sang bangsawan menjadi inspirasi sejumlah film, buku, dan situs online. Sejumlah orang bahkan menduga, novel ‘Dracula’ karya Bram Stoker pada 1897 terinspirasi kisah sadis itu.

Pada usia 15 tahun, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed menikah dengan bangsawan bernama Ferenc Nadasdy, pahlawan nasional Hungaria ketika berperang melawan Turki. Kedua pasangan tersebut kemudian tinggal di Istana Cachtice, sebuah kastil perbukitan yang menaungi Desa Cachtice di lembah di bawahnya. Setelah suaminya meninggal, perilaku Elizabeth menjadi-jadi. Ia mulai terpengaruh dengan satanisme atau aliran sesat. Pembunuhan pun merebak. Satu per satu gadis menghilang dari desa-desa sekitar kastil.

Awalnya perempuan sadis itu memburu gadis desa. Namun, darah para perawan itu kurang baginya. Demi mendapat darah yang menurutnya lebih berkualitas, Elizabeth mengincar darah para gadis bangsawan rendahan, menculik mereka untuk dijadikan korban. Namun hal tersebut menjadi bumerang baginya. Hilangnya gadis-gadis bangsawan dengan cepat mendapatkan perhatian di kalangan kaum darah biru. Kabar itu pun sampai ke telinga raja.

Tanggal 30 Desember 1610, pasukan tentara dibawah pimpinan Palatine Georgy Thurzo, yang merupakan sepupu Elizabeth sendiri, menyerbu kastil Cachtice di malam hari. Atas titah Raja Hungaria.

Sesampainya di sana, mereka semua terkejut melihat pemandangan yang mengerikan. Mayat seorang gadis yang pucat kehabisan darah tergeletak di atas meja makan, seorang lainnya yang masih hidup namun sekarat ditemukan terikat di tiang dengan kedua urat nadinya disayat hingga meneteskan darah. Di bagian penjara ditemukan belasan gadis yang sedang ditahan menunggu giliran dibunuh. Kemudian di ruang basement ditemukan lebih dari 50 mayat yang sebagian besar sudah mulai membusuk.

Elizabeth kemudian ditangkap bersama 3 pelayannya. Namun ia sendiri tidak pernah diadili secara langsung. Sebagai bangsawan tinggi ia kebal hukum. Hanya ketiga pelayannya yang kemudian disiksa dan dibakar di tiang. Cachtice saat ini adalah desa sejahtera dengan rumah-rumah besar, antena satelit di mana-mana, juga mobil-mobil SUV yang parkir di tepian jalan. Patung kayu Countess Elizabeth Bathory de Ecsed pun didirikan di alun-alun.

Reruntuhan Kastil Cachtice kini berdiri di tengah-tengah cagar alam yang lebat. Setelah 2 renovasi besar-besaran yang makan waktu 2 tahun, istana tersebut dibuka kembali pada Juni 2014. Satu menara runtuh pada 1980-an hanya menyisakan dua yang lain, ruang kamar penjara sang countess masih utuh.

“Generasi tua malu dengan apa yang dilakukan countess. Ada sejumlah protes ketika patung Bathory didirikan di alun-alun,” kata Adam Pisca (18) yang bekerja paruh waktu sebagai penjaga kastil, dikutip dari CNN, Sabtu (23/8/2014)

Sementara, kata dia, generasi muda lebih cuek dengan masa lalu. “Kami tahu dia adalah seorang pembunuh, tapi bodo amat, dia tidak penting bagi kami,” kata Pisca. “Sebelum kastil itu direkonstruksi, kami sering bakar-bakaran daging di dalamnya atau berkemping di halamannya.

Elizabeth Bathory konon dikubur di Gereja St. Ladislav, yang masih kokoh berdiri sejak Abad ke-14. Namun tak ada satu pun yang pernah menemukan kuburnya. Bisa jadi, jasadnya dipindahkan ke Nagyesced, lokasi asal-usul nenek moyangnya yang kini berada di Hungaria.

Sementara, manor tua di mana sang countess juga kerap menyiksa korbannya masih berdiri. Di dekatnya ada sebuah perusahaan minuman anggur. Dinding luar manor masih bersisa, sementara ruang bawah tanah yang menjadi saksi bisu penyiksaan dan penderitaan korban sekarang digunakan untuk menyimpan beberapa barel anggur.

