Pemerintah Kota Paris Larang Warga Pakai Mobil Karena Sebabkan Polusi

Pemerintah Kota Paris melarang mobil berlalu lalang pada Senin, 17 Maret 2014 mulai pukul 05.30. Mereka akan menggratiskan semua angkutan umum untuk mengangkut warga yang bekerja atau bepergian di kota Mode Dunia tersebut. Pengumuman aturan baru itu disampaikan sejak Sabtu lalu.

Langkah itu dilakukan karena tingkat partikel pencemaran udara di Paris sudah mencapai angka 180 mikrogram dengan kategori PM10. Tingkat polusi itu jauh di atas batas aman yakni 80 mikrogram. Adapun PM10 adalah kategori pencemaran yang disebabkan emisi kendaraan, sistem pemanas ruangan, dan pabrik industri berat.

Dampak dari tingginya polusi itu adalah berubahnya kondisi cuaca harian di Prancis yang cukup mengkhawatirkan. Hal tersebut terlihat dari suhu yang makin panas pada siang hari, namun menjadi sangat dingin pada malam hari.

Namun larangan pemakaian mobil itu tidak berlaku secara keseluruhan. Pemerintah masih mengizinkan mobil dengan pelat nomor tertentu untuk berlalu lintas di dalam kota.

Untuk mendukung kebijakan tersebut, pemerintah sudah sejak Jumat lalu menggratiskan layanan transportasi. Rencananya, pemerintah melakukan kajian pekan depan untuk menentukan apakah larangan itu akan diperpanjang. Soalnya, tingkat polusi di Paris saat ini sudah menyamai ibu kota Cina, Beijing, yang menjadi salah satu kota dengan tingkat polusi paling buruk sedunia. Kebijakan ini merupakan yang kedua kalinya diterapkan di Paris setelah pertama kali tahun 1997 silam.

5 Persen Tanah Di China Tercemar Zat Kimia Berbahaya

Dampak negatif dari industrialisasi di Cina mulai membawa korban. Studi terbaru yang dibuat Kementrian Lingkungan Hidup menemukan hampir lima persen tanah di Cina tercemar. “Paling banyak disebabkan kadmium, nikel dan arsenik,” tulis studi itu.

Sebelumnya, sejumlah kota besar di Cina diselimuti kabut asap sisa bahan bakar kendaraan bermotor dan pembakaran pabrik. Banyak warga kota yang terpaksa menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah.

Penelitian yang dilakukan Kementrian Lingkungan Hidup mengambil contoh tanah di area seluas 6,3 juta kilometer persegi atau sekitar dua-pertiga luas daratan Cina. Kesimpulan riset memaparkan pesimisme melihat kondisi tanah saat ini.

“Karena jangka waktu dan luasnya pembangunan industri, membuat makin memburuknya kualitas tanah di beberapa daerah,” pernyataan Kementerian Lingkungan dalam websitenya seperti dikutip BBC, Sabtu, 19 April 2014. Mereka berencana membuat langkah pencegahan dan perundang-undangan yang lebih baik.

Pencemaran tanah di Cina paling banyak disebabkan bahan anorganik. Tingkat pencemarannya lebih tinggi ketimbang survei sebelumnya yang dilakukan 1986 dan 1990.

Pencemaran paling parah terdapat dalam tiga zona industri utama yaitu di delta Sungai Yangtze di Cina timur, delta Sungai Pearl di Cina selatan dan timur laut Cina yang digunakan untuk penghubung industri berat.

Awalnya, laporan tersebut diklasifikasikan rahasia karena dianggap sensitif. Ada ketakutan yang berkembang di Cina, jika modernisasi telah mengakibatkan pencemaran udara, air dan tanah.

Pemerintah Cina berjanji masalah ini akan menjadi prioritas utama. Namun lemahnya penegakan hukum di tingkat lokal dan kepentingan pemerintah lokal, menjadi tantangan bagi pemerintah pusat. Pada sisi lain, warga Cina makin vokal terhadap masalah kabut asap atau memprotes rencana pembangunan pabrik kimia di kota mereka.

