Kronologi Penembakan di Gedung Parlemen Kanada

Pria bersenjata menembak mati seorang tentara di Tugu Peringatan Perang Nasional sebelum melakukan penembakan di dalam Gedung Parlemen Kanada, Rabu (22/10/2014) waktu setempat. Polisi telah memastikan pelaku penembakan telah ditembak mati. Berikut kronologi drama penembakan yang terjadi berdasarkan waktu setempat, seperti yang dilansir AFP.

Pukul 09.52 (1352 GMT): Seorang pria bersenjata melepaskan tembakan kepada dua orang tentara di Tugu Peringatan Perang Nasional. Seorang tentara terkena peluru dan mengalami luka serius. Dia menerima perawatan di tempat kejadian sebelum dibawa ke rumah sakit.

Pukul 09:55: Puluhan tembakan terdengar di dekat Gedung Parlemen. Dalam rekaman video yang dirilis kemudian, terdengar ledakan keras, sebelum polisi berkerumun dan menelusuri asal ledakan.

Pukul 10:00: Polisi dua kali memperingatkan ada “penembak aktif” di Parlemen.

Pukul 10:04: Saksi mata mengatakan, pria bersenjata yang melepaskan tembakan di Tugu Peringatan Perang Nasional telah menuju ke Gedung Parlemen.

Pukul 10:12: Gedung Parlemen dijaga ketat.

Pukul 10:25: Polisi dari Royal Canadian Mounted menyarankan agar masyarakat menjauh dari Gedung Parlemen.

Pukul 10:37: Perdana Menteri Stephen Harper dievakuasi dari Gedung Parlemen.

Pukul 10:40: Polisi memperingatkan bahwa seorang pria bersenjata masih bebas dan staf di kantor Harper diberi tahu bahwa “penembak aktif” mengancam Parlemen.

Pukul 10:53: Polisi meminta orang-orang di pusat kota untuk menjauh dari jendela dan atap untuk menghindari dari daerah tersebut sepenuhnya.

Pukul 11:20: Polisi mengonfirmasi kematian seorang penyerang di dalam Gedung Parlemen.

Pukul 11:45: Para pejabat mengonfirmasi bahwa tentara yang tertembak di Tugu Peringatan Perang Nasional telah tewas.

Tak lama setelah pukul 12.15: Amerika Serikat dan pertahanan udara Kanada diletakkan pada siaga tinggi.

Pukul 13.50: Menurut Gedung Putih, Presiden Amerika Serikat Barrack Obama berbicara kepada Harper.

Pukul 02.15: Polisi mengatakan operasi masih berlangsung karena mereka berusaha untuk mengidentifikasi tersangka.

Pukul 02.30: Harper mengutuk “serangan keji” dan mengatakan dia akan membahas hal ini dengan pemerintah pada Rabu waktu setempat.

Polisi menembak mati seorang pria bersenjata setelah melakukan aksi penembakan di dalam Gedung Parlemen Kanada pada Rabu (22/10/2014). Pria tersebut sebelumnya sempat menembak seorang tentara hingga tewas di Tugu Peringatan Perang Nasional sebelum masuk ke dalam Gedung Parlemen. “Satu korban penembakan tewas karena luka-luka. Dia adalah anggota tentara Kanada,” ujar seorang polisi Ottawa. Hingga saat ini, belum diketahui apa motif pelaku melakukan aksi penembakan tersebut. Namun, serangan tersebut terjadi setelah seorang ekstremis Islam menabrak dua orang tentara dan pihak berwenang menyebutnya sebagai serangan teroris.

Seusai kejadian tersebut, pihak berwenang menaikkan tingkat ancaman keamanan dari rendah menjadi menengah. Adapun Kanada ambil bagian dari armada terbang koalisi yang membombardir pasukan ISIS di Irak. Polisi mengatakan, saat ini penyelidikan masih terus berlangsung. Namun, pihak kepolisian belum dapat memastikan dugaan yang menyebutkan bahwa penembakan tersebut dilakukan lebih dari satu orang.

Saat ini, pasukan bersenjata dan kendaraan lapis baja melakukan pengamanan di sekitar Gedung Parlemen. Anggota Parlemen dari Partai Liberal, John McKay, mengatakan, dia mendengar sekitar 10 tembakan dari dalam Gedung Parlemen. “Tiba-tiba penjaga keamanan datang bergegas menyusuri lorong dan mengantar kami semua keluar, ke belakang bangunan Gedung Parlemen,” ujar McKay. Perdana Menteri Kanada Stephen Harper yang berada di dekat lokasi kejadian juga dilaporkan berada dalam kondisi aman.

