Taliban Bantai 122 Pelajar Anak Anak Yang Sedang Ujian

Milisi Taliban Pakistan menyatakan bertanggung jawab atas aksi brutalnya menembaki ratusan pelajar di sekolah khusus militer di Peshawar. Menurut juru bicara Taliban, Muhammad Umar Khorasani, aksi brutal ini sebagai serangan balasan kepada aparat militer di utara Waziristan. Sejak Juni lalu, militer menggelar operasi untuk memberangus milisi Taliban. “Ini baru latihan,” kata Muhammad Khorasarani kepada AFP. Menurutnya, militeri Pakistan selalu salah menghitung kemampuan mereka. “Kami masih mampu melakukan aksi serangan yang berskala besar.”

Namun, menurut dia, perintah kepada penembak bukan ditujukan ke anak-anak sekolah, melainkan kepada para pelajar senior. Para pelajar di sekolah militer ini berusia sekitar 12 – 16 tahun. CNN memberitakan, seluruh pelaku penembakan di sekolah itu tewas di tangan aparat militer Pakistan. Baku tembak dan penyanderaan itu berakhir pada Selasa malam, 16 Desember 2014. Satu helikopter meraung-raung di udara mengitari area sekolah. Sedikitnya 500 anak sedang bersekolah saat itu. The Nation melaporkan, sedikitnya 132 pelajar berusia 12-16 tahun tewas akibat tembakan milisi Taliban. Beberapa guru juga ikut tewas karena dibakar hidup hidup oleh Taliban. Sementara itu, lebih dari 100 anak menderita luka. Pasukan tentara Pakistan mengatakan mereka menyisir tiap ruangan di sekolah sambil menghindari tembakan dan bom rakitan. Pada pukul 4 sore, tentara Pakistan membatasi ruang gerak para milisi Taliban di empat gedung. “Beberapa jam kemudian, seluruh milisi Taliban telah mati,” kata polisi Pehsawar Mohammad Aijaz Khan.

Usai menaklukkan para penembak, tentara Pakistan menyisir sekolah di Pehsawar yang berada dalam radius 120 kilometer dari ibu kota Pakistan, Islamabad. Mereka mencari bom tanam atau potensi ancaman lain. Berdasarkan keterangan gubernur setempat, ada 182 orang yang meninggal dan terluka dalam peristiwa ini. Korban terluka telah mendapatkan perawatan di sebuah rumah sakit terdekat. Juru bicara militer Pakistan Jenderal Asim Bajwa menyebut penyerangan ini sebagai tindakan pengecut dengan membunuh orang tidak bersalah. “Ini membuktikan Taliban tidak hanya musuh Pakistan tapi juga musuh kemanusiaan,” kata Asim seperti dilansir dari akun Twitternya.

“Mereka telah menusuk perasaan nasional,” kata Bajwa. “Tapi, mereka tidak akan mampu mengurangi semangat bangsa yang besar ini dengan cara apapun,” katanya. otif penyerbuan sekolah di Peshawar, Pakistan, oleh Taliban masih belum jelas. Menurut pengamat militer Islam, Ahmed Rashid, penyerangan ini kemungkinan ditujukan untuk peraih Nobel Perdamaian Malala Yousafzai.

“Untuk mengirim pesan kepada Malala dan para pendukungnya yang memperjuangkan pendidikan untuk anak dan perempuan,” ujar Ahmed seperti dikutip dari International Business Times, Rabu, 17 Desember 20140. Sebagaimana diketahui, Malala menerima Nobel Perdamaian tahun ini berkat upayanya memperjuangkan hak anak dan perempuan Pakistan yang selama ini direngut. Salah satunya hak atas pendidikan.

Di mata Malala, anak dan perempuan Pakistan lebih kerap menjadi obyek eksploitasi. Sebagai contoh, anak-anak bukannya mendapat pendidikan formal tapi malah dilatih menjadi tentara yang akan menyuburkan budaya kekerasan di Pakistan. Apabila insiden di Peshawar ditujukan untuk Malala, kata Ahmed, ini akan menjadi serangan yang kesekian kalinya. Tahun 2012, Malala sempat ditembak oleh tentara Taliban sebelum dipindah ke Inggris.