NYPD Polisi New York Tutup Divisi Mata Mata Umat Muslim

Departemen Polisi New York (NYPD) menutup sebuah unit yang bertugas melacak kehidupan sehari-hari umat Islam pada Selasa, 15 April 2014. Selama ini divisi tersebut bertugas mendeteksi ancaman teror. Namun, keberadaannya telah memicu kontroversi. “Kini, detektif yang berada di unit itu telah dipindahkan ke Departemen Divisi Intelijen,” ujar juru bicara NYPD, Stephen Davis.

Menurut Wali Kota Bill de Blasio, penutupan itu merupakan langkah penting untuk meredakan ketegangan antara polisi dan penduduk New York. Dengan demikian, polisi dan masyarakat dapat saling membantu menghadapi orang jahat.

Selama ini NYPD bekerja sama dengan agen CIA untuk memata-matai tempat tinggal umat muslim. Mereka memata-matai aktivitas belanja, bekerja, dan berdoa pemeluk Islam. “Para detektif mengenakan pakaian sipil dan menyusup ke kelompok mahasiswa muslim,” tulis krqe.com. “Juga masuk ke masjid-masjid dan memantau khutbah serta katalog keagamaan.”

Cerita pengintaian NYPD terhadap muslim pernah diulas Associated Press. Sejak itu, dua tuntutan sipil diajukan. Isinya menentang penyelidikan itu karena dianggap inkonstitusional. “Sebab, mereka terfokus terhadap salah satu agama, ras, dan asal negara saja.”

Mantan Komisaris Polisi Ray Kelly pernah membela taktik pengawasan ini. Menurut dia, penyidik melakukan pengamatan sesuai dengan pedoman Kepolisian dan mencoba menciptakan sistem peringatan dini dari terorisme.

Namun, masyarakat mengajukan deposisi pada 2012. Isinya seorang kepala NYPD bersaksi jika divisi itu belum pernah menghasilkan penyelidikan yang berindikasi ke terorisme. Padahal, unit tersebut sudah bekerja selama empat tahun.

Azorian Project: Upaya CIA Untuk Mengambil Kapal Selam Nuklir Rusia

Dokumen yang baru dideklasifikasi (dinyatakan tak lagi bersifat rahasia) mengungkapkan rincian baru tentang Project Azorian, yaitu upaya diam-diam badan intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA), untuk mengambil kapal selam nuklir Soviet yang karam di Samudra Pasifik. Mark Strauss menulis cerita mengenai hal ini dalam io9.com 10 April 2014 dan Rhys Blakely menulis dalam The Australian edisi 18 April 2014.

Cerita ini dimulai pada Maret 1968, ketika sebuah kapal selam Soviet, Golf II, rusak akibat ledakan di dalam saat misi patroli rutin dan tenggelam di Samudra Pasifik, 1.900 mil sebelah barat laut Hawaii. Kapal itu membawa rudal balistik nuklir, dengan hulu ledak 4 megaton, dan awak tujuh puluh orang. Soviet melakukan upaya pencarian besar-besaran selama dua bulan, tapi tak membuahkan hasil.

Aktivitas tak biasa Angkatan Laut Soviet di daerah itu mendorong AS untuk memulai pencarian kapal selam, yang akhirnya ditemukan pada Agustus 1968. Tapi, puingnya baru bisa diangkat beberapa tahun setelahnya.

Kapal selam itu, jika bisa diambil, akan menjadi harta karun bagi komunitas intelijen. Itu tidak hanya membuat pejabat AS bisa melihat desain hulu ledak nuklir Soviet, tapi juga mendapatkan peralatan kriptografi yang memungkinkannya memecahkan kode sandi Angkatan Laut Uni Soviet. Lalu, dimulailah Project Azorian itu.

Komunitas intelijen AS menugaskan Howard Hughes untuk membangun sebuah kapal besar –dijuluki Hughes Glomar Explorer (HGE)–untuk mendapatkan kapal selam itu. Operasi penyelamatan, yang dimulai pada 1974, awalnya hanya sukses secara parsial. AS berencana untuk memulai usaha kedua, pada 1975, namun akhirnya dibatalkan ketika cerita soal ini bocor ke pers.