Pihak Kepolisian Kanada saat ini sedang menyelidiki seorang pria bernama Michael Zehaf-Bibeau yang diduga sebagi tersangka aksi penembakan di tugu Peringatan Perang Nasional dan di Gedung Parlemen Kanada, pada Rabu (22/10/2014) waktu setempat. Hal tersebut disampaikan oleh sebuah sumber yang mendalami masalah ini, seperti yang dilansir Reuters. Dua pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa badan-badan terkait di Amerika Serikat telah diberitahu bahwa penembak adalah seorang yang berasal dari Kanada. Salah seorang pejabat mengatakan bahwa orang tersebut berasal dari Quebec.

Pihak Kepolisian Kanada saat ini sedang menyelidiki seorang pria bernama Michael Zehaf-Bibeau yang diduga sebagi tersangka aksi penembakan di tugu Peringatan Perang Nasional dan di Gedung Parlemen Kanada, pada Rabu (22/10/2014) waktu setempat. Hal tersebut disampaikan oleh sebuah sumber yang dekat dengan masalah ini, seperti yang dilansir Reuters. Polisi mengatakan, tersangka sudah ditembak mati, oleh karena itu polisi belum bisa mengkonfirmasi apakah dia adalah Zehaf Bibeau. Beberapa sumber pemerintah Amerika Serikat mengatakan penembak tersebut lahir dengan nama Michael Joseph Balai, tetapi mengubah namanya menjadi Zehaf-Bibeau.

Dua pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa badan-badan terkait di Amerika Serikat telah menyarankan bahwa penembak adalah seseorang yang berasal dari Kanada. Salah seorang pejabat mengatakan bahwa orang tersebut berasal dari Quebec. Penduduk di Ibukota Kanada tersentak oleh penembakan fatal seorang tentara dan serangan terhadap Gedung Parlemen pada Rabu waktu setempat, dengan penembakan dilakukan di luar ruangan, dimana Perdana Menteri Stephen Harper sedang berada.

Penembakan ini adalah serangan kedua terhadap tentara Kanada dalam seminggu. Pada hari Senin waktu setempat, Martin Couture-Rouleau (25), menabrakkan mobilnya ke dua tentara di kota Quebec. Pelaku akhirnya ditembak mati oleh polisi, sementara seorang polisi yang ditabrak akhirnya meninggal. Hingga saat ini belum ada kelompok Islam maupun kelompok lainnya, yang mengaku bertanggungjawab atas serangan tersebut. Zehaf-Bibeau sendiri memiliki beberapa catatan dari pihak kepolisian Kanada di Provinsi Quebec.

Berdasarkan catatan pengadilan, pada 2004, setidaknya ada tiga kasus yang melibatkan Zehaf Bibeau. Pria yang lahir pada 1982 tersebut pernah mengaku bersalah atas dua pelanggaran narkoba, dan satu tuduhan untuk pelanggaran tidak mematuhi perintah hakim.

OBAMA TAWARKAN BANTUAN
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Barrack Obama menyebut penembakan di Ottawa sebagai peristiwa tragis dan menegaskan perlunya kewaspadaan terhadap tindak kekerasan dan terorisme. Obama mengaku tidak memiliki informasi tentang motif dibalik penembakan tersebut. Namun dia berjanji akan melakukan kerjasama dengan Kanada untuk mengungkap kasus ini.

“Saya pikir ini sangat penting bagi kita untuk menyadari bahwa ketika kasus yang berhubungan dengan kegiatan teroris muncul, maka Kanada dan Amerika Serikat sepenuhnya akan melakukan sinkronisasi,” ujar Obama di Gedung Putih.

Seorang Perempuan Muda Etnis Yazidi Diperkosa Lebih Dari 30 Kali Oleh Milisi ISIS

Seorang perempuan muda Yazidi, yang telah dipaksa menjadi budak seks oleh Negara Islam atau ISIS, memohon pihak Barat mengebom rumah bordil di mana dia ditawan. Perempuan itu mengaku, kaum militan ISIS memerkosanya 30 kali hanya dalam waktu beberapa jam.

Perempuan tak dikenal itu, yang diketahui disekap sebagai tawanan ISIS di suatu tempat di Irak barat, telah ditangkap ISIS dalam pembantaian di Sinjar pada awal Agustus lalu.