Selain untuk menyerang Malala, menurut Ahmed, serangan Taliban juga untuk menurunkan moral tentara Pakistan. “Sebagian besar anak dari tentara yang melawan Taliban itu bersekolah di Peshawar. Jadi ini langkah demoralisasi tentara Pakistan,” ujar Ahmed. Malala, yang diduga sebagai target serangan, merasa sakit hati melihat peristiwa berdarah yang memakan ratusan korban itu. Ia menilai tindakan Taliban sebagai tindakan pengecut yang harus dikutuk. “Karena anak-anak tak bersalah itu tak berhak atas peristiwa mengerikan ini,” ujar Malala.

Murid-murid sekolah militer di Peshawar, Pakistan, sedang khusyuk mengerjakan ujian. Keheningan suasana ujian tiba-tiba diramaikan oleh bunyi tembakan yang diarahkan ke berbagai sudut di sekolah umum itu pada Selasa, 16 Desember 2014, pukul sepuluh pagi waktu setempat.

Lima-enam pria berseragam militer yang menenteng senjata dan merangsek masuk ke dalam sekolah mengagetkan para murid, guru, dan penjaga sekolah. Bunyi rentetan tembakan dan ledakan bertubi-tubi terdengar. “Saya kira mereka itu anak-anak yang sedang bermain. Namun kemudian saya menyaksikan mereka membawa senjata,” Mudassir Awan, pekerja di sekolah itu, saat memberi kesaksian, seperti dilansir Reuters. Begitu mendengar suara tembakan, menurut Mudassir, mereka secepatnya berlari ke ruang kelas. Ternyata para penembak yang kemudian diketahui sebagai milisi Taliban itu justru memasuki setiap kelas.

Seorang guru menjelaskan, para murid sedang berada di aula untuk mengikuti ujian ketika milisi Taliban melakukan serangan bersenjata. “Setelah setengah jam serangan berlangsung, barulah pasukan tentara datang dan melindungi sekolah,” kata guru itu saat diwawancarai sebuah stasiun televisi. Teriakan anak-anak dan para guru terdengar ke seantero sekolah, bahkan sampai ke warga yang beraktivitas di sekitar sekolah. Mobil ambulans kemudian memasuki sekolah dan berusaha menyelamatkan anak-anak yang terluka akibat tembakan dan melarikan mereka ke rumah sakit terdekat.

Sedikitnya 122 pelajar tewas akibat terkena tembakan senjata api milisi Taliban Pakistan dalam sebuah serangan di sekolah militer Peshawar, Selasa pagi, 16 Desember 2014, waktu setempat. Sementara itu, seratus lebih orang menderita luka-luka. Beberapa pejabat keamanan Pakistan mengatakan serangan itu dilakukan oleh lima-enam anggota milisi. “Mereka mengenakan seragam militer dan memasuki sekolah,” ujar pejabat yang tak disebutkan namanya. Tembakan senjata api dan suara ledakan, kata dia, terdengar keras menyusul serangan balik aparat keamanan Pakistan.

Sumber dari militer Pakitan dalam keterangannya kepada media menjelaskan, hampir seluruh siswa sekolah itu yang berjumlah 500 diungsikan. Namun belum jelas berapa jumlah orang yang terjebak di dalam gedung tersebut. Juru bicara Taliban mengatakan pihaknya bertanggung jawab atas operasi mematikan itu. Seorang karyawan dan murid sekolah yang sempat diwawancarai oleh televisi lokal, Geo TV, mengatakan para penyerang itu masuk ke aula Army Public School, tempat militer Pakistan memberi pelatihan kepada masyarakat.

Menurut Pervez Khattak, Kepala Menteri Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, lebih dari 80 murid sekolah itu terluka. “Mereka berusia antara 12-16 tahun.” Dia menambahkan, dua penyerang tewas masing-masing akibat meledakkan diri dan dibedil aparat keamanan. Sebelumnya, Shahram Khan, Menteri Kesehatan Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, mengatakan kepada CNN, dua pengajar dan seorang pejabat militer juga tewas dalam insiden berdarah itu, dan lebih dari 104 korban lainnya luka-luka.