Dalam tahun-tahun berikutnya, sangat sulit untuk mendapatkan informasi tentang Proyek Azorian di luar yang telah beredar di surat kabar. Menanggapi permintaan melalui Freedom of Information Act (FOA), CIA menolak melepaskan dokumen soal proyek itu dan mengatakan “tidak mengkonfirmasi atau menyangkal” hubungannya dengan Hughes Glomar Explorer. (Akibatnya, kalimat “tidak mengkonfirmasi atau menyangkal” dikenal sebagai “respons glomar” atau “glomarization.”)

Pada 2010, CIA diizinkan mempublikasikannya dengan suntingan yang sangat banyak, 50 halaman artikel yang menjelaskan Proyek Azorian dalam edisi musim gugur 1978 di jurnal internal CIA, Studies in Intelligence.

Kini, soal proyek itu ini tersedia lebih detail berkat publikasi volume terbaru dari Foreign Relations of the United States (FRUS). Disusun oleh sejarawan Departemen Luar Negeri, seri FRUS adalah sumber tak ternilai, yang berisi dokumen yang dideklasifikasi, yang mencakup kabel diplomatik, memo internal, dan risalah rapat antara presiden dan penasihat terdekatnya. Dalam FRUS terbaru, National Security Policy: 1973-1976, terdapat sekitar 200 halaman soal Project Azorian.

Menurut dokumen itu, pada 1969, CIA mengumpulkan gugus tugas kecil insinyur dan teknisi untuk menyusun konsep bagaimana mendapatkan kapal selam itu. Hambatan teknologi dan logistik menjadi pertimbangan utama. Bagaimana mungkin AS menyelamatkan kapal selam 2.500 ton, yang berbaring di dasar laut pada kedalaman 16.500 kaki? Dan bagaimana AS melakukan operasi besar-besaran tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan atau terdeteksi oleh pengintaian Soviet?

Pada akhirnya, para insinyur memilih rencana yang terdengar seperti plot film James Bond. Rencana ini melibatkan tiga kapal. Kapal pertama adalah untuk pengambilan, dengan ruang di dalamnya dan dilengkapi dengan dasar yang bisa membuka dan menutup. Kapal kedua, untuk penangkap, dilengkapi mekanisme pengambilan yang akan dirancang untuk menyelaraskan dengan lambung kapal selam. Kapal yang berhasil diangkat akan diam-diam dirakit pada kapal tongkang besar dengan atap yang bisa dibuka. Kapal tongkang tersebut akan terendam sehingga bisa menyelinap di bawah laut, di bawah kapal pengambilan, membuka atap dan memberikan kapal yang sudah didapatnya.

CIA mengontrak Summa Corporation untuk pembuatan kapal ini. Summa adalah anak perusahaan Hughes Tool Company yang dimiliki oleh miliarder Howard Hughes. Kapal penemuan itu akan dibuat sepanjang 618 kaki, 36.000 ton, dan dijuluki Hughes Glomar Explorer (HGE).

Tentu saja, melihat ada raksasa mengambang berlama-lama di Samudra Pasifik pasti akan memicu kecurigaan. Jadi, Project Azorian mengarang cerita penyamaran bahwa HGE dibangun sebagai usaha komersial swasta Hughes untuk penambangan mangan di dasar laut.

Saat Project Azorian mengalami kemajuan, namun pejabat pemerintah mulai mengungkapkan keraguan apakah biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang didapatkan sebanding. Apakah kapal selam nuklir itu masih bisa disebut aset intelijen atau justru sudah menjadi artefak?

Sebuah komite ad hoc sekali lagi diminta untuk mengkaji masalah ini dan akhirnya memutuskan bahwa masih ada banyak yang bisa diperoleh dari operasi ini. Meskipun rentang rudal SS-N-5 yang ada di kapal selam itu pendek dan tidak lagi dianggap sebagai ancaman utama, itu masih bisa “menyediakan teknologi potensial penting”, sesuai dengan yang baru-baru ini dikerahkan Uni Soviet, rudal jarak jauh SS-N-8. Dan peralatan kriptografinya di kapal itu “akan bernilai sangat tinggi terhadap upaya intelijen AS melawan pasukan angkatan laut Soviet.”