Sebuah kelompok yang sedang meningkatkan kesadaran orang akan penganiayaan ISIS terhadap kaum perempuan di wilayah yang dikendalikan kelompok itu di Timur Tengah mengatakan, perempuan tersebut telah menghubungi para pejuang Peshmerga Kurdi melalui telepon. Dalam pembicaraan telepon, perempuan itu memohon agar rumah bordil tersebut dibom sehingga para perempuan yang dijadikan budak seks oleh ISIS bisa keluar dari kesengsaraan mereka.

Dia mengatakan kepada para pejuang Kurdi bahwa dirinya telah begitu sering diperkosa. Bahkan, dia tidak bisa ke toilet. Penderitaannya begitu mengerikan sehingga dia berencana untuk bunuh diri, bahkan jika akhirnya pun dibebaskan.

Rincian pengalaman brutal perempuan di tangan ISIS itu muncul dalam sebuah wawancara dengan aktivis Kurdi yang menggelar demonstrasi di London guna meningkatkan kesadaran orang akan penderitaan perempuan di Timur Tengah. Dalam sebuah wawancara dengan BBC World Service, seorang pria yang diidentifikasi sebagai Karam menggambarkan bagaimana seorang temannya yang ikut dengan Peshmerga menerima telepon perempuan Yazidi itu.

Karam mengatakan, perempuan itu menangis di telepon. “Jika kalian tahu di mana posisi kami, silakan mengebom kami … Tidak ada kehidupan setelah ini. Saya akan tetap bunuh diri, yang lain telah bunuh diri pagi ini,” kata perempuan itu sebagaimana dikutip Karam. “Saya pernah diperkosa 30 kali dalam waktu beberapa jam. Saya tidak bisa pergi ke toilet. Silakan bom kami,” kata Karam menirukan pengakuan perempuan tersebut.

Kelompok aktivis Kurdi, di mana Karam ikut serta di dalamnya, melakukan aksi unjuk rasa di pusat kota London demi meningkatkan kesadaran orang akan penderitaan kaum perempuan yang hidup di bawah penindasan brutal ISIS. Di antara aksi mereka baru-baru ini adalah penyelenggaraan sebuah tiruan pasar budak. Dalam pasar budak palsu itu, sejumlah perempuan yang mengenakan nikab dirantai bersama-sama. Sementara pria bertopeng menggunakan pengeras suara untuk melelang mereka ke penawar tertinggi.

Pekan lalu, PBB menegaskan bahwa ribuan warga Yazidi dibantai saat ISIS menyapu Irak utara pada Agustus lalu. Pembantaian tersebut menyerupai adegan dalam peristiwa di Bosnia Srebrenika.

Para penyidik kini menyimpulkan bahwa lebih dari 5.000 warga Yazidi ditembak mati dalam serangkaian pembantaian oleh ISIS. Selain itu, 5.000-7.000 perempuan juga ditahan di pusat penahanan darurat, di mana mereka entah telah dibawa dan dijual ke perbudakan atau diserahkan kepada para militan sebagai selir.

Lima pusat penahanan di kota Tal Afar diperkirakan telah menampung sekitar 3.500 perempuan dan anak-anak.

China Kerahkan Ribuan Tentara dan Jet Tempur Untuk Buru Drone Yang Terbang Di Dekat Bandara Beijing

Pemerintah China mengerahkan 1.200 personel militer dan sejumlah jet tempur setelah sebuah benda terbang tak dikenal melayang di dekat Bandara Beijing. Harian China Daily mengabarkan, benda terbang tak dikenal itu adalah sebuah drone yang tengah melakukan pemetaan. Tiga orang, lanjut harian itu, ditahan terkait insiden drone ini.

Harian China Daily mengutip pejabat pemerintah, sebanyak 1.226 personel militer, 123 kendaraan, 26 radar, 2 jet tempur, dan 2 helikopter dikerahkan setelah drone itu tertangkap di layar radar. Polisi kemudian menahan dua orang yang menerbangkan drone itu dan orang ketiga kemudian menyerahkan diri. Ketiga orang itu bekerja untuk sebuah perusahaan teknologi penerbangan dan drone berukuran 2,3 meter itu ditujukan untuk pekerjaan survei dan pemetaan.