Beberapa anggur dilabeli “Bathory Blood”. Tapi merek itu dihentikan 2010 menyusul protes pembeli. Namun, pada tahun ini, dalam rangka perayaan peringatan 400 kematian sang countess sadis, wine itu kembali dijual. Saat dituang, cairan merah keluar dari botol. Sewarna darah.

Foto ISIS Bekerja Sama Menggorok Wartawan Di Studio CIA Dengan Green Screen Beredar

Dunia internasional dihebohkan rekaman video penggorokan seorang jurnalis asal Amerika Serikat (AS) Wright Foley (40) oleh seorang algojo ISIS di tengah gurun pasir. Video tersebut langsung menuai kecaman warga dunia. Di video berjudul ‘Pesan untuk Amerika’ itu Foley berlutut dengan menggunakan pakaian serba oranye dengan tangan terikat ke belakang. Di sampingnya berdiri seorang anggota ISIS yang bertugas sebagai eksekutor. Pria itu mengenakan pakaian dan topeng serba hitam dengan memegang sebilah belati di tangan kanannya.

Namun belakangan, muncul sebuah foto Foley dan algojo yang sama di media sosial Twitter. Bedanya tempat eksekusi dilakukan di sebuah studio, bukan di gurun pasir seperti yang sebelumnya beredar. Gambar itu memperlihatkan suasana pengambilan gambar, di mana latar belakang gurun tempat eksekusi Foley digantikan layar serba hijau. Terdapat dua buah kamera yang dipakai untuk merekam peristiwa di mana Foley tengah menjalani hukuman mati dari algojo yang beraksen Inggris tersebut.

Di bagian belakang, terdapat dua layar monitor untuk memantau pergerakan kamera, salah satu layar memperlihatkan suasana di tengah gurun. Sedangkan satu monitor memperlihatkan logo Central Inteligent Agency (CIA), atau lembaga intelijen AS.

Sebelumnya, militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) memposting sebuah video mengerikan ke internet. Video yang diposting Selasa sore waktu setempat itu berisi seorang wartawan foto lepas (freelance fotografer) asal Amerika Serikat bernama James Wright Foley (40) digorok hingga tewas oleh seorang anggota ISIS di tengah gurun pasir.

Dikutip dari Daily Mail, Rabu (20/8), aksi keji itu merupakan pembalasan atas serangan udara AS terhadap para militan ISIS, 12 hari lalu. Foley diketahui telah hilang sejak November 2012. Saat itu dia disandera di bawah todongan senjata ketika bertugas untuk GlobalPost di Taftanaz, di Suriah utara.

Di sampingnya berdiri seorang anggota ISIS yang bertugas sebagai eksekutor. Pria itu mengenakan pakaian dan topeng serba hitam dengan memegang sebilah belati di tangan kanannya. Foley sempat berbicara dan mengutarakan pesan terakhir sebelum akhirnya dieksekusi oleh sang algojo. Foley yang berada di bawah tekanan menyalahkan AS atas kematiannya. Hal itu terkait serangan yang dilancarkan AS terhadap ISIS beberapa waktu lalu di Irak.

“Saya meminta teman-teman keluarga dan orang-orang terkasih untuk bangkit melawan pembunuh yang sebenarnya, pemerintah AS. Untuk apa yang akan terjadi pada saya adalah hanya akibat dari kriminalitas mereka,” kata Foley dalam video seperti dikutip dari Daily Mail, Rabu (20/8).

Militan yang memenggal kepala seorang wartawan asal Amerika Serikat tadi malam disebut-sebut sebagai salah satu anggota dari kelompok jihad asal Inggris dijuluki sebagai ‘The Beatles’. Di saat perburuan besar-besaran diluncurkan, mantan sandera mengatakan dia percaya pria bertopeng dari kelompok Negara Islam (IS), dulu ISIS, itu adalah warga London dikenal sebagai ‘John’, seperti dilansir surat kabar the Daily Mail, Kamis (21/8).

Dinas keamanan juga dikabarkan sudah dekat untuk menemukan identitas pelaku yang menggorok leher James Foley di sebuah video propaganda mengerikan.