Sejumlah anggota milisi Taliban Pakistan menyerbu sebuah sekolah militer di Peshawar. Menurut kata beberapa sumber kepada Al Jazeera, jumlah korban tewas sulit dipastikan karena masih banyak mayat di dalam gedung sekolah menyusul adanya upaya pasukan keamanan mengambil alih gedung tersebut. Adapun sumber di rumah sakit menerangkan kepada Al Jazeera bahwa setidaknya 28 orang terluka dalam insiden serangan terhadap sekolah militer itu pada Selasa, 16 Desember 2014. Peshawar’s Lady Reading Hospital membenarkan keterangan bahwa pihaknya telah menerima empat jenazah di rumah sakit. Sedangkan seorang jurnalis yang berada di tempat kejadian memperkirakan jumlah korban tewas bakal bertambah.

“Situasinya sangat menyeramkan. Menurut sumber yang berada di dalam gedung, sedikitnya sepuluh murid sekolah tewas. Pertempuran masih terus berlangsung,” kata Zahir Shah Sherazi, seorang jurnalis. Dia melanjutkan, “Seluruh jalan menuju tempat kejadian dikepung petugas keamanan. Kami tak memiliki informasi cukup mengenai apa yang terjadi di dalam gedung, namun beberapa sumber mengatakan di sana banyak mayat bergelimpangan.”

Seorang juru bicara Tehreek-e-Taliban Pakistan atau Taliban Pakistan mengatakan para penyerbu diperintahkan menembak siswa tingkat atas. Pejabat militer Pakistan dalam keterangan kepada media menjelaskan, setidaknya ada enam pria bersenjata yang menyerbu gedung Army Public School. “Diduga kuat sekitar 500 siswa dan guru berada di dalam gedung saat penyerbuan.”

Serangan tersebut berlangsung sekita pukul sebelas pagi waktu setempat, diawali dengan ledakan yang dilancarkan oleh para penyerbu disusul ledakan kedua dari senjata api. Aksi ini menimbulkan kobaran api dan suara hiruk-pikuk setelah pasukan keamanan Pakistan melakukan serangan balik untuk menguasai kembali gedung tersebut dari para penyerbu. Pakistan mengerahkan pasukan dalam jumlah besar ke sekolah tersebut sesaat setelah terjadi baku tembak antara tentara dan penyerbu.

Perdana Menteri Pakistan Nawaz sharif mengatakan penyerangan terhadap siswa sekolah militer di Peshawar sebagai tragedi nasional. Nawaz yang saat itu berada di India langsung terbang menuju Pehsawar untuk mengawasi operasi penyelamatan anak-anak sekolah. “Saya memutuskan untuk menuju ke Pehsawar dan saya akan mengawasi langsung operasi itu. Mereka adalah anak-anak saya dan ini adalah suatu kehilangan,” kata Sharif, seperti dilansi dari The Times of India, Senin, 16 Desember 2014.

Berdasarkan keterangan gubernur setempat, ada 182 orang yang meninggal dan terluka dalam peristiwa ini. Korban luka telah mendapatkan perawatan di sebuah rumah sakit terdekat. Sedikitnya enam pelaku penyerangan dan aksi bom bunuh diri dari kelompok Taliban tewas setelah menembak sekitar 130 orang di sekolah militer Pehsawar, Pakistan. Baku tembak dan penyanderaan itu berakhir pada Senin malam, 16 Desember 2014, waktu setempat, seperti dilansir dari CNN

Pembantaian yang dilakukan pasukan Taliban di Pakistan meninggalkan trauma yang dalam bagi para siswa Peshawar Army Public School. Seorang siswa senior, sebut saja Khan, mengatakan peristiwa kelam itu terjadi amat cepat. “Seseorang berteriak kepada kami untuk sembunyi di bawah meja. Dalam hitungan detik, sejumlah tentara datang. Sambil mengucapkan ‘Allahu Akbar’, mereka melepas tembakan,” ujarnya.