Pemerintah China melarang jenis pesawat apa pun, berawak atau tidak, tanpa persetujuan angkatan udara, otoritas penerbangan sipil, dan biro pengendalian lalu lintas udara lokal melintas di wilayah udaranya.

Pada Juni lalu, seorang pria asal Selandia Baru sempat ditahan setelah menerbangkan drone yang dilengkapi kamera di atas kompleks “Kota Terlarang”, bekas kediaman kaisar China dan kini menjadi obyek wisata terkenal, yang terletak di dekat perumahan pejabat yang sangat tertutup.

Swedia Buru Kapal Selam Rusia Di Lepas Pantai Stockholm

Misteri masih menyelimuti hingga Minggu (19/10/2014), terkait operasi militer Swedia yang dipicu adanya “aktivitas asing di bawah laut” di lepas pantai Stockholm. Sejumlah laporan menyebut militer Swedia melakukan operasi untuk mencari dan memburu sebuah kapal selam Rusia yang rusak di perairannya. Sebelumnya, pada Sabtu (18/10/2014), menggelar operasi militer yang melibatkan 200 personel, kapal siluman, kapal penyapu ranjau dan sejumlah helikopter.

Operasi yang digelar sekitar 50 kilometer di lepas pantai Stockholm itu dipicu laporan yang diterima angkatan bersenjata terkait sebuah “obyek buatan manusia” di perairan Swedia. Harian ternama Swedia Svenska Dagbladet mengabarkan bahwa sebuah kapal selam rusak milik Rusia merupakan inti dari misteri ini.

Harian itu menyebut intelijen militer berhasil “memotong” sinyal radio antara sebuah wilayah di lepas pantai Swedia dengan Kaliningran, daerah kantung Rusia di Baltik yang merupakan markas armada Laut Baltik Rusia. “Sinyal itu ditransmisikan lewat sebuah frekuensi khusus, biasa digunakan Rusia dalam sebuah situasi darurat,” demikian Svenska Dagblanet mengutip sumber militer Swedia yang terlibat dalam pencarian itu. Sementara itu, militer Swedia sejauh ini masih tutup mulut. Militer Swedia hanya mengatakan fokus operasinya adalah “aktivitas di bawah air”.

“Angkatan Bersenjata Swedia tidak dalam posisi membantah atau membenarkan spekulasi terkait kapal selam asing yang ramai dibicarakan di media,” kata juru bicara angkatan bersenjata Swedia, Erik Lagersten. “Saat ini kami sedang menggelar operasi intelijen di kepulauan Stockholm dengan mengerahkan kapal-kapal yang dilengkapi peralatan sensor bawah air untuk memastikan ada atau tidaknya aktivitas asing di bawah laut,” tambah Lagersten.

Sementara itu, pemerintah Rusia membantah salah satu kapal selamnya berkeliaran di perairan Swedia. “Tidak ada situasi semacam itu atau kecelakaan yang melibatkan kapal-kapal perang Rusia,” demikian pernyataan kementerian pertahanan Rusia. Belanda, Senin (20/10/2014), membantah klaim Rusia bahwa sebuah kapal selam misterius yang telah dicari militer Swedia kemungkinan milik Belanda. Militer Swedia melakukan sebuah operasi pencarian besar pada Jumat malam setelah melihat sebuah kapal selam tak dikenal di sekitar perairan Stockholm.

Seorang pejabat Kementerian Pertahanan Rusia, Senin, menduga bahwa kapal selam misterius yang dicari militer Swedia itu mungkin milik Belanda. “Untuk menghilangkan ketegangan di perairan Laut Baltik dan untuk menghemat uang para pembayar pajak Swedia, kami sarankan (Swedia) untuk meminta penjelasan angkatan laut Belanda,” kata pejabat itu yang tidak disebut namanya kepada sejumlah kantor berita Rusia.

Sumber tersebut mengatakan, kapal selam diesel-listrik Belanda, Bruinvis, sedang melaksanakan tugas di dekat Stockholm pekan lalu. Sumber itu mengatakan, kapal tersebut berada di ibukota Estonia, Tallinn, pada Jumat dan diperkirakan kembali pada Senin.

Namun Kementerian Pertahanan Belanda mengatakan, kapal selamnya tidak berada di wilayah itu ketika kapal misterius tersebut dilaporkan terlihat. “Kami berpartisipasi dalam latihan bersama Swedia dengan melibatkan beberapa kapal, tetapi latihan tersebut berakhir Kamis pekan lalu,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Belandam, Marnoes Visser, kepada kantor berita AFP. “Kapal selam Bruinvis kemudian berangkat ke Estonia, di mana kapal itu lego jangkar di pelabuhan Tallinn selama akhir pekan.”