Akhirnya, pada 3 Juni 1974, sebuah memorandum dari Dewan Keamanan Nasional kepada Kissinger mengatakan: “Puncak dari usaha enam tahun, Proyek Azorian, siap untuk mencoba untuk mendapatkan rudal balistik kapal selam Soviet dari kedalaman 16.500 kaki di Samudera Pasifik.”

Kapal akan berangkat dari pantai barat 15 Juni dan tiba di situs target pada 29 Juni. Operasi pengambilan akan memakan waktu 21-42 hari (30 Juni-20 Juli-10 Agustus). Manajer proyek memperkirakan peluang keberhasilannya lebih dari 40 persen. Dua hari kemudian, operasi itu disetujui.

Misi pengambilan kapal selam, yang berlangsung dari Juni sampai Agustus 1974, hanya berhasil sebagian. Meskipun sebagian dari kapal selam itu diambil, sisa kapal terjatuh dari kapal penangkap lantaran kegagalan fungsi mekanis.

Wakil Menteri Pertahanan memberi penjelasan kepada Kissinger: “Analisis ekstensif dari kegagalan penangkap telah menghasilkan kesimpulan bahwa tangan-tangan baru harus dibuat, yang menggabungkan bahan kurang rapuh dan meningkatkan teknik desain. Semua tindakan yang diperlukan sekarang sedang diambil untuk mengkonfigurasi ulang kendaraan penangkap dan memperbarui kapal penemuan untuk misi kedua selama periode cuaca optimum berikutnya, yaitu Juli dan Agustus 1975.”

Haruskah AS mencoba melakukan misi kedua? Saat itu, banyak hal berubah di Washington sejak Hughes Glomar Explorer berangkat ke laut. Presiden Richard Nixon mengundurkan diri pada 9 Agustus. Ada keraguan, mengingat suasana saat ini di Washington, apakah CIA bisa mempertahankan operasi selama satu tahun lagi tanpa cerita itu bocor ke pers.

Namun, konsensusnya cenderung untuk melanjutkan inisiatif tersebut. Namun, bahkan Henry Kissinger, yang berada di antara pendukung terkuat operasi, mulai memiliki keraguan pribadi. Setelah mengadakan satu pertemuan dengan para pejabat intelijen dan pertahanan pada Januari 1975, Kissinger berbicara kepada Presiden Gerald Ford soal kekhawatirannya bahwa operasi rahasia ini bisa bocor.

Kissinger punya alasan untuk khawatir. Sejak awal Januari 1974, wartawan New York Times Seymour Hersh telah menyelidiki cerita soal Project Azorian ini. William Colby, Direktur Central Intelligence Agency (CIA), sudah dua kali bertemu dengan Hersh–pada 1 Februari 1974 dan 10 Februari 1975–dan mendesaknya untuk menunda publikasi soal itu. Tapi, berapa lama lagi cerita soal itu tak dibuka media?

Kurang dari seminggu kemudian, berita itu bocor dan bukan oleh Seymour Hersh. Proyek ini menjadi rahasia umum karena perampokan yang terjadi pada 5 Juni 1974.

Markas perusahaan Summa Corporation milik Hughes di Los Angeles kecurian. Para pencuri membawa kabur uang tunai dan empat kotak dokumen. Berdasarkan pendataan setelah kasus perampokan, diketahui bahwa dokumen yang hilang termasuk memo yang menjelaskan proyek rahasia CIA itu.

Beberapa bulan kemudian, polisi Los Angeles melaporkan bahwa mereka telah dihubungi oleh seorang perantara yang mengaku memiliki dokumen yang dicuri. Sang perantara tidak secara khusus menyebutkan memo tentang CIA dan Proyek Azorian. Sang perantara meminta tebusan US$ 500.000.