Khan melanjutkan, banyak siswa sembunyi di bawah meja. Di bawah meja, kata dia, para siswa ketakutan karena tentara Taliban mulai mengecek bawah meja satu per satu sembari melepas tembakan.”Sepatu bot hitam bergerak di depan kami. Tentara mulai melepas tembakan ke tubuh para siswa. Aku gemetaran, serasa kematian datang mendekat,” ujar Khan, tak bisa melupakan hal tersebut. Khan berkata, dirinya ditembak dua kali di kaki. Ia berhasil selamat karena pura-pura mati. “Sakit, sakit sekali rasanya. Aku menggigit dasi agar tidak berteriak. Sambil gemetaran, aku pejamkan mata, menunggu apakah diriku akan ditembak lagi.”

Siswa lainnya, Irfan Shah, 10 tahun, tak bisa melupakan bagaimana pasukan Taliban datang menyerang sekolahnya kemarin, Selasa, 16 Desember 2014. Kepada media asal Inggris, The Independent, ia menceritakan kejadian bak mimpi buruk itu. “Aku sedang duduk di kelas. Tiba-tiba, terdengar suara tembakan. Guru mencoba menenangkan kami, mengatakan bahwa suara tembakan itu hanya latihan,” ujar Irfan menceritakan awal peristiwa pembantaian di Peshawar yang memakan ratusan korban. Lama-kelamaan, kata Irfan, suara tembakan makin deras dan mendekat ke arah kelas Irfan. Irfan mengatakan seorang temannya mencoba mengecek apa yang terjadi lewat jendela, dan dia melihat sejumlah anak tergeletak tanpa nyawa di lantai.

“Semua panik. Kedua teman kami mencoba kabur dari kelas, tapi kemudian mereka ditembak di hadapan kami,” ujar Irfan mengingat-ingat pembantaian yang berlangsung selama delapan jam itu. Irfan berkata, mimpi buruk itu baru usai pada malam hari, setelah tentara Pakistan mengecek kelas satu per satu. Namun sebagian besar bangunan sekolah telah rusak parah. Selasa, 16 Desember 2014, sekelompok milisi mengamuk di sekolah yang dikelola militer Pakistan di Peshawar. Sekitar 141 orang tewas dalam serangan itu. Korban tewas sebagian besar adalah pelajar di sekolah tersebut.

Kelompok ISIS Sandera Warga Sipil Di Lindt Chocolate Cafe Sydney

Sekitar 20 orang disandera oleh lelaki bersenjata di Lindt Chocolat Cafe di Martin Place, Sydney, pagi ini, 15 Desember 2014. Sandera dipaksa mengibarkan bendera hitam dengan huruf-huruf berwarna putih di bagian tengahnya. Kepolisian Sydney mengkonfirmasi peristiwa itu, seperti tertulis di laman The Sydney Morning Herald, Senin, 15 Desember 2014. Kepolisian memastikan penyanderaan sedang berlangsung di Martin Place. Juru bicara Kepolisian New South Wales mengatakan pihaknya telah dihubungi dan bergegas menuju ke lokasi sekitar pukul 09.45. Akibat penyanderaan itu, sejumlah kereta yang melintas di rute Central-Bondi Junction sempat dihentikan.

Perdana Menteri Tony Abbott menyatakan kabinetnya tengah melakukan rapat untuk mempelajari situasi ini. “Ini adalah insiden yang diperhatikan dengan serius, tapi kita harus memastikan bahwa penegakan hukum dan pengerahan kekuatan dilakukan secara profesional dan bertanggung jawab.”

Penyanderaan yang terjadi di Lindt Chocolat Cafe di Martin Place, Sydney, pagi ini, 15 Desember 2014, masih berlangsung. Menurut laporan, pria bersenjata menodongkan senjata kepada 13 sandera di dalam kafe. Menurut seorang saksi mata, beberapa sandera wanita terlihat menangis dan dipaksa mengangkat tangan. “Mereka terus dipaksa menempel ke jendela,” ujar saksi mata itu.

Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat, saat ini salah seorang “teroris” telah melakukan kontak dengan kepolisian. Mereka meminta bisa berbicara langsung dengan Perdana Menteri Australia Tonny Abbott. “Mereka mengancam memiliki kekuatan di beberapa titik di dalam kota,’ ujar Ray Hadley dari 2GB.