Bruinvis sekarang sedang berlayar kembali ke Belanda, tambah Visser. “Kapal selam Belanda tidak terlibat dan kami tidak terlibat dalam tindakan pencarian atau semacam itu,” katanya. Laksama Muda Swedia, Anders Grenstad, Minggu, mengatakan bahwa angkatan bersenjata negara itu sedang melakukan operasi intelijen untuk mengetahui kehadiran kapal asing tersebut.

Sebuah laporan media Swedia menyatakan, sebuah panggilan darurat dalam bahasa Rusia telah disadap dari kapal itu, yang menunjukkan bahwa sebuah kapal selam Rusia berada dalam masalah di daerah itu. Namun Grenstad sudah membantah klaim itu.Sebuah “kapal selam asing” misterius yang sedang dicari militer Swedia di lepas pantai Stockholm mungkin milik Belanda, kata seorang sumber di Kementerian Pertahanan Rusia sebagaimana dikutip sejumlah media Senin (20/10/2014).

“Untuk menghilangkan ketegangan di perairan Laut Baltik dan untuk menghemat uang para pembayar pajak Swedia, kami sarankan (Swedia) untuk beralih ke angkatan laut Belanda guna meminta penjelasan,” kata sebuah sumber di kementerian pertahanan di Moskwa kepada sejumlah kantor berita Rusia.

Sumber tersebut mengatakan, kapal selam diesel-listrik Belanda, Bruinvis, sedang melaksanakan tugas di dekat Stockholm pekan lalu. Sumber itu mengatakan, kapal tersebut berada di ibukota Estonia, Tallinn, pada Jumat dan diperkirakan kembali pada Senin.

Media Swedia melaporkan pada akhir pekan bahwa sebuah kapal selam Rusia mungkin berada dalam kesulitan di sekitar periairan dekat Stockholm, tetapi militer Swedia mengatakan hari Minggu bahwa tidak mungkin untuk menentukan negara asal kapal itu.

Sementara Kementerian Pertahanan Rusia belum bersedia untuk dimintai komentar.

Seorang Pria di AS Diduga Pembunuh Berantai Selama 20 Tahun

Seorang pria bernama Darren Vann (43), diduga telah membunuh sedikitnya tujuh perempuan di wilayah barat laut Indiana, Amerika Serikat, Senin (20/10/2014). Vann diduga merupakan pembunuh berantai, yang telah melakukan pembunuhan sejak 20 tahun yang lalu. “Dia (Vann), sudah berada di tahanan dan polisi sedang mencari tuduhan pembunuhan terhadap dirinya,” ujar Kepala Polisi kota Hammond, John Doughty.

Vann ditangkap di Gary, Indiana, pada hari Sabtu, setelah sehari sebelumnya polisi menemukan jasad Hardy (19) seorang perempuan keturunan Afrika, di sebuah motel di wilayah Hammond. Doughty mengatakan, Hardy pernah diiklankan di situs layanan seksual Backpage .

Hardy dan Vann diketahui bertemu di motel tersebut. setelah beberapa saat, Hardy tidak kunjung kembali dari pertemuan tersebut, sehingga seorang perempuan yang menjadi perantara pertemuan antara keduanya merasa khawatir dan pergi untuk melacak keberadaan Hardy.

Perempuan itu kemudian menemukan Hardy tewas dengan luka cekikan. Doughty mengatakan, selama dalam penahanan, Vann sangat kooperatif dengan mengakui keterlibatannya dalam pembunuhan Hardy.

Dia juga memberi tahu tentang keberadaan enam jasad perempuan lain, yang kesemuanya berada di rumah-rumah di wilayah gary. Namun Doughty tidak dapat memastikan apakah keenam perempuan tersebut dibunuh di rumah-rumah tersebut, atau jasadnya yang dibuang di sana.

“Dia memberikan kita deskripsi, bekerja sama dan menemani kami ke lokasi,” kata Doughty.

Namun vann tidak menjelaskan apakah keenam perempuan tersebut adalah pekerja seks. Dari enam korban, tiga diantaranya sudah teridentifikasi dengan nama Anith Jones (35) dari wilayah Merrilville, Teiarra Batey (28), dar wilayah Gary, dan Christine Williams (36) juga dari wilayah gary. sementara tiga korban lainnya belum teridentifikasi.