Apa yang terjadi selanjutnya dapat digambarkan sebagai komedi kesalahan. Sebab, CIA memberi tahu FBI bahwa dokumen yang ditawarkan sang perantara mungkin termasuk memo sensitif mengenai Project Azorian. FBI kemudian mengatakan kepada polisi Los Angeles tentang adanya memo tersebut, dan polisi Los Angeles memberi tahu sang perantara.

Pada 7 Februari 1975, Los Angeles Times menerbitkan sebuah artikel singkat berjudul “U.S. Reported After Russ Sub” yang mengatakan bahwa menurut “kabar yang beredar di kalangan aparat penegak hukum setempat, Howard Hughes telah dikontrak CIA untuk mengangkat kapal selam nuklir Rusia dari bawah samudra…operasi, menurut teori seorang penyidik, dilakukan oleh awak kapal pertambangan kelautan yang dimiliki oleh Hughes Summa Corp.”

Itu adalah artikel dari sumber yang samar, mengandung sejumlah kesalahan, tapi cerita soal Project Azorian itu menyebar. Pada 18 Maret 1975, kolumnis Jack Anderson menyebut soal Hughes Glomar Explorer dalam acara radio nasional dan menyatakan niatnya untuk mengungkapkan rincian lebih lanjut tentang operasi itu. Hasil dari pengumuman itu, wartawan lainnya, termasuk Seymour Hersh, tidak lagi merasa wajib menunda untuk menurunkan beritanya. Keesokan harinya, beberapa surat kabar besar–termasuk Los Angeles Times, Washington Post, dan The New York Times–menerbitkan cerita di halaman depan yang mengungkapkan bahwa Hughes Glomar Explorer, dalam sebuah operasi yang dipimpin oleh CIA, telah mengambil sebagian dari kapal selam Soviet dari Samudra Pasifik selama musim panas 1974.

Yang mengejutkan bagi Gedung Putih, Soviet hanya diam. Ada dugaan bahwa kemarahannya mirip dengan insiden U-2 pada 1960, ketika sebuah pesawat mata-mata Amerika Serikat ditembak jatuh di wilayah udara Uni Soviet.

Sebuah laporan yang dipersiapkan oleh CIA pada April 1975 percaya bahwa keputusan Soviet untuk menahan diri dari respons publik adalah karena beberapa faktor. Hal ini, antara lain, ditujukan untuk menghindari rasa malu di dalam negeri dan di luar negeri karena harus mengakui untuk pertama kalinya soal hilangnya kapal selam pada 1968. Ini juga untuk menghindari adanya pengakuan publik atas ketidakmampuan Soviet untuk menemukan kapal selam yang hilang kalah oleh AS, yang tidak hanya menemukan, tapi juga mengambil kapal selam mereka.

CIA menyimpulkan bahwa Uni Soviet memiliki kepentingan untuk tidak mempublikasikan peristiwa itu lebih jauh. Namun CIA juga memperingatkan, “Tampaknya tak diragukan lagi bahwa Soviet akan berusaha keras untuk menggagalkan atau mengganggu misi kedua.”

Berarti tinggal satu pertanyaan yang tersisa: bagaimana Uni Soviet akan menanggapi misi pengambilan kedua? Gedung Putih belum mengakui hubungan resminya dengan Hughes Glomar Explorer. Apakah mungkian Angkatan Laut Soviet menembaki kapal sipil AS itu?

Pada 16 Juni 1975, Kissinger mengirim memorandum kepada Presiden Ford. Isinya, Kissinger menjelaskan bahwa Soviet sepertinya tidak akan membiarkan AS melakukan misi kedua. Sebuah kapal Soviet dikabarkan sudah di dekat lokasi itu sejak 28 Maret dan ada indikasi bahwa kapal itu akan tetap di sana. Karena itu, kapal AS itu dalam keadaan rentan. Ancaman dari reaksi yang lebih agresif dan bermusuhan juga bisa terjadi, termasuk konfrontasi langsung dengan kapal angkatan laut Soviet.

Melihat perkembangan itu, Project Azorian dihentikan. Biaya total operasinya sekitar US$ 800 juta, yang kalau dinilai dengan mata uang saat ini lebih dari US$ 3 miliar. Hughes Glomar Explorer akhirnya disesuaikan dengan cerita penyamarannya semula, yaitu untuk pengeboran laut dalam. Kapal itu lantas dijual kepada sebuah perusahaan swasta pada 2010 seharga US$ 15 juta.