Perdana Menteri Tonny Abbott menyatakan kabinetnya tengah melakukan rapat untuk mempelajari situasi ini. “Ini adalah insiden yang diperhatikan dengan serius, tapi kita harus memastikan bahwa penegakan hukum dan pengerahan kekuatan dilakukan secara profesional dan bertanggung jawab. “Suasana Kota Sydney, Australia tengah tegang. Sebuah cafe yang menjual aneka makanan cokelat dikuasai pria bersenjata yang mengaku dari kelompok ISIS. Polisi Australia pun mengepung cafe yang ada di Gedung Martin Place.

“Orang kantoran di sekitar gedung itu disuruh pulang lebih cepat,” jelas Konsul Penerangan Sosial dan Budaya, Pensosbud KJRI Sydney, Nicolas Manoppo yang dihubungi, Senin (15/12/2014). Area ring 1 di sekitar lokasi penyanderaan pun disterilkan polisi. Dengan bersenjata lengkap, polisi Australia mengepung cafe itu. “Kami semua memantau perkembangan. Untuk sementara tidak ada WNI yang jadi korban,” urai Nico. KJRI Sydney berjarak 10 Km dari lokasi cafe.

Pria bersenjata yang diperkirakan berjumlah tiga orang menguasai Cafe Lindt yang menjual aneka makanan cokelat di Gedung Martin Place di Kota Sydney, Australia. Para pelaku menyandera sejumlah pengunjung cafe. Seperti dikutip ABC News, Senin (15/12/2014) para penyandera terlihat memaksa sejumlah sandera mengangkat tangan. Para sandera itu kemudian menempelkan tangan mereka ke kaca di cafe itu. Tak lama para penyandera mengibarkan bendera ISIS yang berwarna hitam dengan tulisan Arab yang artinya Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad utusan Allah’.

Pihak Australia sudah mengamankan kawasan di sekitar lokasi penyanderaan. Mereka juga mengumumkan keadaan genting di Sydney. Banyak orang kantoran diliburkan dan diminta pulang lebih cepat. Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Sydney memantau peristiwa pembajakan di cafe di Kota Sydney. Belum bisa dipastikan apakah ada WNI di cafe itu yang menjadi korban.

“Kami masih melakukan pemantauan,” jelas Konsul Penerangan Sosial dan Budaya, Pensosbud KJRI Sydney, Nicolas Manoppo yang dihubung Senin (15/12/2014). Menurut Nico, polisi Australia sudah mengepung area di kawasan itu. Peristiwa itu terjadi pada pukul 09.00 waktu setempat dan hingga kini pukul 12.00 pengepungan masih dilakukan. Perbedaan waktu Indonesia bagian barat dan Sydney sekitar 4 jam. Sydney lebih cepat 4 jam. Sejauh ini lanjut Nico, belum ada informasi ada WNI yang menjadi korban penyanderaan.

Sebuah cafe di Kota Sydney, Australia dikepung pria bersenjata. Pria itu mengaku dari kelompok ISIS. Polisi Australia pun kini mengepung cafe itu. Informasi dari Konsul Penerangan Sosial dan Budaya, Pensosbud KJRI Sydney, Nicolas Manoppo yang dihubungi detikcom, Senin (15/12/2014), menyampaikan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.00 waktu Sydney. Hingga pukul 12.00 waktu setempat atau pukul 08.00 WIB, polisi Australia masih mengepung cafe itu. Polisi Australia juga mengosongkan area di kawasan Martin Place. “Orang-orang kantoran di sekitar kawasan itu dipulangkan,” terang Nico yang terus memantau perkembangan lewat media Australia.

Kelompok pria bersenjata yang mengibarkan bendera ISIS membajak sebuah cafe dan menyandera orang-roang di dalamnya. Dikabarkan, total ada sekitar 40 orang disandera di dalam cafe itu. Seperti yang dilansir oleh ABC, Senin (15/12/2014), staf cafe Lindt tersebut mengatakan ada 10 karyawan dan 30 pelanggan di dalam kafe tersebut. Sementara itu, warga diminta untuk menjauhi kawasan Martin Place dan Sydney Opera House. Informasi dari Konsul Penerangan Sosial dan Budaya, Pensosbud KJRI Sydney, Nicolas Manoppo yang dihubungi, Senin (15/12/2014), menyampaikan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.00 waktu Sydney.