Vann sendiri pada Juli 2008 pernah dipenjara di Texas, Amerika Serikat, lantaran menyerang secara seksual dan mencoba mencekik seorang wanita berusia 25 tahun di apartemen Austin. akibat perbuatannya tersebut, vann dihukum 5 tahun penjara.

Malala Yousafzai Gadis Muslim Peraih Nobel Perdamaian Termuda

Nobel Perdamaian tahun 2014 diberikan kepada dua pejuang untuk anak-anak, yakni Malala Yousafzai, 17 tahun, dan Kailash Satyarthi, 60 tahun. Keduanya dianugerahi uang 8 juta kronor atau sekitar US$ 1,11 juta. Menurut Ketua Komite Nobel Thorbjorn Jagland, mantan Perdana Menteri Norwegia, Malala dianugrahi Nobel Perdamaian atas keberaniannya memperjuangkan salah satu nilai islam yaitu mengejar pendidikan serta mengkritik milisi Taliban di Pakistan yang melarang anak-anak perempuan bersekolah.

Malala hampir kehilangan nyawanya ketika ditembak dikepala dari jarak dekat (point blank range) oleh milisi Taliban saat pulang dari sekolah khusus wanita menuju rumahnya di kawasan lembah Swat dengan menggunakan bus sekolah. Malala yang sekarang tinggal di London, Inggris, merupakan peraih Nobel Perdamaian termuda.

Adapun Satyarthi merupakan aktivis hak anak di India. Ia dikenal sebagai pengikut nilai-nilai hidup Mahatma Gandhi untuk melakukan perlawanan secara damai. Nominator untuk peraih penghargaan Nobel Perdamaian ada 278 orang. Jumlah ini lebih banyak 19 nominator dibanding tahun sebelumnya. Malala dan Satyarthi mengalahkan, antara lain, whistleblower Edward Snowden dan Chelsea Manning, Presiden Rusia Vladimir Putin, serta pemimpin tertinggi umat Katolik Paus Fransiskus.

Malala Yousafzai dinobatkan sebagai orang Asia Paling Berpengaruh dalam Penghargaan Kepemimpinan dan Keberagaman yang digelar di Inggris pada Rabu, 27 November 2013, malam waktu London. Seperti dikutip dari laman Daily Mail, gadis berusia 16 tahun ini mengalahkan pejuang buruh Keith Vaz dan Sadiq Khan, serta personel grup vokal One Direction, Zayn Malik. Malala dianggap telah membangkitkan kesadaran akan pemberdayaan perempuan.

Gadis yang sempat dinominasikan sebagai peraih Nobel Perdamaian tahun ini pernah ditembak dikepala dan terluka pada bulan Oktober tahun lalu. Ia ditembak setelah menentang pembatasan Taliban pada pendidikan anak perempuan di Pakistan. Selain Malala, penghargaan GG2 ini juga diberikan kepada kedua teman Malala, yakni Kainat Riaz dan Shazia Ramzan yang bersama Malala begitu berani melawan aturan Taliban.

Hingga kini, ketiga gadis muda ini terus sibuk mengkampanyekan hak-hak perempuan, terutama di bidang pendidikan. Sementara itu, Malala kini telah menetap dan bersekolah di Inggris. Peraih Nobel Perdamaian Kailash Satyarthi, 60 tahun, mengajak Malala Yousafzai, 17 tahun, bekerja sama dengannya untuk membantu anak-anak yang menderita di seluruh dunia.

“Kami berdua semestinya bekerja bersama. Saya mengenalnya secara pribadi. Mari kita bergandeng tangan untuk itu (damai),” kata Satyarthi, dalam pernyataan persnya setelah media memberitakan dirinya meraih Nobel Perdamaian bersama Malala. (Baca:Malala Yousafzai Raih Nobel Perdamaian)

Seperti dilansir The Times of India, Jumat, 10 Oktober 2014, aktivis hak anak ini sudah bekerja lebih dari 30 tahun untuk membantu melawan perbudakan anak dan perdagangan anak di negaranya. Pria kelahiran Vidisha, sekitar 50 kilometer arah Bhopal, India, ini merupakan pendiri lembaga swadaya masyarakat bernama Bachpan Bachao Andolan pada 1980. Ia melakukan aksi untuk melindungi hak-hak 80 ribu anak di India.