Wanita Iran Ampuni Pembunuh Anaknya Sesaat Sebelum Akan Digantung

Seorang narapidana pembunuhan di Iran bernama Balal lolos dari tiang gantungan pada menit-menit menjelang eksekusi mati dilakukan, setelah ibu korban memberinya permintaan maaf. Balal divonis mati tujuh tahun silam setelah ia terbukti membunuh seorang pemuda bernama Abdollah dalam perkelahian. Keduanya berusia 17 tahun saat itu.

Kasus ini menjadi berita besar di Iran setelah pengguna media sosial dan pesohor di negara itu melakukan kampanye agar eksekusi dibatalkan. Namun, hukum di Iran mewajibkan narapidana mendapat permintaan maaf dari keluarga korban sebelum hukum mati dibatalkan atau kisas, yang berarti “utang nyawa dibayar nyawa”.

Permintaan maaf itu tidak juga datang hingga eksekusi mati dijadwalkan pada Selasa (15/4/2014). Balal berteriak meminta nyawanya diselamatkan saat simpul hendak diletakkan di lehernya. Tiba-tiba, ibu korban mendekatinya dan menampar pipinya kemudian mengatakan bahwa ia memaafkan perbuatan Balal terhadap anaknya.

Amnesty International menyatakan, Iran memiliki angka hukuman mati tertinggi di dunia. Sebagian besar dilakukan dengan hukum gantung. Kini ada kelompok-kelompok masyarakat di Iran yang mendorong pemerintah agar mengubah sistem kisas dan melarang hukuman mati.

Perang Saudara Terjadi Di Ukraina

Menanggapi situasi Ukraina yang kian membara setelah pencaplokan Crimea oleh Rusia, Presiden Rusia Vladimir Putin telah memperingatkan bahwa Ukraina berada “di ambang perang saudara”. Dilaporkan BBC, Rabu, 16 April2014, dalam sebuah panggilan telepon ke Kanselir Jerman Angela Merkel, Putin menggambarkan langkah Ukraina ini sebagai eskalasi yang tajam. “Presiden Rusia mengatakan eskalasi tajam dari konflik ini akan menempatkan Ukraina di ambang perang saudara,” kata Kremlin mengutip pembicaraan Putin dengan Merkel.

Sejak bergabungnya Crimea dengan Rusia, situasi Ukraina, terutama di wilayah timur, memanas. Kelompok separatis pro-Rusia menduduki gedung-gedung di sepuluh kota di wilayah timur itu. Dari situlah pemerintah Ukraina akhirnya mengeluarkan operasi anti-teroris yang dimulai Selasa, 15 April 2014. Sebuah bandara di Kota Kramatorsk, Donestsk, Rusia, sempat dikuasai separatis pro-Rusia sejak pekan lalu

Sebelas orang diyakini tewas setelah pasukan udara Ukraina berusaha merebut bandar udara di Kramatorsk, Ukraina, pada Selasa, 15 April 2014. Bandara sebelumnya dikuasai pasukan bersenjata pro-Rusia. Penyerangan ini menjadi tanda operasi antiteror yang digaungkan Ukraina dimulai. Dikutip dari Daily Mail, media lokal melaporkan antara empat hingga sebelas kematian terjadi dalam serangan ini. Namun, belum ada konfirmasi resmi dari pejabat terkait. Laporan lain juga menyebutkan sebuah pesawat tempur ditembak jatuh di dekat Kota Kramatorsk, Donestsk.