Hingga pukul 12.00 waktu setempat atau pukul 08.00 WIB, polisi Australia masih mengepung cafe itu. Polisi Australia juga mengosongkan area di kawasan Martin Place. “Orang-orang kantoran di sekitar kawasan itu dipulangkan,” terang Nico yang terus memantau perkembangan lewat media Australia.

Pesta Liar ABG Australia Di Bali Terungkap

Sejumlah siswa asal Australia mengisi liburan sekolahnya di Bali dengan cara yang tak biasa. Mengutip laporan The Sydney Morning Herald berjudul “Schoolies in Bali: rite of passage or reckless booze-fest?” pada Jumat, 5 Desember 2014, para remaja itu masuk ke klub malam, minum minuman keras, dan berkendara ugal-ugalan.

Seorang koodinator Red Frogs, lembaga yang memberi pendampingan kepada para pengkonsumsi alkohol dan narkoba, khususnya anak muda, Paul Mergard, mengatakan para relawan lembaga ini sudah terbiasa mendapati kelakuan para remaja setelah berpesta. “Ada yang muntah, menangis, berkelahi, dan kecopetan,” kata Mergard. “Namun ada juga beberapa siswa yang berperilaku baik.”

Usia para siswa itu, menurut Mergard, sekitar 13-18 tahun. “Itu adalah usia yang pas untuk merayakan sesuatu dengan teman-teman seumur,” katanya. “Perkembangan di usia ini penting karena menjadi basis transisi menuju kehidupan dewasa.”

Menurut laporan Sydney Morning Herald, para siswa itu sampai mabuk, merajah tubuh dengan tato, dan ada pula yang tampak bersedih, kemungkinan karena duit di rekeningnya tandas untuk hura-hura. Laporan itu memasang foto tentang cara para siswa mengisi liburan. Misalnya, ada pelajar Australia yang sedang mabuk mengendarai sepeda motor. Mereka berkendara dengan bertelanjang dada dan tanpa helm.

Ada pula foto sejumlah remaja berderet dengan posisi tiduran di pinggir kolam renang. Mulut mereka terbuka, sedangkan seorang temannya menuangkan minuman keras. Sebagian remaja juga tampak menari di jalan utama di Legian sembari bermain genangan air saat hujan deras.

Ketika berjalan di sepanjang Jalan Legian–pusat kehidupan malam di Kuta–wartawan SMH ditawari berbagai obat terlarang oleh penduduk lokal, seperti gulma, jamur ajaib, valium, kokain, dan ekstasi. Mereka juga ditawari alkohol yang terbuat dari bahan murah alias miras oplosan.

Seorang pelajar yang sedang berlibur, Bernadette Clarke, 18 tahun, dari Jervis Bay menuturkan semua orang yang tahu kalau dia akan pergi ke Bali pasti berpesan agar berhati-hati. “Saya dapat petuah yang sama berulang-ulang. Jangan lakukan ini, jangan lakukan itu,” ujar Clarke.

Untuk mencegahnya berbuat yang tak diinginkan, Clarke mengaku ibunya turut serta dalam liburan. “Saya kira dia hanya ingin memastikan saya baik-baik saja,” katanya. Namun, menurut Clarke, ibunya tak terus-menerus mengawasinya. Ibunya berada di hotel yang jauh dari keramaian pesta liburan sekolah.

Karla Sheppard dari Wollongong juga berlibur ke Bali bersama putrinya Chloe, 17 tahun. Sheppard berujar, sesekali kebebasan perlu diberikan kepada anak muda. “Sebab, saya tahu, kalau melarang mereka berbuat ini dan itu, mereka tetap akan melakukannya di belakang atau tanpa sepengetahuan kami,” ujar Sheppard. “Kami hanya berharap mereka tak bertingkah konyol.”

Polisi Temukan Rekaman Pembunuhan Gang Yang Direkam Melalui Handphone

Pembantaian sadis oleh sebuah geng di Brasil terungkap secara tak sengaja oleh kepolisian setempat. Peristiwa itu bermula saat polisi menahan seorang remaja, Levon Valencia Puga, 16 tahun, akibat memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalan raya. Lantaran belum memiliki surat izin mengemudi, pemuda itu pun ditahan oleh polisi.