Satyarthi, yang dikenal sebagai pengikut setia Mahatma Gandhi dengan nilai-nilai anti perbudakan manusia dan berjuang dengan cara-cara damai, juga aktif di Global March Against Child Labor, gabungan dari sekitar 2.000 lembaga sosial dan organisasi serikat buruh di 140 negara.

Adapun Malala, remaja putri asal Pakistan, dikenal sebagai pengkampanye hak anak-anak, terutama anak perempuan, untuk mendapat pendidikan. Akibat keberaniannya melawan milisi Taliban yang melarang anak-anak perempuan bersekolah, ia ditembak dikepala dari jarak dekat (point blank range) saat pulang sekolah pada 2012. Upaya milisi Taliban membunuh Malala tak berhasil. Malala yang terluka diterbangkan ke London, Inggris. Setelah sembuh, perempuan asal Lembag Swat, Pakistan, itu aktif mengkampanyekan pendidikan bagi anak-anak di berbagai negara. Malala menjadi peraih Nobel Perdamaian termuda.

Pemberian Nobel Perdamaian untuk kedua pejuang dianggap bertujuan mendorong perdamaian di India dan Pakistan. Diharapkan lewat pemberian Nobel Perdamaian ini, ketegangan hubungan kedua negara bertetangga ini mencair dan bersama-sama berjuang.

“Ini hal penting bagi umat Hindu dan muslim, warga Pakistan maupun India, untuk bersama-sama berjuang untuk pendidikan dan menentang paham ekstrimis,” kata Ketua Komite Nobel kewarganegaraan Norwegia, Thorbjoern Jagland.

ISIS Mulai Berhasil Kuasai Sepertiga Kota Kobani Di Suriah

Kaum militan Negara Islam atau ISIS, Kamis (9/10/2014), mengontrol lebih dari sepertiga kota Kobani, Suriah, yang terletak di dekat perbatasan dengan Turki setelah memukul mundur para pejuang muslim Sunni Kurdi. “Meski ada perlawanan sengit dari pasukan Muslim Sunni Kurdi, ISIS bergerak maju pada malam hari dan menguasai lebih dari sepertiga Kobani,” kata Rami Abdel Rahman, Direktur Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, kepada kantor berita AFP.

Ia mengatakan, seorang pemimpin milisi Kurdi dan sejumlah anak buahnya tewas saat kaum militan ISIS menguasai sebuah bangunan yang pejuang Kurdi gunakan sebagai basis di timur laut kota itu. Sementara itu wanita pejuang Kurdi meledakan bom bunuh diri ditengah militan ISIS yang menewaskan sedikitnya 20 militan ISIS. Laju pergerakan militan ISIS terjadi meski ada serangan udara intensif yang dipimpin AS yang bertujuan untuk mencegah Kobani jatuh ke tangan kaum militan itu.

Kota itu, yang juga dikenal dengan nama Ain al-Arab, akan menjadi sebuah hadiah besar bagi ISIS. Dengan menguasai kota itu, ISIS dapat melakukan kontrol atas wilayah luas yang membentang dari perbatasan Suriah dengan Turki hingga ke Raqqa, kota yang telah dinyatakan sebagai ibu kota kelompok itu. Pertempuran jalanan yang intens berkecamuk di kota Kobani, Suriah, Senin (6/10/2014), saat kaum militan ISIS mendekat untuk menguasai wilayah penting di perbatasan dengan Turki itu.

Seorang saksi mata dari dalam kota itu mengatakan kepada CNN, kaum militan ISIS menancapkan bendera mereka di sebuah bukit di sisi timur Kobani, kemudian bertahan demi membuka rute bagi pasukannya. Para kru CNN, Senin, juga melihat sendiri apa yang tampak seperti bendera hitam ISIS berkibar dari puncak sebuah bukit di sisi timur kota itu. Bendera tersebut berada lebih jauh di dalam sisi timur kota itu ketimbang sebuah bendera yang terlihat berada di atas sebuah gedung dalam video Reuters dan juga terlihat oleh para kru CNN.

Saksi mata itu mengatakan, puluhan milisi muslim sunni Kurdi yang mempertahankan kota itu terluka dan tewas, sedangkan ratusan militan ISIS juga tewas saat bentrokan berlangsung dari jalan ke jalan karena milisi Kurdi lebih mengetahui medan tempur dikota tersebut.