Baku tembak memang terdengar dari bandara ini. Tak lama kemudian pasukan Ukraina mengklaim telah berhasil merebut kembali bandara tersebut dari militan yang mengendalikan kota sejak pekan lalu. Kota Kramatorsk merupakan salah satu dari 10 daerah di timur Ukraina yang penuh gejolak lantaran pecahnya bentrok antara kaum separatis dan pasukan Ukraina sejak sebelas hari lalu. (Baca: Milisi Donetsk Rebut Markas Polisi dan Dewan Kota)

Sementara itu, di kota lain, Slaviansk, koresponden Reuters menyatakan tidak ada satu pun pasukan yang setia kepada Kiev. Sebuah pesawat AU Ukraina dilaporkan hanya terbang di atas langit kota tanpa ada kesiapan untuk melakukan penyerangan dan perebutan kembali kota tersebut. Pasukan keamanan Ukraina berhasil menghalau serangan di pangkalan militer mereka yang berada di Mariupol, Ukraina tenggara. Menteri Dalam Negeri Ukraina Arsen Avakov mengatakan tiga orang dari pihak penyerang tewas dan 13 lainnya terluka.

Sekitar 300 orang melancarkan serangan menggunakan senjata dan bom molotov ke arah pasukan Ukraina di pangkalan militer. Menurut Avakov, tidak satu pun pasukan Ukraina yang terluka akibat serangan itu. “Setelah penyerang melemparkan bom-bom molotov di pangkalan militer dan melepaskan tembakan ke pos-pos jaga, Garda Nasional melepaskan tembakan peringatan,” kata Avakov dalam akun Facebook-nya seperti dilansir Channel News Asia, Kamis, 17 April 2014. Kemudian, terjadilah aksi saling tembak.

Sebanyak 63 orang ditahan dan petugas mulai menyita senjata, alat komunikasi, dan telepon selular Rusia. Avakov mengatakan operasi pengamanan masih dilakukan dengan tambahan petugas keamanan yang berpatroli di kota pelabuhan. Pasukan khusus juga berpatroli lewat udara menggunakan helikopter. Serangan terbaru ini menyusul aksi perebutan gedung-gedung administrasi yang dilakukan para separatis pro-Rusia di Mariupol dan kota-kota lain di wilayah timur Ukraina.

Pembicaraan tingkat tinggi yang bertujuan mengakhiri krisis dan melibatkan diplomat dari Rusia, Ukraina, Amerika Serikat, dan Uni Eropa, akan dimulai pada Kamis waktu setempat di Jenewa, Swiss. Kiev tengah berjuang mendapatkan kembali kekuasaannya atas kota-kota di wilayah timur yang menjadi jantung industri Ukraina. Operasi militer yang sempat dilakukan untuk menggagalkan aksi pendudukan di timur gagal pada Rabu kemarin ketika militan pro-Rusia menyita sedikitnya enam kendaraan lapis baja Ukraina.

Amerika Serikat dan Eropa Siapkan Sanksi Baru Untuk Rusia

Uni Eropa dan AS akan memberi sanksi baru kepada Rusia terkait aksinya di Ukraina yang menyebabkan kerusuhan di bagian timur negara itu. Sanksi itu mengemuka setelah para menteri luar negeri negara-negara anggota Uni Eropa bertemu di Luksemburg. Mereka sepakat memperluas “daftar sanksi terbaru untuk Rusia seperti pembekuan aset dan pencabutan visa.”

Saat ini ketegangan terus meningkat di Ukraina setelah kelompok menempati beberapa gedung pemerintah di kota-kota bagian timur. Pada Senin (14/04), demikian klaim AS, pesawat jet tempur Rusia terbang rendah di dekat kapal perang AS di Laut Hitam. Presiden AS Barack Obama telah melakukan kontak telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin malam.

Putin mengatakan kepada Obama bahwa tuduhan campur tangan Rusia di Ukraina merupakan “informasi yang tidak berdasar dan patut dipertanyakan.” Menurut Kremlin, kerusuhan di timur Ukraina merupakan akibat “keengganan dan ketidakmampuan pemimpin di Kiev untuk memperhitungkan kepentingan penduduk berbahasa Rusia di wilayah itu.”

Di sisi lain, Obama mengatakan kepada Putin bahwa dia “sangat prihatin” terhadap dukungan Rusia kepada kelompok militan bersenjata. Lebih lanjut, Obama mendesak Putin untuk menggunakan pengaruhnya terhadap kelompok-kelompok pro-Moskow agar mereka meninggalkan gedung-gedung yang diduduki.