Saat Puga ditahan, polisi memeriksa telepon genggamnya. Ketika itulah polisi menemukan video mengerikan yang direkam oleh Pugo. Video itu berisi pembantaian seorang pemuda bernama Marcos Vinicur Caixeta Monteiro, 18 tahun, oleh tiga remaja pria. Monteiro dihabisi karena dituduh telah mengadu ke polisi.

Dalam video itu, Monteiro dipaksa duduk di bangku belakang. Pugo merekam kejadian tersebut. Korban dibawa dengan mobil miliknya ke luar Kota Goinia. Dalam rekaman itu, Monteiro tampak sangat ketakutan. Saat mobil berhenti, ia berusaha kabur dari ketiga eksekutornya itu.

Terdengar suara letusan senjata sebanyak tiga kali. Adegan selanjutnya, Monteiro sudah tergeletak tak bernyawa. Setelah Monteiro tewas, ketiga pria itu terlihat tak merasa bersalah. Mereka masih sempat mengobrol mengenai berbagai hal, seperti tak ada peristiwa penting yang baru saja terjadi. Terdengar suara Puga, “Pergilah bersama Tuhan.”

Seperti dikutip dari Dailymail, juru bicara kepolisian membenarkan peristiwa itu. Selain Puga, polisi masih memburu dua pelaku lainnya. “Satu hal yang juga mengejutkan adalah Puga sangat tenang dan menggambarkan semua informasi dengan detail tanpa emosi,” kata Kleyton Manoel Dias, kepala kepolisian setempat.

Adapun keluarga korban mengaku sangat terpukul dengan peristiwa tersebut. Mereka menuntut polisi mengusut kasus itu hingga tuntas. “Dia tak layak mati dengan cara seperti itu.”

Korea Utara Ekspor Tank dan Rudal Buat ISIS

Kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dilaporkan memiliki tank dan rudal buatan Korea Utara. Mengutip informasi sumber intelijen, NK News melaporkan, tank dan rudal itu digunakan ISIS menyerang Kurdi, Irak utara, pada September lalu. Tank tipe T-55 itu diyakini buatan Uni Soviet yang kemudian diperbarui di Korea Utara. Sedangkan rudal yang dipakai milisi ISIS memang buatan Korea Utara.

Hari ini, 5 Desember 2014, Chosun Ilbo memberitakan, sebelumnya, intelijen Jerman menjelaskan ke parlemen bahwa ISIS memiliki rudal yang mampu menembak jatuh pesawat sipil. Foto milisi ISIS menggunakan rudal itu diunggah di Twitter baru-baru ini. Intelijen Jerman yakin senjata-senjata yang dimiliki ISIS berasal dari Rusia, Bulgaria, atau Cina.

Senjata itu juga diduga hasil rampasan saat mereka berperang dengan pasukan pemerintah Suriah di Kota Raqqa pada Agustus lalu. Suriah dan Korea Utara berteman dekat sejak 1970-an. Korea Utara menjual berbagai jenis senjata ke Suriah, termasuk tank dan rudal itu. Dengan temuan senjata buatan Korea Utara di tangan ISIS, keterlibatan Suriah tidak boleh diremehkan dalam konflik di Timur Tengah.

Chechnya Bergolak Kembali Setelah Serangan Teroris

Sedikitnya tiga perwira polisi tewas setelah terlibat bentrok senjata dengan sejumlah pejuang yang menyerang pos jaga lalu lintas di ibu kota Chechnya, Grozny. “Setelah melakukan penyerangan, mereka menyerbu sebuah gedung media lokal,” kata pejabat Rusia. Kantor berita Rusia, Novosti, mengutip keterangan sumber keamanan, melaporkan bahwa beberapa petugas kepolisian juga mengalami cedera akibat serangan pada Kamis, 4 Desember 2014, itu.

“Belum ada konfirmasi dari pemerintah atas serangan yang dilakukan oleh para pejuang Islam itu,” Peter Sharp melaporkan untuk Al Jazeera dari Moskow. Komite Anti-teroris Nasional menyatakan sekelompok orang menyerang pos jaga lalu lintas di Grozny, Kamis dinihari waktu setempat, 4 Desember 2014. Selanjutnya, mereka menggeruduk gedung media lokal yang dikenal dengan sebutan Gedung Pers.