Jatuhnya kota itu akan membawa simbol dan dampak strategis yang besar, yang akan membuat ISIS menguasai sebuah wilayah yang tidak terganggu yang terbentang antara perbatasan Turki hingga ke Raqqa yang telah dinyatakan sebagai ibu kota kelompok itu, yang berjarak sekitar 100 kilometer dari Kobani.

Militer Turki, yang telah menempatkan pertahanan di sepanjang perbatasan dalam beberapa hari terakhir saat pertempuran berkobar, menghalangi orang-orang melarikan diri dari kota yang terkepung itu untuk melintasi perbatasan. “Kami ingin pergi ke seberang!” teriak calon pengungsi ketika mereka menempel di pagar perbatasan.

Seorang saksi mata di dalam kota Kobani mengatakan kepada CNN bahwa ia telah menunggu untuk meninggalkan kota itu bersama ratusan orang lain sejak hari Minggu malam. “Kami akan terbunuh jika kami tetap tinggal,” katanya. Saat kaum militan ISIS menyerang dengan menggunakan tank dan artileri berat, para pembela kota ini bersumpah untuk terus berjuang. “Kami takut akan hal ini. Kami berkewajiban untuk mempertahankan rumah kami, kota kami,” kata pejabat Kurdi Kobani, Idriss Nassan. “Kami tidak memilih perang ini, tetapi kami berkewajiban untuk melawan demi membela agama”

ISIS berhasil mendekati Kobani meskipun ada serangan udara Amerika Serikat dan pasukan sekutu selama akhir pekan dan pada hari Senin. Serangan udara terbaru itu menyasar dua posisi pertempuran dekat Kobani dan dua tank dekat Raqqa, serta dua unit kecil ISIS, dua posisi mortir dan sebuah bangunan di Irak, kata militer AS, Senin.

Seorang pejabat pertahanan senior AS mengatakan akan melancarkan lebih banyak serangan udara terhadap sasaran ISIS di daerah Kobani pada Senin. Namun hal itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Seorang pejabat senior militer lain mengatakan banyak target ISIS di Kobani yang terlalu dekat dengan perbatasan Turki atau pasukan Kurdi untuk diserang. Dan Pentagon, kata pejabat itu, yakin situasi di Kobani telah dibesar-besarkan karena wartawan ada di sana. Banyak kota-kota lain telah jatuh ke tangan ISIS tanpa ada kru televisi yang hadir, kata pejabat itu.

Nassan mengatakan, dia tidak terlalu peduli apa peran serangan udara AS ke depan. “Ketika saya berbicara dengan orang-orang di sini di Kobani, mereka mengucapkan terima kasih kepada masyarakat internasional, dan Amerika Serikat, mereka mengucapkan terima kasih kepada negara-negara yang menyerang ISIS. Namun semua orang yakin itu tidak cukup,” katanya. “Masyarakat internasional tidak dapat mengalahkan ISIS dengan hanya menyerang mereka dari langit. Mereka harus membantu orang-orang yang sedang berperang, yaitu (Unit Perlindungan Rakyat Kurdi) YPG, (pemberontak) Tentara Pemebebasan Suriah yang ada di sini, di darat.”

Para pejuang muslim sunni Kurdi dan militan ISIS terlibat bentrokan sengit untuk merebut kota perbatasan Kobani di Suriah, yang menimbulkan korban tewas cukup besar pada kedua pihak dan bantuan senjata berat berdatangan dari wilayah sekitar kepada militan ISIS.

Badan Pemantau HAM Suriah yang berkantor di Inggris melaporkan sedikitnya 370 militan ISIS dan 19 pejuang muslim Kurdi tewas dalam pertempuran hari Minggu dan Senin. Jumlah ini termasuk seorang pejuang perempuan Kurdi yang meledakkan dirinya dan menewaskan sejumlah militan ISIS.

Sebuah bendera hitam dengan tulisan Arab yang serupa dengan bendera ISIS juga terlibat berkibar di sebuah gedung di kota Kobani, yang berbatasan dengan Turki, tetapi pasukan Kurdi mengatakan mereka sedang mengusir para militan itu. Tembakan mortir masih menghujani kota yang juga dikenal sebagai Ayn Al-Arab itu. Amerika dalam tiga minggu ini telah berupaya mencegah kemajuan pasukan ISIS dan militer Amerika hari Senin berhasil menghancurkan dua posisi tempur militan itu dalam serangan terbaru mereka.