“Para pejuang kini memblokade bagian dalam gedung dari serangan balik polisi dan petugas keamanan,” demikian pernyataan Komite. Sebelumnya, Oktober 2014, lima polisi dilaporkan tewas dan puluhan lainnya cedera akibat serangan bersenjata di Grozny. Kejadian itu bermula ketika mereka menghentikan seorang pemuda yang akan melakukan bom bunuh diri saat konser di sebuah balai pertemuan yang dihadiri ratusan pengunjung.

Filipina Luluh Lantak Diterjang Badai Dahsyat Hagupit

Filipina terancam kembali diterjang badai berkekuatan besar. Arah terjangan badai itu mengancam ribuan nyawa penduduk Filipina. Badai Hagupit melaju kencang dari kawasan Samudra Pasifik dengan kecepatan 230 kilometer per jam menuju sisi timur negara kepulauan itu. Hagupit diprediksi akan menghujam Filipina pada esok hari, 6 Desember 2014.

“Mari, kita persiapkan semuanya,” kata Presiden Benigno Aquino kepada Kepala Badan Penanggulangan Bencana Filipina menanggapi kabar badai besar menuju Filipina, Kamis, 4 Desember 2014. Otoritas setempat memperkirakan Hagupit akan menghempaskan daerah yang pernah diterjang Haiyan–badai paling mematikan sepanjang sejarah Filipina–yang memakan 7.350 korban tewas dan hilang, November tahun lalu.

Sebagian besar warga pesisir Tacloban–kota terparah yang terkena badai Haiyan–sudah mengungsi dan membawa persediaan penting. Keberadaan Hagupit masih sejauh 800 kilometer dari Filipina. Meski demikian, belum diketahui wilayah mana yang akan terkena hempasan badai besar itu. Pemerintah juga belum memerintahkan evakuasi.

“Hagupit berpotensi menerjang kawasan padat penduduk yang dihuni 4,5 juta orang,” tutur juru bicara Badan Penanggulangan Bencana Perserikatan Bangsa-Bangsa, Orla Fagan. Filipina setiap tahunnya diluluhlantahkan oleh 20 badai mematikan. Negara di Asia Tenggara yang berpenduduk sekitar 100 juta itu, dalam beberapa tahun terakhir, rentan menghadapi badai besar karena perubahan iklim.

Lebih dari 1.900 korban tewas dan hilang oleh terjangan topan Bopha yang melanda Mindanao, Filipina selatan, pada Desember 2012. Setahun sebelumnya, 1.268 orang tewas ketika terjadi badai Washi, yang kemudian menyebabkan banjir besar di kawasan Mindanao. Haiyan, Bopha, dan Washi adalah badai paling mematikan di dunia dalam tiga tahun terakhir.

Warga Filipina berdesakan di pusat perbelanjaan di Kota Tacloban untuk membeli makanan. Warga panik setelah mengetahui badai dahsyat Hagupit akan menerjang kota itu besok, 6 Desember 2014. Mereka membeli makanan untuk stok hingga badai reda.

“Saya cemas saat ini,” kata Nasie Talbo, warga Tacloban yang menunggu datangnya badai superkuat itu. Ia mengenang kotanya pada November tahun 2013 diluluhlantakkan oleh badai. “Tacloban kembali diguncang badai,” kata Talbo, ibu tiga anak, kepada News Corp Australia. Ia mengkhawatirkan para pengungsi yang tinggal di tenda dan rumah pengungsi akibat badai pada November 2013 akan semakin menderita dengan kehadiran badai Hagupit.

Talbo memperkirakan listrik akan padam di kotanya. Begitu pula jaringan telepon dan Internet akan tidak berfungsi. Rak-rak tempat makanan di toko-toko yang ada di kota itu sudah hampir kosong diserbu warga yang panik menghadapi datangnya Hagupit. Aparat keamanan, baik polisi maupun tentara, sudah berjaga-jaga di lokasi untuk mempersiapkan evakuasi. Pusat evakuasi juga sudah disiapkan.